Daru menutup pintu toko buku menjelang sore. Udara dingin mengalir pelan dari celah jendela, membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam. Rak-rak kayu tua di dalam toko berdiri seperti penjaga kenangan, mengapit setiap jejak masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.
Ia menatap kursi kecil di sudut ruangan—tempat Ratih biasa duduk membaca buku resep, mencoret-coret bahan masakan di pinggiran halaman. Cincin di jarinya terasa lebih berat sore itu, seperti mengikat jarinya dengan simpul tak kasat mata.
Di mejanya, tergeletak sebuah sketsa bunga di atas selembar tisu. Larinda yang menggambarnya beberapa hari lalu. Bunga kecil dengan batang ramping, kelopaknya samar, seolah ragu untuk mekar sempurna.
Daru menyentuhnya dengan ujung jari. Ada getar yang samar, rasa yang belum ia mengerti. Ia merasakan sesuatu tumbuh dalam dirinya—seperti tunas kecil di tanah yang lama gersang. Namun bersamaan dengan itu, muncul juga rasa bersalah.
Malam sebelumnya, Daru membuka album foto Ratih untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan. Jemarinya menyusuri foto pernikahan mereka. Senyum Ratih terekam abadi di sana—mata bulatnya, pipi yang merona, dan rambut yang disisir rapi dengan jepit kecil berbentuk daun.
Di foto lain, Ratih tengah berdiri di kebun belakang rumah, memegang pot berisi bunga kenanga yang baru dipindahkannya. Ratih percaya, bunga kenanga membawa ketenangan.
Daru ingat, saat Ratih sakit, ia pernah berbisik di sela napas yang terengah, "Kalau aku pergi nanti, bunga ini tetap kamu siram, ya..."
Bunga itu kini telah mati.
Daru menyandarkan punggung ke dinding. Album foto dibiarkan terbuka, memperlihatkan kenangan yang dulu menghangatkannya, kini seperti belati yang mengiris perlahan.
Ia memejamkan mata, suara Larinda muncul di kepalanya—tawa ringan saat ia menemukan buku tua tentang flora, gumaman pelan saat ia sibuk memilih kertas gambar, dan kalimatnya yang lirih.
Daru tahu, Larinda tidak meminta banyak. Ia tidak menuntut tempat di hati yang masih dihuni bayangan Ratih. Tapi justru karena itulah Daru merasa gamang. Ia takut, memberi ruang bagi Larinda berarti mengusir Ratih.
Mencintai lagi, seakan-akan mengkhianati janji yang ia ucapkan di depan makam Ratih lima tahun lalu: "Aku akan selalu menjagamu, bahkan setelah kau pergi."
Pak Wirya duduk di bangku panjang di depan kafe. Asap tipis mengepul dari cangkir kaleng di tangannya. Ketika Daru datang, ia hanya mengangguk, lalu mendorong cangkir kopi lain ke hadapannya.
"Daru, kamu tampak lelah," kata Pak Wirya setelah beberapa saat hening.
Daru mengangguk pelan. Ia memutar cangkir di tangannya, memperhatikan kopi hitam yang berputar pelan seperti waktu yang terus berjalan, tak peduli siapa yang tertinggal.
"Apa yang membuatmu gelisah, Daru?"
Daru ragu sejenak, lalu menghela napas panjang. "Aku merasa seperti sedang melangkah keluar dari jalur yang seharusnya. Aku takut... Ratih akan merasa aku melupakannya."
Pak Wirya tersenyum tipis. Kerutan di wajahnya seperti peta perjalanan hidup yang panjang. "Cinta itu bukan penjara, Nak. Ia seperti akar. Meskipun pohonnya tumbang, akarnya tetap ada di dalam tanah, memberi kehidupan untuk yang lain."
Daru terdiam.
"Kau tahu kenapa pohon besar bisa tetap berdiri meski diterpa badai? Karena akarnya kuat. Tapi akar itu tak pernah mengikat batang untuk berhenti tumbuh. Ia membiarkannya menjulang, merentangkan cabang, dan memberi tempat bagi burung-burung bersarang."
Kata-kata Pak Wirya menggema di kepala Daru. Akar. Ratih adalah akar dalam hidupnya. Tanpa Ratih, ia tak akan menjadi dirinya yang sekarang. Tapi, apa salahnya jika batang itu tumbuh lagi, memberi tempat bagi daun-daun baru?
Pak Wirya menepuk bahu Daru. "Ratih akan selalu ada. Ia bagian dari akarmu. Tapi hidupmu belum selesai, Daru. Kamu masih harus tumbuh."
Daru mengangguk, meskipun hatinya belum sepenuhnya yakin.
Malam itu, Daru duduk di ruang belakang toko. Ia membuka kotak kayu kecil yang sudah lama ia simpan. Isinya sederhana— cincin kawin milik Ratih, beberapa surat cinta yang ditulis Ratih dengan tulisan tangannya yang rapi, dan sehelai pita kuning yang dulu pernah diikatkan Ratih di pergelangan tangannya saat mereka berlibur ke pegunungan.
Semua benda itu memiliki napas, menyimpan detak-detak yang pernah membuat dadanya hangat.
Daru mengambil sepucuk surat. Surat yang Ratih tulis saat pertama kali ia divonis sakit. Kertasnya sudah agak menguning, tintanya mulai pudar.
Daru,
Jika suatu saat aku harus pergi lebih dulu, jangan merasa bersalah karena kamu tetap hidup. Aku ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu mencintai lagi, bukan untuk menggantikan aku, tapi untuk melanjutkan apa yang sudah kita mulai—hidup.
Aku akan selalu jadi bagian darimu. Tapi jangan biarkan aku menjadi dinding yang mengurungmu.
Tangan Daru bergetar. Butiran air jatuh di kertas itu, membuat beberapa huruf luntur. Daru menggenggam surat itu di dadanya. Kenangan dan rasa kehilangan membanjiri dirinya, tetapi ada sesuatu yang lain—sebuah kelegaan kecil. Seperti pintu yang terbuka perlahan setelah bertahun-tahun tertutup rapat.
Ia menutup kotak itu dengan hati-hati, seperti seorang tukang kebun yang menanam benih. Bukan untuk melupakan, tapi untuk membiarkan sesuatu yang baru tumbuh.
Esok paginya, Daru berdiri di depan toko buku, menatap pot bunga kering di sudut jalan. Ia membungkuk, meraba tanah yang keras di dalam pot itu. Mungkin, sudah waktunya ia menanam sesuatu yang baru.