Kenn si Kompor Meleduk

1353 Kata
Sheryl, Salsa dan Kimmy tengah tersenyum lebar di rumah Salsa. Seperti biasa rumahnya dijadikan basecamp oleh ketiganya, orang tuanya sedang melakukan perjalanan bisnis yang Salsa tidak pernah tahu kapan pulangnya. Tidak masalah baginya mereka berdua -kedua orang tuanya- tidak pulang, yang penting ATM nya selalu diisi dengan full sesuai permintaannya. Menjadi anak perempuan tunggal dan tanpa pengasuhan dari orang tua menjadikan hidup Salsa bebas. Di usianya yang baru akan menginjak usia 17 tahun Salsa sudah sangat bersahabat dengan minuman beralkohol. Bahkan di rumahnya memang terdapat ruangan khusus tempat penyimpanan minuman haram tersebut, milik kedua orang tuanya yang sekarang seperti miliknya sendiri. Ruangan yang memiliki ratusan botol minuman dengan kadar alkohol rendah maupun tinggi, yang membuat Salsa merasa tenang jika sedang menikmati salah satu isi dari botolnya. Kehidupan Salsa tidak jauh berbeda dengan Andra, sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Hanya saja sepertinya Andra sedikit lebih beruntung, karena memiliki paman dan bibi yang menjaga dan mengurusnya dengan baik, teman-teman yang menyayanginya dengan tulus, karena walaupun mereka mengetahui Andra anak pemilik dari perusahaan raksasa, tidak membuat mereka memanfaatkan Andra dalam pertemanan mereka. Andra memiliki adik yang yang begitu disayanginya tapi tidak pernah manja terhadapnya. Adik yang tingginya sudah mencapai 160 centimeter diusianya yang baru menginjak 13 tahun. Satu lagi, Andra memiliki Gita yang saat ini menjadi sumber kebahagiaannya. Jauh sekali dengan Salsa yang sedari kecil memang tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari orang tuanya yang terlalu sibuk, padahal ia adalah anak perempuan tunggal. Mempunyai teman yang hanya akan ada disaat uangnya masih ada, juga tidak memiliki seseorang yang begitu spesial untuk ia jadikan sebagai sumber kebahagiaannya. "Si Kenn ngehubungin lu gak?" tanya Sheryl yang sedang memutar gelas wine-nya. "Gak ada kalo gak gue duluan," jawab Kimmy dengan menelungkupkan kepalanya pada meja bar yang ada di rumah Salsa. "Lu gila?" ledek Sheryl pada Salsa yang sedari tadi hanya diam dan senyum-senyum sendiri. "Emang," jawabnya acuh. "Pantesan," balas Kimmy. Mereka tidak pernah tahu apa yang dipikirkan Salsa, gadis dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata itu telah menetapkan hatinya untuk anak Onta yang mana. Usianya paling muda diantara Kimmy dan Sheryl. Salsa telah menetapkan hatinya untuk memilih Getta, sosok laki-laki cool, tenang berwajah pangeran. Entah mengapa sedari awal Salsa memang terpesona pada Getta. Salsa sedang akan meminta Gita untuk mendekatkan dirinya dengan Getta, walaupun kemungkinannya sangat kecil. "Tidur, dia beneran gak waras." Perintah Sheryl yang melihat temannya tidak berhenti tersenyum, seperti nya mereka butuh istirahat untuk mengembalikan kewarasan hati dan pikirannya. "Duluan, gue masih pengen disini." Salsa masih ingin menikmati minumannya. Walaupun usianya paling kecil, tapi untuk urusan minuman beralkohol Salsa bukan tandingan Sheryl dan Kimmy. "Kita duluan." Kimmy dan Sheryl beranjak dari ruangan itu untuk menuju kamar. Sedangkan Salsa masih dengan pikirannya tentang Getta. "Gue pengen banget jadi pacar lu, Kak." Salsa berkata pada gelas berisi wine yang sedang di pandanginya. Salsa sedang membayangkan jika Getta menjadi kekasihnya, hidupnya mungkin akan bahagia. "Tapi gimana caranya?" tanyanya lirih dan lagi pada gelas yang dipegangnya. Salsa bisa dibilang gadis fakir kasih sayang, selama hidupnya hanya bisa membayangkan akan mendapatkan kasih sayang dari orang yang diharapkan nya. *** Sedangkan Anak Onta sebulan setelah Kenn dan Gita jalan-jalan berdua di daerah pantai anyer, mereka kembali pada rutinitas biasa, Kenn tidak bosan menceritakan kegiatannya bersama Gita ketika di pantai. Hal itu membuat Andra mendengus kesal, pasalnya Kenn banyak melebihkan dalam bercerita, itu memang di sengaja untuk memanas-manasi Anak Onta lainnya terutama Andra. Selama sebulan ini pun Gita memaksa mereka untuk belajar berteman dengan Kimmy, Salsa dan juga Sheryl. Gita begitu semangat jika menceritakan ketiga gadis itu, seolah-olah ia telah lama mengenal mereka. "Mereka baik loh sebenernya," ucapnya waktu itu seperti mempromosikan ketiga gadis yang memang memintanya untuk didekatkan pada Anak Onta nya. "Lu kayak lagi promosi barang tau gak," ujar Wildan. "Gue cuma kasian aja sih. Mereka pengen di ajak gabung sama kita kalo lagi ngumpul gini. Ajak lah sekalian, biar gue juga bukan cewek sendirian kalo lagi gak ada si Oncom," kelih Gita yang sebenarnya hanya alasan. "Ya udah ajak mereka, Kak." Gita berseru senang ketika Getta mengizinkannya. "Maacihh Onta. Sayang deh," balasnya manja. "Diturutin aja gitu," cibir Hendrik yang di hadiahi oleh peletan lidah olehnya. Andra mengacak-acak rambut Gita pelan, kebiasaannya yang sudah tidak bisa dicegah oleh Gita. "Telpon dong, Gett. Lu yang ngizinin juga," ujarnya kemudian. "Ya kali harus gue?" tanyanya dengan enggan. "Ya terus? Masa gue?" balas Andra seolah tidak percaya. "Sue!" serunya yang membuat mereka tertawa. Getta meminta nomor Salsa pada Gita, setelah mendapatkannya Getta langsung memanggilnya. Panggilan pertama tidak di angkat, dan Getta sangat bersyukur akan hal itu. Tapi tidak lama kemudian handphonenya berdering dari nomor yang baru saja di panggilnya. "Hemm..." jawabnya malas. "......" "Getta." "....." "Gue di suruh si Kakak, kalo emang mau ya kesini aja kita lagi ngumpul. Jangan rese," jelasnya sebelum mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban dari seberang telepon nya. "Maacih Onta." Gita kembali mengucapkan terimakasih. "Lu di paksa sama mereka ya, Kak?" tanya Getta penasaran, karena Gita begitu gigih meminta ketiga gadis itu diikut sertakan pada kegiatan kumpul mereka. "Gak boleh suudzon tau, Ta. Mereka gak maksa, cuma inisiatif gue aja biar gue gak sendirian ceweknya. Si Oncom 'kan lagi pulang kampung," jawabnya dengan sedikit kebohongan. "Iya, iya, maaf. Terus kalo mereka datang kudu gelar karpet merah gak nih?" canda Kenn. "Kalah aja Putri Diana," ujar Rian. "Inget ya gak boleh judes-judes ngomong nya kalo sama mereka," ancam Gita. "Disogok gue rasa," canda Kenn. "Oh pasti!" balas Gita dengan tertawa. Sambil menunggu datangnya ketiga gadis yang akan ikut bergabung, mereka merencanakan untuk acara hari libur nanti. Gita selalu protes jika pergi ke manapun tanpa rencana terlebih dahulu, karena dirinya yang tidak pernah mempunyai persiapan apapun. Anak Onta nya selalu mengajaknya pergi secara dadakan, walaupun memang semua kebutuhannya selalu tersedia, tapi tetap saja Gita selalu merasa tidak enak. *** Sedangkan di rumah Salsa, gadis itu tengah menjerit karena rasa bahagia. Orang yang selama ini ia mimpikan entah angin darimana tiba-tiba menelponnya, walaupun sebenarnya ia tahu Gita yang telah menyuruh nya, tapi tidak apa. Yang terpenting Getta telah mengetahui nomornya, jadi nanti ia dengan mudah bisa menghubunginya. Salsa kembali menjerit saat mengingat jika tadi Getta mengajaknya ikut bersama para Anak Onta lain untuk bergabung, walaupun lagi-lagi itu karena Gita. Ternyata memang tidak sia-sia mereka mendekati Gita. "Berisik Woi! Kenapa sih lo?" bentak Sheryl yang mendengar Salsa berteriak. "Gue punya kabar yang bikin lo berdua kejang-kejang," jawab Salsa dengan penuh drama. "Drama banget hiduo lo," cibir Kimmy sambil menggosok-gosokan handuk ke kepalanya. "Mau pada tau gak nih?" tanya Salsa yang membuat kedua temannya penasaran. "Cepetan apaan?" tanya Sheryl yang tidak sabaran, Salsa memang sedang berada di bawah ketika Getta menelponnya. "Tau gak siapa yang tadi nelpon gue?" tanyanya membuat Kimmy memutar matanya jengah dengan teka-teki dari Salsa. "Banyak drama hidup lo, terserah deh. Gue lagi gak mau maen teka-teki." Sheryl kembali membentak Salsa. "Kak Getta telpon gue," ucapnya dengan histeris. Kimmy dan Sheryl terdiam sebentar mencerna ucapan Salsa. "Maksudnya?" tanya Kimmy memastikan. "Tadi Kak Getta telpon gue dan bilang 'Kalo mau gabung datang aja kesini' Nih kalo lo gak percaya panggilan masuknya." Salsa menunjukkan panggilan masuk dari no Getta. Kimmy dan Sheryl langsung berdiri dan berganti pakaian, Salsa yang melihatnya memelototkan matanya tidak percaya dengan sikap gerak cepat kedua temannya. "Cepetan siap-siap, b**o! Keburu pada pulang mereka." Perintah Sheryl yang melihat Salsa masih diam. "Tau lo, ini udah mau jam delapan, si Gita 'kan biasanya jam sembilan udah pulang. Gak mungkin 'kan kalo bukan karena si Gita?" ujar Kimmy yang sudah bisa menebak pasti karena Gita. Akhirnya Salsa bangun menuju lemarinya untuk berganti baju, benar kata Kimmy, mereka akan bubar jika sudah menunjukan waktu pukul sembilan malam, karena itu adalah jadwal Gita. Memikirkan Gita entah mengapa menimbulkan rasa iri di hati Salsa. Tidak ada yang istimewa padahal dari gadis kampung itu, tapi kasih sayang yang diberikan oleh para Anak Onta nya begitu jelas terlihat. Sedangkan dirinya? Jangankan para Anak Onta, bahkan kedua orang tuanya pun tidak peduli padanya. Mengsedih sekali memang hidup seorang Salsa Dewanti. Namun malam ini ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia akan bersuka ria dan mendapatkan perhatian dari mereka semua, itu yang ada dalam pikiran ajaibnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN