Gita mendandani Kenn seperti saat dirinya di dandani oleh Chika, membuat teman-temannya yang laih terbahak ketika melihat wajah Kenn. Getta mengeluarkan kamera digitalnya untuk mengabadikan moment perayaan kali ini. Mereka berfoto bersama, ada foto Kenn dengan Gita, Kenn dengan Oncom, dan juga Kenn dengan dua Putri, juga foto Anak Onta bersama Gita, dengan wajah Kenn yang hancur karena makeup hasil Gita.
Namun, jangan pikir permainan sampai disitu, karena setelahnya giliran Oncom yang mengambil gulungan kertas. Kenn mendadak lemas ketika Oncom membacakan tantangan dari gulungan kertas yang didapatkan nya.
"Rayu dan dekati salah satu antara Sheryl, Kimmy dan Salsa dalam waktu satu minggu ke depan."
Para anak Onta saling pandang ketika mendengar Oncom membacakan permainan yang ditulis oleh Gita. Gita tersenyum ketika semua mata melihatnya.
"Wes gagal, itu bukan permainan."
Kenn protes karena tidak bisa membayangkan harus mendekati adik kelasnya uang centil.
"Oh tidak bisa. Itu tantangan dari gue." Gita tidak menerima penolakan.
"Lu takut di tolak?" ledek Oncom yang membuat Kenn mendengus.
"Gue gak takut di tolak ya, lagian mana ada yang bisa nolak pesona seorang Kenneth Arial Rasyad," balas Kenn tidak terima.
"Ya udah kalo gitu lakuin dong." Rian ikut mengompori.
"Oke, gue terima. Hadiahnya apa kalo gue berhasil?" tanya Kenn pada Gita.
"One day with Me," jawab Gita tanpa pikir panjang.
"Bebas ya?" tanya Kenn memastikan.
"Bebas apa lu?" tanya Andra.
"Ya maksud gue ke mana aja tanpa ada gangguan," jawab Kenn meluruskan.
Andra yang masih sangat protektif pada Gita membuat Anak Onta lainnya begitu senang mengolok nya.
"Deal." Gita menerima permintaan Kenn yang membuat Andra diam.
"Jalan-jalan doang weh," ujar Kenn menenangkan Andra.
"Udah malem, Putri ngantuk."
Jam yang sudah menunjukkan pukul 22.30 membuat mata Putri adik dari Rian sudah sangat terasa berat. Biasa hidup dalam keluarga yang disiplin waktu membuatnya tidak pernah bergadang. Berbeda dengan Rian yang sudah bebas.
"Udah malem juga kalian berdua tidur aja," perintah Rian pada adiknya dan juga adik Andra. Kedua Putri itu berjalan menuju lantai atas, mereka akan tidur bersama di kamar sebelah Rian. Kamar milik Putri adik dari Rian.
Sedangkan Gita dan Oncom yang memang biasa bergadang memilih melanjutkan mengobrol bersama para Anak Onta. Permainan di akhiri setelah challenge yang diberikan oleh Gita pada Kenn. Acara mereka lanjutkan dengan duduk santai di atas karpet di depan tv. Gita duduk di tengah antara Getta dan juga Hendrik, Oncom sedang belajar bermain PlayStation bersama Wildan dan juga Kenn. Andra sedang menerima telepon yang entah dari siapa, sedangkan Rian sedang memastikan adiknya tidur dengan benar. Gita dan Oncom memang akan menginap di rumah Rian.
"Tadi mereka ngapain ngajak ketemuan?" tanya Hendrik bermaksud pada ketiga mantan adik kelasnya.
"Cuma mau temenan katanya," jawab Gita setelah menggigit cangkang kuaci yang akan dibukanya.
"Jangan bilang challenge tadi juga atas permintaan mereka?" tebak Getta.
"Emang mereka tau kalo kita bakalan ngadain acara buat Kenn?" tanyanya dengan menatap Getta kesal. "Ya kali gue cerita-cerita. Gue gak sebawel itu ya," dengusnya dengan kesal. "Lagian gue heran sama lu semua, mereka cantik-cantik loh."
Gita memang tidak habis pikir pada para Anak Onta nya yang selalu tidak mau jika didekati oleh mereka bertiga. Bahkan bukan hanya pada ketiga adik kelasnya, semua gadis yang mendekatinya.
"Bibirnya biasa aja, Gue comot juga nih." kata Hendrik, Gita memang memonyongkan bibirnya.
"a*u aing kalah," seru Oncom yang sampai saat ini belum lancar.
"Payah lu Com." Kenn melemparkan sebutir kacang pada Oncom.
"Hese weh," jawab Oncom.
"Berisik amat sih lu bertiga," ujar Rian dari arah tangga.
"Maafken kami, Tuan."
Serempak Oncom, Kenn dan Wildan menjawab dengan diiringi senyum manis, membuat Rian mendengus.
"Tidur kapan, Kak?" Andra datang dengan mengecup rambut Gita dari balik sofa.
"Onta ih!" seru Gita yang kesal dengan kebiasaan Andra, setelah jadi mantan Andra justru melakukan hal-hal seperti itu. "Gue gak mau tidur ah, takut sama lu semua," jawab Gita asal.
"Takut kenapa lu?" tanya Hendrik yang dari tadi hanya fokus pada kuaci di depannya.
"Takut di apa-apain," jawabnya lagi. "Apa nih?" Andra menyerahkan goodibag kecil pada Gita.
"Buka aja," jawab Andra dengan mendudukkan diri di atas sofa yang menjadi sandaran Gita.
Andra tidak pernah mau duduk jauh dari Gita. Seposesif itu memang Andra pada mantan kekasihnya.
"Blackberry, buat apaan?" tanyanya heran.
"Buat lu, biar kita bisa bikin Grup chat. Jangan pake Esia mulu," jawab Andra dengan memainkan rambut Gita.
"Gak mau ah. Gak bisa gue pakenya."
Gita menyerahkan kembali handphone BlackBerry yang masih tersegel rapi.
Andra mengeluarkan kembali kotak handphone itu dan membuka segelnya, mengeluarkan handphone dengan model BlackBerry tersebut. Membuka penutup belakangnya dan memasukkan Sim card nya, setelah itu menyalakannya.
Hendrik pun melakukan hal yang sama dengan Andra. Karena Andra membelinya dua, satu untuk Gita dan satu lagi untuk Oncom. Oncom tidak mengetahuinya karena masih sibuk dengan permainan PlayStation nya. Karena bukan Anak Onta namanya jika Gita bisa menolak pemberian mereka, apalagi Andra. Mereka tidak pernah menerima penolakan.
"Com, cobain." Hendrik menyerahkan Handphone yang baru di stelnya pa
"Sadapp Blacekbarrie," seru Oncom dengan heboh dan bahasa anehnya.
"BlackBerry, Com!" ralat Getta.
"Serah gue, Onta!" balas Oncom. "Eh, tapi ini punya siapa?" tanya Oncom heran.
"Buat lu, Com."
Andra menjawab dengan tangan yang masih mengotak ngatik handphone baru untuk Gita. Andra sedang membuat grup chat dan juga memasukan nomor mereka semua.
Ketika Oncom akan bertanya lagi, Wildan yang duduk di sebelahnya menyenggol Oncom dengan kakinya. Memberikan tanda jika Oncom jangan bertanya apalagi protes. Oncom yang mengerti akan isyarat dari Wildan pun akhirnya berkata.
"Wow! Maacih Onta." Dengan wajah imut dan ekspresi yang begitu bahagia. "Ini tinggal pake, 'kan? Ajarin gue dong." Kenn mengajari kembali Oncom dengan sabarnya.
"Belajar, Kak." Andra kembali menyerahkan handphone baru milik Gita.
"Yang ulang tahun 'kan si Onta, kenapa gue yang dapet hadiah coba?" tanya Gita heran. "Terus ini gimana pake nya?"
Getta mengajari Gita perlahan, "Jadi gak perlu ke warnet lagi," ucap Getta ketika Gita sudah mengerti.
Gita memang sering mengunjungi warnet hanya untuk sekedar browsing dan mendengarkan musik.
"Oke, Ini siapa yang beli?"
"Kenapa?" tanya Rian yang sekarang duduk di samping kirinya. "Mau ganti duitnya?" tebaknya yang seperti mengetahui pikiran Gita.
"Nanya doang sih," jawab Gita. "Jeh! Dia tidur."
Gita yang tidak mendengar suara Andra dan melihatnya ke belakang, ternyata Andra merebahkan dirinya dan tidur dengan tangan yang di lipat di atas dadanya. Gita menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, kepalanya mengenai tepat perut Andra, tangan Andra langsung mengusap-usap keningnya dengan lembut.
"Tarung yuk," ajak Getta pada Rian.
Tarung yang di maksud adalah PlayStation. Karena Hendrik sudah merebahkan dirinya di sebelah Rian, Kenn masih mengajari Oncom, Wildan pergi ke kamar mandi untuk menyelesaikan panggilan alamnya.
"Tidur aja sih, Ta. Udah malem." Jam yang sudah melewati tengah malam membuat Gita pun merasakan kantuknya.
"Bentar doang." Rian dan Getta maju ke depan untuk mulai bermain.
"Pake ini, Kak."
Wildan menyerahkan bantal pada Gita yang diterima dengan segera oleh Gita. Gita meletakkan bantal di belakang punggungnya, posisinya kembali seperti tadi.
"Ngantuk, Ta. Gue mau tidur," ucap Oncom dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Ya udah sono tidur," perintah Kenn.
Oncom tidak seperti Gita yang cepat menangkap apa yang dipelajarinya. Kenn harus beberapa kali mengulang apa yang di ajarkan padanya. Oncom merebahkan kepalanya di atas paha Gita, Kenn pun ikut merebahkan kepalanya di paha Oncom. Mereka memejamkan matanya perlahan hingga pagi menjelang.
Jam menunjukkan hampir pukul dua dini hari, Getta mengangkat tubuh Gita untuk dipindahkan ke dalam kamar, sedangkan Rian mengangkat tubuh Oncom. Gita dan Oncom sepertinya sangat mengantuk, hingga mereka tidak sadar jika tubuhnya melayang diangkat oleh Getta dan Rian.
Getta meletakkan Gita perlahan di atas kasur, begitupun dengan Rian yang meletakkan Oncom di sebelah Gita. Rian dan Getta menarik selimut secara bersamaan sampai d**a Oncom dan Gita. Getta mengusap pelan kepala Gita, setelah itu barulah mereka berdua keluar kamar.
Sesampainya di ruang tamu, Getta dan Rian membariskan para Anak Onta lain yang tidur tidak teratur. Getta dan Rian mengangkat Wildan terlebih dahulu agar berada satu baris dengan Hendrik, setelah itu mengangkat Kenn dan terakhir memindahkan Andra. Setelah semuanya tidur dengan teratur barulah Getta dan Rian ikut berbaring bersama dengan yang lainnya.