Ada Tapi Tidak Ada

1440 Kata
"Sayang." Oncom memanggil Getta dengan manja, hal itu sengaja di lakukan olehnya untuk memanas-manasi Salsa. Saat ini mereka tengah berkumpul di tempat biasa. "Apa sih, Yang?" balas Getta seperti biasa. Getta tidak mengetahui jika saat ini Oncom tengah sengaja bersikap manja padanya. Salsa yang mendengarnya ingin sekali marah, tapi sayang ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena saat ini hanya statusnya saja yang pacar, tidak dengan artinya. "Aku gak bisa buka ini, gimana dong?" Dengan manja Oncom menyerahkan botol minuman pada Getta untuk dibukanya. "Com lu sehat?" tanya Kenn yang merasa geli sendiri dengan sikap Oncom. Oncom hanya tertawa mendengar pertanyaan Kenn. "Nih." Getta menyerahkan botol pada Oncom yang telah di buka olehnya. "Maacih Ayang." Oncom melirik pada Salsa yang terlihat jelas raut kesalnya. "Bukain, Kak." Salsa menyodorkan botol minuman miliknya pada Getta. Getta menerimanya, membuka tutupnya dan mengembalikan pada Salsa tanpa bicara apapun, membuat Oncom ingin sekali tertawa ngakak. "Ayang jangan perhatian sama cewek lain dong, akunya 'kan cemburu." Oncom kembali bertingkah dengan centil, ingin rasanya Salsa menjambak rambut kribo tidak jelasnya itu. "Maafin aku, Yang." "Lu berdua gak minum obat ya?" tanya Wildan. "Sirik wlee!" Oncom menjulurkan lidahnya, tangannya menyusup kedalam tangan Getta. "Gak waras gue rasa ini orang," kata Rian. "Biarin sih, orang dia lagi kumat. Jarang-jarang 'kan gue disayang-sayang gini sama dia." Getta membiarkan Oncom bertingkah semaunya, karena Getta tahu bagaimana sifat Oncom. Oncom tidak mungkin bertingkah seperti itu jika tidak ada maksudnya. Bahkan dengan sengaja Getta mengusap-usap pelan pipi Oncom. "Dengerin tuh." Oncom menyandarkan kepalanya di bahu Getta. Gita datang bersama Hendrik, Gita tadi pergi untuk membeli sesuatu dan Hendrik memaksa untuk menemaninya. Dari jauh terlihat mereka yang berjalan sambil tertawa, entah hal lucu apa yang mereka tertawakan. Terlihat Kimmy yang melipat tangan di bawah dadanya, untuk memperhatikan mereka berdua dengan tatapan jengah. Entah Kimmy lupa atau memang tidak sadar jika hal itu tidak berpengaruh apapun terhadap Hendrik. Tatapan mengintimidasinya tidak berguna untuk siapapun, mungkin Kimmy berpikir jika Hendrik akan merasa bersalah dengan itu, tapi sayangnya Hendrik hanya cuek dan malah mengabaikannya. "Beli apa?" tanya Andra dengan menarik Gita untuk duduk di sebelahnya dan di sebelah Rian. "Rahasia," jawab Gita asal. Hendrik mengeluarkan barang belanjaannya, camilan berupa Snack dan minuman berkarbonasi, ada juga es kirim dan juga coklat. Oncom berseru senang melihatnya, semua merupakan jenis makanan kesukaannya dan Gita. "Ih... Ayang baik banget sih, tau banget kesukaan aku." Oncom kembali bertingkah kali ini pada Hendrik. "Iya dong, apa sih yang aku gak tau dari kamu?" Sama dengan Getta, Hendrik pun menanggapi kekonyolan Oncom. "Ul ulu ulu, makin Sayang deh." Oncom mencubit gemas pipi chubby Hendrik. Rian membuka satu keripik kentang kesukaan Gita, Sheryl sudah tersenyum karena yakin bahwa Rian akan memberikan padanya, ditambah dari tadi Rian tidak menanggapi kekonyolan Oncom yang membuat kedua temannya bertanduk. Namun dugaan Sheryl meleset, setelah bungkus plastik terbuka, ternyata Rian memberikannya pada Gita membuat Salsa dan Kimmy menahan tawanya. "Kok dikasih ke si Gita sih, Kak?" tanyanya dengan kesal. Jika Salsa dan Kimmy hanya diam saja, maka tidka dengan Sheryl yang mengutarakan protesnya. "Emang kenapa? Orang itu dibuka buat si Kakak kok," jawab Rian cuek. "Aku kira itu buat aku loh," katanya dengan percaya diri. "Emang situ siapa, Non?" tanya Oncom yang ingin memastikan diakui tidaknya Sheryl oleh Rian. "Gue pacarnya ya," jawabnya bangga. "Oh, masa sih? Sejak kapan?" tanya Wildan tidak percaya. "dua bulan yang lalu." Lagi-lagi Sheryl menjawabnya, Rian hanya diam seolah tak peduli. "Emang iya, Ta?" Giliran Kenn yang bertanya. Jangan pikir bahwa para Anak Onta tidak mengetahuinya, mereka tahu, hanya saja sengaja ingin mengolok ketiga Cere itu. "Maybe," jawab Rian, membuat Oncom tertawa ngakak. "Diakuin gak sih lu jadi pacarnya?" ledek Andra. "Kakak ko gitu sih?" tanya Sheryl kesal. Rian menaikkan sebelah alisnya, "Gitu gimana?" "Kita udah resmi, 'kan?" "Terus?" "Ya kasih tau dong sama mereka kalo aku ini pacarnya, Kakak!" "Anak kecil," balas Rian dengan tersenyum sinis. "Ih! Kok ngatain aku anak kecil sih?" tanya Sheryl tidak terima. "Gak perlu lu bilangin semua orang kalo lu sekarang udah punya pacar. Gunanya buat apa?" tanya Gita heran pada Sheryl yang seolah ingin pamer. "Harus dong, menjaga dari cewek-cewek gatel yang suka deketin pacar orang," sindirnya dengan keras yang ditujukan pada Gita dan Oncom. "Apa sih, labil banget." Rian masih sangat malu untuk mengakui hubungannya dengan Sheryl, karena bagaimanapun Rian menerima gadis itu atas desakan Gita yang selalu membahas tentang ketiga Cere. Untuk mengabulkan satu permintaan Gita pada saat ulang tahunnya dulu, Rian harus rela menjalin hubungan dengan gadis yang manja dan arogan itu. "Aku bukan labil, Kak. Aku 'kan cuma jaga-jaga aja," bela Sheryl untuk dirinya sendiri. "Cie Aa sekarang ada yang jagain," goda Gita tidak terpengaruh dengan omongan Sheryl. "Aku terlupakan." Oncom menimpali dengan berpura-pura sedih. "Aku padamu segede Nyiru," balas Rian tanpa memperdulikan Sheryl, membuat Sheryl memberengut kesal. "Nih, Kak." Andra datang menyerahkan paper bag dari salah datu merk handphone. "Gak mau," tolak Gita langsung. Bukannya berpura-pura, Gita memang tidak mau karena takut akan hilang lagi. "Gak ada penolakan," sela Wildan. "Terima aja sih gak perlu pura-pura. Lumayan 'kan gratis," kata Sheryl dengan nada meledek. "Lu kira gue suka barang gratisan gitu?" tanya Gita dengan tersenyum tipis. "Gak usah munafik! semua orang juga suka kalo dikasih gratis," balas Sheryl dengan nada meledek. Gita, Oncom dan para Anak Onta lainnya tertawa kompak mendengar ucapan Sheryl, yang menganggap semua orang sama sepertinya suka dengan hal-hal yang berbau gratis. Tiga Cere itu saling pandang karena heran akan tertawaan mereka semua. Mereka tidak memperdulikan rajukan Sheryl, dan tatapan bingung kedua temannya, mereka terus bercanda dan tertawa dengan bahagianya. Oncom dan Gita selalu mempunyai bahasan menarik untuk dijadikan bahan obrolan. Hingga waktu menunjukkan pukuk sembilan lewat Gita berseru pada mereka semua. Menghentikan obrolannya dan "Balik gengs, gue besok lembur." Gita bangun dari duduknya diikuti mereka semua. Rian, Hendrik dan Getta seolah lupa jika sekarang mereka telah memiliki kekasih, karena mereka berjalan dengan santai mengikuti Gita dan yang lainnya. "Lu gak nganterin cewek lu, Ta?" tanya Gita. "Ngapain amat, mereka bawa mobil kok," jawab Getta cuek. "Gimana anak orang gak cemburu sama gue coba? Sikap lu kayak gini." Sepertinya mereka memang menjalin hubungan dengan tiga Cere hanya karena Gita. "Biarin sih udah pada gede ini," kata Hendrik. "Dasar Onta," seru Oncom. Dan benar semua Anak Onta lebih memilih mengantarkan Gita dan Oncom, tanpa menghiraukan tiga Cere yang ingin rasanya berteriak saking kesalnya. Jangankan untuk mengantarkan, bahkan untuk berpamitan pada mereka pun tidak. Mereka ada tapi seperti tidak terlihat oleh Gita, Oncom dan para Anak Onta. Membuat tiga Cere semakin membenci Gita dan Oncom, walaupun mereka akui bisa menjalin hubungan dengan anak Onta atas bantuan Gita, tapi mereka juga tetap tidak menyukai Gita yang seolah menguasai Para Anak Onta. Terlebih saat ini status mereka sebagai kekasih, yang menurut mereka lebih berhak atas Anak Onta. Oncom bahkan heran sendiri bagaimana tiga Cere itu bisa mengklaim bahwa mereka lebih berhak pada Anak Onta, sedangkan kehadiran mereka saja jarang dianggap oleh para Anak Onta, walaupun mereka kini telah menjadi kekasih dari tiga Anak Onta, yang Oncom sendiri tahu sebab dari Rian, Getta dan Hendrik mau menjadi kekasih mereka atas dasar apa? Atas dasar terpaksa, dan itu karena Gita. Oncom bertanya, jadi dimana letak bahwa mereka istimewa apalagi berhak atas para Anak Onta yang menjadi kekasihnya. *** "Ngeselin!!" teriak Sheryl yang ditinggalkan begitu saja oleh mereka semua, terlebih oleh Rian yang berstatus kekasihnya. Jangankan untuk mengantarkan pulang, bahkan berpamitan pun mereka tidak. "Pacaran apa enggak sama aja, gak guna!" geram Salsa yang menyangka jika mereka berpacaran keadaan akan berubah. "Terima nasib, disini yang ngejar tuh kita, bukan mereka." Kimmy mencoba memahami, karena bagaimanapun merekalah yang mengejar dan menyatakan cinta, jadi wajar menurut Kimmy jika sikap dan perlakuan Anak Onta masih sama. "Tapi gue gak bisa, gue pacarnya masa gue gak di anggep sih. Gak terima gue." Sheryl memang tidak menerima apapun dalam bentuk kekalahan, karena menurutnya jika Rian sudah menjadi kekasihnya maka Rian harus lebih segalanya terhadapnya. "Ya kalo gitu lu harus buat Kak Rian cinta sama lu, bukan pacar cuma status karna si Gita." Kimmy. "Lu tumben waras?" Salsa. "Gue cuma nyoba buat mengerti situasi aja sih. Kak Hendrik udah bilang dari awal kalo jangan berharap lebih dari hubungan ini, dan gue nyoba buat memahami. Gue yakin perlahan tapi pasti dia bakalan liat gue dengan sesungguhnya, dalam artian dia bakalan anggap gue beneran ada dan sebagai pacarnya yang dia suka." Perkataan Kimmy membuat Sheryl dan Salsa terdiam. Benar kata Kimmy, tapi tetap saja hati mereka menolak untuk menerimanya. "Gue sih cuma ngikutin apa yang gue pahamin, terserah kalo buat lu berdua." Dengan perasaan yang kesal mereka akhirnya pulang dengan membawa kekecewaan dalam hati. Membiarkan kembali kalah dari Gita dalam hal perhatian Anak Onta nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN