Setelah perjalanan dadakan dan juga menyenangkan bagi mereka, kini semuanya sibuk dan kembali pada aktivitas masing-masing. Gita dan Oncom dengan pekerjaannya, sedangkan Para Anak Onta dengan jadwal kuliah mereka. Mengenyam pendidikan di universitas yang sama hanya berbeda fakultas saja. Andra, Getta dan Wildan di fakultas Bisnis Manajemen. Hendrik di fakultas kedokteran, Rian di Seni & Desain dan Kenn di fakultas pariwisata & perhotelan.
Mereka sengaja mengambil jam yang sama.
Lagi, Andra memanfaatkan kekuasaannya, karena kampus itu pun masuk dalam jajaran bisnis keluarganya. Andra mengatur jadwal yang sama dengan jadwal teman-temannya. Empat kali dalam seminggu jadwal kuliah mereka, yaitu dari Senin sampai kamis, mulai pukul sembilan pagi hingga pukul tiga sore, hanya jamnya saja yang berbeda.
Kesibukan Gita dengan pekerjaannya yang diburu-buru untuk ekspor, juga kesibukan para Anak Onta nya membuat mereka hanya bertemu satu minggu dalam sekali. Sebenarnya lebih pada Gita yang tidak mempunyai waktu karena harus kembali lembur sampai malam. Seperti biasa pula para Anak Onta nya secara bergantian setiap malamnya untuk menjemputnya pulang kerja, karena Gita hanya pulang sendiri menuju kontrakan nya.
Seperti malam ini giliran Hendrik yang menjemputnya. Tidak jarang Gita selalu menjadi bahan gosip teman kerjanya, karena di jemput oleh laki-laki berbeda setiap malamnya. Ditambah laki-laki yang menjemputnya memiliki wajah yang tampan dengan penampilan yang selalu segar. Seperti saat ini dirinya tengah mendengar sindiran dari salah satu rekan kerjanya yang merupakan bagian jahit jarum dua.
"Enak ya lembur tiap malem juga di jemput nya sama pangeran." Orang itu berjalan sambil menyindir Gita.
"Atuh iya lah, mangkanya kalo mau pake pelet yang paten. Biar dapetnya gak kaleng-kaleng." Teman disebelahnya ikut menimpali omongannya.
"Besok gue mau ke gunung Kawi buat nyari pelet." Teman yang lainnya pun ikut berpartisipasi dalam menyindir Gita.
Gita hanya menghela napas dan tersenyum mendengarnya. Sudah biasa, dan jangan di pikirkan, mereka hanya sirik, yang penting kita tidak menyusahkan hidup mereka, itulah perkataan Yola yang selalu di ingatnya.
Yola pernah merasakan berada di posisi seperti Gita. Sindiran seperti itu sudah biasa dari orang sirik yang tidak mampu memikat perhatian lawan jenisnya. Padahal Gita sendiri sampai sekarang masih bingung apa yang membuat Anak Onta nya menyukai dirinya.
"Langsung balik?" tanya Hendrik ketika Gita sampai di hadapannya.
"Yoi! Pegel banget badan gue. Adek lelah, Bang." Hendrik tertawa dengan ucapan Gita.
"Abang antar Adek kemanapun."
Hendrik memakaikan helm pada Gita. Setelah Gita naik di atas motornya Hendrik dengan segera menjalankannya.
"Mau makan apa?"
"Mau tidur," jawab Gita melenceng, tubuhnya sungguh terasa lelah.
Sudah tiga minggu dirinya kerja lembur samapi jam sembilan malam, membuat tubuhnya terasa begitu lelah. Bahkan hari sabtu pun Gita pulang di jam enam sore.
"Minggu kita ke salon ya," ajak Hendrik agar tubuh Gita merasa rileks.
"Gak mau, hari minggu maunya tidur," tolak Gita yang mengetahui harga sekali treatment untuk memanjakan tubuh itu tidaklah murah. Dan jika memakai uangnya sendiri itu tidak akan cukup.
"Gak ada penolakan, Kak."
Percuma memang menolak ajakan Para Anak Onta nya. Karena mereka akan tetap melaksanakan nya, apalagi jika itu tentang kenyamanan Gita.
"Bodo amat, minggu jadwalnya gue tidur."
Gita sudah mempunyai rencana untuk hari minggu ini ia akan tidur seharian di dalam kamar nya. Pembalasan sebagai hari-hari kerjanya yang melelahkan. Terserah apa yang akan di lakukan para Anak Onta nya nanti.
"Beli camilan ya, takutnya nanti malem lu laper."
Anak Onta nya tidak akan membiarkan Gita pulang malam tanpa memastikan jika Gita memakan sesuatu.
"Terserah lu, Ta. Gue ngantuk serius."
Tubuhnya sungguh terasa lelah dan matanya tidak bisa di ajak kompromi. Gita sudah mandi ketika istirahat jam enam sore tadi, karena ketika berangkat kerja Gita sudah mempersiapkan keperluan gantinya.
Gita membawa peralatan mandi dan juga baju gantinya. Hal itu ia lakukan karena jika pulang malam begitu sampai kontrakan sudah terlalu malam untuk mandi. Yola sering melarangnya, dan lebih menyarankan Gita untuk membawa peralatan mandinya. Jadi walaupun ia pulang malam tidak masalah tidak mandi juga, karena badannya sudah tersiram air. Dan ketika sampai di kontrakan ia hanya perlu mencuci muka, kaki tangan dan berganti baju tidur.
Hendrik membelokkan motornya ke sebuah minimarket untuk membeli camilan untuk Gita.
"Masuk yu," ajak nya dengan melepaskan helm yang dipakai oleh Gita.
"Mau beli apa?" tanya Gita dengan malas.
"Apa aja," jawab Hendrik dengan menarik pelan tangan Gita untuk masuk.
Terlihat beberapa pengunjung yang memperhatikan mereka berdua, hal yang selalu membuat Gita risih jika berada di dekat Anak Onta nya. Hendrik mengambil keranjang untuk menyimpan barang belanjaannya. Berjalan ke rak barisan makanan ringan seperti keripik, biskuit, wafer, cookies dan lainnya. Mengambil dua keripik kentang kesukaan Gita, dua keripik singkong, biskuit bulat dengan krim coklat, juga cookies yang bertabur choco chips diatasnya. Dan kembali berjalan ke arah stand es krim untuk mengambil dua es krim cone dengan saus cokelat favorit Gita.
Setelah dirasa cukup, Hendrik berjalan menuju kasir untuk membayar semuanya. Sedangkan Gita hanya mengikutinya dari belakang, karena percuma dirinya protes, para Anak Onta nya tidak akan mendengarnya.
Setelah proses pembayaran selesai mereka berdua keluar dan duduk di bangku yang tersedia di depan minimarket tersebut. Hendrik membuka satu es krim cone dan menyerahkan nya pada Gita, yang tentu saja langsung di terima oleh Gita. Dan membuka kembali es krim satunya untuk dirinya sendiri. Kebiasaan setiap malam yang Gita dan anak Onta nya lakukan.
"Kenapa es krim manis?" tanya Hendrik dengan memperhatikan es krim cone yang ada ditangannya.
"Kalo pait kehidupan," jawab Gita.
"Itu bukan jawabannya, Kak."
"Terus?"
"Itu mah fakta kehidupan."
"Ya apa bedanya sama eskrim? Eskrim itu manis dan faktanya memang manis, tanpa perlu di pertanyakan," jawab Gita lagi.
Membuat Hendrik menaikkan sebelah alisnya dan menolehkan wajahnya pada Gita, jawaban Gita terdengar sewot baginya.
"Bener, 'kan?" tanya Gita dengan sedikit heran dengan ekspresi wajah Hendrik.
"Sewot amat jawaban lu?"
"Gak sewot, Ta. Hanya menegaskan saja."
"Gue dengernya kayak sewot loh."
"Ada-ada aja lu. Balik yuk," ajak Gita yang sudah menghabiskan eakrim nya.
"Yuk."
Mereka naik kembali ke atas motor dan meneruskan perjalanannya. Gita sudah ingin merebahkan tubuhnya di atas karpet tipis kamar kontrakannya. Di dalam kamar Gita memang tidak terdapat barang apapun selain lemari plastik kecil tempat bajunya, juga bantal dan guling tanpa kasur, hanya beralaskan karpet tipis.
Mereka sampai di kontrakan Gita ketika jam menunjukkan pukul sepuluh kurang 13 menit. Yola masih duduk di depan konternya, jika Gita kerja lembur Yola tidak akan masuk ke dalam rumahnya sebelum Gita datang. Kecuali jika Gita pergi bermain dengan izin terlebih dahulu padanya dengan Anak Onta nya.
Yola selalu berusaha menjadi kakak yang melindungi adiknya. Yola merupakan jenis kakak yang tegas dan tidak pandang bulu, walaupun badannya kecil sama seperti Gita, Yola cukup di segani di daerahnya.
"Gue langsung pulang ya."
Jam yang sudah cukup malam membuat Hendrik memutuskan untuk pulang, semua anak Onta nya pun akan seperti itu. Kecuali mereka akan makan bersama terlebih dahulu.
"Eh mau beli pulsa dulu, gue lupa." Hendrik turun dari motornya untuk membeli pulsa di konter Yola. "Teh pulsanya ada," tanya Hendrik dengan candaannya.
"Abis Dek, besok aja. Nomer biasa?" tanya Yola yang memang sudah mengetahui nomor semua Anak Onta.
"Iya Teh." Hendrik menyerahkan selembar uang pada Yola.
"Pas ya," canda Yola.
"Sip sama pulsa buat si Kakak juga," jawab Hendrik dengan kekehan nya.
"Sa ae Anak Onta. Udah ya," balas Yola.
"Makasih ya, Teh. Pulang dulu ya," pamit Hendrik setelah menyalami tangan Yola.
"Hati-hati di jalannya," pesan Yola yang diangguki oleh Hendrik.
"Pulang dulu, Kak. Langsung tidur aja."
Hendrik menjalankan motornya untuk meninggalkan kontrakan Gita. Pergi menuju rumah Rian untuk berkumpul di sana, karena Para Onta yang lainnya sudah berada di sana untuk bertanding menggunakan stik tangan seperti biasanya, sekalian mereka juga pasti akan membahas tentang rencana besok yang akan memboyong Gita ke salon Tante Rena untuk perawatan tubuh. Mereka akan membuat tubuh Gita fresh seperti biasanya setelah lembur selama seminggu.