Diam dan mencerna semua yang Gita katakan, anggap saja mereka semua salah dengar dengan semua yang dikatakan oleh Gita. Jarak antara Jakarta sampai ke rumah Gita memang tidak terlalu jauh walaupun harus mereka lakukan setiap harinya. Hanya saja waktu Gita sudah pasti tidak akan sama seperti saat ia kerja di Jakarta.
Ya, Gita memutuskan menerima tawaran orang tuanya untuk bekerja di kampung, di sebuah pabrik sepatu terbesar di Asia. Gita sudah menjelaskan detail jam kerjanya yang sangat menguras tenaga dan waktu menurut mereka.
Gita juga menjelaskan bahwa itu merupakan kesempatan emas untuknya yang hanya memiliki ijazah SMP. Walaupun diakhirnya Gita juga menambahkan harus siap mental dan tenaga jika ingin bekerja di sana.
Gita yang sangat yakin dengan kemampuannya membuatnya yakin untuk bekerja disana. Padahal Getta berencana untuk kembali merayu ayahnya agar membatalkan kepindahannya ke Singapura demi tetap bisa bersama mereka semua. Begitupun dengan Wildan yang menolak keputusan orangtuanya yang memintanya untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman.
"Gue mau kerja dikampung," kata Gita setelah mereka mengobrol santai sebelumnya.
"Maksudnya?" tanya Getta.
"Nyokap kemaren telpon, kalo di pabrik sepatu ada lowongan buat operator jait. Dan ijazah cuma formalitas doang, nyogok sih sejuta, tapi gak apa-apa lah. Kapan lagi coba gue bisa kerja di pabrik bonafid kayak gitu?" tanya Gita dengan tersenyum lebar.
"Lu tinggal terima tawaran gue, Kak. Emang perusahaan gue kurang bonafid?" tanya Kenn dengan kesal.
"Beda bidang, Pea! Kemampuan gue jait lu tempatin di administrasi ya kaga nyambung," jawab Gita.
"Kan bisa belajar," balas Kenn.
"Ogah ah. Gue mau kerja di perusahaan yang sesuai dengan kemampuan gue," katanya lagi.
"Bukannya gue denger di pabrik itu pengawas atau mandor nya serem-serem ya? Terus kalo marah karna gak dapet target atau kesalahan, yang keluar bahasa binatang semua?" tanya Oncom yang mengetahui sistem kerja pabrik yang akan Gita tuju.
Banyak orang kampungnya yang bekerja di sana, dan banyak yang menyerah karena tidak tahan dengan caci maki pengawas nya. Bahkan katanya mereka tidak segan dilempar sepatu jika melakukan kesalahan.
"Serius lu, Com?" tanya Rian tidak percaya.
"Gue sih taunya dari tetangga di kampung gue. Karna banyak yang kerja disitu, emang gajinya gede. tapi ya gitu," jawab Oncom yang membuat mereka bingung.
"Gitu gimana?" tanya Hendrik penasaran.
"Tetangga gue sebulan kerja disitu, pulang ke kampung nangis bilang gak kuat. Karna katanya dia pernah dilempar pake sepatu yang hampir jadi pas jaitan dia miring. Udah gitu di caci maki pake bahasa binatang. Dan dia gak mau kerja lagi disitu," itu yang didengar oleh Oncom dari tentangnya yang kerja di pabrik tersebut.
Gajinya hanya sebatas upah minimum rata-rata, yang menjadikan pendapatan lebih besar adalah, dengan adanya kerja lembur, kerja shift dan transportasi perbulannya. Sehingga banyak yang mengartikan bahwa kerja di pabrik itu merupakan kebanggaan tersendiri, karena uang dari selain gaji pokok lah yang membuat pendapatan besar setiap bulannya.
Cerita Oncom merupakan hal biasa bagi Gita, karena untuk cerita tentang itu semua sudah tidak asing. Banyak tetangganya pun yang bekerja di pabrik itu menceritakan hal yang sama dnegan cerita Oncom. Karena sistem kerja di PT dengan Konveksi kecil pasti berbeda, karyawan dibayar mengikuti sesuai aturan pemerintah jika kerja mereka memenuhi standar ketentuan pabrik tersebut. Jadi tidak heran jika Gita harus siap-siap kerja dibawah tekanan target yang harus didapatkannya.
"Kalo itu mah gue udah gak aneh. Soalnya sepupu gue juga cerita kayak gitu, tapi kalo menurut gue sendiri ya, selagi kerja kita bener dan sesuai ketentuan perusahaan, gak bakalan ada hal kayak gitu. Melakukan kesalahan dalam berkerja merupakan hal yang wajar. Mereka juga liat-liat kali jenis kesalahannya apa," jelas Gita dengan pemikiran yang yakin.
Karena Yola pernah berkata, di manapun kita bekerja akan mendapatkan Omelan atau bahkan caci maki selama pekerjaan kita tidak benar. Dan sebaliknya, jika kita bekerja mengikuti sesuai peraturan dan target yang telah ditetapkan, maka semua akan berjalan dengan lancar.
"Cuma resiko kerja jadi tukang jait itu hatinya harus selalu bahagia, karena mesin yang jadi pegangan kita itu ngikutin perasaan kita. Kalo kita lagi seneng ya mesin yang kita pake lancar jaya. Sebaliknya, kalo pikiran kita lagi ruwet, mesin juga bakalan ikut ngadat."
"Emang tuh mesin punya hati?' tanya Wildan dengan wajah bingungnya, mendengar Gita menjelaskan antara mesin dan hatinya.
"Gak tau ya, cuma kayak punya nyawa aja gitu, soalnya selama ini itu yang gue rasain. Kalo misalnya gue lagi seneng ya mesinnya enak buat jait, gak rusak lancar jaya lah pokoknya. Tapi kalo pikiran gue lagi semerawut, contohnya kayak kemaren gue mikirin si Onta. Itu mesin MasyaAllah sekali, bener 'kan, Com?"
Karena memang minggu kemarin disaat Gita kesal karena belum mendapatkan kepastian kabar tentang Andra, pikirannya menjadi kesal dan ingin marah. Alhasil mesin yang dipakainya pun rusak selama tiga hari berturut-turut. Membuat mekanik bingung sendiri dalam memperbaikinya, karena menurutnya sudah benar semua.
Tapi entah kenapa mesin itu tidak mau diajak bekerja. Bahkan bosnya sampai harus mengambil stok mesin baru di gudang, yang tidak lama kembali rusak juga. Sampai mekaniknya menebak jika Gita sedang dalam suasana hati yang tidak baik, yang dibenarkan oleh Gita.
"Masa iya bisa begitu, Kak?" Getta masih belum percaya akan penjelasan Gita.
"Dih! Lu mah gak percaya. Gini ya, setiap barang apapun yang kita pake itu punya nyawa menurut gue ya. Di film kalo gak di sinetron juga sering 'kan di contohin, kalo misalnya orang lagi kesel. Contohnya lu di putusin sama pacar secara sepihak, terus di jalan tiba-tiba mobil lu mogok. Pribahasa nya, sudah jatuh tertimpa tangga pula, 'kan? Nah itu 'kan menandakan kalo mobil itu juga tau kalo Tuan-nya lagi sedih, terus dia juga ikutan sedih jadinya mogok deh," jawab Gita dengan penjelasan contoh yang bisa ia gambarkan.
"Iya juga sih," Getta mengangguk setuju dengan semua perkataan Gita. "Jadi kapan lu kerja di sananya?" tanya Getta kembali pada topik awal pembicaraan mereka.
"Senin depan," jawab Gita langsung.
"Kenapa dadakan sih?" tanya Kenn dengan kesal.
"Kecuali besok gue pindah, malem ini baru ngasih tau, Lu. Itu baru namanya dadakan, Pea!" bantah Gita.
"Orang mah sebulan sebelum pindah udah harus lu kasih tau," sambung Rian.
"Gue baru dikasih tau kemaren, Onta."
"Terus kita mau ngapain ini?" tanya Oncom.
"Maen game yuk," ajak Wildan.
"Ayok lah, maen apa?" jawab mereka kompak dengan diiringi pertanyaan.
"Truth or dare," jawab Wildan langsung.
"Yang tantangan atau jujur bukan?" tanya Gita memastikan.
"Betul! Kok pinter sih?" Getta menoel pipi Gita dengan gemas.
"Gue pernah denger soalnya," jawab Gita jujur, Gita pernah mendengar dan melihat permainan itu disebuah film.
"Denger dimana?" tanya Kenn.
"Di film 21+ sih," jawab Gita lagi dengan jujur dan polos.
"Dih! Kecil-kecil liat film begituan," tegur Rian.
"Pas permainan itu doang gue liatnya. Di situ setiap ceweknya yang kalah dapet tantangan buka satu pakaian nya. Karena dia milihnya tantangan sampe b***l," cerita Gita pada film yang ditontonnya hanya sekilas itu.
"Terus gimana pas udah b***l?" tanya Hendrik penasaran.
"Gak tau, orang gue liat sampe situ doang."
"Ya udah sekarang kita mulai. Udah tau 'kan cara maennya?" tanya Getta yang telah menyiapkan botol bekas minuman.
"Jelasin dulu lah, takutnya gue belum paham betul," saran Gita.
"Jadi gini, dimulai dari lu, Kak. Yang muter botolnya, nah misalnya si botol ini berakhir di gue kepalanya, lu bisa ngasih pilihan buat ngelakuin tantangan atau dia jujur sama pertanyaan lu, paham 'kan?" jelas Wildan yang diangguki oleh Gita dan Oncom.
"Oke mulai," jawab Oncom semangat.
"Gue duluan ya." Gita mulai memutar botolnya, botol berputar dan berakhir pada Rian. " Tantangan apa jujur?" tanya Gita.
"Truth or dare, Kak." Kenn meralat pertanyaan Gita.
"Gue orang Indonesia asli, jadi ribet kalo kudu nanya gitu," balas Gita asal, membuat Hendrik mengacak rambutnya.
"Jujur deh," pilih Rian yang takut akan tantangan Gita.
Bukan takut dalam artian sebenarnya, Rian hanya takut Gita akan memberikan tantangan yang aneh padanya, dan Rian tidak mau terjebak.
"Apa yang lu rasain saat ini?"
"Yang rasain apa perasaan gue?"
"Sama aja."
"Beda, Coy."
"Ya udah perasaan lu deh," tidak mau berdebat Gita lebih memilih mengalah.
"Campur aduk dan lebih dominan ke sedih," jawab Rian jujur. "Gue seneng malam ini kita bisa kumpul walaupun kurang satu, gue sedih karena waktu kita terbatas, apalagi lu yang bakalan pindah. Asal lu tau, baru aja si Onta." Rian menunjuk Getta. "Bilang kalo Ayah Adi udah nanya kapan dia balik? Dan dia mau usaha ngerayu Ayah buat tetep kuliah disini."
"Maksudnya?" sela Oncom.
"Gue sama si Onta diminta buat kuliah di sana, dan gue masih mau nego sama Ayah buat hal itu. Tapi kalo udah kayak gini mau gimana lagi? Kayaknya emang gue harus terima permintaan Ayah."
Getta akhirnya memberitahu tentang dirinya yang dipaksa pindah ke Singapura oleh Adiputra.
"Ayah lu 'kan ngelakuin itu semua karena pasti itu yang terbaik buat lu berdua. Jadi kenapa gak lu turutin?" tanya Gita heran dengan jalan pikiran orang kaya. Disaat dirinya ingin sekali sekolah, mereka bersikap seolah tidak mau sekolah.
"Tadinya 'kan kalo lu disini gue bakalan ngomong lagi sama Ayah buat ngebatalin semuanya," jawab Getta.
"Lah kok gue sih?" tunjuk Gita pada dirinya sendiri. "Apa hubungannya sama gue coba?"
"Pokoknya gitu lah," jawab Wildan tidak mau memperpanjang pembahasan tentang kuliah mereka.
"Gaje sumpah," heran Gita.
"Lu kenapa diem aja, Com?" tanya Rian yang melihat Oncom seperti melamun.
Tangannya terus menganduk-ngaduk kopi yang tadi dipesannya dari pedagang gerobak yang sudah menjadi langganannya.
"Kayaknya gue juga kudu pindah deh," jawabnya dengan pandangan lurus ke depan.
"Ya udah berarti kita berpencar," sela Hendrik.
"Lu mau pindah ke mana?" tanya Gita pada Hendrik.
"Lu tau gak, Kak, Com?" tanya Hendrik balik bertanya. Kompak Gita dan Oncom. "Kita nih ya dari awal rencananya kuliah di tempat masing-masing gak di satu universitas yang sama kayak sekarang. Gue sama Rian rencananya mau kuliah di Bandung," sambung Hendrik.
"Gue sama si Onta emang dari awal disuruh di Singapura sama Ayah," timpal Getta.
"Gue suruh di Jerman dan udah setuju, Awalnya." Wildan.
"Gue suruh di Ausi, awalnya juga." Kenn.
"Terus kenapa gak pada jadi?" tanya Oncom heran.
"Jangan bilang karna kita berdua?" sela Gita.
"Pertama, kita males adaptasi baru, entah itu sama temen baru atau lingkungan baru. Kedua, kita gak punya dan gak mau punya temen cewek selain lu, kalo si Oncom 'kan bukan cewek," jawab Wildan membuat Oncom mendengus sebal.
"E tapi kita masih bisa berkabar 'kan walaupun lu di luar negeri nantinya," tanya Gita memastikan. Gita tidak mau komunikasi mereka terputus.
"Bisa, Sayang. Cuma waktu kita beda-beda, itu nantinya yang bikin susah," jawab Getta.
Perbedaan waktu dari satu negara ke negara lain lah yang akan menjadi penghambat mereka dalam berkomunikasi secara bersamaan nantinya.
"Emang beda waktunya berapa jam?" tanya Oncom.
"Indonesia sama Singapura beda waktunya satu jam, di mana Indonesia lebih cepet dari Singapura. Kalo misalnya disini jam tujuh berarti di Singapura jam enam. Indonesia sama Australia bedanya empat jam, Ausi lebih cepet. Indonesia sama Jerman bedanya enam jam, Indonesia lebih cepet. Singapura sama Ausi bedanya tiga jam, Ausi lebih cepet. Singapura sama Jerman tujuh jam, Singapura lebih cepat. Terakhir Ausi sama Jerman bedanya 10 jam, Ausi lebih cepet. Kalo mereka jadi kuliah di sana, kita bisa bayangin lah gimana nanti komunikasi kita. Satu On satu Off."
Hendrik menjelaskan rentetan perbedaan waktu antar negara. Oncom dan Gita memandang dengan takjub untuk hal itu. Hendrik dengan kecerdasannya memang nomor satu untuk mereka, Hendrik selalu tahu jawaban dari pertanyaan mereka. Selalu menjawab dengan detail karena dirinya malas mengulang nantinya.
"Lu ngapa liatin gue begitu sih?" tanyanya heran pada Gita dan Oncom.
"Otak lu emang gak perlu dipertanyakan, Ta." puji Gita membuat mereka tertawa.
"Kirain gue kenapa?" tanyanya heran. "Gue gak bakalan dapet beasiswa kalo otak gue masih dipertanyakan, Kak. Aneh aja lu," tuturnya lagi.
"Terus gimana dong?" tanya Oncom dengan bingung.
"Ya gak gimana-gimana. Kita bikin grup chat, w******p 'kan bulan kemaren udah rilis fitur chat grup. Biar tetep bisa ngobrol bareng," saran Rian.
"Ya udah setuju," jawab Kenn langsung. "Gue mau ke toilet dulu," pamit Kenn.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka semua. Sedangkan yang lainnya tetap melanjutkan obrolan. Anak Onta lainnya tahu Kenn akan ke mana, jadi mereka membiarkan saja.