Beberapa hari sebelumnya, Larinda duduk di sudut kedai kopi Pak Wirya, tepat di meja dekat jendela yang menghadap ke jalan kecil berbatu.
Di luar, hujan baru saja reda. Tetes-tetes air masih bergelayut di ranting pohon jambu, sesekali jatuh membentuk nada lirih yang menenangkan.
Udara dingin, namun Rania tetap menyajikan es kopi s**u seperti biasa, tahu bahwa dingin atau panas tak pernah mengubah selera Larinda.
"Kenapa wajahmu kayak bunga layu gitu, Mbak?" Rania duduk di seberang, menyelipkan serbet di saku celemeknya.
Larinda tersenyum kecil, hambar. Ia merogoh pensil di tas, lalu mulai menggambar di atas tisu cokelat. Bunga. Selalu bunga. Tapi kali ini kelopaknya patah satu, dan batangnya sedikit miring.
"Kadang bunga juga bisa capek, Ran," katanya pelan, tanpa mengangkat wajah.
Rania menyandarkan tubuh, menatap Larinda dengan tatapan penuh selidik. Ia tahu, ini bukan sekadar lelah karena pekerjaan atau hidup yang monoton. Ada sesuatu yang tumbuh dalam hati sahabatnya itu—dan mungkin sedang goyah.
"Mas Daru?" tebak Rania.
Larinda berhenti menggambar, pensilnya diam di atas kertas. Ia mengangguk kecil, mata masih tertuju pada bunga patah itu.
"Kalian kenapa?"
Larinda menghela napas panjang. Sudah beberapa hari ini Daru berubah. Ia seperti menarik diri, seperti pagar toko bukunya yang mulai berkarat—tertutup, dingin, seolah melindungi sesuatu yang rapuh di dalam.
"Aku gak tahu," suara Larinda melemah. "Awalnya... aku pikir kami mulai saling nyaman. Aku suka obrolan kami, tentang buku-buku tua, tentang bunga, tentang hidup... Tapi sekarang dia seperti menjauh."
"Dia ada trauma, Mbak. Aku denger dia pernah kehilangan istri, kan?"
Larinda mengangguk. "Ratih." Nama itu keluar dari bibirnya dengan kehati-hatian, seolah menyebut sesuatu yang sakral.
"Hmmm." Rania menopang dagu. "Tapi, kamu gak bisa terus-terusan nebak-nebak. Jangan biarin kamu sendirian sama pikiranmu sendiri. Nanti makin tumbuh bayangan-bayangan buruk."
Larinda terdiam.
"Besok temuin dia. Tanya langsung," lanjut Rania tegas. "Klarifikasi. Kalau dia beneran menjauh karena belum siap, ya udah, setidaknya kamu tahu."
Larinda tahu Rania benar. Namun, hatinya gentar. Ia takut mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Takut jika semua kenyamanan itu hanya khayalannya semata. Bahwa mungkin, ia hanyalah seorang perempuan yang kebetulan lewat di taman hati Daru, yang masih dipenuhi jejak-jejak Ratih.
Esoknya, Larinda berdiri di depan toko buku Daru. Langit mendung, dan aroma tanah basah semalam masih tersisa di udara. Ia berdiri cukup lama sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk masuk. Bel itu berbunyi pelan ketika ia membuka pintu.
Daru ada di sana. Seperti biasa, di balik meja kasir yang dipenuhi buku-buku lama. Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Senyum yang biasanya hangat, kini tipis dan formal. Seolah Larinda hanya seorang pelanggan biasa.
"Hai," sapa Larinda pelan.
Daru mengangguk. "Hai. Ada yang bisa kubantu?"
Larinda tersenyum kaku. Pertanyaan itu seperti pisau kecil yang menyayat harapannya.
"Aku cuma... lewat," jawab Larinda.
Daru mengangguk lagi. Tangannya sibuk merapikan tumpukan buku, padahal Larinda tahu, tumpukan itu sudah rapi. Ia sedang menghindar.
Larinda berjalan pelan menyusuri rak, menyentuh buku-buku tua yang berdebu. Jemarinya berhenti pada satu buku tipis dengan sampul bergambar bunga edelweiss. Ia menariknya perlahan. Buku itu dulu yang Daru berikan padanya pertama kali.
"Daru..." suara Larinda bergetar, nyaris berbisik. "Aku mengganggumu, ya?"
Daru terdiam sejenak, lalu menegakkan tubuh. Matanya bertemu dengan mata Larinda, namun ada jarak di sana.
"Enggak, kok. Aku cuma... lagi banyak pikiran," jawabnya singkat.
Larinda tersenyum pahit. Jawaban yang sangat umum, namun ia tahu ada lebih dari itu.
"Aku tahu mungkin aku lancang. Aku baru kenal kamu, baru masuk di hidupmu sebentar. Tapi aku merasa... aku nyaman di sini, Daru. Aku suka ada di dekat kamu."
Daru menggigit bibir bawahnya. Ada keraguan di wajahnya.
"Tapi... aku gak ingin jadi pengganggu," lanjut Larinda dengan suara lirih. "Aku gak ingin menggantikan siapa pun di hidupmu."
Daru menutup matanya sesaat, seperti menahan sesuatu yang berat di dadanya.
"Larinda... ini bukan tentang kamu. Kamu gak salah apa-apa. Aku... aku cuma takut," kata Daru akhirnya. "Takut kalau aku membuka hati lagi, aku mengkhianati Ratih. Takut kalau aku mencintai orang lain, berarti aku melupakan dia."
Larinda menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu gak perlu melupakan dia," ucap Larinda pelan. "Cinta itu gak harus membuang yang lama untuk menerima yang baru. Ratih akan selalu jadi bagian hidupmu. Aku... aku gak ingin menggantikan dia. Aku cuma ingin jadi aku."
Daru terdiam. Kata-kata Larinda meresap pelan ke dalam hatinya. Namun, rasa bersalah itu masih mencengkeram kuat.
Suasana hening. Hanya suara detak jam tua di dinding yang terdengar, berdetak seirama dengan degup hati mereka yang sama-sama ragu.
"Aku paham," kata Larinda akhirnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum kecil meskipun hatinya perih. "Kalau kamu butuh waktu, aku mengerti."
Daru mengangguk pelan. Tapi Larinda menangkap sesuatu di sana—keraguan yang lebih besar dari keinginan. Ia sadar, Daru masih belum siap.
Larinda mengembalikan buku edelweiss ke rak. Tangannya gemetar, seolah meletakkan harapan yang belum sempat tumbuh sepenuhnya.
"Sampai ketemu lagi, Daru."
Larinda melangkah keluar. Bel toko berbunyi lagi, namun kali ini suaranya terdengar seperti lonceng perpisahan kecil di hati Larinda.
Hujan mulai turun. Larinda berjalan perlahan menyusuri trotoar, membiarkan gerimis membasahi rambut dan bahunya. Ia menengadah, menatap langit kelabu.
Rasanya seperti ada yang jatuh dalam dirinya—mungkin rasa itu, atau mungkin harapan tentang taman yang bisa tumbuh bersama Daru.
Setibanya di kos, Larinda langsung masuk ke kamar. Ia duduk di depan kanvas yang sudah berhari-hari kosong. Perlahan, tangannya mulai bergerak. Kali ini ia menggambar bunga dengan kelopak yang patah.
Namun, meski patah, batangnya tetap tegak. Dan di sisi kelopak yang hilang itu, ada tunas kecil yang mulai muncul—sebuah isyarat bahwa hidup selalu memberi kesempatan kedua.
Larinda menatap lukisan itu lama. Air matanya menetes, tapi bibirnya membentuk senyum samar.
Bunga patah itu adalah dirinya. Luka boleh ada, kehilangan boleh singgah. Tapi ia percaya, di suatu waktu nanti, mungkin bunga itu akan mekar sempurna—dengan caranya sendiri.
Ia hanya harus bersabar, dan membiarkan waktu bekerja.
Sebab, bukankah bunga yang abadi adalah yang terus tumbuh, meski pernah patah?