Wildan terus berjalan tanpa menghiraukan Gita yang terus mengikutinya. Wildan tersenyum ketika mendengar beberapa kali Gita mengumpat dirinya, dalam hati ia berkali-kali meminta maaf pada gadis yang disayanginya itu.
Gita bingung sendiri dengan perubahan sikap Wildan terhadapnya, Wildan seperti orang yang sedang iri pada Anak Onta lainnya, entah karena hal apa. Apakah Gita kesal? Jangan ditanya lagi, itu sudah pasti. Hanya saja Gita tipe perempuan yang cukup sabar dan tidak bisa meluapkan emosi, jadi ia hanya menahannya dan lebih mengikuti kemana Wildan melangkah.
"Kita pulang." Wildan berbalik arah untuk kembali menuju mobilnya.
"Kenapa?" tanya Gita bingung.
"Gue gak mau pergi sama orang yang hatinya gak ikhlas," jawabnya acuh.
"Astaghfirullah! Kapan sih gue bilang gak ikhlas? Kapan gue bilang gak mau?" tanya Gita dengan kesal.
"Dengan sikap lu yang kayak gini itu udah nunjukin kalo lu gak mau."
Tuduh Wildan membuat Gita menarik napasnya kasar, jika diibaratkan kepala Gita mungkin sudah bertanduk dengan semua tuduhan Wildan yang entah berasal dari mana.
"Gue mau melambaikan bendera putih aja, Ta. Daripada gue bingung," kata Gita dengan duduk di atas pembatas jalan.
"Terserah."
Balas Wildan acuh dan meneruskan perjalanannya menuju mobilnya kembali dengan tersenyum, sebenarnya Wildan tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, ini cara untuk membuat Gita kesal.
Gita menyerah, sudah tidak tahan dengan semua sikap Wildan malam ini. Gita bangun dan berlari lalu melompat ke punggung Wildan. Wildan refleks memegangi kedua kaki Gita karena takut Gita akan terjatuh. Gita menarik telinga Wildan agar mau menghadap kearahnya.
"Liat gue! Lu kenapa?" tanya Gita untuk kesekian kalinya. Namun Wildan hanya Diam saja, "Katanya mau ke Pulau Seribu?" Wildan tetap diam dengan terus berjalan, "Onta ih!"
Akhirnya Gita yang sudah tidak tahan menenggelamkan wajahnya di punggung Wildan dan menangis. Gita paling tidak bisa didiamkan seperti itu.
Wildan kembali membalikkan tubuhnya dan melanjutkan perjalanan ke dermaga kecil dengan masih berdiam diri, membiarkan Gita menangis di punggungnya, membasahi kaos yang dipakainya. Karena jaketnya dipakai oleh Gita.
Jika saja Gita dalam keadaan tidak menangis, ia akan meledek Wildan dengan sebutan sedang mengukur jalan, karena hanya bolak-balik tidak jelas.
Gita merasakan Wildan menaiki anak tangga satu persatu, Gita mengangkat kepalanya dan melihat ternyata mereka telah sampai di dermaga kecil. Wildan berjalan menuju salah satu deretan kapal yang Gita sebut dengan kapal Ferry, padahal itu kapal pesiar atau yacth milik Andra. Wildan menaikinya dan menurunkan Gita.
"Pulau seribu di mana?" tanya Gita lagi.
"Di seberang," jawab Wildan masih acuh.
"Berarti kita nyebrang gitu? tanyanya lagi dengan sedikit kaget.
"Kenapa? Lu gak mau?" tanya Wildan dengan sinis.
"Serah lu, Ta. Emosi gue lama-lama," gerutunya kesal.
Gita mengikuti Wildan yang berjalan ke arah bagian belakang kapal, sebenarnya dalam hatinya Gita cukup merasa takut berada di atas kapal sepi seperti ini. Gita tengah berpikir jika mereka menyeberang siapa yang akan mengemudikan kapalnya? Gita takut jika tiba-tiba mesin kapal mati ketika di tengah-tengah lautan, karena sepintar apapun seseorang berenang, mereka akan tetap tenggelam jika berada di tengah lautan, karena kelelahan.
"Ta ini cuma kita berdua? Emang lu bisa jadi Nahkoda?"
Wildan tersenyum dengan pertanyaan Gita. Keadaan kapal yang gelap membuat Gita berjalan meraba ketika masuk ke bagian dalam kapal. Sedangkan Wildan yang berjalan cepat sekarang entah berada di bagian mana.
"Onta!" Panggilnya yang tidak mendapatkan jawaban. "Onta jangan bercanda ya. Gue marah sih serius," ancamnya yang masih tidak mendapatkan jawaban.
Tiba-tiba terdengar suara jentikan gas korek api, sepuluh orang memegang masing-masing satu dan menyalakan tepat di depan wajahnya, membuat Gita memekik kaget karena wajah mereka yang seram akibat terkena biasan cahaya api
"Astaghfirullah." Gita memegangi dadanya, dan seketika lampu kapal menyala.
"Happy birthday, Kak!" teriak mereka kompak dengan Oncom yang membawa kue ulang tahun yang diberi satu lilin kecil diatasnya.
Gita tidak menunjukkan reaksi apapun, wajahnya datar dan menarik napas kasar. Mereka semua yang melihatnya saling pandang dengan reaksi Gita.
"Stop!" bentaknya ketika mereka semua akan maju. "Gak lucu sumpah."
Gita pergi keluar kapal, meninggalkan mereka semua yang bingung dengan reaksi Gita yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Apalagi ketiga gadis yang iri terhadapnya, lagi-lagi mereka mencibir jika Gita tidak tahu diri, bukannya menerima justru marah. Anak Onta yang baru tersadar dari keterkejutan akan reaksi Gita yang marah dan keluar dari kapal dengan segera menyusulnya, mereka tidak menyangka jika Gita akan marah.
"kak!" Gita sudah tidak terlihat lagi, dengan segera mereka mencarinya.
"Cepet banget sih ngilangnya," gerutu Rian.
"Tadi dia nangis tau," kata Wildan membuat mereka semua menolehkan kepala melihatnya. "Ngapain pada ngeliatin gue?" tanyanya bingung.
"Diapain sampe nangis?" tanya Getta dengan memicingkan matanya curiga.
"Kata lu semua bilang kudu bikin dia kesel," jawab Wildan polos.
"Ya gak sampe nangis juga, Nyet!" bentak Andra dengan kesal.
"Ya 'kan totalitas gue mah aktingnya," bantahnya.
"Terus sekarang gimana?" tanya Kenn yang terlihat cemas.
"Pilihannya antara keluar atau masuk ke pantai." Mereka membenarkan ucapan Hendrik.
"Gue nyari ke area pantai." Andra berlari tanpa menunggu jawaban mereka terlebih dahulu.
"Si Pea!" Rian, Kenn dan Getta mengikuti Andra. Wildan dan Hendrik mencari ke area pintu masuk.
Andra dan yang lainnya telah sampai di pinggiran pantai yang sepi, tapi tidak terlihat adanya Gita disekitar sana. Begitupun dengan Wildan dan Hendrik yang telah sampai di pintu masuk dan bertanya pada penjaga, tapi mereka semua menjawab tidak melihat. Perasaan menyesal menyeruak di hati Wildan, karena tadi ia keterlaluan sampai membuat Gita menangis, dan ini semua adalah ide gila dari Anak Onta yang lainnya.
***
Sedangkan masih di atas kapal pesiar, Gita tengah duduk dengan kaki yang menjulur ke bawah. Gita sengaja ingin mengerjai Anak Onta nya, sebagai balas dendam untuk mereka yang telah membuatnya kesal.
Anak Onta nya tidak berusaha mencari di sekeliling kapal, mereka malah langsung keluar dari kapal dan mencari di dermaga, mungkin mencari ke tempat lain, pikirnya. Karena sampai saat ini mereka belum ada yang menghampiri Gita, padahal Gita dengan jelas mendengar mereka memanggilnya dan berlari menyusulnya.
Gita juga mendengar di bagian belakang kapal ketiga gadis yang sedang membicarakannya di depan Oncom, yang di tanggapi dengan senyuman miring juga jawaban singkat Oncom.
"Gak tau diri banget sih! Dikasih kejutan bukannya seneng malah marah," gerutu Sheryl yang kesal dengan sikap Gita.
"Gak tau tuh, cari perhatian banget. Heh temen lu itu kasih tau, gimana caranya berterima kasih," timpal Salsa pada Oncom.
"Lu semua yang gak tau terima kasih, udah untung si Gita mau ngajakin lu bertiga." Oncom tersenyum sinis setelah mengatakan itu.
"Eh kita di ajak sama Anak Onta ya, bukan sama si Gita!" balas Kimmy tidak terima.
"Lu pikir kalo bukan karena si Gita yang selalu minta mereka ngajak lu mereka bakal sudi gitu ngajakin lu semua?" tanya Oncom yang membuat mereka terdiam. "Jadi siapa disini yang gak tau diri plus gak tau terima kasih?" tanyanya dengan wajah sok manis.
Setelah dirasa cukup memberikan pelajaran untuk para Anak Onta nya, juga cukup mendengarkan cibiran dari ketiga gadis yang telah diajaknya, Gita akhirnya keluar menghampiri Oncom dan ketiganya, membuat ketiga gadis itu kicep dibuatnya.
Gita tersenyum manis pada mereka bertiga dan duduk di sebelah Oncom. Bagian belakang kapal yang memiliki sofa lengkap dengan kursinya membuat Oncom begitu betah duduk di sana.
"Telepon si Onta, Com."
Perintah Gita pada Oncom untuk memberitahu para Anak Onta nya. Entah Onta yang mana yang akan di telepon oleh Oncom.
Oncom mengeluarkan handphonenya dan menelpon Andra, dering ke empat baru di jawab olehnya.
"Balik, Ta. Ada sama gue."
Oncom mematikan sambungan teleponnya setelah mengatakan itu tanpa menunggu jawaban dari Andra.
Setelah itu mereka berdua mengobrol dan mengabaikan kehadiran tiga gadis yang saat ini terlihat salah tingkah. Mereka bertiga tahu Gita pasti mendengar semua yang mereka katakan.
"Maaf ya Git, kita gak bermaksud ngatain lu kok." Sheryl mencoba menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Dari awal gue tau apa tujuan lu semua, jadi gue gak aneh. Lu pengen deket bahkan kalo bisa sampe punya hubungan lebih 'kan sama Anak Onta gue?" tanyanya yang tepat sasaran. "Gue bakal bantu," lanjutnya dengan santai.
"Makasih Git," balas mereka bertiga kompak tanpa rasa malu.
Gita dan Oncom meneruskan obrolan mereka tentang pekerjaan, pembicaraan yang tidak di mengerti oleh ketiganya. Mereka bertiga lebih banyak diam, tidak mengobrol heboh seperti biasanya. Mungkin kali ini mereka merasa tidak enak hati pada Gita, karena telah ketahuan secara langsung jika mereka hanya memanfaatkan Gita, dan yang lebih membuat malu adalah dengan sikap Gita yang tidak marah, malah Gita akan tetap membantu. Padahal jika Gita mau, Gita bisa dengan mudah meminta Anak Onta nya untuk tidak menerima mereka lagi, bahkan Anak Onta nya akan berseru senang.