Bagaimanapun baiknya perbuatan yang kita lakukan untuk seseorang, tetap saja tidak akan pernah diterima jika mata hatinya tertutup oleh rasa iri. Begitulah kira-kira yang dirasakan oleh Gita saat ini, lima bulan sudah dari pertama kali Salsa, Sheryl dan Kimmy itu ikut bergabung dengannya dan juga para Anak Ontanya. Sekarang hubungan mereka semua cukup lumayan baik, Anak Ontanya sudah tidak terlalu jutek dalam berbicara selagi mereka bertiga bisa sopan dan menghargai Gita.
Bukan sekali dua kali Salsa bilang jika dirinya iri terhadap Gita atas semua limpahan kasih sayang dan perhatian Para Anak Ontanya, yang selama ini Gita tanggapi dengan candaan saja.
Gita menganggap itu hanyalah gurauan saja, mereka pun sekarang cukup akrab dengan Gita, walaupun dengan Anak Onta masih berjarak. Sheryl semakin gencar mendekati Rian, Kimmy semakin gencar mendekati Hendrik, dan Salsa sudah tidak akan berpaling pada yang lain selain Getta.
Hari ini mereka semua sedang merencanakan untuk kegiatannya nanti malam yang akan merayakan ulang tahun Gita yang ke 17. Andra sudah menyiapkan kapal pesiar miliknya sendiri.
Kapal yang di beli oleh ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 18 tahun. Kapal yang belum pernah dilihatnya apalagi dipakainya, dan untuk pertama kalinya Andra menggunakan hadiah dari Ayahnya itu, untuk merayakan ulang tahun Gita. Gadis yang memiliki tempat tersendiri di hatinya.
Para Anak Onta, tiga mantan adik kelasnya, dan tidak ketinggalan pula Oncom sebagai sahabat Gita. Oncom harus rela izin untuk tidak bekerja atas desakan Andra, agar Oncom membantunya untuk mempersiapkan acara untuk nanti malam.
"Awas kalo gaji gue gak di ganti," ancamnya pada Andra yang telah memaksanya.
"Aelahh, Com. Selow! Gue bayar, takut amat sih lu," seru Andra.
"Dobel!" balas Oncom.
"Tripel, Com." Getta menyela dengan mengacak rambutnya.
"Si Pea," gerutu Oncom kesal.
Jika dengan Gita saja ketiga gadis itu sebenarnya merasa tidak nyaman karena tidak selevel, sekarang mereka harus bersama dengan Oncom yang lebih aneh dari Gita menurut mereka bertiga.
Sebisa mungkin mereka menjaga sikap untuk tidak asal bicara dan mengeluh, karena memang tujuan mereka hanya ingin dekat dengan Para Anak Onta, tanpa berniat kenal apalagi berteman dengan dua perempuan aneh tersebut. Walau bagaimanapun mereka memperlakukan Oncom dan Gita hampir sama, walaupun pada Oncom mereka lebih banyak meledek dan menggodanya.
Perasaan iri semakin menyeruak dalam diri mereka bertiga ketika melihat dan ikut serta menyiapkan acara untuk perayaan ulang tahun Gita. Sebuah kapal pesiar milik Andra pribadi dengan fasilitas mewah di dalamnya yang sudah di dekorasi oleh mereka semua. Rainbow cake yang tidak di hias ala birthday cake karena Gita tidak menyukai cream untuk mempercantik kue. Padahal Gita sangat menyukai black forest, dengan alasan agar hidup Gita lebih berwarna, jadi mereka mengganti kuenya dengan Rainbow Cake.
Terlalu berlebihan dan tidak pantas menurut mereka bertiga. Namun, semua itu hanya mampu mereka ungkapkan dalam hati dan pikiran masing-masing, karena mereka takut akan kembali di depak dari kehidupan para Anak Onta jika sampai mereka mengungkapkannya.
"Ini begini aja, Kak?" tanya Salsa pada Getta saat dirinya melihat Rainbow cake tanpa hiasan apapun.
"Iya," jawab Getta singkat.
"Kok gak di hias? Minimal di kasih wipe cream gitu biar bagus." Salsa masih mencoba untuk mengajak Getta berbicara.
"Si Kakak gak suka sama wipe cream, jadi daripada dianya gak makan, mendingan gak usah di hias." Penjelasan Getta membuat Salsa menganggukan kepalanya.
"Kalian tau banget ya sama semua yang disuka dan gak nya dari Gita."
Salsa ingin terus berbicara dengan Getta, jadi apapun akan ia tanyakan demi bersama Getta.
"Buat kami, kebahagiaan Gita no satu. Bisa tolong ambilin lilinnya di sana?" dengan senang hati Salsa mengambilkan apa yang di minta Getta, mereka cukup banyak mengobrol.
***
Jam yang sudah menunjukan pukul delapan malam membuat mereka segera mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Gita. Wildan sedang menjemput Gita, Andra dan Oncom telah meminta izin sebelumnya pada Yola bahwa mereka akan menginap di pulau Seribu. Yola mengizinkan dengan wejangan yang panjang kali lebar yang didengarkan dengan senyuman oleh mereka berdua.
"Izin mau ke mana?" tanya Yola pada Oncom dan Andra.
Andra sedang mengingat bagaimana ia meminta izin pada Yola sehari sebelum acara, yang seperti biasa akan di absen terlebih dahulu olehnya siapa saja yang akan ikut.
"Ngerayain ultah si Gita," jawab Oncom dengan tersenyum sok manis.
"Deh, jadi lu besok gak kerja gitu?' tanya Yola pada Oncom.
"Nih gak dibolehin sama si Onta." Andra nyengir ketika Yola melihatnya.
"Kalo gak diizinin gimana? Kerjaan lu lagi sedikit sih ya?" tanyanya lagi.
"Atuh yoyoi Ibu Mandor. Kalo lagi banyak bisa-bisa si Acong ceramah panjang kali lebar."
Oncom tidak akan mau jika pekerjaannya banyak, untuk saja pekerjaannya minggu-minggu ini sedang santai.
"Ya udah, tapi ceweknya gak cuma berdua, 'kan?" Yola harus memastikan terlebih dahulu sebelum mengizinkan.
"Banyakan, Teh. Teteh juga kalo mau ikut hayu," ajak Andra.
"Gak mau, gak liat tuh kerjaan gue numpuk."
Yola menunjuk pada tumpukan kertas yang ada di mejanya. Yola sering membawa pekerjaannya ke rumah. Pekerjaan yang seperti tugas anak sekolah, di mana ia haru menghafalkan semua yang ada di dalam kertas yang merupakan semua rincian tentang sample bra model baru.
Otak Yola cukup cerdas, terbukti dengan ia yang bahkan tidak lulus walau hanya sekolah dasar, karena di saat ia menginjak kelas empat sekolah dasar dirinya memutuskan berhenti sekolah, dan memberikan kesempatan pada adik-adiknya untuk tetap melanjutkan pendidikannya.
Namun walaupun seperti itu, jabatan Yola adalah mandor di tempat kerjanya, dan semua tulisan yang ada di kertas yang dibawanya ke rumah merupakan tulisan dalam bahasa Inggris yang tidak diterjemahkan, tapi Yola mengerti akan artinya. Walaupun terkadang di bantu oleh suaminya dan para Anak Onta Gita.
"Nah, kebetulan lu disini, Ndra. Tolong artiin yang ini," tunjuk nya pada sebaris kalimat yang tidak dimengerti nya.
"Yang ini? Secara garis besarnya aja ya?" tanya Andra dan Yola mengangguk sambil bersiap untuk menuliskan artinya. "Ini jenis permintaan, jadi ini artinya si buyer minta bagian karet pinggang ukuran jahitannya 0,8 centimeter. Yang artinya pake jarum nomer delapan juga. Kirim sample nya minimal lima pcs dan paling lambat hari Jum'at depan." Yola menganggukkan kepala mengerti.
"Wew.. Ribet sekali," ujar Yola setelah memahami maksud terjemahan dari Andra.
"Jadi gimana, Teh? diizinin gak nih?" tanya Andra memastikan.
"Izinin gak ya?" Yola sengaja menggantungkan jawabannya.
"Udah diizinin, yoks kita berangkat." Oncom yang menjawab pertanyaan Andra.
"Weh, durhaka si Oncom!" seru Yola.
"Lama," balasnya cuek.
Setelah itu Andra bertugas mengartikan semua tulisan yang tertulis di atas kertas yang dibawa Yola. Yola bilang itu sebagai sogokan untuknya agar diizinkan mengajak Gita pergi, juga sogokan agar Yola tidak membocorkan rencana mereka.
***
"Kita mau ke mana, Ta?" tanya Gita yang bingung karena tiba-tiba Wildan menjemputnya, tanpa mengabari terlebih dahulu.
"Pulau seribu," jawab Wildan singkat.
Seperti biasa mereka memang selalu dadakan jika akan pergi ke manapun. Hal yang membuat Gita kadang kesal.
"Kebiasaan gak pernah bilang dulu kalo mau ke mana-mana, gue 'kan gak persiapan apa-apa."
Seperti biasa pula Gita akan protes dan tidak akan didengarkan oleh Anak Onta nya.
"Sudah biasa, karna semuanya sudah siap Tuan Putri." Wildan pun akan menjawabnya dengan jawaban yang sama setiap kalinya.
Gita mendengus mendengar jawaban Wildan, setelahnya Gita menyalakan musik dari audio mobil Wildan. Perjalanan mereka diiringi oleh lagu milik Avanged Sevenfold, bernyanyi bersama dengan suara yang keras seperti orang gila. Hal yang selalu Gita lakukan jika hanya berdua dengan salah satu Anak Onta nya.
Wildan membelokkan mobilnya ke arah pintu masuk Ancol, Gita menolehkan kepalanya dengan maksud bertanya, tapi Wildan sepertinya enggan untuk menjawabnya. Membuat Gita menarik pelan rambutnya, hal yang menjadi kebiasaannya ketika kesal pada Anak Onta nya.
"Kata lu mau ke pulau seribu, Ta?" tanyanya setelah mobil berhenti.
"Lewatnya dari sini, Kak. Yuk," jawabnya setelah membukakan seat belt Gita.
"Oh! Sama Anak Onta juga, 'kan?" tanyanya lagi untuk memastikan.
"Mereka lagi sibuk, gue lagi paleng dan cuma pengen berdua aja sama lu." Gita menghentikan langkahnya membuat langkah Wildan pun berhenti. "Kenapa? Lu gak mau kalo cuma berdua sama gue?" tanya Wildan dengan nada sinis, yang memang sengaja untuk membuat Gita kesal.
"Lu kenapa?" tanya Gita heran.
"Kok jadi gue yang kenapa? 'kan gue yang nanya sama lu," jawabnya masih dengan sinis dan sikap cuek.
"Lu anggep gue apa?" tanya Gita yang mempilihkasihkan Wildan dengan Anak Onta lainnya.
"Lu maunya gue anggep apa?"
"Aneh."
"Lu kalo sama Anak Onta yang lainnya mau jalan berdua, kenapa sama gue gak?"
"Gue gak bilang gak mau loh dari tadi. Gue cuma tanya kita mau ke mana?" Gita yang sudah mulai terpancing emosinya.
"Lu emang gak nolak, tapi lu banyak tanya! Gue udah jawab dari tadi ke pulau seribu. Lu malah nanyain Anak Onta yang lain." Gita melongo mendengar jawaban sarkas dari Wildan.
Gita menarik napasnya kasar, "Jujur sama gue lu kenapa?"
"Gue gak kenapa-napa."
Wildan pergi meninggalkan Gita yang masih mencerna semua sikapnya malam ini. Wildan akan memaki Anak Onta lainnya karena telah memaksanya untuk berbicara sarkas pada Gita. Entah apa yang dipikirkan Gita saat ini.
"Onta! Woi! tungguin gue," teriak Gita yang akhirnya mengikuti Wildan.
Mereka berjalan kaki dari pintu masuk hingga menuju dermaga yang cukup lumayan jauh menurut Wildan. Meninggalkan kebingungan Gita akan nada bicara Wildan yang cukup kasar malam ini.