Gita berseru senang ketika kakinya menginjak pasir putih pantai Anyer, berlari kecil menyambut gulungan ombak yang akan datang. Kenn memilih pantai yang berada di kawasan hotel milik Andra. Semua pegawai hotel telah mengetahui siapa Kenn. Laki-laki berusia 20 tahun teman dari pemilik hotel tempat mereka bekerja.
Kenn mengikuti Gita di belakangnya, berjalan pelan dengan tangan di lipat di bawah d**a, kacamata hitam bertengger apik di hidungnya, membuat para pengunjung wanita menatap kagum kearahnya. Ada yang secara terang-terangan menghampirinya, membuatnya mendengus tidak suka.
"Sayang! Jangan lari-larian aja, nanti kamu jatoh."
Mereka sudah sepakat ketika di jalan tadi untuk berperan layaknya pasangan kekasih, hal itu untuk menghindari adanya wanita yang akan mendekati Kenn. Dan ternyata terbukti ampuh, karena perempuan yang tadi akan menghampirinya kembali berbalik begitu Kenn menyebut Gita dengan kata sayang.
Gita kembali berlari ketika gulungan ombak datang kembali, Kenn menangkapnya dari belakang dilanjutkan dengan berputar-putar membuat Gita tertawa dibuatnya, dan menjadikan mereka tontonan semua orang yang ada di sana.
"Turunin, Ayy. Pusing akunya."
Kenn menurunkan Gita, mereka masih tertawa bersama. Gita berpegangan pada lengan Kenn karena kepalanya yang terasa berputar. Belum hilang rasa pusingnya Kenn kembali mengangkatnya dan berputar. Setelah dirinya juga merasa pusing barulah Kenn menurunkannya dan langsung terduduk di atas pasir yang basah.
"Pusing euy," ujarnya sambil merebahkan tubuh di atas pasir.
"Suruh siapa muter-muter kayak gitu?" tanya Gita yang juga ikut merebahkan dirinya.
"Pake kacamatanya."
Kenn menyerahkan kacamata yang dipakainya pada Gita. Karena Gita tidak memakai kacamata, kacamata yang tadi di pakainya di taruh di mobil.
"Tar mata kamu makin kecil kalo gak pake kacamata."
Kenn memang keturunan Tionghoa yang memiliki mata begitu sipit, tak heran ke mana pun ia pergi jika siang hari Kenn akan memakai kacamata hitam. Hal itu agar matanya tidak semakin kecil jika terkena sinar matahari yang menyilaukan mata.
"Gak apa-apa, daripada mata kamu yang sakit," balasnya santai.
Hal itu tidak luput dari perhatian orang-orang yang ada disekitar mereka, terutama para gadis cantik yang heran dengan hubungan mereka yang sepertinya sepasang kekasih, apalagi melihat perlakuan Kenn yang terlihat begitu mencintai Gita.
"Lidah gue kaku tau pake bahasa Aku-Kamu, keselimpet nyebutnya."
Lidahnya memang terasa begitu kelu ketika ingin menyebutkan kata Aku-Kamu pada Kenn.
"Gak mau tau, pokoknya kudu bin harus bin wajib untuk hari ini."
Kenn tidak mau liburan langkanya berantakan gara-gara para gadis yang akan mendekatinya nanti. Bukan bermaksud terlalu percaya diri, tapi memang itulah kenyataannya. Buktinya tadi saja jika ia tidak memanggil Gita dengan sebutan Sayang, salah satu dari lima gadis yang sedang duduk di bawah payung besar akan menghampiri. Hal yang tidak pernah Kenn sukai.
"Iyups, Bebs."
Gita mengedipkan matanya pada Kenn, membuat Kenn tertawa. Kenn mengeluarkan handphonenya untuk menelpon resepsionis hotel, meminta salah satu pegawai hotel untuk mengantarkan kacamata untuk Gita, karena Gita tidak mau memakai kacamatanya. Lima menit kemudian pegawai hotel datang dengan membawa kacamata Gita.
"Tuan, Kenn. Kacamatanya." Pegawai itu memberikannya dengan sopan.
"Terima kasih." Setelah itu pegawai hotel kembali pada pekerjaannya.
Kenn memberikan kacamatanya pada Gita. "Berenang yuk," ajaknya pada Gita setelah memakai kacamatanya kembali.
"Emang kamu bisa?" tanya Gita tidak yakin.
Karena belum pernah melihat Kenn berenang. Sedangkan untuk Onta yang lainnya Gita pernah melihatnya.
"Jeh! Meragukan, ada juga kamu kali yang gak bisa," balasnya dengan meledek.
"Lomba tah?" tantang Gita.
"Yakin kamu bisa?" tanya Kenn tidak yakin.
"Aku ini orang kampung, biasa berenang di kali yang arus aer nya lumayan kenceng. Berenang mah kecil."
Gita kecil memang biasa berenang di kali yang memiliki arus yang cukup kencang, bersama teman-teman zaman sekolahnya dulu, Gita akan naik ke salah satu pohon yang menjuntai ke arah kali, mereka akan menaiki pohon itu dan melompat dari atas pohon yang biasa di sebut Babandulan/Bandul.
Kenn membantu Gita untuk bangun, menggenggam tangannya dan berjalan menuju air untuk berenang. Pakaian mereka tidak ganti, karena memang Kenn sendiri memakai celana training slim berwarna hitam yang dipadukan dengan t-shirt polos berwarna putih, sama dengan yang Gita kenakan. Hal itu semakin membuat yakin jika mereka adalah sepasang kekasih.
Mereka mulai berenang, dengan Kenn yang selalu berada di sisi Gita. Walau bagaimanapun Kenn tetap khawatir akan keselamatan Gita. Mereka mengapung di atas air, Kenn menyipratkan air ke wajah Gita yang dibalas kembali oleh Gita, Kenn menggenggam kedua tangan Gita agar tidak terlepas dari nya. Tertawa bersama ketika ombak menyapu tubuh mereka hingga lebih ke tepi, dan kembali berjalan lebih ketengah untuk merasakan kembali sapuan ombak.
"Makasih ya," ucap Kenn ketika mereka kembali duduk di atas pasir.
"Sama-sama," balas Gita yang walaupun tidak tahu ucapan terima kasih Kenn untuk apa.
"Nanti kita sama-sama kesini nya sama para Onta juga Oncom."
Walaupun hari ini Kenn bahagia hanya bisa berdua dengan Gita, tapi Kenn juga berpikir akan lebih bahagia jika mereka bisa bersama untuk menikmati suasana indah seperti ini.
"Semoga aja kita dikasih panjang umur biar bisa ngerasain kayak gini bareng-bareng."
Gita juga membayangkan akan lebih bahagia jika mereka bersama. Apalagi jika bersama Oncom, para Anak Onta nya sudah pasti akan mengerjai Oncom.
"Amin."
Kenn menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Gita, hal itu membuat lima perempuan yang dari tadi memperhatikan mereka semakin penasaran.
Salah satu dari mereka menghampiri Kenn dan Gita, berjalan dengan terus menyugarkan rambut panjangnya agar terlihat seksi, dengan memakai tanktop berwarna putih yang di balut selendang pantai, kakinya yang mulus hanya memakai hotpants yang memamerkan kulit putihnya.
"Permisi, kamu Kevin bukan ya?" tanyanya pada Kenn, entah itu pura-pura ataupun memang Kenn mirip dengan orang yang bernama Kevin itu.
"Bukan," jawab Kenn singkat.
"Kalo bukan Kevin terus namanya siapa dong?"
Kenn mengangkat sudut bibir sebelah kanannya. Tebakannya benar, gadis di depannya ini hanya pura-pura menebak dengan nama Kevin, karena maksud yang sebenarnya adalah ia ingin berkenalan dengan Kenn.
"Kenneth Arial Rasyad, Anak dari pemilik Arial Life & Tools yang berpusat di Jepang. Dan ini calon Istri Saya Anggita Purnama Angkasa, anak dari pemilik Angkasa Group yang artinya pemilik hotel ini. Jadi tolong jangan mengganggu kami jika tidak ada keperluan lain," jawab Kenn panjang dengan sombongnya. Membuat Gita tersenyum melihat wajah kesal perempuan dihadapannya.
"Oh! Maaf kalo begitu, Permisi." Perempuan itu pergi dengan tergesa karena malu.
"Sombong amat, Pak?" tanya Gita dengan tertawa pelan.
"Kalo sombong tuh jangan tanggung-tanggung, biar mereka tahu sekalian," jawabnya santai.
"Bohong lu," kata Gita lagi.
"Bohong apa?" tanya Kenn heran.
"Nama gue gak pake Angkasa, Pea. Keren amat gue yang punya hotel." Gita terkekeh pelan dengan perkataan Kenn.
"Minum es kelapa yuk?" ajaknya pada Gita.
"Kita nyari sendiri tapi ya."
"Siap, Nyonya!"
Kenn membantu Gita untuk bangun, tanpa aba-aba Kenn mengangkatnya dan membawanya kembali ke dalam air asin itu, membuat Gita memekik kaget, mereka kembali tertawa dengan itu.
Kelima perempuan yang dari tadi memperhatikannya sudah tidak merasa heran. Mereka berpikir mungkin saja Kenn mencintai Gita hanya karena hartanya. Karena mereka sendiri tahu perusahaan raksasa yang bernama Angkasa.
***
"Black in white banget ya?" tanya salah satu di antara mereka berlima yang melihat kontrasnya antara kulit Kenn dan Gita.
"Yang cowok itu anak yang punya perusahaan Arial life & Tools, nah kalo yang ceweknya anak yang punya Angkasa Groups." Perempuan yang tadi menghampiri Kenn menjawab apa yang dikatakan oleh Kenn. "Dan mereka itu calon suami-istri. Biasanya sih kalo anak orang berduit gitu dijodohin buat kelangsungan bisnis," tuturnya lagi.
"Oh... Pantesan kayak langit sama bumi, hasil perjodohan tok. Si ceweknya lebih kaya daripada si cowok?" tanya perempuan yang di sebelahnya.
"Iyups, logika aja sih, gak mungkin tuh cowok cool bin keren kayak gitu mau sama cewek modelan begitu kalo bukan karena hartanya. Hotel ini 'kan salah satu punya tuh cewek," jawab perempuannya tadi.
"Serius lo?" tanya yang lain tidak percaya.
"Kalo ada bangunan dengan nama Angkasa, itu udah pasti di bawah naungan Angkasa Group. Perusahaan raksasa yang menggurita," jawabnya lagi dengan sok tahu.
"Tajir gila berarti tuh cewek," decak kagum dari yang lain.
Mereka tidak tahu saja bahwa Gita berasal dari kalangan bawah, jika mereka tahu mungkin mereka akan semakin mencibir Gita. Hal itulah yang membuat Andra selalu meminta mereka untuk menyebutkan Gita sebagai anak pemilik Angkasa Group jika sedang bepergian, agar Gita tidak direndahkan, dan sepertinya memang cukup berhasil.
Mata mereka terus memperhatikan Kenn dan Gita yang saat ini tidak berhenti tertawa, mereka sedang main kejar-kejaran layaknya film India, dalam hati mereka sangat iri akan keberuntungan nasib Gita yang mereka ketahui anak dari pemilik hotel.