Di Angkasa International School, atau sekolah menengah atas berbasis Internasional milik Angkasa Grup, ketiga gadis yang pengganggu para Anak Onta kini sudah memasuki kelas dua belas atau kelas tiga SMA.
Setelah para Anak Onta lulus mereka ternyata tidak berhenti mendekatinya, bukan dengan cara terang-terangan seperti dulu, melainkan dengan cara sedikit elegan dengan berpura-pura bertemu dan juga hanya tersenyum, tanpa mampir dan mengganggu seperti biasanya. Itu merupakan ide Kimmy yang menurut mereka lebih berhasil. Karena para Anak Onta sampai saat ini tidak menghiraukan keberadaan mereka.
Mereka ingin terlihat dewasa saja ketika berhadapan dengan anak Onta. Mereka juga sudah mendapatkan kontak Gita untuk di jadikan alat sebagai jembatan untuk mendekati para Anak Ontanya. Mereka baru mengetahui bahwa Gita memang polos dan juga mudah untuk di manfaatkan, itu yang ada dalam pikirannya. Contohnya seperti saat ini, mereka tengah mengajak Gita untuk bertemu dengan alasan ingin berteman dengannya.
"Lu kerja di mana, Git?" tanya Salsa, saat ini mereka berada di sebuah kafe tempat biasa ketiganya nongkrong.
"Di konveksi bra," jawab Gita. "Lu semua ngajak gue kesini buat apa ya?" tanyanya yang aneh karena tiba-tiba mereka mengajaknya bertemu.
"Kan gue udah bilang kalo kita mau temenan sama lu," jawab Sheryl, karena dia memang yang menghubungi Gita dan juga yang menjemputnya. "Lu mau pesen apa?" tanyanya berusaha mendekatkan diri.
"Oh, gue udah makan. Lu semua mau tau tentang Anak Onta?" tebak Gita yang sudah tahu apa sebenarnya maksud tujuan mereka.
"Gak juga, kita emang cuma mau temenan kok sama lu," kilah Kimmy.
Gita menarik sedikit sudut bibirnya, "Kalo mau deketin mereka itu perlahan, jangan agresif. Bentar lagi juga si Getta kesini buat jemput gue."
Malam ini mereka memang sudah berencana untuk berkumpul di tempat biasa. Gita memundurkan jadwalnya karena ketiga orang di depannya meminta bertemu. Gita tahu apa yang mereka inginkan, jadi dari pada terlalu banyak basa basi, lebih baik to the points menurut Gita.
"Eh! Serius Kak Getta mau kesini?" tanya Salsa heboh.
"Lagi di jalan," jawab Gita setelah menyedot minumannya.
"Ceritain dong awal mula lu kenal mereka sampe bisa akrab begitu."
Kimmy begitu penasaran untuk hal yang satu itu. Karena untuknya saja begitu sulit untuk mendekati mereka, tetapi Gita dengan segala keanehannya bisa dengan begitu mudahnya dekat dengan kakak kelasnya yang di panggil Anak Onta olehnya. Mereka mulai mendekati Anak Onta dari mulai pertama masuk ke sekolah itu. Dan sampai saat ini mereka belum juga bisa mendekati kakak kelasnya itu.
"Ceritanya panjang, ntar aja gue ceritain. Si Onta udah di depan soalnya." Getta memang sudah sampai di parkiran kafe.
Mereka melihat dari pintu masuk Getta dengan pakaian kasualnya yang terlihat begitu segar. Getta berjalan santai menghampiri mereka.
"Kak." Getta mendudukkan dirinya di sebelah Gita tanpa menyapa ketiga gadis lainnya.
"Halo Kak Getta," sapa Sheryl dengan manisnya.
"Ya," balas Getta malas.
"Balik yuk, anak-anak udah nungguin."
Getta sungguh malas melihat wajah-wajah sok manis ketiga gadis di hadapannya.
"Mau pada ikut gak?" tanya Gita pada ketiga gadis di hadapannya.
"Ngapain sih?" protes Getta tidak setuju.
"Bol__" ucapan Salsa terhenti karena Sheryl mencubit pahanya pelan membuat Salsa melotot ke arahnya.
"Gak deh, soalnya kita ada acara." Sheryl memotong ucapan Salsa.
"Bagus deh," balas Getta.
"Onta!" seru Gita memperingati.
"Yuk, kita duluan."
Getta menarik pelan tangan Gita dan menaruh selembar uang di atas meja untuk membayar minuman Gita. Setelahnya pergi dari sana.
Setelah keduanya pergi barulah Salsa protes kepada Sheryl yang telah mencubit pelan pahanya. Salsa berpikir jika Sheryl bodoh, padahal kesempatan bagi mereka untuk bisa bergabung dengan para Anka Onta. Karena Salsa yakin para Anak Onta tidak akan menolak jika itu ajakan Gita. Paling juga Anak Onta nya akan protes yang pasti Gita yang akan menang. Hal itu telah dilihat beberapa kali oleh Salsa.
"Lu kenapa motong omongan gue, Pea!" seru Salsa kesal.
"Heh Pea, lu gak denger tadi si Gita bilang apa?" tanya Sheryl mengingatkan. "Perlahan, gak boleh agresif."
"Ya tapi ini 'kan kesempatan langka," protesnya lagi.
"Ntar juga kita diajak lagi sama dia," jawab Kimmy santai.
"Kalo diajak, kalo kaga?" tanya Salsa.
"Kita terror lah," jawan Kimmy dan Sheryl kompak.
Dan akhirnya mereka melanjutkan obrolan yang berisi tentang rencana mereka. Sepertinya dalam otak mereka tidak penting pelajaran tentang sekolah, melainkan lebih penting dalam hal menarik perhatian lawan jenis. Berbeda dengan Gita yang sampai saat ini pikirannya masih tentang sekolah. Jika saja tidak terkendala dengan biaya, sudah pasti Gita akan melanjutkan pendidikannya setinggi mungkin.
***
Getta membelokkan mobilnya ke halaman rumah Rian, di dalam sudah ada Anak Onta, Putri adik dari Rian dan juga Oncom. Mereka berkumpul dalam rangka merayakan ulang tahun Kenn. Mereka telah menyiapkan permainan untuk Kenn, yang pasti permainan yang akan membuatnya merasa kesal akan hukuman yang diterima nya nanti.
Permainan ala lomba 17' agustusan yang dimainkan oleh Kenn sendiri. Untuk mempersiapkan tempat acara, Gita menyuruh Kenn untuk menjemput Putri adik dari Andra di daerah Bekasi.
"Udah siap?" tanya Getta ketika melihat teman-temannya sudah duduk di sofa.
"Udah, tinggal nunggu si Onta lagi di jalan," jawab Hendrik.
"Gimana kabarnya, Dek?" tanya Getta pada Putri.
"Alhamdulillah sehat, Kak. Ini Teh Gita ya?" tanya Putri yang melihat Gita.
"Iya, Put. Apa kabar?" tanya Gita balik.
"Alhamdulillah, sehat. Kirain aku gak berlanjut loh," goda Putri pada Rian, godaan yang dilontarkannya setiap kali bertemu dengan Gita.
Rian tertawa mendengar perkataan adiknya itu. "Berlanjut lah, orang Onta satu itu yang nerusin," ujar Rian yang ditunjukkan pada Andra, itu pula jawaban yang selalu diberikan Rian.
"Berarti lu kurang cepet dari gue," balas Andra.
"Serah lu berdua. Si Onta sampe mana?"
Gita yang malas menanggapi obrolan dua Onta nya, membuat Putri tertawa mendengarnya. Gita pergi menuju kolam berenang di pinggir rumah Rian dan duduk di pinggir kolam dengan kaki yang dijulurkan sehingga menyentuh air kolam
"Paling lima menit lagi. Lu udah makan belom? Terus tadi ngapain ketemu biang kerok?" tanya Andra beruntun.
"Satu-satu Ta nanyanya. Mereka ngajak ketemuan ya gue temuin lah, biar mereka gak penasaran. Kedua gue udah makan di rumah Teh Yola." Sebelum berangkat Yola memang meminta Gita untuk makan terlebih dahulu.
"Lain kali jangan ketemu sama mereka kalo gak di temenin Anak Onta."
Entah mengapa Andra tidak tenang jika Gita sampai berteman dengan ketiga gadis yang merupakan adik kelasnya dulu.
"Emang kenapa sih, Ta?" tanya Gita heran. Setelah menjadi mantan sikap Andra semakin posesif terhadapnya.
"Gue ngerasa ada udang di balik terigu sama niat mereka," jawab Andra.
"Gak boleh suudzon sama orang, Ta. Pamali bin dosa," balas Gita memperingati.
"Sedia payung sebelum hujan, Kak."
"Udah jadi mantan jangan berduaan mulu ngapa."
Wildan tiba-tiba datang dengan membawa sepiring bolu gulung coklat kesukaan Gita.
Terkadang para Anak Onta sendiri bingung dengan perasaan yang mereka miliki terhadap Gita. Tidak bisa di sebut Cinta karena mereka masih terlalu muda pikirnya. Jika hanya sekedar sayang tetapi entah rasa sayang yang seperti apa mereka pun tidak tahu. Karena hal itu bukan hanya Andra yang merasakan, tetapi semuanya.
Terkadang mereka berebut perhatian Gita, apalagi setelah mereka mengetahui jika Gita sudah putus dengan Andra. Andra selalu mendengus kesal akan tingkah teman-temannya itu. Pagar makan tanaman, istilah yang selalu Andra ucapkan pada mereka semua, tapi mereka tidak pernah peduli. Mereka pun sama posesifnya terhadap Gita, hal yang membuat Gita terkadang jengah.
"Aku datang," teriak Kenn dari arah pintu masuk ketika Andra akan membalas ucapan Wildan.
"Berisik, Nyet!" bentak Oncom yang sedang melihat pertandingan PlayStation yang dimainkan oleh Hendrik dan Rian.
"Sensi amat sih, Com. PMS ya?" goda Kenn dengan mencolek dagu Oncom.
"Geli, Nyet!"
Oncom paling tidak suka di colek dagunya. Dan hal itu malah menjadi kebiasaan para Anak Onta untuk menggodanya.
"Si Kakak di mana?" tanya Kenn entah pada siapa, Gita selalu menjadi prioritas yang akan pertama kali ditanyakan jika dia tidak ada.
"Kolem," jawab Rian tanpa melihatnya.
Kenn berjalan menuju ke arah kolam renang untuk menyapa Gita. Seperti keharusan untuk menyapa Gita jika Gita tidak terlihat. Di sana Kenn melihat Gita yang duduk di tengah antara Andra dan Wildan. Kaki mereka berada di dalam air, mereka sedang mengobrol dengan di temani jus mangga dan juga sepiring kue.
"Onta," ucap Gita ketika menebak tangan siapa yang menutup matanya.
"Onta siapa?" tanya Wildan.
"Kenntut," jawab Gita yang memang sudah sangat hapal dengan wangi parfum anak Onta nya masing-masing.
"Kok tau sih?" tanya Kenn setelah melepaskan tangannya dari mata Gita dan duduk di sebelah Wildan.
"Gue apal kali wangi parfum lu semua," jawab Gita jujur.
"Serius lu?" tanya Andra tidak percaya.
"Menurut lu?" tanya Gita balik. Andra mengacak rambut Gita pelan, melihat senyum Gita merupakan kebahagiaan tersendiri untuknya. "Masuk yuk, kita mulai acaranya."
Mereka masuk untuk memulai acara yang tidak Kenn ketahui. Karena Kenn memang selalu lupa akan ulang tahunnya sendiri. Entah acara seperti apa yang akan mereka buat. Yang pasti acara yang akan membuat Kenn kesal, karena hanya Kenn yang akan memainkannya.