Andra mengehentikan langkahnya ketika handphonenya bergetar di dalam saku celananya, tertera nama Oncom yang sedang mencoba memanggilnya. Oncom langsung berbicara tanpa sapaan terlebih dahulu, dan mematikannya setelah menyampaikan maksudnya.
"Si Kakak ada di kapal," ucap Andra membuat Kenn, Getta dan Rian saling pandang.
"Ya udah hayu balik lagi," ajak Kenn.
Mereka kembali berlari untuk sampai di kapal dengan segera, dalam perjalanan Getta menelpon Wildan untuk memberitahu jika Gita telah ditemukan. Sama dengan keempat Anak Onta lainnya, Wildan dan Hendrik pun berlari untuk sampai di kapal dengan segera.
Mereka tiba di dermaga secara bersamaan dan langsung menuju belakang kapal, di sana terlihat Gita dan Oncom yang sedang tertawa. Sedangkan ketiga gadis lainnya sedang memainkan handphonenya masing-masing. Hal yang tidak pernah di lakukan Gita, Oncom maupun Anak Onta nya yang lainnya jika sedang bersama.
Getta dan Rian langsung mendudukkan diri di sebelah Gita. Getta bahkan menyingkirkan Oncom terlebih dahulu sebelumnya. Hendrik mendudukkan diri di sebelah Oncom, Wildan di sebelah Getta, disusul Kenn di sebelah Wildan. Andra duduk di sebelah Hendrik. Para Anak Onta nya menyandarkan tubuh mereka sambil mengatur napas.
"Welcome to the club Gengs," sambut Gita dengan tersenyum.
Getta melingkarkan tangan kirinya ke bahu Gita, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mencubit hidung Gita.
"Lu bikin khawatir aja sih, Kak!"
Gita tertawa, "Engap Begee!!" serunya dengan diiringi tawa. Getta melepaskan tangannya dari hidung Gita, "Salah siapa lu semua ngerjain gue," balasnya kesal. "Gimana rasanya dikerjain?" tanya Gita.
"Cape, Kak," jawab Kenn.
"Lu dari mana sih?" tanya Wildan.
Gita mendelikkan matanya pada Wildan, "Jangan ngomong sama gue, gue marah sama lu!" ucap Gita yang membuat mereka semua tertawa.
"Gue cuma disuruh sama mereka, Kak. Salahin mereka dong," bela Wildan yang memeng benar.
"Tapi 'kan gak harus bikin gue nangis juga," balas Gita masih tidak terima.
Mereka yang mendengarnya kompak menolehkan pandangan pada Wildan.
"Lu nangis, Kak?" tanya Rian pura-pura belum mengetahuinya.
"Tuh biang keroknya, marah-marah gak jelas. Gue didiemin sepanjang jalan. Kasih pelajaran gih," perintahnya pada Anak Onta nya.
"Mampus!" ledek Oncom.
"Wah! Padahal kita cuma nyuruh buat bikin kesel doang gak sampe bikin nangis." Kenn ikut mengompori.
"Si Anjing!" kesal Wildan.
"Maunya di apain, Kak?" tanya Andra dengan menegakkan tubuhnya.
"Gimana kalo ceburin aja," sarannya membuat Wildan melotot.
"Oke sih," jawan Hendrik.
"Ide bagus," tambah Kenn.
"Ampun Kanjeng Ratu."
Wildan menyatukan kedua tangannya pada Gita dan membuat mereka semua tertawa.
"Oh tidak bisa, tetap harus ada hukumannya," kata Gita dengan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Astaghfirullah, kejam sekali anda, Nyonya." Wildan berkata dengan lesu.
"Eh ini gimana acara ulang tahunnya?" tanya Kimmy yang mulai bosan, karena semua perhatian mereka hanya tertuju pada Gita.
"Emang mau ada acara apa?" tanya Gita balik.
"Tiup lilin dulu gitu, make a wish dulu gitu," ujar Kimmy lagi.
Karena menurutnya mereka menyiapkan untuk acara ulang tahun Gita dari siang tadi, tapi mengapa acara belum juga dimulai.
"Oh gitu...." balas Gita dengan mengangguk-anggukan kepalanya. "Mana kuenya?" pintanya entah pada siapa.
Wildan bangkit dan mengambil kue untuk Gita dan meletakkannya di atas meja.
"Ini?" tanya Gita heran. bukan black forest seperti biasanya.
"Biar hidup lu lebih berwarna," jawab Andra dengan menyalakan lilin.
"Lu ngerokok ya?" tanya Gita curiga.
"Gak kok," jawab Andra, mereka semua memang tidak ada yang merokok.
"Ini kenapa bawa gas?" tanyanya polos. Andra mencubit hidung Gita pelan, "Onta ih!" serunya kesal, karena hidung dan rambutnya selalu menjadi incaran para Anak Onta nya.
"Kalo gue gak bawa korek, nyalain lilinnya gimana?"
Gita berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Andra. "Iya juga ya," kekeh nya pelan.
"Udah cepetan, lama amat sih!" celetuk Salsa yang dari tadi sudah kesal dengan semua drama yang dibuat oleh Gita.
"Emang kenapa kalo lama?" tanya Getta membuat Salsa menelan ludahnya, mulutnya itu memang tidak bisa menjaga ucapan.
"Gak apa-apa sih, Kak." Salsa menjawabnya dengan tersenyum canggung.
"Ya udah berarti diem aja," balas Kenn.
"Com lu diem aja?" Rian menegur Oncom yang dari tadi hanya diam.
"Gue kudu jingkrak-jingkrak gitu?" tanya Oncom dengan mencebikkan bibirnya.
"Gih sono, tuh loncat ke laut lebih bagus," balas Andra yang mendapat tatapan tajam darinya.
"Kita maen ABC lima dasar, yang kalah nyanyi."
Gita akan memainkan permainan zaman sekolahnya dulu. Tebak-tebakan dengan menghitung Abc menggunakan jari. Jadi huruf terakhir di jari yang ditunjuk terakhir adalah awal huruf suatu nama yang akan menjadi tebakan mereka, misal mereka akan menebak nama negara yang diawali huruf N, maka mereka akan menjawab Norwegia misalnya.
"Terus ini gak jadi acaranya?"
Kimmy yang bingung dengan kegiatan mereka, bukankah tadi Andra sudah menyalakan lilin untuk ditiup Gita, tapi bukannya meniup lilin mengapa Gita mengajak mereka bermain yang tidak jelas.
"Ini udah mulai kali Non acaranya," jawab Rian dengan sedikit ketus.
"Ini lilinnya udah mati," balas Sheryl.
"Ya terus?" tanya Wildan dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Kapan tiup lilin sama make a wish nya?" Sheryl menjelaskan maksud kedua temannya.
"Gak perlu tiup lilin segala, make a wish itu cukup dalam hati, Ini kita mau mulai acaranya. Kalo mau ikutin aja alurnya, kalo gak cukup diem aja." Hendrik menjelaskan.
"Pasang woi!" perintah Gita.
Ketiga gadis itu memperlihatkan dengan serius, Gita, Oncom dan para Anak Onta mulai mengeluarkan jari masing-masing setelah mendengar kalimat.
"ABC Lima Dasar," dari Gita.
Mereka akan menebak nama menggunakan huruf awal jari terakhir. Gita tiga jarinya, Oncom dua, Andra satu, Kenn lima, Hendrik empat, Rian tiga, Wildan lima dan Getta dua. Terdapat 25 jari jika di total dan berakhir di jari kelingking Hendrik dengan huruf 'Y'.
"Yuyun," jawaban Gita.
"Yadi," jawab Oncom.
"Yani," jawab Andra.
"Yeni," jawab Kenn.
"Yusuf," jawab Getta dan Rian bersamaan.
"Batal," potong Gita.
"Yanti," jawab Wildan.
"Yusman," jawab Hendrik.
"Yanto," jawab Rian.
"Onta kalah," seru Gita pada Getta yang menjawab paling terakhir.
"Sixe!" kesal Getta.
"Ini mana hukumannya," tanya Oncom yang paling semangat.
"Lu mah dendam Com sama gue," balas Getta yang melihat Oncom begitu bersemangat.
"Atuh yodrai Mas Bro!" jawab Oncom dengan semangat 45 nya.
"Ada yang punya lipstik gak?" tanya Kenn pada ketiga gadis yang hanya diam memperhatikan mereka semua.
Salsa mengeluarkan lipstik berjenis lip ice nya yang berwarna hijau, yang jika di aplikasikan pada kulit akan berubah menjadi warna merah.
"Ko ijo sih? Gak bakalan keliatan dong?" tanya Hendrik.
"Ini kalo nempel di kulit jadi merah, Kak." Salsa memberikan lip ice nya pada Hendrik.
"Are you ready, Boy?" tanya Hendrik dengan wajah jahilnya.
"Jangan banyak-banyak, Bege!" peringatan Getta pada Hendrik.
"Woi ladies first dong." Oncom mengambil lip ice dari tangan Hendrik.
"Emang lu cewek, Com?" ledek Rian yang membuat Oncom melototkan matanya.
"Sini Sayang, Ebeb dandanin dulu," rayu Oncom dengan nada meledek. Gita dan para Anak Onta nya tertawa dengan rayuan Oncom.
"Jangan dendam Com sama gue," mohon Getta yang tidak di dengarkan oleh Oncom. Oncom memoleskan lip ice secara memanjang pada pipi Getta, membuat Getta menahan napasnya.
"Com panjang amat," seru Getta.
"Sini Sayang, sama Kakak dulu." Giliran Gita yang aan memoleskannya.
"Jangan banyak-banyak, Sayang." Pinta Getta pada Gita.
"Gak banyak Kok," jawab Gita.
Gita memoleskan lip ice pada bibir Getta, membuat teman-temannya tertawa ngakak, bibir Getta menjadi merah merona.
"Sadap! Cantik sekali Kakak," goda Kenn dengan mencolek dagu Getta.
"Astaghfirullah, kamu tega banget sih, Yang!" Getta pasrah pada wajahnya yang entah seperti apa.
Ketiga gadis yang tidak ikut bermain hanya ikut tertawa melihatnya, Salsa ingin sekali rasanya membersihkan wajah tampan Getta dari lip ice nya. Acara di lanjutkan dengan para Anak Onta bergantian memoleskan lip ice pada wajah Getta, hingga memenuhi wajah tampannya.
"Yuk mulai lagi." Gita kembali mengintruksikan pada teman-temannya.
"Kita ikutan."
Salsa mengajukan diri diikuti kedua temannya, melihat permainan yang cukup seru, ditambah akan menyentuh wajah para Anak Onta membuat mereka ingin mengikuti nya.
"Pasang jari," titah Gita.
Mereka melanjutkan permainan seperti tadi, hingga tanpa terasa waktu menyentuh hampir tengah malam. Semua wajah peserta terkena coretan dari lip ice milik Salsa. Tawa, canda dan bahagia sangat jelas dari diri mereka, terutama Anak Onta dan juga ketiga gadis itu, yang akhirnya menyadari bahwa permainan sederhana itu lebih menyenangkan dari pada permainan truth or dare yang biasa mereka lakukan.