Bab 4 – Akar yang Tersembunyi

778 Kata
Daru duduk di bangku kayu dekat jendela toko, pandangannya mengarah ke pot bunga kering yang telah lama dibiarkan begitu saja di sudut trotoar. Batangnya menghitam, daun-daunnya mengerut seperti kulit tangan yang menua. Ia tak pernah tega membuangnya, meskipun orang-orang sering bilang tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari tanaman itu. Daru juga mengurungkan niat memberi tanaman itu tanah baru, atau menyiramnya. Daru takut langkah berani tersebut justru membunuh sisa-sisa kehidupan batang kering yang masih menancap. Ratih-lah yang dulu meletakkannya di sana. Dengan hati-hati, istrinya pernah menabur benih di pot sederhana itu, tersenyum kecil setiap kali tunas hijau mulai muncul. "Setiap yang tumbuh punya akar. Selama akarnya masih ada, ia tak benar-benar mati," kata Ratih waktu itu. Kini, setelah lima tahun Ratih pergi, kalimat itu masih bergaung. Tapi Daru tahu, yang tersisa di dirinya hanya akar yang tertimbun tanah kesedihan. Tidak ada tunas baru. Tidak ada bunga yang bermekaran. Denting lonceng kecil di pintu toko membuyarkan lamunannya. Larinda masuk dengan langkah ragu, seperti biasa membawa tas berisi buku sketsa dan setumpuk kegelisahan yang disimpan di balik senyumnya. "Hari ini aku butuh teman ngobrol, boleh kan?" katanya, dengan nada ringan. Daru mengangguk. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran Larinda, meskipun di hatinya ada keraguan yang mengakar kuat. Mereka berbincang di sudut kecil toko, di antara rak-rak buku yang berdebu. Larinda bercerita tentang pekerjaannya, tentang pesanan ilustrasi bunga yang harus ia selesaikan minggu ini. Ia membuka sketsa terakhirnya—sebatang bunga dengan kelopak yang sobek separuh. "Aku suka bunga ini," ujar Daru, mencoba mencari makna di balik goresan tangan Larinda. "Benarkah? Aku ragu sebenarnya. Rasanya... terlalu rusak." Daru tersenyum tipis. "Bunga yang patah juga tetap bunga, kan?" Larinda terdiam sejenak, lalu menatapnya. Ada sesuatu di matanya—kehangatan yang perlahan merambati ruang di antara mereka. Tapi Daru buru-buru menunduk, mengalihkan pandangan. Di sudut hatinya, suara Ratih seperti mengingatkan: jangan terlalu jauh. Sore itu, ketika Larinda sudah pergi, Daru berjalan ke kafe Pak Wirya. Lelaki tua itu tengah meracik kopi di balik meja kayunya, aroma robusta bercampur gerimis yang mulai turun tipis. "Kamu kelihatan lebih hidup belakangan ini," ujar Pak Wirya tanpa basa-basi. Daru tertawa kecil, meskipun tak bisa membantah. "Aku cuma... ada orang yang suka datang ke toko," sahutnya pelan. Pak Wirya duduk di samping Daru, menyerahkan cangkir kopi panas. "Kadang, hidup memang kasih kita orang baru, supaya kita ingat kalau akar itu belum mati." Daru menatap kopi hitam di tangannya. "Akar?" Pak Wirya menunjuk pohon kecil di depan warungnya. "Dulu aku kira pohon itu mati. Aku hampir cabut akarnya. Tapi setelah musim hujan datang, tiba-tiba ada tunas baru. Ternyata dia cuma menunggu waktu yang tepat buat tumbuh lagi." Daru terdiam lama. Kata-kata Pak Wirya meresap perlahan, seperti hujan yang menyelinap ke dalam tanah kering. Malamnya, setelah toko tutup, Daru membuka lemari kayu di sudut kamar. Tumpukan kenangan tersusun rapi di sana. Kotak kecil berisi foto pernikahan, secarik surat cinta yang ditulis Ratih bertahun-tahun lalu, dan buku catatan bersampul cokelat tua. Ia membukanya perlahan. Di halaman pertama, tulisan tangan Ratih terpampang jelas: "Semua yang tumbuh butuh cahaya, tapi akar tetap bekerja di dalam gelap." Daru memejamkan mata. Ada desir sakit yang ia kenal baik, bercampur dengan kerinduan yang tak pernah habis. Namun, di antara itu semua, ada sesuatu yang berbeda kali ini—seperti ada tunas kecil yang mulai muncul di antara reruntuhan. Keesokan harinya, Larinda datang lagi ke toko. Kali ini, ia membawa secangkir kopi yang dibeli dari kafe Pak Wirya. "Untuk pemilik toko yang selalu serius," katanya sambil tersenyum. Daru tertawa kecil. Mereka mengobrol lebih lama hari itu. Tentang bunga, tentang buku-buku tua, dan sedikit tentang luka yang samar-samar mulai mereka singgung. Saat Larinda hendak pergi, ia menatap pot bunga kering di depan toko. "Kamu percaya bunga itu bisa hidup lagi?" tanyanya. Daru terdiam, menatap pot itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menjawab dengan yakin, "Mungkin... selama akarnya masih ada." Larinda tersenyum. Ia mengeluarkan pensil dari tasnya, lalu menggambar bunga kecil di kertas sobekan. "Kalau kamu mau, aku bisa bantu menanam yang baru," ucapnya ringan. Daru tak langsung menjawab, tapi ia menyimpan gambar bunga itu di balik mejanya, di antara lembaran-lembaran nota lama. Saat Larinda sudah pergi, Daru duduk lagi di bangku kayu itu, menatap pot kering di depannya. Namun, kali ini ia melihatnya dengan cara yang berbeda. Ia membayangkan akar di bawah sana, mungkin masih bertahan, menunggu musim yang tepat. Dan mungkin, kali ini, ia siap untuk menyiraminya kembali. Pot bunga itu tetap di sana, belum berubah. Tapi bagi Daru, sesuatu mulai bersemi—meski samar, meski masih tersembunyi di dalam tanah luka. Karena cinta yang sejati, seperti akar, tak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu seseorang datang, menyentuhnya dengan sabar, dan percaya bahwa ia layak tumbuh kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN