Bab 7 – Aroma Kopi dan Kenangan

908 Kata
Larinda datang lebih pagi hari itu. Langit masih berselimut mendung tipis, dan embusan angin pegunungan menyelinap masuk melalui celah-celah dedaunan. Suasana di kafe Pak Wirya masih lengang. Aroma kopi yang baru diseduh menguar lembut, bercampur harum roti yang sedang dipanggang. Kursi-kursi kayu berjejer rapi, dengan taplak bermotif bunga-bunga kecil yang tampak sedikit lusuh di ujungnya. Di sudut ruangan, Rania sedang sibuk menata toples biskuit sambil sesekali bersenandung. "Hei, Mbak, pagi amat," sapa Rania riang begitu melihat Larinda masuk. Larinda tersenyum kecil. "Lagi ingin menghirup udara segar sebelum mulai kerja." Ia memilih duduk di meja dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat toko buku milik Daru di seberang jalan. Pintu tokonya masih tertutup, tetapi Larinda tahu sebentar lagi pria itu akan datang, membuka gembok dengan gerakan pelan, lalu duduk di kursi kayu di depan toko. Rutinitas yang sudah ia hafal. Pagi itu, Larinda membawa sketchbook-nya, seperti biasa. Ia mulai mencoret-coret bunga mawar yang kelopaknya setengah gugur. Sketsa itu lahir dari pikirannya yang dipenuhi bayangan pertemuan terakhir dengan Daru. Beberapa hari lalu, mereka berbicara tentang kehilangan—Ratih dan Aditya. Ada jeda panjang yang tak diisi kata-kata, tetapi justru terasa lebih jujur daripada percakapan panjang tentang apa pun. Setelah sepuluh menit, sosok Daru akhirnya muncul di seberang. Larinda melihatnya dari balik kaca jendela. Pria itu memakai kemeja biru pudar, dengan tangan kiri memegang secangkir kopi. Larinda memperhatikan bagaimana Daru berdiri sejenak di depan tokonya, memandangi pot bunga yang kering. Tatapan itu, seperti biasa, dipenuhi kerinduan dan kesedihan yang samar. "Kamu lihat siapa?" tanya Rania, tiba-tiba muncul dengan dua cangkir kopi. Larinda tersipu, menutup sketchbook dengan cepat. "Nggak... cuma lihat jalanan." Rania tertawa kecil, lalu duduk di seberangnya. "Sudahlah, aku tahu kamu sering lihat Mas Daru. Aku juga sering lihat dia curi-curi pandang ke sini, tahu!" "Ah, kamu ini..." Larinda mengaduk kopinya, mencoba menyembunyikan senyumnya. Tapi Rania selalu jeli. "Kamu suka dia?" Larinda terdiam sejenak. Ia tak langsung menjawab. Suka? Mungkin bukan itu kata yang tepat. Rasanya lebih seperti menemukan tanah yang subur setelah bertahun-tahun berkelana di gurun. Bersama Daru, ia merasa tenang. Tidak ada tuntutan. Tidak ada ketergesaan. Hanya duduk berdampingan, saling berbagi kisah. "Aku nggak tahu. Aku nyaman. Tapi... dia masih terikat masa lalu," akhirnya Larinda berbisik pelan. Rania menyesap kopinya. "Ya, aku paham. Tapi tahu nggak, Mbak... Kadang, cinta itu nggak selalu datang setelah kita benar-benar siap. Terkadang, justru cinta itu yang nyembuhin kita." Larinda mengangguk pelan. Kata-kata Rania meresap ke dalam pikirannya. Tapi ia masih ragu. Setelah luka dari Aditya, ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama—menjadi seseorang yang hanya mengisi kekosongan orang lain. Tiba-tiba, bel kecil di pintu kafe berdenting. Daru masuk. Matanya langsung bertemu dengan Larinda, dan mereka saling melempar senyum canggung. "Mas Daru, sini gabung aja!" seru Rania antusias, tanpa memberi kesempatan Larinda menolak. Daru tampak ragu sejenak, tapi akhirnya mendekat. Ia duduk di samping Larinda, dengan kopi hitamnya masih mengepul. "Pagi, Larinda," sapanya. "Pagi, Daru." Percakapan awal mereka ringan—tentang cuaca yang mulai dingin, tentang bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan, tentang buku-buku baru yang belum sempat Daru tata. Larinda menyukai cara Daru berbicara; pelan, tenang, dengan jeda di antara kalimat-kalimatnya. Seperti orang yang berhati-hati agar tak menginjak sesuatu yang rapuh. Saat obrolan mulai mengalir, Larinda tanpa sadar mulai mencoret-coret tisu dengan pulpen. Tangan kirinya membuat sketsa bunga kecil. Daru memperhatikan itu dengan lirikan samar. "Kamu selalu gambar bunga, ya?" tanya Daru. Larinda tersenyum. "Iya. Buatku... bunga itu punya cerita sendiri. Mereka rapuh, tapi juga kuat. Bisa tumbuh di tempat yang tak terduga." Daru mengangguk pelan. Matanya tertuju pada sketsa bunga yang baru saja selesai. "Dulu... Ratih juga suka gambar daun-daun kecil," ucap Daru lirih, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri. Larinda merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Nama itu lagi. Ratih. Bayangan yang selalu hadir di sela-sela percakapan mereka. Larinda paham, itu bukan sesuatu yang mudah dihapus. Cinta seperti itu mungkin tak akan pernah hilang. Namun, yang mengejutkan, Daru kemudian berkata, "Tapi bunga kamu berbeda. Ada sesuatu yang hidup di sana." Larinda menatap Daru. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di mata pria itu—seberkas cahaya kecil yang belum pernah ada sebelumnya. Seperti tunas hijau yang perlahan menyembul di antara retakan tanah. Saat itu, mereka sama-sama diam. Tapi diam itu bukan kekosongan. Ada kehangatan tipis yang menyelinap di antara harum kopi, tawa Rania di kejauhan, dan gerimis kecil yang mulai turun di luar sana. Namun, di balik kehangatan itu, Daru juga merasakan sesuatu yang lain: ketakutan. Ia mencintai Ratih dengan seluruh hidupnya. Ia tak ingin kenangan itu tergeser. Tapi bersamaan dengan itu, ia tak bisa menampik bahwa keberadaan Larinda mulai menjadi bagian yang ia tunggu-tunggu setiap harinya. Cinta yang lama, dan cinta yang baru. Apakah keduanya bisa tinggal di hati yang sama? Daru meneguk kopi hitamnya, berharap pahitnya mampu meredam segala rasa yang berkecamuk. Larinda menatap hujan yang makin deras. Di dalam hatinya, ia juga bertanya-tanya. Apakah bunga yang ia tanam di hatinya ini akan mekar? Atau akan layu seperti yang sudah-sudah? Di tengah tanya itu, Rania tiba-tiba mendekat sambil tertawa. "Eh, kalian berdua kok kayak orang pacaran yang canggung banget?" Larinda dan Daru spontan tertawa kecil. Namun di balik tawa itu, keduanya sadar—ada sesuatu yang mulai tumbuh. Entah akan menjadi apa, mereka belum tahu. Tapi untuk saat ini, mereka hanya ingin membiarkannya tetap hidup. Karena cinta, seperti bunga, kadang hanya butuh hujan dan waktu untuk mekar. Dan pagi itu, di kafe kecil milik Pak Wirya, aroma kopi dan kenangan bercampur dengan harapan yang perlahan merekah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN