Larinda melangkah perlahan memasuki toko buku itu, seperti kebiasaannya beberapa pekan terakhir. Angin sore mengelus lembut rambutnya yang terurai, sementara aroma kertas tua menyambut kehadirannya.
Rak-rak kayu berderit pelan ketika ia menyusuri lorong sempit menuju bagian buku-buku botani. Di sudut meja kayu, Daru duduk dengan pandangan yang lekat pada lembar-lembar buku, sesekali menghela napas seolah tengah berdialog dengan sunyi.
"Hari ini ada bunga baru?" Larinda mencoba memecah keheningan dengan sapaan ringan.
Daru menoleh, tersenyum kecil—sebuah senyum yang lebih menyerupai kilatan cahaya di antara awan mendung. "Belum ada. Tapi mungkin kamu yang membawanya," jawabnya, separuh bercanda.
Larinda tertawa kecil, namun matanya menangkap sesuatu yang tak biasa. Cincin di jari manis Daru masih tersemat dengan kokoh—sebuah cincin perak sederhana, memantulkan cahaya redup sore itu.
Larinda tidak pernah benar-benar memperhatikan sebelumnya. Kali ini, matanya seolah dipaksa membaca cerita yang tersembunyi di sana.
Ia menunduk, berpura-pura meneliti sebuah buku tentang tanaman liar di pegunungan. Namun, pikirannya telah melayang jauh. Tentang bagaimana setiap percakapan mereka terasa hangat, tetapi di sisi lain, ada sekat yang tak terlihat. Ada kesedihan yang tak pernah benar-benar pergi dari sorot mata Daru.
"Larinda, suka bunga jenis apa?" Suara Daru menariknya kembali ke tempat itu.
Larinda terdiam sejenak. "Bunga yang kuat. Yang bisa bertahan meski di tanah kering. Yang akarnya tetap mencengkeram, meski kelopaknya sering dihempas angin."
Daru mengangguk perlahan. "Seperti Edelweiss."
Larinda tersenyum. "Edelweiss, ya... Bunga abadi."
Mereka terdiam sejenak. Larinda mengamati tangan Daru yang membolak-balik halaman buku. Garis-garis lelah di jemarinya seperti menyimpan peta perjalanan panjang—tentang cinta, kehilangan, dan kehidupan yang terus berjalan meski tanpa peta yang pasti.
"Aku bisa lihat kalau kamu suka bunga," ucap Daru pelan. "Setiap kali kamu datang, selalu cerita soal bunga."
Larinda terkekeh. "Mungkin karena bunga nggak pernah menuntut apa-apa. Mereka hanya tumbuh. Kadang layu, kadang mekar. Tapi mereka nggak pernah berhenti mencoba hidup."
Kata-kata itu meluncur begitu saja, namun Daru seperti terpukul oleh sesuatu. Ia menutup buku yang dipegangnya, menarik napas panjang. Larinda bisa merasakan udara di antara mereka menjadi lebih berat.
"Kamu sendiri suka bunga?" tanya Larinda hati-hati.
Daru menatap meja, seolah mencari jawaban di antara serat kayunya. "Ratih... istriku... dia suka bunga."
Suara Daru lirih, seperti gumam yang nyaris hilang ditelan angin. Nama itu melayang di udara—Ratih. Untuk pertama kalinya, Larinda mendengar nama itu keluar langsung dari bibir Daru.
Larinda tak ingin menyela. Ia hanya diam, memberi ruang bagi Daru untuk melanjutkan. Ada jeda panjang, sebelum akhirnya Daru bicara lagi.
"Dia suka menanam bunga di halaman belakang rumah kami dulu. Setiap sore. Bahkan ketika dia mulai sakit, dia tetap bercocok tanam. Sampai tangannya gemetar, dan jejak tanah-tanah itu belepotan... Tapi dia nggak pernah berhenti."
Mata Daru menerawang, seperti melihat potongan gambar yang hanya bisa ia lihat seorang diri.
"Setelah dia pergi, aku nggak pernah lagi berani menanam bunga. Aku takut... kalau bunga itu layu, aku harus menguburnya. Seperti aku mengubur dia."
Larinda merasakan dadanya menghangat, bercampur rasa perih. Ia paham rasa itu—rasa takut kehilangan, rasa takut menghidupkan sesuatu hanya untuk melihatnya mati.
"Aku juga... pernah takut begitu," ucap Larinda pelan, suara yang keluar hampir gemetar. "Aku pernah mencintai seseorang. Aku pikir dia orang yang akan menemani aku sampai tua. Tapi dia mengkhianati aku, dengan cara yang paling kejam."
Daru menoleh, matanya kini berganti menjadi sorot yang penuh empati.
"Setelah itu, aku berhenti percaya cinta. Aku takut kalau aku menanam sesuatu, orang lain yang akan datang memetiknya begitu saja, tanpa peduli bagaimana aku merawatnya."
Mereka terdiam. Dua manusia, duduk berseberangan, dikelilingi oleh buku-buku yang menyimpan kisah dari masa lalu—dan kini, mereka saling membuka halaman demi halaman luka di hati masing-masing.
"Sampai sekarang... aku masih bertanya-tanya," lanjut Larinda. "Apakah mungkin aku bisa mulai lagi? Atau... aku hanya akan terus melukis bunga di atas kanvas, pura-pura semuanya baik-baik saja?"
Daru menatap Larinda dengan dalam. Ada sesuatu di sana—bukan rasa iba, melainkan pengakuan bahwa ia pun sedang berjalan di jalan yang sama. Sunyi, dengan sesekali berhenti di bawah pohon kenangan yang rimbun.
"Mungkin... kita nggak pernah benar-benar mulai dari awal," Daru berkata pelan. "Kita cuma melanjutkan. Luka itu tetap ada, tapi kita menanam sesuatu di sampingnya."
Larinda tersenyum tipis. Kata-kata itu seperti menjawab kegelisahannya selama ini.
"Ratih pasti perempuan yang baik," ucap Larinda tulus.
Daru mengangguk. "Dia baik. Tapi... dia sudah selesai dengan dunianya. Aku yang belum selesai dengan diriku."
Angin sore menyelinap masuk lewat jendela yang terbuka sedikit. Di luar, langit perlahan memerah. Larinda tahu, pertemuan ini telah mengubah sesuatu. Tak ada janji, tak ada harapan besar, hanya dua orang yang saling bercerita—tapi justru itulah yang membuatnya berharga.
Larinda menutup bukunya, bersiap pergi.
"Daru," panggilnya sebelum melangkah keluar. "Kalau kamu mau... aku bisa bawakan bibit bunga kecil besok. Kita bisa tanam di depan toko ini."
Daru terdiam. Ada keraguan, ada ketakutan. Namun, ada pula cahaya kecil di matanya—cahaya yang nyaris padam selama lima tahun terakhir.
"Aku pikirkan, ya," jawab Daru dengan senyum yang lebih hangat.
Larinda mengangguk, lalu melangkah keluar. Angin sore menyapu pipinya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa hatinya sedikit lebih ringan.
Di dalam toko, Daru memandang cincin di jarinya. Perlahan, ia mengusapnya dengan ibu jari—bukan dengan rasa bersalah, tapi dengan rasa syukur. Bahwa cinta yang telah pergi tak harus berarti akhir dari segalanya.
Karena mungkin, cinta sejati adalah yang tetap tinggal di hati, sambil membiarkan yang baru tumbuh di sampingnya.
Daru menatap ke sudut toko, ke arah pot bunga kering yang selama ini dibiarkan mati. Ia berpikir, mungkin sudah saatnya menggantinya dengan bunga yang baru. Bunga yang abadi, meski tahu suatu saat bisa saja layu.
Karena cinta, seperti bunga, tak selalu tentang keindahan yang bertahan selamanya. Tapi tentang keberanian untuk menanamnya—berkali-kali—meski tahu ia bisa patah.