Tawa canda dan rasa syukur bersatu pada malam ini, tidak hanya para Anak Ontanya, tapi Gita, Oncom dan juga tiga gadis yang dalam hatinya selalu mencibir. Mereka larut dalam kebahagiaan, sampai pada jam yang menunjukkan pukul 23.55.
Oncom mulai mengintruksi mereka untuk menuju bagian depan kapal. Bahkan Gita tidak menyadari bahwa kapal yang dinaikinya telah berada di tengah untuk menyebrang ke Kawasan Pulau Seribu.
"Kurang lima menit, ke depan yuk," ajak Oncom pada mereka semua.
Gita dan ketiga gadis itu hanya mengikuti walaupun sebenarnya bingung.
"Mau ngapain?"
Tanya Gita yang saat ini pundaknya di rangkul oleh Rian, hal itu membuat Sheryl menahan kesal. Sedangkan Salsa menahan kesal karena Getta merangkul pundak Oncom.
Mereka berjalan beriringan melalui pinggiran kapal, sampai di depan kapal mereka berdiri di pinggir yang terbatas oleh besi. Hendrik dan Andra masuk ke dalam Kapal untuk mengambil kembang api dan juga rainbow cake yang tadi belum di apa-akan oleh Gita.
"Selamat ulang tahun kesayangan kami semua. Doa terbaik buat lu, semoga apa yang di semogakan terkabul. Amin," ucapan Andra diamini oleh mereka semua.
Andra menyodorkan kue yang dibawanya pada Gita dan meminta Gita untuk meniup lilinnya. Hal yang ditunggu dari tadi oleh ketiga adik kelas para Anak Onta. Mereka berpelukan secara bersamaan, minus ketiga adik kelasnya yang hanya menonton saja. Para Anak Onta satu persatu memeluk dan mengecup puncak kepala Gita, membuat ketiga gadis itu semakin panas dibuatnya.
"Selamat hari brojol Mamen!"
Seru Oncom dengan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Gita, tapi dengan sigap Andra menghalangi sehingga Gita memeluk Andra, membuat Oncom menarik rambut Andra dari belakang.
"Heh, Pea. Gantian," bentak Oncom dan membuat Andra mengaduh. Para Anak Onta yang lainnya hanya tertawa melihat Oncom yang kesal.
"Jangan peluk-peluk si Oncom, Kak. Dia belom di vaksin rabies," canda Andra yang kembali mendapatkan tarikan di rambut belakangnya.
"Si Bangke!" seru Oncom semakin kesal.
"Gue bilang makasih jangan nih, Com?" canda Gita, mereka pun berpelukan, tapi hanya sebentar karena Andra kembali menarik Oncom, membuat Oncom kembali mendengus kesal.
Hendrik dan Getta menyalakan kembang api Setelah mereka mengurai pelukannya bersama Gita, yang membuat Gita bersorak dengan senangnya. Gita sangat menyukai kembang api, yang menurutnya sangat indah.
"Wow! Keren!" sorak Gita dan Oncom secara bersamaan.
"Bagus gak?" tanya Andra yang berdiri di sebelah Gita.
"Bagus banget," puji Gita tanpa mengalihkan pandangannya.
"Nanti kita ke Jepang yah buat liat festival kembang api Sumidagawa di Tokyo."
Ide Getta yang ingat bahwa kurang dari dua bulan lagi akan memasuki musim panas di Jepang, yang di sabtu minggu terakhir di bulan Juli biasa diadakan festival kembang api Hanabi. Sumidagawa Hanabi Taikai di tepian Sungai Sumida (sekitar Asakusa, Mukōjima), Tokyo
"Ide bagus, Kak. Ini kan udah mau masuk juni ya?" tanya Salsa semangat.
"Iya," jawab Getta singkat.
"Insyaallah, Ya. Kalo gue siap," balas Gita yang tidak mau berpikir terlalu jauh.
Baginya seperti ini saja sudah sangat mewah, Gita tidak mau menjadi beban Anak Onta nya.
"Nanti gue siapin semuanya," sela Andra dengan merangkul bahu Gita.
"Kalo gue bisa ya," balasnya dengan menatap Andra.
"Harus bisa titik gak pake koma." Kali ini Andra akan memaksa Gita.
"Gak ada yang mau ngajak gue gitu?" Oncom bertanya dengan sedih.
"Gak pantes Com sumpah muka lu kayak gitu," sela Wildan.
"Kau jahat Sakmad," seru Oncom dengan lebai nya, Oncom selalu memanggil asal nama orang.
"Nanti kita pergi sama-sama, Sayang." Getta merangkul bahu Oncom.
"Utu utu utu, Maacihh Ayang."
Balas Oncom dengan manja, ketiga gadis itu terutama Salsa menyaksikan dengan seksama. Dalam hati mereka bertanya hubungan antara Getta dan Oncom.
Disaat kembang api habis tiba-tiba kapal mereka mengalami guncangan, yang membuat tubuh mereka semua bergoyang pelan mengikuti arah kapal, membuat Gita dan Oncom yang belum pernah menaiki kapal bingung dan juga takut. Itu disebabkan oleh ombak yang datang dari arah sisi kapal.
"Ini kenapa, Ta. Kok goyang sih? Puyeng loh ini?" tanya Gita panik.
"Kok goyang gini? Gue juga puyeng coy." Oncom pun merasakan hal yang sama.
"Ada ombak, sini."
Andra memeluk Gita, Gita menyembunyikan wajahnya di d**a Andra untuk menghalau pusing yang menderanya.
"Sini Com." Wildan menarik Oncom kedalam pelukannya.
"Mual coy," seru Oncom.
Kapal masih bergoyang pelan, membuat Oncom dan Gita merasakan mual karena mabuk laut.
"Pake ini," Kimmy menyerahkan botol minyak kayu putih yang selalu di bawanya.
"Makasih." Getta yang menerimanya, "Masuk yuk," ajaknya.
Mereka semua masuk ke dalam area kapal, Getta mengoleskan minyak pada kening Gita dengan diiringi pijatan kecil, begitupun pada Oncom. Ketiga gadis itu hanya diam dan memperhatikan bagaimana cara anak Onta bersikap pada Gita dan Oncom. Norak, satu kata yang tersemat pada pikiran mereka pada Gita dan Oncom.
"Lu berdua gak pernah naik kapal?" tanya Salsa.
"Selain mobil motor gue gak pernah, kenapa?" tanya Oncom sinis.
"Ya gak apa-apa, cuma nanya aja." Sheryl menyela sebelum Salsa menjawabnya.
"Gue norak ya? Emang iya."
Oncom bertanya sekaligus menjawab sendiri pertanyaannya, membuat ketiga gadis itu saling berpandangan heran.
"Gue mau tiduran, lu pada keluar gih," usir Gita pada mereka semua.
"Aing geh sarua coy," seru Oncom.
"Dih ngusir nih ceritanya?" tanya Hendrik dengan memanyunkan bibirnya.
"Iya, masalah? Sono, sono. Lu disini aja, Ta." Gita menahan Andra untuk tidak keluar.
"Onta lu juga disini aja," Oncom menahan Wildan.
"Kok mereka berdua gak boleh keluar?" protes Rian.
"Punya tugas," jawab Gita.
Kenn, Rian, Getta, Hendrik dan ketiga gadis itu akhirnya keluar. Kenn berbelok ke arah toilet, sedangkan yang lainnya tetap melanjutkan perjalanan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh ketiga gadis itu, Karena itu memang rencana Gita dan Oncom.
Melihat raut bingung dan penuh tanya disertai kesal dari ketiganya membuat mereka kesal, dan dengan baik hatinya Oncom dan Gita memberikan kesempatan pada mereka semua.
Kenn kembali ke dalam kapal setelah dari toilet.
"Sengaja banget mau deketin kita sama cewek-cewek itu." Kenn cukup tau pikiran Gita, setelah kemarin dirinya mendekati ketiga nya.
"Kesian tau mereka gak punya temen," jawab Gita yang mulai mengerti ketiga gadis itu, mereka yang tidak memahami arti teman.
"Ya gak gitu juga Gigit." Andra mencubit hidung Gita setelah mengetahui rencana Gita.
"Untung bukan gue," kata Wildan dengan rasa syukur yang teramat.
"Gue juga udah tanya dulu sama mereka mau sama siapa, dan jawabannya tiga Onta itu."
Gita memang menanyakan terlebih dahulu mereka ingin dekat dengan siapa saja, dan jawabannya di awal adalah semuanya. Ketika Gita bertanya secara spesifik, akhirnya Salsa memilih Getta, Kimmy memilih Hendrik dan Sheryl memilih Rian.
Kenn menggeleng tak percaya dengan jawaban Gita, "Kalah gue barang di lelang."
"Gak rugi woi, bening gitu." Oncom tiba-tiba bersuara setelah dirasa pusingnya cukup berkurang.
"Diem aja Com," kata Andra membuat Oncom mengerucutkan bibirnya.
Membiarkan ketiga Onta nya mengobrol dengan ketiga gadis itu, dan membuat keadaan mereka berubah setelah malam itu. Karena setelah malam itu, Gita seperti menghindar dari mereka semua, pekerjaannya yang kembali banyak ditambah dengan Gita yang memiliki kekasih baru, membuatnya sedikit mengabaikan Anak Onta bahkan terkesan menghindarinya. Membuat para Anak Onta nya bingung sendiri.
***
Sheryl, Salsa dan Kimmy tersenyum di belakang ketiga Anak Onta. Walaupun dari tadi mereka menahan kesal, tapi sekarang mereka senang karena Gita memberikan kesempatan pada mereka bertiga untuk berdekatan dengan Anak Onta, mereka memilih duduk di sofa di bagian belakang kapal. Sheryl langsung mendudukkan diri di sebelah Rian, Salsa di sebelahnya yang berarti disebelah Getta, Kimmy di sebelah Hendrik.
"Lu ngapain duduk disini sih?" tanya Rian karena risih.
Selain dengan keluarganya dan keluarga teman juga Gita dan Oncom. Rian menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Sheryl.
"Ya kali cewek-cewek, cowok-cowok. Kalo pasangan gini 'kan pas," jawab Sheryl dengan senyuman sok manisnya.
"Serah lu deh," balas Rian yang tidak peduli, karena memang percuma menurutnya.
"Aku boleh tanya gak, Kak?" tanya Salsa pada Getta.
"Tanya aja."
Jawab Getta yang saat ini tengah menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan mata terpejam, tangannya memijat pelan hidungnya.
"Seberapa penting sih si Gita buat Anak Onta? Terutama Kak Getta."
Salsa sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, ia ingin tahu jawaban pastinya.
"Yakin lu mau tau? Tar sakit hati lagi," jawab Getta dengan tersenyum miring.
"Jawab, Ta. Biar bisa tidur dia," kata Hendrik yang sedang membalas pesan yang entah dari siapa.
"Bener itu," sela Kimmy.
"Kalo ditanya seberapa penting si Kakak buat Para Anak Onta, jawaban di urutan kedua setelah keluarga. Bahkan diurutan pertama buat Andra. Yang pasti kita gak mau liat dia sedih, dia bahagia kita bahagia."
Getta menerawang dari awal perkenalan sampai saat ini mereka mengenal Gita, satu-satunya sosok gadis yang kebahagiaan begitu penting baginya dan para Anak Onta lainnya. Setelah dahulu mereka memiliki Shareen dalam hidup meraka yang meninggalkan duka mendalam terutama untuk Wildan.
"Emang dia siapa kalian?" tanya Sheryl tidak habis pikir.
"Kenapa lu mau tau?" Rian bertanya balik.
"Ya aneh aja gitu, kok bisa sikap kalian semua sampe segitunya," jawab Sheryl blak-blakkan.
"Gita itu cewek pertama yang bisa buat kita semua nyaman tanpa risih. Kenal sama dia itu salah satu keberuntungan buat kita." Hendrik menjawab sebelum Rian.
"Emang sama kita Kakak juga risih ya?" tanya Kimmy polos.
"Menurut lu," tanya Hendrik sinis.
"Kata si Kakak lu mau jadi cewek gue?" tanya Getta tanpa melihat ke arah Salsa.
Mendengar pertanyaan Getta membuat bibir Salsa tersenyum dan mengangguk semangat, walaupun dihatinya manyun karena lagi kata Gita.
"Ya mau Kak, tapi gak usah kata si Gita juga."
"Emang kenyataannya begitu, 'kan? Lagian ya kalo bukan karena dia, jangankan buat pacaran, kenal lu aja gue gak mau. Gue gak mau bohong, dan gak nembak lu. Gue cuma nanya apa yang dibilangin sama si Kakak ke gue sama mereka berdua bener apa gak?" Getta membalas dengan pedas ucapan Salsa.
Sheryl, Salsa dan Kimmy mengangguk dan tidak peduli akan ucapan Getta.
"Berarti Kak Rian sama Kak Hendrik juga tau kalo kita suka sama Kakak?" tanya Kimmy memastikan.
Rian dan Hendrik tidak menjawab, terlalu malas dan sangat tidak ingin menjawab.
"Berarti sekarang kita pacaran ya?"
Tanya Sheryl dangan tersenyum, tidak peduli dengan ucapan Getta yang mengatakan tidak mau mengenal mereka jika bukan karena Gita.
"Terserah lu. Asal si Kakak bahagia," jawab Rian pada akhirnya, karena sesungguhnya ia malas menanggapi Sheryl.
Tanpa memperdulikan ucapan terakhir Rian yang menyatakan hanya karena Gita, mereka begitu bahagia dan tidak peduli apa alasannya. Yang penting saat ini mereka sudah resmi berstatus sebagai pacar, yang artinya mereka lebih berhak atas kekasihnya daripada Gita.