Hukuman Untuk Kenn

1463 Kata
Kenn menghela napas kasar ketika memasuki rumah Rian dan mendapatkan kue tart dengan satu lilin kecil di atasnya. Kenn baru ingat jika hari ini adalah ulang tahunnya, yang sudah bisa dipastikan bahwa dirinya akan habis oleh teman-temannya dengan segala hal permainannya. Tapi kali ini Kenn akan berlindung di bawah Gita untuk meminta pertolongan. Semoga Gita tidak sama gesreknya dengan teman-temannya yang lain. Mereka semua duduk mengelilingi meja yang di atasnya terdapat kue tart dengan bacaan 'Tambah Tua Onta' membuat Kenn berdecak ketika membacanya. Tidak ada kata-kata yang lebih baik apa untuk kue ulang tahunnya. "Duduk, Ta. Ngapain diem disitu?" pinta Gita menepuk tempat di sebelahnya. "Gak ada acara lain 'kan abis ini?" tanyanya dengan harapan. "Oh! Tentu ada dong, gak mungkin dong di hari spesial tanpa acara spesial," jawaban Andra memudarkan harapan Kenn. "Pliss jangan auruh gue nyebur ke kolem renang. Dingin, Nge!" balasnya dengan memelas. "Gak kok, paling juga cuma makan cabe aja." Andra menarik tangannya untuk segera duduk, Kenn sungguh lama menurutnya. "Ayok Adek manis cepetan tiup lilinnya. Berdoa nya sama Tuhan ya, jangan sama lilin." Rian berkata seperti pada adik kecilnya. Karena kue ulang tahunnya memang di hias dengan gambar Spiderman, salah satu film kesukaannya. "Sialan lu," seru Kenn. Kenn berdoa menurut kepercayaan nya, setelah itu ia meniup lilinnya. Kenn tidak memberikan potongan kue pertamanya pada siapapun, karena menurutnya mereka semua begitu penting dalam hidupnya. "Ke mana lu?" tanya Oncom yang melihat Kenn berdiri. "Ngambil sendok ke dapur," jawabnya dengan melanjutkan langkahnya. "Lah ini sendok," balas Oncom heran. "Kita makan sama-sama. Lu semua penting dalam hidup gue." Kenn membagikan sendok pada teman-temannya termasuk pada double Putri adik dari Rian dan juga Andra. "Ih co cuit," celetuk Oncom dengan memegang dadanya juga menampilkan wajah imutnya. "Geli, Com. Sumpah," sela Getta dengan mengedikkan bahunya, mereka semua tertawa dibuatnya. "Tapi gue pengen nyuapin lu aja, Kak." Kenn memotong kuenya menggunakan sendok dan menyuapkan pada Gita, setelah menyingkirkan terlebih dahulu wipe cream yang berguna sebagai hiasannya. "Modus, Anjir!" seru Hendrik. "Gue yang punya kuasa hari ini ya, jadi Anda cicing aja," balas Kenn. Mereka memakan kuenya secara bersamaan menggunakan sendok masing-masing. Andra sibuk menyingkirkan wipe cream agar Gita mudah memakan kuenya. Gita akan muntah jika memakannya. Maka dari itu Andra bertugas memotong pinggirannya yang terdapat cream penghias tersebut. "Astaga, Kakak aku romantis banget," seru Putri adik Andra yang melihat perhatian Kakaknya pada Gita. "Baru tau yah?" tanya Hendrik. "Baru tau aku tuh. sama adeknya aja gak begitu," gerutunya. "Lah si Pea." Andra melemparkan kacang dengan merk lambang burung Indonesia pada adiknya itu. "Kan kalo sama Adek nya sendiri jahat," adunya pada Rian. "Kakak gue woy!" seru Putri adik dari Rian yang melihat Putri bermanja pada Kakak nya. "Nama lu siapa?" tanya Putri adik Andra. "Putri," jawab Putri adik Rian. "Nama gue siapa?" tanya Putri adik Andra lagi. "Putri juga," jawab Putri adik Rian polos. "Ya udah berarti sama," balas Putri adik Andra. Membuat Putri adik Rian tampak berpikir, juga membuat yang lain tertawa. Wildan membuka minuman berkarbonasi yang sengaja dikocoknya terlebih dahulu, sehingga ketika di buka minuman tersebut menyembur ke mana-mana, membuat mereka semua berseru kesal. Terutama Kenn yang memang duduk dekat dengannya "Si Bege!" Kenn mengusap wajahnya yang terkena cairan warna hitam tersebut. "Sengaja gue," balas Wildan dengan diiringi tawanya. Wildan menuangkan ke dalam semua gelas untuk semua yang hadir. Setelah itu mereka akan mengadakan permainan yang akan dimainkan oleh Kenn seorang diri. "Kita mulai main oke." Instruksi dari Rian yang sudah membawa toples kaca berisi bubuk sterofoam, dengan gulungan kertas yang berisi nama permainan yang harus dimainkan oleh Kenn. "Curiga gue sumpah," gumam Kenn. "Semangat Kakak, Kenn." Oncom menyemangati dengan nada imutnya. "Semangat, Kak. Pasti bisa," sambung Putri adik Andra. "Lu jangan ikutan milih ya, Dek." Harap Kenn pada Putri adik dari Andra. "Kita liat nanti," jawabnya dengan tawa. "Adek jahat," ujar Kenn dengan mengerucutkan bibirnya. "Gak usah banyak drama. Siapa yang mau ambil duluan?" tanya Rian dengan menyodorkan toplesnya. "Lu dulu, Kak." Hendrik meminta Gita yang pertama mengambil kertas di dalam gulungan bubuk stearofoam. Gita mengaduk terlebih dahulu sebelum mengambil kertasnya, itu atas persetujuan dari semua orang. Setelah mendapatkan gulungan kertasnya Gita memperlihatkan pada Getta dan juga Andra, membuat mereka tersenyum penuh arti. Kenn yang melihatnya bergidik ngeri, karena bisa dipastikan bahwa itu berbahaya baginya. "Perintahnya adalah ...?" Gita menggantungkan ucapannya dengan tangan yang membuka kertas secara perlahan-lahan. "Ka Gita lama ih!" Putri adik dari Rian sudah tidak sabar ingin mengetahui permainan apa yang harus dimainkan oleh Kenn. "Santai Dek. Biar deg-degan gitu suasananya," kata Gita yang membuat mereka tertawa, terlebih jika melihat wajah tegang Kenn. "Carilah koin dengan nominal lima ratus rupiah di halaman depan rumah sebanyak lima buah dalam waktu 10 menit. Jika tidak berhasil maka peserta akan di hukum oleh pembaca challenge." Gita membacakan perintah dalam kertas yang di dapatkannya dari toples. "Edas! Gak sekalian di tumpukan jerami?" tanya Kenn lesu. Mereka pasti telah menyembunyikan koin itu entah dimana, karena tidak mungkin akan mudah untuk menemukannya. "Di halaman rumah aja lu ngeluh apalagi di tumpukan jerami, kapan ketemunya?" ledek Oncom. "Tinggal bakar jeraminya, tar juga dapet koinnya. Lebih cepat," jawab Kenn. "Iya juga sih." Pikir Oncom pada akhirnya. "Sekarang kita ke depan. Semangat Kakak!" Mereka kembali tertawa mendengar ucapan Getta yang menyemangati Kenn, dan melihat wajah cemberut Kenn. Sesampainya mereka di depan halaman rumah Rian, Kenn mulai menelusuri setiap jengkal tanah yang ditumbuhi rumput Jepang yang tertata dengan rapi. Mencari keberadaan uang koin dengan nominal lima ratus rupiah yang akan menyelamatkan hidupnya dari hukuman yang menantinya. Betapa berharganya uang koin itu bagi Kenn. Waktu sudah berjalan hampir lima menit, dan baru satu Koin yang di dapatkan oleh Kenn. Membuatnya menghela napas kasar. Kacamatanya beberapa kali turun karena ia yang harus menunduk. "Lima menit lagi," teriak Putri adik dari Rian memperingati. "Tambahin oy waktunya," pinta Kenn dengan gusar. "Semangat Kakak," seru mereka dengan tawa, yang sebenarnya bukan menyemangati, melainkan meledek Kenn. "Kenn mau gue bantu gak?" tanya Oncom dengan masih mempertahankan tawa kecilnya. "Gue ajarin maen PS lu sampe bisa kalo mau bantui gue," jawabnya semangat. Oncom memang beberapa kali meminta para Anak Onta untuk mengajarinya bermain PlayStation. "Gak jadi deh. Minta ajarin Hendrik aja," balas Oncom membuat Kenn mendengus. "Siap, Sayang," timpal Hendrik. "Dua menit lagi," teriak Gita semakin membuat Kenn gusar. "Tambahin lah, Kak. Baru dapet dua ini." Masih tiga koin yang harus di carinya. Tetapi waktunya sudah sangat mepet. Kenn sepertinya harus pasrah akan hukuman yang diterimanya nanti. "Ayo dong, Ta. Gue peluk deh kalo ketemu semua koinnya dalam waktu satu menit." Gita menyemangati Kenn yang mulai frustasi. "Telat lu ah. Coba bilang kayak gitu dari tadi," gerutu Kenn yang membuat mereka lagi-lagi tertawa. "Waktu sudah habis," teriak Wildan yang membuat Kenn duduk di atas rumput dengan pasrah nya. Getta dan Rian menghampirinya, "Bangun, Nak. Jangan duduk disini nanti celananya kotor," kata Andra dengan mimik wajah meledek. "Siapkan mental, sebentar lagi kamu akan di uji. Sabar Nak." Getta ikut meledek Kenn. Mereka kembali masuk ke dalam rumah untuk menentukan hukuman bagi Kenn. Gita yang akan memberikan hukumannya, karena Gita yang membacakan tantangannya. Hukuman yang membuat Kenn menghela napas lelah. Gita mengambil peralatan makeup milik Chika anak dari Yola. Keponakannya yang masih balita itu memang sangat menyukai makeup, dan pintarnya Chika tidak pernah dipakai pada wajahnya, melainkan Yola, Hani, Gita atau semua wanita yang mengontrak di tempat neneknya yang sering menjadi korban makeup nya. Yola dan suaminya sengaja membelikannya sebagai sarana untuk pengembangan dirinya, Chika balita cerdas, dimana anak seusianya selalu memasukkan apa saja ke dalam mulutnya, tetapi Chika tidak. Ia bisa membedakan mana makanan dan mana mainan, dan tentunya itupun selalu dalam pengawasan pengasuh nya. Gita mengeluarkan alat make-up yang dibawanya, hukuman untuk Kenn adalah mendandani Kenn secantik mungkin. Kenn sempat menolak, tetapi para algojo yang menjaganya membuatnya tidak bisa berontak dan hanya pasrah dengan. Hukuman yang di berikan oleh Gita yang membuat Kenn menggerutu dan beberapa kali mengatainya denga kalimat 'Lu jahat Kak' membuat suasana semakin riuh karena tertawaan semua orang yang hadir. Entah bagaimana nasib wajah Kenn di tangan Gita, karena jangankan mendandani orang lain, bahkan dandan untuk diri sendiri pun Gita tidak pernah, jadi bayangkan saja bagaimana jadinya wajah Kenn. "Astaga, Kenn. Lu Cantik banget sumpah," ledek Oncom yang melihat wajah Kenn yang sudah full make-up hasil karya Gita. "Bahagia banget, Com. Liat gue menderita," balasnya dengan wajah pasrah. Geta dengan segera mengambil kameranya setelah Kenn berganti pakaian dengan memakai daster untuk memotret wajah Kenn. Mereka banyak berfoto bersama, Dua Putri tidak berhenti tertawa, mereka semua menjadikan wajah kesal Kenn sebagai hiburan malam ini. Melihat merahnya bibir Kenn akibat lipstik yang dipakainya membuat Kenn memonyong-monyongkan bibirnya untuk mencium semua teman-temannya, yang membuat mereka semua menghindar dengan diiringi tawa yang bahagia. Kenn sangat bersyukur, dihari bahagianya ditemani oleh orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Walaupun tidak ada kedua orang tua di sampingnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN