Daru mengunci pintu toko buku lebih awal hari itu. Matahari baru mulai condong ke barat, melukis langit dengan semburat jingga samar. Ia menatap sebentar papan nama toko yang mulai kusam, huruf-hurufnya berdebu.
"Ratih & Buku" — nama itu tak pernah ia ganti. Setiap kali hendak mengganti, tangannya gemetar, seolah mencabut papan nama berarti mencabut sisa-sisa Ratih dari hidupnya.
Namun, belakangan ini, ia merasa papan nama itu semakin berat di matanya. Sama beratnya dengan cincin di jari manisnya yang belum pernah ia lepas.
Daru menghela napas panjang, lalu berbalik. Di seberang jalan, kafe kecil Pak Wirya mulai ramai. Aroma kopi dan gorengan menguar tipis, bercampur dengan suara tawa ringan.
Ia berjalan ke arah sana. Setiap langkah terasa seperti upaya melepaskan akar yang terlanjur mencengkeram kuat di tanah.
"Mas Daru!" suara berat khas Saka menyambutnya lebih dulu.
Daru tersenyum tipis. Sosok lelaki bertubuh kekar itu duduk dengan kaki disilang, menyeruput kopi hitam dari gelas kaca. Rambutnya sedikit berantakan, dengan jaket gunung yang lusuh menggantung di sandaran kursi. Saka, teman lama sejak kuliah, tetap seperti dulu—selalu membawa udara pegunungan ke mana pun ia pergi.
"Tumben ke sini," kata Daru sambil duduk.
"Ada yang aku kangenin," Saka menepuk pundaknya keras-keras. "Bukan kamu, kopinya."
Pak Wirya datang membawa dua gelas kopi, senyum khasnya mengembang di balik kerutan usia. "Seperti biasa, Daru?"
Daru mengangguk. Pak Wirya tahu, kopi pahit tanpa gula. Sama seperti hidup Daru lima tahun terakhir—hitam, kuat, dan tak berusaha ditutupi rasa manis palsu.
"Gimana kabarmu?" tanya Saka setelah meneguk kopinya.
"Begini saja."
"Begini saja atau begini terus?"
Daru menatap sahabatnya. Saka memang selalu begitu—tak suka basa-basi. Ia tahu Daru tak benar-benar hidup, hanya berjalan di tempat seperti jarum jam rusak.
"Masih sibuk dengan toko?" Saka mengalihkan pandangan ke seberang, ke rak-rak buku yang terlihat dari balik kaca jendela.
Daru mengangguk. "Toko itu... satu-satunya yang tersisa."
Saka menghela napas. Ia ingin bilang bahwa hidup Daru tak seharusnya berhenti di sana, tapi ia juga tahu, luka kehilangan istri bukan sesuatu yang bisa dijahit dengan sekadar kata-kata.
"Minggu depan ikut aku naik gunung. Buka tenda, bikin kopi di atas awan." Saka bersandar santai.
Daru tertawa kecil. "Aku sudah lama nggak naik gunung."
"Justru itu. Udara di atas sana bisa bikin kamu ingat caranya bernapas." Saka menatapnya dalam. "Kadang kita terlalu lama hidup di bawah, sampai lupa ada warna yang belum pernah kita lihat."
Daru terdiam. Kalimat itu seperti merambat ke dadanya, mengetuk sesuatu yang selama ini ia kunci rapat.
Warna yang belum pernah ada.
Sejak Ratih pergi, dunianya hanya terdiri dari abu-abu. Semua buku yang ia sentuh berwarna sama, halaman demi halaman seperti kabut. Namun, belakangan ini, ia merasa ada warna lain yang perlahan menyelusup di sela-sela debu rak-raknya.
Warna itu hadir dalam bentuk Larinda.
Perempuan yang beberapa kali datang mencari buku. Awalnya, hanya pelanggan biasa. Tapi semakin sering ia muncul, semakin Daru sadar, kehadirannya meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
Larinda suka duduk di sudut toko, membolak-balik buku dengan pelan, sesekali mencatat atau menggambar bunga di tepi halaman.
Daru memperhatikannya diam-diam. Ada sesuatu pada Larinda yang mengingatkannya pada Ratih, tapi juga sangat berbeda.
Ratih tenang seperti senja, Larinda seperti angin pagi yang segar dan liar. Itu membuat Daru bingung—ia merasa bersalah karena membiarkan warna lain meresap ke dalam hidupnya.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Saka sambil melirik.
"Enggak."
"Perempuan?"
Daru terbatuk kecil. Saka tertawa lebar.
"Keliatan dari wajahmu. Aku tahu tanda-tandanya."
Daru menggeleng, mencoba menyangkal. Tapi pipinya sedikit memerah.
"Kita semua punya kenangan," Saka melanjutkan, kali ini dengan nada lebih lembut. "Tapi, Mas... hidup nggak berhenti karena kenangan. Kamu boleh simpan itu di dalam hati, tapi jangan biarkan hatimu jadi makam."
Daru terdiam. Kata-kata itu menancap seperti paku di dinding hatinya yang selama ini berkarat.
Makam.
Bukankah itu yang selama ini ia bangun? Sebuah makam kenangan, tempat ia berlutut setiap hari, merawat bunga-bunga yang sudah lama kering?
Pak Wirya datang membawa sepiring pisang goreng. Ia duduk di kursi dekat mereka, tersenyum hangat.
"Kadang orang takut menanam bunga baru karena trauma melihat bunga lama layu," kata Pak Wirya tiba-tiba, seperti membaca isi pikiran Daru. "Padahal, setiap bunga punya waktunya sendiri. Ada yang gugur, tapi ada juga yang tumbuh lagi."
Daru memandang pisang goreng di piring. Tangan keriput Pak Wirya mengambil satu, lalu menggigit pelan.
"Kalau tanahnya subur, bunga akan tumbuh lagi," lanjut Pak Wirya. "Masalahnya, kita sering takut. Takut tanah kita nggak layak lagi. Padahal, mungkin tanah itu cuma butuh disentuh cahaya."
Daru terdiam. Ia tahu, obrolan ini lebih dari sekadar tentang bunga atau tanah. Ini tentang dirinya.
Tentang Ratih.
Tentang Larinda.
Tentang rasa bersalah yang membelenggunya.
Sore makin tua. Saka meluruskan kaki, bersiul pelan.
"Jadi, ikut naik gunung atau nggak?"
Daru tersenyum samar. "Aku pikir-pikir."
"Itu jawaban orang ragu."
"Ya, mungkin aku memang ragu."
Saka tertawa, tapi kali ini lebih pelan. "Nggak apa-apa ragu. Tapi jangan berhenti. Karena di atas sana, mungkin ada warna yang belum pernah kamu lihat."
Daru menatap langit yang mulai berubah keunguan. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, apakah Larinda adalah warna itu?
Malam itu, saat kembali ke toko, Daru berdiri lama di depan rak buku bagian flora. Tangannya menyentuh sampul buku tua yang pernah ia berikan pada Larinda—tentang bunga-bunga yang bertahan di musim kering.
Ia membayangkan Larinda menggambar bunga-bunga itu di atas kanvas, menambahkan warna yang mungkin tak pernah terpikirkan olehnya.
Daru tersenyum kecil, meski dadanya tetap berat.
Mungkin benar kata Saka dan Pak Wirya. Mungkin tanah di hatinya tidak mati. Mungkin, ia hanya belum berani menyentuh cahaya.
Ia menatap cincin di jari manisnya lama, sebelum akhirnya mengambil buku tentang bunga tadi, membuka halaman pertama, dan mulai membaca.
Karena mungkin, hidupnya belum selesai.
Dan mungkin, warna yang belum pernah ada itu... sedang menunggu dia untuk melihat.