Kesempatan emas tidak disia-siakan oleh ketiga gadis itu, Gita telah memberinya peluang, maka dari itu akan mereka gunakan sebaik-baiknya. Berjalan di belakang para Anak Onta membuat mereka berbisik-bisik kecil. Mengambil posisi masing-masing begitu para Anak Onta pun ikut duduk.
Salsa duduk di samping Getta yang memang sudah menjadi incarannya dari awal, Kimmy duduk di samping Hendrik, dan Sheryl duduk di samping Rian.
Mereka kembali ke bagian belakang kapal untuk sekedar bercerita, itu inginnya Anak Onta, tapi ketiga gadis itu malah ikut duduk dan menempati sisi sebelah mereka.
"Kalian tuh emang sayang banget ya sama si Gita?" Sheryl memecah keheningan dengan bertanya entah pada siapa.
"Iyups," jawab Getta langsung.
"Kalo kita gak sayang sama dia, gak mungkin kita ngelakuin sampe kayak gini. Kapal ini, hadian ulang tahun Andra yang ke 18. Jangankan dipake kayak gini, bahkan diliat aja belom pernah sama dia, dan untuk pertama kalinya ini spesial buat si Kakak."
Tanpa diminta Rian menjelaskan bagaimana perasaan mereka terhadap Gita. Kalimat terpanjang pertama sejak mereka mendekati para Anak Onta.
"Beruntung banget jadi si Gita," gumam Salsa.
"Anak Onta yang beruntung bisa kenal sama dia," sanggah Hendrik yang diangguki oleh Rian dan Getta.
Mereka melanjutkan obrolan dari mulai membahas Gita sampai ke hal lainnya, tentang hobi masing-masing dan semuanya. Awalnya Rian, Getta da Hendrik kurang nyaman, tapi sepanjang obrolan mereka mulai terbiasa.
Ketiga gadis itu sedikit bisa mengambil hati mereka, karena Sheryl selalu berusaha untuk mengingat ucapan Gita yang jangan menyinggung atau berbicara buruk tentang Gita, karena ia tidak mengenal Gita secara dekat. Dan ternyata itu cukup berhasil, dimana Anak Onta mulai merasa nyaman dengan obrolan mereka, hingga kapal menepi ke dermaga yanga da di kepulauan seribu.
Mereka semua turun, dengan Andra yang menggendong Gita karena tertidur, sedangkan Oncom sendiri setelah pusingnya hilang ia meneruskan obrolan dengan Andra, Kenn dan Wildan. Gita memilih tidur karena pusing dan mual nya tak kunjung reda. Berjalan di tepian pantai untuk menuju ke rumah Andra yang terdapat disana.
"Turunin, Ta."
Gita yang sudah bangun merasakan tubuhnya melayang, dan begitu melihat ternyata Andra tengah menggendongnya.
"Tanggung bentar lagi," tolaknya. "Udah mendingan belom?" tanyanya dengan terus melangkah.
"Mendingan," jawab Gita pelan.
"Badan enteng banget sih?"
Andra menurunkan Gita di sofa ruang tengah, disusul oleh yang lainnya.
"Orang badan kayak triplek begitu," timpal Getta.
"Yang penting gue idup," balas Gita cuek. "Jam berapa, Ta?" tanyanya dengan kembali memejamkan mata.
"Jam dua belas lewat 15 menit, mau lanjut tidur apa gak?" tanya Rian.
"Gue udah gak ngantuk," jawab Gita yang merasakan matanya kembali segar, dan berpikir untuk acara selanjutnya.
"Ke pantai yuk?" ajak Wildan.
"Mau pada minum apa?" Hendrik berteriak dari arah dapur.
"Apa aja asal jangan lu kasih racun," jawab Oncom.
"Aer comberan mau, Com?" candanya membalas jawaban Oncom.
"Serah lu yang penting Elu bahagia, Ta." Hendrik tertawa mendengar jawaban Oncom.
"Aku bantuin, Kak." Kimmy menyusul untuk membantu Hendrik, Kimmy gencar mendekati Hendrik.
"Ya," balas Hendrik singkat.
Gita tersenyum melihatnya, Anak Onta nya sudah tidak terlalu judes dan kaku jika berdekatan dengan ketiga gadis yang mereka panggil Cere. Namun, jahilnya Oncom membuat para Cere itu memberengut kesal, karena Oncom dengan sengaja mendekati Hendrik disaat Kimmy sedang berusaha mendekatkan diri.
"Bikin apa sih, Yang? Kok lama banget?" tanya Oncom menghampiri Hendrik dan Kimmy.
"Sorry, Beb. Aku 'kan lagi bikin minuman spesial buat kamu," jawab Hendrik dengan menarik tangannya.
"Minuman apa?" Oncom.
"Teh manis pake racun tikus dikit, biar seger." Hendrik.
"Ih kamu jahat, aku cipok gosong nih." Oncom.
"Mau dong, cobain deh."
Hendrik menyodorkan satu gelas teh yang telah diberikan gula. Seperti biasa Jika ada Gita maupun Oncom, Anak Onta pasti akan melupakan orang disekitarnya. Seperti saat ini, Kimmy seolah tak terlihat karena Hendrik maupun Oncom tidak menghiraukannya. Mereka asyik bercanda berdua, bahkan Hendrik meminum teh manis dari gelas yang tadi di minum Oncom.
"Pait," ujar Oncom setelah menyeruput sedikit.
"Ko bisa?" Hendrik mencobanya dan melihat Oncom yang ternyata mengerjainya.
"Pait kalo minumnya ngeliat muka lu."
Hendrik menggelitik pinggang Oncom karena kesal telah di kerjai. Mereka berdua tertawa bersama tanpa menghiraukan Kimmy sama sekali.
"Minuman mana woi!" teriak Wildan.
"Gak usah teriak-teriak, Conge!" balas Oncom.
Hendrik membawa nampan berisi teh manis panas untuk menghangatkan tubuh, karena mereka tidak akan meminum minuman yang beralkohol. Bagaimana perasaan para Cere tidak cemburu melihat perhatian Anak Onta pada Gita yang saat ini sedang kedinginan.
Getta memegang kedua tangannya, Rian baru saja mengambilkan selimut untuknya, dan Andra merangkulnya. Karena Gita juga mereka tidak jadi menikmati indahnya malam di pinggir pantai. Padahal tiga Cere sudah sangat menantikan momen tersebut.
***
Gita baru tahu jika tiga cere sudah menjalin hubungan dengan Anak Onta nya. Mungkin kedekatan mereka bertambah selama dua bulan lebih ini setelah perayaan ulang tahun Gita.
Gita mengetahui itu dari Sheryl, yang memintanya untuk tidak terlalu dekat dengan salah satu Anak Onta nya, yang saat ini telah menjadi kekasihnya sejak dua bulan lalu yaitu Rian.
Ya, sesuai dengan keinginan tiga Cere itu, Sheryl mendapatkan Rian, Kimmy mendapatkan Hendrik dan Salsa mendapatkan Getta.
Gita tidak pernah tahu bagaimana awal mula mereka menjalin hubungan, Gita juga tidak pernah tahu siapa yang menyatakan cinta, tiga Cere atau anak Onta nya. Memang sejak perayaan ulang tahun itu, ketiga Cere itu ikut bergabung di setiap kegiatan yang dilakukan Gita dan para Anak Onta nya termasuk Oncom.
Namun jika dilihat dari sikap, sepertinya tiga Cere itu yang menyatakan cintanya terlebih dahulu, karena selama dua minggu ini pun semua Anak Onta nya masih mengutamakan nya dan juga Oncom. Sheryl memberitahu nya melalui pesan singkat yang membuat Gita tersenyum ketika membacanya.
Cere 1:
Gita, gue kan udah jadian nih ya sama kak Rian, Salsa sama Kak Getta, Kimmy sama Kak Hendrik. gue minta lu sama si Oncom jaga sikap ya, jangan manja dan terlalu deket. Tolong hargain perasaan gue dan juga kedua temen gue yang lain. Gue gak suka cowok gue deket sama cewek lain, jadi lu harus paham dan sadar posisi ya. Sekarang gue ceweknya lu cuma temennya kan.
Gita menunjukkan pesan itu pada Oncom, Oncom tertawa membacanya, bukannya menuruti Oncom justru ingin menjahili mereka bertiga, jenis manusia tidak tahu diri menurut Oncom.
Selama ini mereka, ketiga Cere itu benar-benar hanya memanfaatkan Gita untuk mendekati Anak Onta nya. Bukannya berterima kasih, mereka justru meminta Gita sadar posisi. Mereka tidak tahu saja apa yang akan terjadi jika Gita menunjukkan pesan itu pada Anak Onta nya.
Tanpa perlu di tebak sudah pasti Rian, Hendrik dan Getta akan memutuskan mereka saat itu juga. Bukannya terlalu percaya diri, hanya saja sampai saat ini mereka masih tetap memprioritaskan Gita dalam segala hal.
Mereka akan melupakan gadis disekitarnya jika sudah bersama Gita dan Oncom. Gita tidak pernah tahu mengapa Anak Onta nya bersikap seperti itu, dengan sikap yang selalu membuat Gita di tuduh memakai pelet atau sejenisnya sehingga membuat Gita mendapatkan perlakuan begitu istimewa dari Anak Onta nya.
Namun Gita tidak akan menunjukkan pesan itu pada Anak Onta nya, justru Oncom akan semakin memanas-manasi ketiga Cere itu. Oncom akan menunjukkan bahwa mereka tidak seistimewa itu untuk Anak Onta, mereka yang seharusnya sadar diri, walaupun posisi mereka adalah kekasihnya, tetap tidak akan merubah posisi Gita dan Oncom untuk para Anak Onta. Oncom merasa jahat dengan pemikirannya, tapi biarlah untuk menyadarkan ketiga Cere itu.
Saat ini mereka berada di dalam angkot, tadi setelah pulang kerja mereka pergi ke daerah Teluk Intan guna menengok teman mereka yang sedang sakit. Gita menyimpan kembali handphone di dashboard belakang angkot setelah menunjukkan pesan dari Sheryl.
Gita membuka handphone Esianya untuk membalas pesan dari Joe temannya. Angkot berhenti di seberang kontrakan Oncom, Gita dan Oncom turun lalu membayar ongkosnya.
"Aing balik hela," kata Gita berpamitan pada Oncom.
"Ngendong be ten aing, balik jeng saha sia?" pinta Oncom yang tidak mau Gita pulang sendiri menuju kontrakannya.
"Dijemput si Joe, tuh ges nungguan di lampu merah."
Gita menunjuk Joe yang sudah menunggunya di lampu merah yang jaraknya hanya beberapa meter.
"Hooh ges."
Oncom menyebrang untuk menuju ke kontrakannya, sedangkan Gita berjalan ke arah lampu merah karena joe menunggu di sana.
"Lu dari mana?" tanya Joe begitu Gita sampai dihadapannya.
"Nengok si Ratmi udah tiga hari gak masuk," jawab Gita. "Lu ngapain nyariin gue?" tanya Gita.
Joe memang mencarinya. Joe adalah satu-satunya teman lelaki pribumi d tempatnya mengontrak, rumahnya sebelum kontrakan Gita. Anak yang terkenal dengan badung di daerahnya tapi begitu baik dan menjaga Gita.
"Lagi pengen aja sih," jawab Joe asal.
"Terus gue percaya?" ledek Gita.
Karena tidak mungkin Joe sampai menerornya jika tidak terjadi sesuatu, dari siang Joe sudah menelponinya, bertanya kapan Gita pulang dan sebagainya.
"Gue mau cerita sama lu," jawab Joe jujur akhirnya.
"Curhat?" tanya Gita dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Muka lu biasa aja, Pea."
"Ya udah di kontrakan gue aja."
Joe mengangguk, akhirnya mereka pulang menuju kontrakan Gita.
Di seberang jalan Andra memperhatikan Gita, Andra sudah tau siapa Joe, dan juga Gita sudah menyampaikan pada semua Anak Onta nya jika malam ini Joe ingin bertemu dengannya. Gita tidak pernah bohong, bukannya Andra tidak percaya, ia hanya berusaha melindungi Gita. Andra takut Joe berbuat macam-macam.
Andra tetap mengikuti mereka, hingga ia tahu benar-benar jika mereka pergi menuju kontrakan Gita. Setelah memastikan Gita aman barulah Andra pergi.
Joe menghentikan motornya di depan konter Yola, setelah menyapa Dodo dan Yola mereka masuk kedalam kontrakan Gita.
"Astaghfirullah," kaget Gita begitu menyadari handphone pemberian Andra tidak ada.
"Kenapa lu?" tanya Jor heran.
"BB gue gak ada. Di mana ya?" tanyanya linglung.
"Dih! Aneh, coba tanyain si Oncom."
Gita menelpon Oncom, dan Oncom tidak mengetahuinya. Oncom mengingatkan Gita terakhir kali ia memegang handphonenya itu. Gita mengingat kembali dan ingat, jika terakhir ia membalas chat dari Andra dan menyimpannya di Angkot.
"Ketinggalan di angkot," kata Gita lesu.
"Huh lu mah! hayu kita cari," ajak Joe.
"Gue tau juga gak angkotnya yang mana."
"Terus gimana?"
"Paling tar gue diocehin Anak Onta."
Gita tidak mempermasalahkan handphonenya yang hilang, karena saat ini Joe akan bercerita. Biarlah nanti Gita akan memberitahu Anak Onta nya, bukan untuk meminta yang baru, hanya pemberitaan agar Anak Onta nya tahu dan tidak khawatir.