Ke toilet hanyalah alasan untuk Kenn yang sebenarnya pergi menuju konter hp, meminjam motor milik pemilik warung gerobak yang sudah sangat mengenalnya. Kenn membeli handphone dengan merk dan model yang sama untuk keperluan mereka nanti.
Kenn tahu dengan pasti Gita akan memprotesnya lagi, tapi ini semua demi kelancaran komunikasi mereka. Kenn sengaja membeli merk dan model yang sama, hal itu agar Gita dan Oncom mau menerima tanpa banyak tanya.
Kesialan menghampiri Kenn, ketika dua Cere menghampirinya yang sedang mendengarkan penjelasan dari pemilik konter, tentang performa handphone yang akan dibelinya. Kenn menarik napas kesal ketika mereka bertanya ini itu dan mengganggu aktivitasnya.
Sayang Kenn tidak membawa handphone, jadi ia tidak bisa menghubungi yang lainnya untuk segera pergi dari sana, karena Kenn tidak mau ketenangan mereka terganggu dengan hadirnya kedua Cere itu.
"Kak Kenn ke mana aja sih?" tanya Kimmy sok akrab.
"Urusannya apa sama lu gue pergi ke mana?" tanya Kenn ketus dengan tersenyum miring.
"Gak ada sih, cuma 'kan Kakak pasti tau di mana pacar kami berdua," jawab Salsa dengan senyum manis tanpa tahu malu.
"Sadar diri mangkanya, kalo orang gak suka jangan dipaksain. Jatohnya nyiksa batin tau gak."
Perkataan Kenn sangat pedas menurut penjaga konter, apalagi itu ditunjukkan pada dua gadis cantik dan terlihat dari kalangan atas itu.
"Kita gak maksa kok, Kak. Kalo Kak Getta sama Kak Hendrik gak suka gak mungkin 'kan mau pacaran sama kita berdua," sanggah Kimmy.
Kenn kembali melemparkan senyum miringnya, "Serah lu berdua. Saya pilih ini, enam biji ya."
Kenn menunjuk smartphone yang dijelaskan terakhir sebelum kedua Cere datang mengganggunya. Pegawai konter itu dengan sigap dan tersenyum lebar langsung mengambilkannya.
"Ini, Kak. Garansi kerusakan Lcd dan baterai nya satu tahun ya."
Dengan tersenyum bahagia pegawai konter itu menyerahkan tote bag yang sudah berisi enam buah handphone. Kenn mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar. Setelah semua proses pembayaran selesai, tanpa menghiraukan kedua Cere yang mengganggunya, Kenn pergi begitu saja. Kenn bernapas lega ketika tidak lagi melihat mobil Salsa, ia segera memutar gas untuk menuju teman-temannya lagi.
"Lu abis boker ya?" tanya Oncom, yang heran dengan Kenn yang hampir 40 menit di toilet. "Eh tapi ini apa?" tanyanya lagi pada Tote bag yang dibawa eh Kenn.
"Mules perut gue. Buka aja," bohong Kenn dan menyimpan tote bag yang berisi enam handphone baru.
"Handphone baru?" tanya Gita sambil mengangkat satu dus handphone. "Banyak amat, buat siapa?"
"Kita semua," jawab Rian mengeluarkan satu persatu handphone-nya.
"Kita 'kan mau bikin grup chat, jadi kudu baru handphonenya. Kalo yang ini 'kan gak mendukung perangkatnya," bohong Hendrik agar Gita tidak protes.
"Berapaan?" tanya Oncom.
"Gak sampe jual BPKB motor kok," jawab Kenn asal.
"Serius Bege!" serunya kesal.
"Kita setting dulu."
Para Anak Onta mulai membuka segel kardus masing-masing handphone. Mereka mulai menyetting satu persatu handphonenya. Gita mencondongkan tubuhnya pada Getta untuk melihatnya, Oncom mencondongkan tubuhnya pada Rian. Mereka begitu fokus pada kegiatannya, sebelum datangnya pengganggu yang membuat mereka semua mendengus kesal.
***
Salsa dan Kimmy tidak tinggal diam, mereka mengikuti Kenn dengan cepat. Kenn sengaja memutar jalan dan membawa motor dengan kecepatan tinggi untuk menghindar dan mengecoh kedua Cere tersebut. Dan sepertinya berhasil, karena mereka kehilangan jejak Kenn, yang membuat Kimmy memarahi Salsa karena membawa mobilnya dengan lambat.
Pertengkaran saling menyalahkan tidak bisa dihindari, Kimmy menyalakan Salsa karena lambat, Salsa menyalahkan Kimmy yang terlalu berisik. Salsa memutuskan untuk mengunjungi tempat tongkrongan biasa Gita dan Anak Onta nya, berharap mereka ada di sana.
Salsa tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Gita dan Anak Onta nya sedang tertawa bersama. Mereka terlihat begitu bahagia, perasaan yang sangat kontras dengan perasaan dua Cere itu.
Dengan segera Salsa dan Kimmy turun untuk menghampiri mereka. Berjalan dengan tergesa karena sudah tidak sabar, suara langkah kaki keduanya tidak terdengar karena memakai sepatu. Juga dengan mereka yang sedang duduk secara melingkar tidak melihat kedatangan dua Cere, karena mereka sedang menyetting handphone masing-masing.
"Aku kangen, Kak."
Salsa langsung memeluk Getta dari belakang dengan melingkarkan tangannya pada leher Getta.
Sedikit kaget tapi Getta berusaha tetap tenang, Getta meminta Salsa untuk melepaskan pelukannya dengan dingin.
"Lepasin," ucapannya tidak didengarkan oleh Salsa.
Salsa justru menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Getta, tangannya semakin erat melingkar di leher Getta.
"Lepasin gue bilang!" Getta melepaskan paksa tangan Salsa yang melingkar di lehernya.
"Kenapa sih, Kak?" tanyanya dengan marah. "Chat aku gak dibales, telpon aku gak diangkat. Dua minggu loh kamu gak ngabarin aku. Kamu malah pergi sama dia!" tunjuknya pada Gita.
Gita hanya memicingkan matanya, kenapa jadi dia lagi yang salah. Gita tidak mengerti dengan jalan pikiran para Cere ini, mengapa harus selalu melimpahkan kesalahan padanya.
"Tangan lu, Nyet!" Kenn menepis jari telunjuk Salsa yang menuding Gita.
Getta tidak menjawabnya, hanya buang-buang energi menurutnya.
"Lu gak drama juga sama kayak dia?" tanya Rian pada Kimmy yang hanya diam menatap Hendrik.
"Aku cuma mau tanya siapa cewek yang waktu itu manggil Kakak dengan sebutan, Sayang?" Kimmy menekankan kata terakhirnya.
"Cewek gue," jawab Hendrik asal. Menurutnya ini waktu yang tepat untuk memutuskan Kimmy.
"Apa salah aku sama Kakak?" tanyanya lirih.
"Drama dimulai! Balik yuk, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang." Oncom bangun setelah mengatakan itu, disusul Gita, Wildan, Kenn dan Rian.
"Lu berdua tetep disini. Kelarin semuanya malam ini," cegah Gita pada Getta dan Hendrik yang akan ikut bangun.
"Yah, Kak. Jahat ih," kata mereka berdua kompak.
"Susul kita kalo udah selesai."
Gita dan yang lainnya pergi setelah mengatakan itu semua. Meninggalkan Hendrik dan Getta yang menghembuskan napas kasar. Sungguh mereka tidak ingin berada dalam situasi seperti ini. Terlalu malas untuk membicarakan hal tidak penting dengan orang yang juga tidak penting.
"Kita kelarin malem ini juga," kata Getta dengan menatap Salsa. "Kita putus," kata Getta lagi memulai obrolan.
"Aku gak mau, Kak!" balas Salsa langsung.
"Gue gak perlu ngulang omongan si Onta, 'kan?" tanya Hendrik pada Kimmy yang hanya menggeleng.
"Lu berdua tahu dengan jelas perasaan kita, juga karna apa. Gue, Hendrik sama Rian sampe harus punya hubungan sama lu bertiga. Itu semua karna si Kakak," jelas Getta yang sebenarnya tidak perlu diulang kembali.
"Kenapa harus karna dia, Kak?" tanya Kimmy.
"Karna kita gak bisa nolak permintaan si Kakak yang terus-terusan minta buat nerima lu bertiga. Yang sayangnya lu bertiga itu gak tau diri," sambung Hendrik.
"Cewek mana, Kak. Yang seneng liat pacarnya lebih merhatiin bahkan prioritasin cewek lain? Kakak gak pernah anggep kami," protes Salsa.
"Asal lu berdua tau yah. Gue, Hendrik sama Rian, gak pernah ngerasa dan gak pernah mau punya pacar. Fokus kami emang cuma belajar dan seneng-seneng sama si Kakak dan Oncom. Karna cuma mereka berdua yang bisa kami terima, gak ada yang lain lagi. Lu berdua dari awal udah tau tentang ini, jadi seharusnya lu berdua sadar, kalo perasaan itu gak bisa dipaksain," tutur Getta.
"Gue mau putus secara baik-baik. Maafin gue kalo selama ini banyak kata-kata dan perbuatan gue yang nyakitin lu."
Walau bagaimanapun Hendrik tidak mau memiliki musuh, jadi Hendrik meminta maaf untuk mengakhiri hubungannya.
"Gue juga sama, semoga lu bisa terima. Karna jujur selama ini gue gak nyaman," sambung Getta.
"Tapi aku gak terima, Kak. Aku gak mau putus, Kakak pasti disuruh si Gita kan buat mutusin aku?" tuduh Salsa.
"Heran gue ya sama jalan pikiran lu, kenapa jadi nyalahin si Kakak. Si Kakak selalu nyuruh kita buat baik-baik sama lu semua. Emang dasar lu nya aja yang gak pada tau diri," dengus Hendrik kesal.
"Wajar kalo Sheryl sampe ngelakuin hal itu. Semua ini emang gara-gara cewek kampung sialan itu!" kata Salsa dengan marah.
"Lu mau lakuin hal yang kayak temen lu lakuin ke si Kakak?" tanya Getta dengan senyum sinis. "Silahkan kalo lu siap tidur di sel kayak temen lu itu. Bahkan gue bisa pastiin bukan cuma lu yang nanggung akibatnya, tapi keluarga lu juga."
Getta dan Hendrik bangun setelah mengatakan itu. Mereka sudah selesai dengan pembicaraannya.
"Satu yang harus selalu lu inget, si Kakak dilindungi dibawah Angkasa Group, Arial life & tools, Mochtara General. Jadi lu bisa bayangin apa yang bakalan kita lakuin kalo lu sampe berani macem-macem. Lu bisa jadiin contoh temen lu sama perusahaannya sekarang yang sebentar lagi bakal jadi milik Angkasa."
Getta dan Hendrik pergi setelah mengatakan itu. Salsa dan Kimmy harus berpikir seribu kali jika ingin mencelakai Gita. Harta keluarga Salsa dan Kimmy jika digabungkan saja masih jauh lebih banyak harta milik Andra. Apalagi jika ditambah dengan kekuasaan keluarga Kenn dan Wildan yang bergerak di bidang pelayaran juga ekspedisi terbesar ketiga di dunia.
Dengan kekuatan uang sangat mudah untuk mendapatkan segala jenis informasi yang sangat sulit sekalipun. Maka dari itu mereka berdua tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang dilakukan oleh Sheryl. Cukup Sheryl yang menderita, mereka tidak mau ikut-ikutan. Mereka hanya harus menerima segala kekalahan dari Gita.
Benar memang, jika perasaan itu tidak bisa dipaksakan, hanya sebatas itu yang harus mereka terima. Setidaknya mereka berdua tidak dibenci oleh Anak Onta, jadi mereka masih tetap bisa berusaha untuk mendekati mereka semua dengan alasan hanya ingin berteman. Salsa dan kimmy hanya perlu memutar otak untuk rencana ke depannya, mereka tidak pernah tahu jika itu merupakan pertemuan terakhir dengan Gita dan para Anak Onta nya.
***
Meninggalkan dua Anak Onta bersama kekasihnya agar mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik, tanpa keributan yang pasti akan menyakiti Gita karena kata-kata dua Cere itu.
Gita, Oncom dan Anak Onta lainnya memilih untuk menenangkan diri dengan pergi ke pasar malam Cengkareng. Tempat Gita dan Andra berkencan ketika mereka masih berstatus pacaran.
Gita memang sengaja mengajak mereka semua ke sana, walaupun jaraknya cukup jauh dari daerah Kota Tua. Saat ini Gita sedang merindukan Andra, jadi Gita ingin datang ketempat bersejarah dalam hubungannya dulu.
Kali ini Gita dibonceng oleh Rian, dan Oncom dibonceng oleh Kenn. Wildan mengendarai motornya sendiri. Hal itu menjadikannya bahan olokan dengan kata Jones alias Jomblo Ngenes. Wildan dengan sengaja memainkan gas motornya untuk meledek mereka, hal itu membuat pengendara lain melihatnya kesal.
"Berisik, Nyett!" teriak Gita.
Rian menyusul Wildan yang dengan sengaja menarik gas dalam, Wildan menyalip pengendara lainnya dengan santai. Gayanya seperti anak genk motor yang nakal.
"Gak usah ikut-ikutan gila!"
Gita menepuk bahu Rian karena Rian ikut ngebut. Sedangkan Kenn jangan ditanya, karena Oncom dengan sengaja menyuruh Kenn untuk menyusul Wildan.
"Pegangin kesini, Sayang. Gue bukan tukang ojek lu." Rian menarik tangan Gita untuk memeluk pinggangnya.
"Alesan lu doang emang."
Rian tertawa mendengar ucapan Gita, Rian memarkirkan motornya di sebelah motor Kenn. Sebelum masuk ke dalam pasar mereka memilih makan terlebih dahulu, mereka butuh energi untuk mencoba berbagai permainan.
Gita memilih warung pecel ayam yang dulu menjadi tempat makan pertama kali dengan Andra. Gita tidak pernah tahu bahwa itu adalah pertama kalinya Andra makan di warung tenda seperti itu. Gita menunduk dan tersenyum kecil ketika mengingat itu semua.
"Kenapa, Kak?" tanya Wildan yang duduk disebelah kanannya.
"Mata gue perih kena angin," bohongnya.
"Kasian," balas Kenn yang duduk di sebelah kirinya dengan mengusap pelan kepala Gita.
"Minumnya apa?" tanya Oncom yang baru selesai memesan makanan untuk mereka semua.
"Lemon tea ada gak?" tanya Kenn.
"Gak ada lah Pea!"
"Adanya apa?" tanya Rian.
"Air mineral, es teh manis atau tawar, sama teh anget," jelas Oncom.
"Es teh manis aja semua," putus Rian.
"Baik, Tuan." Oncom bergaya layaknya pegawai, membuat mereka tertawa.
"Cocok banget, Com." Sambung Rian lagi.
"Apa sih yang gak cocok buat, Oncom?"
Bukan hanya mereka yang tertawa dengan tingkah Oncom, tapi para pengunjung lainnya juga. Oncom memang selalu bisa membawa kelucuan untuk mereka semua. Disaat Gita banyak protes karena sering tidak enakan, berbeda dengan Oncom yang selalu semangat menerima apapun tanpa memikirkan apapun.
Oncom selalu mendeklarasikan bahwa dirinya manusia yang tidak punya hati. Orang lain mau ngomong apapun ia tidak akan peduli. Semboyan Oncom adalah, -Biarkan Orang Bercodekah- Yang artinya -Biarkan orang lain berbicara-
Yang artinya lagi, Oncom tidak peduli dengan apa yang dibicarakan orang lain tentang hidupnya. Mau orang itu menyebutnya dengan aji mumpung, memanfaatkan, cewek jadi-jadian, cewek aneh, kribo bahkan ada pula yang memanggilnya dengan sebutan i***t.
"Moal rahet kana pejit iyeu," kata yang selalu diucapkannya ketika orang lain dengan sengaja membicarakannya.
Bagi Oncom selama tidak menyakiti fisiknya, itu bukan masalah. Tapi jika sampai orang itu berani bermain fisik dengannya, jangan salahkan Oncom jika sampai ia membalasnya. Oncom paling sensitif dengan perlakuan fisik. Itulah alasan mengapa Oncom lebih memfokuskan belajar ilmu beladiri daripada ilmu pelajaran sekolah.