Tak ada pilihan lain untuk Maya saat ini, selain mempersilahkan semuanya masuk. Termasuk bibi dan juga pamannya. Ia tak mungkin mengusir ibu mertuanya. Jika hanya Erwin, mungkin Maya akan melakukan hal yang sama seperti beberapa hari lalu kedatangan Erwin. Di ruang tamu yang terlihat jauh dari kata sederhana kini Erwin, bu Sartika, Arman dan bi Titin duduk berhadapan di kursi yang terbuat dari rotan. Tak ada yang membuka suara satu pun. Sedang Maya, kini tengah sibuk membuatkan minum untuk semua tamunya di dapur. "Aku harus apa? Apa aku harus menolaknya lagi? Tapi, apa yang Erwin katakan juga benar. Aku tidak bisa selalu menghindar. Masalah tidak akan selesai jika aku terus-terusan menghindarinya," batin Maya, ia mulai larut dalam lamunannya saat menuangkan air panas untuk teh seduhnya.

