Menepati Janji pada Kenn

1372 Kata
Seminggu pasca perayaan ulang tahun Kenn, kini Gita kembali disibukkan dengan pekerjaannya, juga anak Onta yang disibukkan dengan kuliahnya. Namun seperti biasa, Anak Onta akan selalu menjemputnya. Kali ini Hendrik dan Kenn yang menjemput, karena Gita lembur bersama Oncom, sesuai challenge yang di diberikan oleh Gita, malam inj ketiga adik kelas Anak Onta nya kembali mengajaknya bertemu, yang di anggap kesempatan bagi Gita untuk mempertemukan Kenn dan juga mereka bertiga, kebetulan Hendrik juga akan ikut atas desakan Kenn. "Sorry nunggu lama," sapa Gita ketika sampai di tempat yang telah di janjikan Sheryl. Kimmy dan Salsa sempat salah tingkah ketika melihat Gita datang tidak hanya sendiri, melainkan dengan Kenn, Hendrik dan juga gadis tomboi dengan rambut yang sedikit kribo. "Eh, gak apa-apa kok. Kita juga baru sampe," balas Salsa dengan sedikit gugup. Kenn menarik kursi untuk di duduki oleh Gita, begitupun Hendrik yang menarik kursi untuk Oncom. Hal itu tidak luput dari perhatian ketiganya. Merekam berpikir sebenarnya siapa yang menjadi kekasih Gita. Karena keenam Kakak kelasnya selalu bergilir untuk menjemput dan mengantarkan Gita. "Mau minum apa?" tanya Kenn pada Gita. "Samain aja," jawab Gita. Kenn memilih minuman yang menurutnya Gita akan menyukainya dan tentunya halal. Memesan empat sekaligus untuknya, Hendrik dan juga Oncom. Karena ketiga gadis di hadapannya sudah memesan minumannya masing-masing. "Mau pada ngapain ngajak ketemu?" tanya Hendrik tanpa menyebutkan pada siapa ia bertanya. "Ya kita cuma mau ngobrol aja," jawab Kimmy berusaha santai. "Oh..." balas Hendrik. "Kak Kenn gak jadi kuliah di Ausi?" Sheryl yang tadi hanya diam mencoba mengakrabkan diri. Orang tua Kenn berteman dengan orang tuanya, dari sana Sheryl mengetahui jika Kenn sebenarnya akan kuliah di Australia tadinya. Jika saja tidak berubah pikiran karena hadirnya Gita dan juga Oncom. "Gak jadi, penyemangat nya disini, ngapain jauh-jauh." Kenn menyimpan tangannya di belakang bahu Gita, untuk memberitahu bahwa Gita lah orangnya. "Padahal sayang loh, kesempatan gak datang dua kali," balas Salsa sok tau. "Maksudnya?" tanya Hendrik heran. "Lu salah alamat, Non. Lu kira dia murid beasiswa kayak gue?" tanyanya lagi dengan diiringi kekehan. "Sewot amat, Pak?" canda Oncom. "Gue mau sekolah di mana itu gak masalah buat gue. Lagian yah, pendidikan disini juga bagus kok. Semua tuh tergantung orangnya dan cara dia menerapkan ilmu yang di dapatkannya. Mau lu kuliah di Harvard university atau di Oxford yang terkenal pun tetep gak bakalan berguna kalo gak lu terapin dengan benar. Lagian kalo mau pindah ya gue tinggal pindah, gue gak semiskin itu sampe harus nunggu kesempatan kedua ataupun ketiga," ucapan Kenn membuat ketiganya bungkam. Salsa menyadari kebodohannya. Ia lupa jika orang tua Kenn pemilik perusahaan yang bergerak di bidang teknik di Negara samurai. Sangat mudah baginya untuk pindah kapanpun ia mau dengan uang yang dimilikinya. "Bukan gitu loh, Kak. Maksudnya aku." Salsa mencoba menjelaskan maksudnya. "Udah, udah. Makan aja yang bener," ucap Oncom menengahi. Mereka makan dengan diiringi obrolan yang lebih di d******i oleh Oncom, Gita, Hendrik dan juga Kenn. Sedangkan Ketiga gadis itu sedang memperhatikan cara mereka mengobrol. Itu semua atas instruksi dari Gita, untuk mereka terapkan nanti. Setelah satu jam mengobrol bersama akhirnya Kenn dan Hendrik sedikit bisa menerima, setelah sikap ketiga gadis itu berubah menjadi lebih banyak diam dan berbaur dengan Gita dan juga Oncom. "Kita balik dulu ya," pamit Gita pada mereka bertiga. "Hati-hati ya, lain kali kita ketemu lagi." Sheryl berkata dengan nada ceria. "Insyaallah," balas Gita dengan diiringi senyum manisnya. Gita, Oncom dan kedua Anak Onta nya pergi dari kafe tersebut. Sedangkan untuk mereka bertiga tidak akan pergi, karena itu kafe milik Salsa sendiri. Jadi selama apapun mereka di sana tidak akan ada yang mengusirnya. Sedikit demi sedikit mereka bisa memasuki kehidupan para Anak Onta Gita yang selama ini menjadi incarannya. Tidak sia-sia usaha mereka sampai harus merendahkan diri dengan berteman dengan Gita. Karena menurut mereka meminta pertemanan dengan Gita merupakan bagian dari merendahkan diri. Mereka hanya tinggal lebih mendekatkan diri pada Gita dan satu temannya yang bernama Oncom. Gita saja menurut mereka sudah aneh, tapi ternyata teman mereka satu lagi lebih aneh. "Sampe sekarang gue gak abis pikir kenapa mereka mau temenan bahkan ngelindungin banget sama si Gita." Bukan hanya Kimmy, tapi mungkin semua orang akan aneh dengan cara keenam Anak Onta memperlakukan Gita, dan hal wajar jika mereka bertiga berpikir bahwa Gita memakai sesuatu dalam tubuhnya untuk menarik perhatian orang lain. "Pake pelet sih gue rasa," jawab Sheryl dengan pandangan lurus ke depan. "Daerah asal dia kan terkenal tuh sama hal mistis begituan," timpal Salsa. "Kalo gue sih gak percaya sama hal kayak gitu." Kimmy memang tidak pernah percaya akan hal-hal seperti itu. Menurutnya mempercayai hal seperti itu sama saja dengan menduakan Tuhan. Dan Kimmy sangat takut dengan hal itu. "Logikanya aja sih, apa coba yang dilihat dari si Gita itu?" kata Sheryl yang di benarkan oleh Salsa. "Dalam diri seseorang itu ada yang namanya inner beauty. Dan menurut gue inner beauty si Gita itu yang diliat sama Anak Onta nya." Kimmy dengan segala pemikirannya. "Inner beauty gue lebih oke kali," balas Salsa yang tidak terima. "Cara pandang dan cara terima orang tuh beda-beda kali, Bu. Menurut lu sendiri lu cantik, belum tentu menurut mereka. Gue juga gitu." Kimmy menjelaskan kembali yang sepertinya sia-sia, karena tidak bisa di terima oleh otak kedua temannya. "Serah lu deh," jawab Sheryl pada akhirnya. Seterusnya tidak ada lagi obrolan di antara mereka, mereka sibuk dengan handphonenya masing-masing. Itulah mereka, berbeda dengan Gita, Oncom dan Enam Anak Onta nya jika berkumpul. Handphone yang mereka miliki akan di simpan di sebuah wadah agar tidak menggangu obrolan mereka. Jangan ditanya itu ide siapa, karena sudah pasti itu ide dari Gita. Gita paling tidak menyukai bila sedang bersama ada yang memainkan handphone. Menurutnya, jika ingin bermain handphone mengapa harus berkumpul? Mengapa tidak kumpul melalui grup chat saja. Juga ketika berkumpul Getta selalu membawa kamera digital dengan merk Canon miliknya, hal itu untuk mengabadikan setiap momen dalam kebersamaan meraka. Walaupun kamera handphone mereka sudah cukup bagus, tapi tidak membuat puas. Hasil jepretan pun akan selalu dicetak oleh Getta, dan semuanya akan disimpan di rumah Rian. Rumah Rian adalah basecamp tempat segala kenangan mereka, karena di rumah itu terdapat semua gambar yang mereka abadikan melalui sebuah lensa kamera dan dibentuk dalam sebuah frame dan juga album besar dan kecil. Rumah Rian sering kali di sebut galeri Gita dan Enam Anak Onta nya. Walaupun di sana tidak hanya ada foto mereka. Ada Oncom dan kedua Putri. Tapi lebih banyak foto Gita dan Enam anak Onta nya. *** Seperti janji Gita pada Kenn, setelah Kenn berhasil mendekati ketiga mantan adik kelasnya, kini Kenn dan Gita sedang berada di sebuah pantai di kawasan Anyer. Gita memilih izin kerja untuk menepati janjinya yang hanya pergi berdua dengan Kenn. Tanpa mampir terlebih dahulu ke rumah Gita, karena mereka menggunakan akses jalan tol. Mereka berangkat di jam sembilan pagi, menempuh perjalanan hampir tiga jam dengan kecepatan cukup tinggi. Kenn membawa sedan jenis BMW seri 6 berwarna hitam, dengan kap atas ia buka ketika keluar dari jalan tol dan mulai memasuki daerah pantai. Angin yang berhembus menerpa wajah keduanya. "Pake ini, Kak." Kenn memberikan kacamata hitam untuk dipakai oleh Gita. "Gak pede gue," tolak Gita yang memang tidak percaya diri jika harus menggunakan kacamata warna apapun. Hidungnya yang mancung kedalam membuat kacamata yang akan dikenakan olehnya nyangkut di pipi. Itu alasan yang diberikan olehnya. "Pede aja, buat mata lu juga, daripada kelilipan. Lagian kacamatanya pasti nyangkut kok di idung lu." Kenn sudah sangat hapal dengan pikiran Gita. Mau tidak mau akhirnya Gita memakai kacamata yang diberikan oleh Kenn. Benar ternyata kacamatanya tidak nyangkut di pipinya melainkan nyangkut di hidung minimalisnya, padahal kacamatanya cukup besar. "Iya loh gak nyangkut di pipi," ujarnya setelah memakai kacamata hitam yang menutupi area matanya. "Gue boleh berdiri gak?" tanyanya pada Kenn. Kenn tersenyum sebelum menjawabnya, "Boleh tapi hati-hati." Jalanan yang sepi membuat Gita ingin merasakan bagaimana berdiri di atas mobil yang sedang melaju cukup kencang. Kenn tersenyum melihatnya dan menurunkan kecepatan mobilnya. tangan kirinya memegang setir mobil, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menyugar rambutnya yang berantakan terkena terpaan angin, setelah itu ia simpan siku tangannya di atas pintu mobilnya dengan mata yang sesekali menatap Gita. Kenn merasakan kebahagiaan tersendiri ketika bersama Gita. Mungkin ini yang dirasakan oleh Andra ketika pergi hanya berdua dengan Gita. Karena ini merupakan pertama kalinya ia pergi berdua dengan Gita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN