Bab 8 - Hujan di Antara Kita

952 Kata
Langit sore itu kelabu. Awan-awan bergelayut rendah, seakan menanggung berat kisah yang enggan diungkapkan. Di jalan sempit di depan toko buku Daru, angin membawa aroma tanah yang basah—pertanda hujan akan segera tiba. Daru berdiri di balik etalase kaca, menatap ke luar. Pandangannya menembus gerimis yang mulai turun perlahan. Tetes-tetes hujan jatuh di atas pot bunga kecil di sudut jalan—pot yang sudah lama kosong, hanya menyisakan tanah kering dengan akar-akar mati yang mencuat, seolah memohon untuk hidup kembali. Sudah tiga hari Larinda tak datang. Biasanya, wanita itu mampir meski hanya sebentar. Membuka buku, mencatat sesuatu, lalu tersenyum kecil sebelum pamit. Kehadiran Larinda mengisi ruang sunyi di toko itu, menghadirkan warna di antara rak-rak yang hanya mengenal debu dan kenangan. Daru menghela napas pelan. Ia tahu, kehadiran Larinda telah menyentuh sesuatu yang selama ini ia kunci rapat-rapat—rasa yang nyaris ia lupakan. Namun, setiap kali bayangan Larinda muncul, ingatan tentang Ratih ikut mengikutinya. Seperti dua warna yang bertabrakan, menciptakan semburat ragu di hatinya. Pintu toko berderit. Daru menoleh. Larinda berdiri di sana—setengah basah. Rambutnya yang sebahu menjuntai lembut, beberapa helai menempel di pipinya. Blus putih yang ia kenakan mulai tembus pandang, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ringkih, seolah hujan telah membasuh lapisan pelindungnya. Di tangan, ia membawa map cokelat yang tampak lepek oleh air. "Hujan tiba-tiba deras," ucap Larinda, sedikit tersengal. Daru bergegas mengambil handuk kecil dari belakang meja kasir. "Masuklah... Duduk sebentar." Larinda menurut. Ia duduk di bangku kayu di sudut toko, berhadapan dengan rak buku lama yang aromanya khas—perpaduan antara kertas tua dan waktu. Daru menyodorkan handuk, dan Larinda menerimanya dengan senyum tipis. "Hujan selalu datang di saat aku lupa bawa payung," Larinda tertawa pelan, mencoba mencairkan suasana. Daru membalas dengan anggukan. Ia memperhatikan cara Larinda mengeringkan rambutnya—gerakan itu sederhana, namun ada kelembutan yang membuat dadanya terasa hangat. "Kamu suka hujan?" tanya Daru akhirnya. Larinda terdiam sejenak, lalu mengangkat wajah. "Dulu... iya. Hujan seperti lagu latar yang menenangkan. Tapi belakangan... rasanya seperti pengingat tentang hal-hal yang tak selesai." Daru memahami maksudnya. Ia tahu, setiap orang memiliki cerita dengan hujan—entah itu pelukan terakhir, air mata perpisahan, atau langkah yang tak pernah kembali. Ia berdiri, menuangkan dua cangkir teh hangat. "Mungkin hujan tidak pernah membawa apa-apa. Kita yang terlalu sering menyelipkan kenangan ke dalamnya." Larinda tersenyum samar. "Benar juga..." Hening sejenak. Di luar, hujan semakin deras. Suara tetesan air menabrak atap seng seperti irama yang tak teratur, namun menghipnotis. Larinda membuka map yang ia bawa, mengeluarkan beberapa lembar sketsa bunga. "Aku sedang mengerjakan proyek ilustrasi untuk sebuah majalah," ujarnya sambil memperlihatkan gambar. "Tapi entah kenapa... setiap kali aku menggambar bunga, rasanya seperti aku sedang mencari sesuatu." Daru mengamati lembar demi lembar. Bunga-bunga itu tampak hidup—kelopaknya lebar, tangkainya kokoh, tapi ada kesan melankolis dalam guratan-guratan pensil itu. Seolah bunga-bunga itu pernah menghadapi badai, namun memilih tetap mekar. "Kenapa harus bunga?" tanya Daru. Larinda mengangguk pelan. "Bunga itu jujur... Dia tumbuh, mekar, layu. Tidak pernah pura-pura. Aku ingin seperti bunga—berani tumbuh, meski tahu suatu saat akan jatuh." Daru terpaku. Kalimat itu membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Ratih dulu pernah berkata hal serupa—tentang keberanian untuk mencintai meskipun tahu kehilangan akan selalu ada di ujungnya. "Bunga... juga tahu kapan harus menyerah," ucap Daru lirih. "Kadang ia layu, karena tahu tanah itu tak lagi sanggup menahannya." Larinda menatap Daru. Ada kesedihan di mata pria itu—kesedihan yang Larinda kenali, karena ia juga memilikinya. Luka yang berbeda, namun nyeri yang sama. "Kamu masih menyimpan cincin itu," ucap Larinda pelan, matanya tertuju pada jari manis Daru yang masih terlingkar cincin pernikahan. Daru reflek menutupi tangannya. Ia merasa bersalah—seolah kehadirannya di sini, bersama Larinda, adalah bentuk pengkhianatan terhadap Ratih. "Hidup Ratih... masih ada di setiap sudut toko ini," Daru menatap sekitar. "Aku takut, jika aku membuka hati untuk orang lain... aku akan menghapusnya." Larinda mendengarkan dengan hati-hati. Ia mengerti ketakutan itu. Karena ia pun pernah takut mencintai lagi, setelah dikhianati oleh orang yang ia percayai sepenuh hati. "Aku juga takut," Larinda mengaku. "Takut, kalau aku hanya mencari pengganti. Takut, jika rasa ini... cuma pelarian." Daru menatap Larinda. Untuk pertama kalinya, mereka sama-sama membuka keraguan yang selama ini disimpan sendiri. Tidak ada jawaban, hanya kejujuran yang mengalir di antara mereka—seperti hujan yang terus jatuh tanpa rencana. Tiba-tiba, Larinda meraih pensil dan kertas kosong di meja. Ia mulai menggambar. Jari-jarinya bergerak luwes, menciptakan garis-garis yang akhirnya membentuk bunga kecil dengan batang yang bengkok. "Ini aku," kata Larinda pelan, menunjukkan gambar itu. "Bunga yang hampir patah, tapi masih berdiri." Daru tersenyum, meski hatinya bergetar. Ia ingin mengatakan bahwa ia melihat keindahan dalam setiap retak di diri Larinda. Namun, kata-kata itu tertahan—tertutup oleh rasa bersalah yang belum sepenuhnya ia enyahkan. Hujan mulai reda. Larinda bersiap pergi. "Aku akan mengembalikan buku ini nanti," ujarnya, mengangkat buku botani yang dipinjamnya beberapa waktu lalu. Daru mengangguk. "Datang saja... kapan pun." Larinda menatap Daru sejenak, sebelum akhirnya melangkah keluar. Di ambang pintu, ia berhenti. "Daru... mungkin kita sama-sama belum sembuh. Tapi... aku senang mengenalmu." Daru terdiam. Kalimat sederhana itu meninggalkan jejak dalam hatinya—seperti hujan yang membasahi tanah kering, perlahan menyerap ke akar-akar yang nyaris mati. Saat Larinda berjalan menjauh, Daru menatap pot bunga kosong di sudut jalan. Ia membayangkan benih baru yang mungkin bisa tumbuh di sana—jika ia berani menanamnya. Karena mungkin, cinta bukan tentang menggantikan. Tapi tentang memberi ruang bagi sesuatu yang baru untuk hidup, berdampingan dengan kenangan yang tetap dikenang. Daru menyentuh cincin di jarinya, namun kali ini, ia tidak merasakan berat yang sama. Hanya ada rasa hangat—seperti tanah setelah hujan. Dan di hatinya yang lama kering, untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang mulai tumbuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN