Cuaca dingin daerah puncak memang sudah tidak bisa terbantahkan, hal itulah yang membuat Gita kurang begitu menyukai daerah tersebut, karena kondisi tubuhnya yang memang tidak bisa berada di tempat yang terlalu dingin.
Beda halnya dengan Oncom yang kulitnya seperti kulit Badak yang tidak memiliki rasa dingin. Angin malam seperti tidak terasa baginya.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, malam ini mereka tidak akan tidur karena akan mengadakan barbeque. Mereka berada di belakang villa saat ini, Gita duduk di bangku panjang yang terbuat dari besi dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya. Para Anak Ontanya dan Oncom melarangnya untuk keluar dari selimut karena tubuhnya yang begitu dingin.
Andra Wildan dan Rian sedang mengambil kayu bakar di samping villa untuk membuat api unggun. Mereka kembali dengan beberapa batang kayu, dan meletakkannya tidak jauh dari tempat duduk Gita.
Andra menghampiri Gita dan duduk di sebelahnya, sedangkan Rian dan Wildan mulai menyusun kayu dan menyalakan api unggun nya agar Gita tidak terlalu kedinginan.
"Dingin banget ya?" tanya Andra, tangannya memegang kedua pipi Gita untuk menyalurkan rasa hangat.
"Mayan, gue mau bantuin manggang itu ya," pinta Gita karena merasa tidak enak pada yang lainnya.
"Duduk aja," perintah Andra yang tidak bisa ditolak.
"Masuk aja yuk, takutnya lu sakit gara-gara kedinginan." Andra khawatir terhadap suhu tubuh Gita.
"Disini aja, tuh apinya udah jadi, bentar lagi pasti anget."
Gita menolak dan lebih memilih untuk tetap berada di sana bersama teman-temannya.
"Mendingan 'kan, Kak?" tanya Rian setelah berhasil menyalakan api unggun.
"Lumayan, makasih ya. Gue ngerepotin jadinya," keluhnya pelan.
"Apaan sih?" tanya Rian tidak suka.
"Sini gue peluk." Andra merangkul bahu Gita untuk duduk lebih mendekat kearahnya.
"Gak mau, Ta."
"Ya udah sama gue aja." Kenn mendekat juga untuk memeluk Gita.
"Gak mau ih," tolak Gita juga. Andra dan Kenn memeluk Gita dari samping kanan dan kirinya. "Onta!" seru Gita yang tidak di dengarkan oleh mereka berdua.
"Masih dingin?" Rian menghampiri mereka bertiga. "Sini tangannya."
Rian mengambil tangan Gita yang tersembunyi di kantong jaket Andra yang di gunakan olehnya. Menggosok-gosok pelan dengan Rian yang berlutut di hadapan Gita.
Getta, Hendrik, Kenn dan Oncom sedang mempersiapkan untuk memanggang semua yang tersedia.
"Apa dulu yang mau di panggang?" tanya Getta entah pada siapa.
"Apa aja," jawab Gita.
"Daging sama cuminya dulu aja," jawab Kenn.
"Masuk aja, Kak." Getta menghampiri mereka.
"Gue gak apa-apa. Ih gue ngerepotin banget jadinya," rajuk Gita karena sikap berlebihan Anak Onta nya. "Minggir, gue mau ke depan api."
Gita bangun dan berjalan lebih mendekat ke arah api unggun, yang tentu di ikuti oleh mereka.
Getta kembali ke tempat pemanggangan untuk menyelesaikan menu yang sedang di panggang. Membiarkan Gita dan Onta lainnya menikmati kehangatan api unggun.
"Lu gak dingin, Com? tanya Hendrik yang sedang membalikkan sosis.
"Biasa aja sih gue mah, adem malah," jawabnya yang memang merasakan sejuk pada tubuhnya.
Di Jakarta mana pernah ia mendapatkan hawa sejuk seperti saat ini. Oncom terbiasa dengan cuaca dingin, karena rumahnya memang berada di kawasan gunung yang memiliki cuaca sama seperti puncak.
Rian yang tadi masuk kedalam villa kini kembali dengan gitar ditangannya. Rian duduk di hadapan Gita yang terhalang oleh api unggun kecil yang mereka buat. Suasana seperti ini memnag cocok untuk bernyanyi bersama, apalagi dengan orang yang selalu membawa kebahagiaan lebih bagi mereka.
"Nyanyi, Kak." Rian mulai memetik gitar yanga ada ditangannya.
"Gak," tolak Gita langsung. "Gue takut lu pada pingsan denger suara gue."
"Makanan siap."
Oncom datang dengan membawa sepiring sosis dan juga fishroll yang telah matang. Disusul Getta yang membawa daging dan juga cumi. Hendrik yang membawa sausnya.
"Makan dulu baru nyanyi," perintah Oncom.
Mendengar perintah Oncom, mereka dengan sigap makan secara bersamaan. Gita di di apit oleh Andra dan juga Getta. Sedangkan Oncom di apit oleh Hendrik dan juga Wildan. Makan bersama dengan suasana malam yang indah dan juga dingin.
Gita tidak melepaskan selimut yang menempel di tubuhnya, dengan tangan kiri Andra yang merangkul pundaknya untuk lebih merapat kepadanya. Mereka makan diiringi dengan obrolan santai dan rencana mereka kedepannya.
Semua yang melihat tahu bagaimana perasaan Andra yang masih begitu dalam pada Gita. Mereka juga tahu alasan sebenarnya Gita memutuskan Andra. Sebenarnya Anak Onta yang lainnya sudah memiliki rasa yang sama, yaitu perasaan suka terhadap Gita. Hanya saja mereka tidak mau mengungkapkannya karena menghargai perasaan Andra. Melihat bagaimana bahagianya Andra saat bersama Gita membuat mereka juga bahagia.
"Lu pinter juga Com masaknya," puji Andra ketika memakan cumi hasil panggangan Oncom.
"Atulah Bang, apasih yang gak Oncom bisa?" tanyanya dengan bangga.
"Nyesel sumpah gue muji," balasan Andra membuat Oncom tertawa.
"Oncom itu manusia multi fungsi," kata Getta dengan memakan kembali sosis.
"Multi talenta Pea. Lu kira gue barang apa multi fungsi," protes Oncom.
"Oh! Gue salah ya?" tanya Getta pura-pura polos.
Makanan telah habis, jam sudah menunjukan lewat pukul dua dini hari, tapi sepertinya kantuk belum menyerang mata mereka. Acara dilanjutkan dengan bernyanyi bersama layaknya paduan suara, dengan diiringi petikan gitar yang dimainkan oleh Getta.
Mereka menyanyikan lagu yang hits di tahun 80'an milik Inka Cristie yang berjudul Rela. Kedua tangan di atas dan di goyangkan ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan lagu. Suasana malam yang sepi membuat suara mereka terdengar begitu nyaring. Hal itu mereka lakukan sampai pukul hampir 3 pagi, karena setelahnya mereka lanjutkan dengan obrolan santai.
Posisi mereka kini sudah berubah, Gita merebahkan kepalanya di atas paha Andra yang membelai rambutnya pelan. Sedangkan Oncom merebahkan kepalanya di atas paha Wildan. Obrolan tetap berlanjut dengan santai dan hangat dengan ditemani wedang jahe yang dibuatkan oleh Kenn dan Hendrik.
"Kalo dipikir-pikir, gue sama lu gak ada takutnya ya, Com?" tanya Gita pada Oncom.
"Maksud lu?" jawab Oncom bingung.
"Kita cewek loh, mereka cowok. Di tempat kayak gini," jawab Gita dengan memegang tangan Andra yang masih membelai rambutnya.
"Iya juga sih. Emang lu gak takut Com kita apa-apain?" Rian membenarkan pikiran Gita.
"Kalo gue sih tipe orang yang percayaan. Lagian kalo emang bisa ngapa-ngapain gue ya coba aja," jawab Oncom santai.
Oncom dan Gita memang tidak pernah takut jika hanya melawan para Anak Onta. Karena mereka memiliki ilmu beladiri yang cukup mumpuni. Dan juga sebenarnya para Anak Onta pun tidak pernah berpikir untuk macam-macam kepada mereka berdua, selain karena mengetahui kemampuan beladiri nya, juga rasa sayang yang entah seperti apa. Yang pasti dalam diri mereka hanya ingin melindungi dan membahagiakan mereka, terutama Gita.
"Emang lu mikir gitu?" tanya Andra pada Gita.
"Ya gak sih, cuma 'kan seenggaknya pikiran orang pasti macem-macem," jawabnya yang selalu memikirkan pikiran orang lain.
"Kebiasaan mikirin omongan orang mulu," sela Getta.
"Gue tuh cuma takut ada orang yang tau kelakuan gue kayak gini," balas Gita.
"Kayak gini gimana?" tanya Wildan.
"Ya gue keluar malem sama cowok, gak tanggung-tanggung sampe enem. Gak pulang, takut ada tetangga yang liat terus mikir macem-macem dan ngomong sama orang tua gue."
Penjelasan Gita bisa di terima oleh mereka semua. Gita benar, karena orang lain pasti berpikir yang macam-macam padanya, yang seorang perempuan dengan enam orang laki-laki apalagi sampai tidak pulang.
"Iya juga sih. Apalagi di kampung lu 'kan biang gosip semua."
Oncom yang pernah berkunjung ke kampung Gita pun dapat merasakan bagaimana orang-orang di kampung Gita. Yang setiap sore akan berkumpul untuk berghibah ria.
"Yang penting kita gak ngapa-ngapain, 'kan?" Andra bertanya untuk menenangkan pikiran Gita.
"Emang lu mau ngapain?" tanya Gita lebih pada tantangan.
"Lu maunya gue apain?" tantang Andra balik.
"Si Pea."
"Kita gak bakal pernah ngapa-ngapain lu. Kecuali kita khilaf," balas Andra dengan mencubit pelan hidung Gita.
"Khilaf nya lu ngapain?" tanya Oncom.
"Gue cium mau gak?" jawab Andra dengan menundukkan kepalanya menatap wajah Gita.
"Si Oncom yang nanya kenapa jawab ke gue?" jawab Gita polos.
"Karena gue sukanya Lu bukan si Oncom!" jawab Andra santai, "Gue cium ya?"
"Gak usah macem-macem, Nyet!" seru Rian memperingati.
"Nih." Gita memonyongkan bibirnya menantang Andra.
"Si Pea." Andra mengusap wajah Gita karena kelakuan absurd nya.
Gita tahu Andra tidak akan seberani itu padanya. Andra dan Anak Onta lainnya akan menjaganya bukan untuk merusaknya. Karena menurut Gita, ciuman pun hal yang merusak. Gita selalu mual bila membayangkan orang berciuman. Karena menurutnya itu hal yang menjijikkan, karena mereka pasti bertukar ludah.
Bahagia mereka cukup sederhana, hanya mengobrol santai dengan kehangatan dari kebersamaan dan juga dari api unggun. Memilih untuk melanjutkan obrolan dengan diiringi canda tawa yang tiada henti, merencanakan banyak hal untuk ke depannya, membangun kisah yang akan mereka ceritakan nanti disaat mereka tidak lagi bersama.
Karena tidak mungkin mereka selalu bersama, suatu saat nanti perjalanan mereka akan menjadi nostalgia disaat mereka bertemu setelah berpisah. Mereka memang selalu berharap dan berdoa untuk selalu bersama-sama, dan tidak ingin melewatkan masa sekarang dengan cepat. Namun, yang namanya kehidupan sudah ada yang mengaturnya, dan mereka hanya menjalankan dengan sebaik-baiknya.