Kisah Andra

1417 Kata
Gita membuka matanya ketika alarm di handphonenya berbunyi dengan nyaring. Matanya masih tertutup dengan tangan yang meraba-raba mencari benda kecil tersebut. Gita meraba-raba tempat yang ia tiduri ketika merasakan dirinya berada di atas kasur yang empuk, bukan di lantai seperti posisinya tadi malam. Gita ingat betul jika tadi malam ia dan para anak Onta nya juga Oncom tidur di lantai yang ada di ruangan televisi. Pasti anak Onta nya yang memindahkan nya, melihat ke sebelah kirinya ada Oncom yang masih terlelap dalam tidurnya. Oncom sama sekali tidak terganggu oleh bunyi nyaring dari alarm Gita. Gita turun dari kasur empuk yang telah membuatnya tidur dengan begitu nyenyaknya. Berjalan keluar untuk mencari kamar mandi yang sebenarnya ada di dalam kamar yang ia tempati saat ini. Turun ke lantai bawah dan melihat para anak Ontanya tidur dengan berbaris seperti ikan pindang yang siap di beli oleh ibu-ibu. "Ta, Bangun. Onta!" Gita menggoyang-goyangkan kaki Andra dan Rian. Akibat bergadang sepertinya mereka enggan untuk membuka matanya. "Onta!" Sekali lagi Gita mencobanya, tetapi hasilnya tetap sama. Gita menyingkapkan sedikit celana di bagian betis Andra, cara satu-satunya adalah dengan mencabut bulu kaki Andra. Paling-paling Andra akan marah nantinya. "Aw!" Kan, akhirnya Andra bangun dengan mengusap-usap betisnya. "Sial! Siapa sih?" tanyanya dengan mata yang masih tertutup rapat. "Bangun, Ta. Subuh." Gita menepuk-nepuk pipi Andra. "Kenapa sih, Kak?" tanya Andra dengan raut memelas. "Udah mau subuh." "Hem," jawab Andra kembali menundukkan kepalanya. "Onta, bangun!" Gita beralih pada Rian yang sama saja seperti Andra, Susah bangun. "Onta!" Gita yang melihat Andra kembali memejamkan matanya dengan posisi duduk menjambak rambutnya. "Edas, udah kayak Ibu Tiri lu," seru Andra yang akhirnya membuka mata. Andra menarik Gita untuk duduk di pangkuannya, memeluknya dengan erat yang membuat Gita meronta-ronta minta dilepaskan. "Onta ih! Lepasin gak," seru Gita yang tidak di dengarkan oleh Andra. "Bentar aja, Kak." Andra berkata lirih. Gita diam untuk beberapa saat dan berhitung dalam hatinya hingga angka ke sepuluh, membiarkan Andra memeluknya dengan erat. Gita bisa merasakan Andra yang begitu lelah dalam helaan napasnya. Entah lelah karena apa, Andra tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya. Andra hanya selalu berkata hidupnya rumit dan begitu bersyukur bertemu dengan Gita. Entah bersyukur untuk hal apa. "Udah mau adzan subuh, Ta. bangunin si Onta." Andra terpaksa melepaskan pelukannya pada Gita. "Sayang banget gue sama lu." Kata yang selalu di ucapkan Andra dengan diiringi tangan yang mengacak rambut Gita. "Ta, bangun." Gita kembali membangunkan Rian. "Subuh oy!" Rian bangun dan duduk untuk mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu sebelum bertanya. "Jam berapa?" tanyanya dengan mata yang kembali terpejam. "Jam lima kurang, jama'ah ya." Gita hendak berjalan ke arah dapur. "Mau ke mana?" tanya Andra setelah menguap lebar. "Ke kamar mandi," jawab Gita. "Di atas juga ada, ada baju Putri, mukena sama handuknya di lemari. Ambil aja," balas Rian. Setelah mendengar itu Gita pergi ke kamar yang ditempatinya untuk mandi, membiarkan kedua anak Onta nya untuk mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. Sedangkan untuk Oncom, Gita tidak membangunkannya karena sedang kedatangan tamu bulanannya. Jadi Gita akan membiarkan Oncom bangun dengan sendirinya nya. Andra dan Rian ikut menaiki tangga untuk menuju ke kamar Rian untuk mandi terlebih dahulu. Mereka mandi secara bergantian dengan Andra terlebih dahulu. Kurang dari 10 menit Andra telah keluar dari kamar mandi dan segera bersiap. "Gue nunggu di mushola," ujarnya pada Rian, yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Rian. *** Gita keluar dari kamarnya bertepatan dengan Andra juga keluar dari kamar Rian. Gita telah rapi dengan memakai mukenanya, Andra pun telah rapi dengan sarung berwarna coklat, baju koko berwarna cream serta peci berwarna hitam. Mereka berjalan menuju tangga. "Ulu...ulu... Ganteng amat sih?" goda Gita pada Andra. Rambutnya yang sekarang sudah di cukur rapi membuat penampilan Andra nampak segar, hanya tinggal jerawat saja yang masih begitu menumpuk di wajahnya. Gita selalu menyukai jika pria yang memakai pakaian sholat seperti Andra saat ini. Menurutnya auranya beda dan lebih menggoda. "Gue dari dulu udah ganteng kali," jawabnya dengan percaya diri. "Lu cantik banget sih kalo pake mukena kayak gini?" balas Andra. "Atuh, anak siapa dulu." Gita tak kalah percaya dirinya. "Yuk turun." Mereka turun secara bersamaan menuju mushola kecil di rumah Rian. Duduk menunggu Rian sambil bercerita tentang hidup Andra. Gita baru mengetahui jika Andra merupakan anak dari korban broken home. Pantas saja kelakuannya tidak terkendali. "Bonyok gue pisah pas gue SMP." Awal mula ceritanya. "Gue ngerasa kecewa, dan dari situ gue nemuin kesenangan gue sendiri. Ya sebagai pelampiasan aja sih sebenernya," lanjutnya sebelum Rian datang dan menghentikan ceritanya. Mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan Rian sebagai imamnya. Hal yang sudah dua kali mereka lakukan, karena yang pertama saat mereka di puncak kala itu. "Salim, Kak." Perintah Andra dengan menyodorkan tangan kanannya pada Gita. Gita menerimanya dan juga menyalami tangan kanan Rian. "Pinter, gue 'kan calon imam lu. Jadi kudu belajar dari sekarang," ujarnya setelah Gita kembali duduk dan melanjutkan dzikir pendeknya. "Belom lulus kualifikasi lu," jawab Gita yang telah selesai. "Emang apa aja sih kualifikasi nya?" "Dari kecil gue selalu berdoa, semoga Allah ngasih gue jodoh yang Sholeh. Yang bisa bawa gue ke jalan yang lebih baik lagi, gue badung, dan gue gak mau lah punya suami sama kayak gue. Pokoknya yang penting agama dia harus lebih baik dari gue." "Gue maju lah kalo gitu," sela Rian. "Edas! Hue kudu masuk pesantren dulu kalo gitu," balas Andra. "Masuk doang terus keluar lagi?" ledek Gita. "Ya belajar, Kak." "Kirain masuk doang belajar mah kaga." Rian tertawa mendengar perkataan Gita. Andra merebahkan kepalanya pada kaki Gita yang masih berselimutkan mukenanya. Membuat Rian protes akan hal itu. "Woy! Rebahan mulu hidup lu." "Sirik aja, Nyet!" balas Andra. "Liburan nanti ke Singapore yuk?" ajak Andra tiba-tiba. Andra sedang merindukan ayahnya. Entah mengapa akhir-akhir ini ia sering merindukan ayahnya tersebut. "Gue gak mau. Takut," jawab Gita tanpa berpikir. "Tumben lu?" tanya Rian heran. "Lagi pengen aja. Takut kenapa sih, kak?" "Bayangin di atas gitu, terus pas pesawat naek juga turun gue gak mau." "Padahal seru tau," kata Rian. "Pokoknya gak mau," Keukeh Gita. Mereka melanjutkan obrolan di dalam mushola sampai matahari menjelang. Obrolan random yang membahas segala hal. Posiai berubah dengan Gita yang merebahkan kepalanya di paha Rian. Obrolan yang lebih di d******i dengan cerita dari hidup Andra yang kelam tanpa warna setelah orang tuanya berpisah. Yang membuat Gita akhirnya mengetahui alasan Andra yang selalu bertaruh bola. Matahari yang mulai menampakkan sinarnya membuat Gita, Andra dan Rian sepakat untuk berolahraga. Rian mengajak mereka untuk bersepeda. Rian dan Andra mengeluarkan sepedanya, Gita akan di bonceng oleh mereka berdua. Karena kakinya tidak sampai jika harus menggoes sendiri, karena sepeda Anak Onta nya begitu tinggi untuk Gita yang memiliki tubuh kecil. Mereka akan pergi ke taman kompleks perumahan Rian, karena di sana akan ramai di minggu pagi seperti ini. Gita akan dibonceng oleh Andra ketika menuju taman, sedangkan pulangnya akan diboncengi oleh Rian, itu perjanjian mereka sebelum berangkat. Meninggalkan yang lainnya yang masih terlelap dan dibuai oleh mimpi. Andra mengayuh sepedanya dengan semangat, mengajak Rian balapan, karena menurutnya memboncengi Gita sama saja seperti dirinya mengayuh sepeda sendiri, saking entengnya badan Gita. Mereka mengawali pagi Jakarta dengan penuh tawa. Hal yang entah kapan terakhir kali dialami oleh Andra. "Indah banget kalo kita kayak gini terus," kata Andra dengan terus mengayuh sepedanya. "Indah gimana?" tanya Gita heran. "Ya indah begini, olahraga pagi sama Kesayangan. 'kan gue jadinya seneng," jawab Andra sambil terkekeh pelan. Gita tertawa pelan mendengarnya, "Gombal banget sih lu? Untung hati gue kuat, kalo gak bisa kejang-kejang gue." "Astaga, Kak. Jadi selama ini gue dikira gombal?" Andra bisa merasakan Gita mengangguk dengan semangat dibelakang. "Terlalu lu, gue gak pernah sesayang ini sama cewek selain keluarga gue tau. Lu yang pertama dan sayangnya gue di tolak pula." Andra menggerutu dengan jawabannya sendiri. "Lu sehat 'kan, Ta?" "Sakit gue, Sakit hati." "Dasar Onta!" Andra terus mengayuh sepedanya, dengan santai. Sedangkan Rian sudah terlebih dahulu sampai di taman dan mungkin sedang menunggu mereka berdua. Andra tidak ingin waktu terburu-buru, Andra ingin menikmati momen berdua bersama Gita. Walaupun selama ini Gita lebih sering bersamanya, tapi tetap saja Andra tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan jika bersama Gita. Memulai pagi bersama Gita merupakan kebahagiaan yang cukup sempurna baginya, maka dari itu Andra tidak pernah absen setiap paginya dalam menyapa Gita. Apalagi momen seperti saat ini, ia mengayuh sepeda dengan Gita yang saat ini duduk di depannya. Awalnya Gita berdiri di belakang, tapi bukan Andra namanya jika tidak modus jika bersama Gita. Andra meminta Gita duduk berdendang di besi kerangka sepeda bagian depannya, sehingga Andra bisa leluasa menciumi puncak kepalanya, bahkan sesekali Andra mencium keningnya saat Gita mendongak untuk menjawab ataupun bertanya padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN