Satu tahun sudah Andra dan Gita berstatus sebagai teman, dan malam ini teman-temannya mengetahui status mereka membuat mereka berdua di cecar pertanyaan oleh teman-temannya.
"Serius lu berdua udah putus?" tanya Oncom yang masih belum percaya. Saat ini mereka berada di kawasan Ancol.
"Seneng banget kayaknya ngedenger gue putus," keluh Andra.
"Gue gak seneng, cuma kasian aja. Hahaha." Mereka tertawa bersama.
"Dendam banget sih Com sama dia?" tanya Rian yang melihat Oncom tertawa bahagia.
"Salah sendiri pamer mulu sama gue," jawab Oncom.
"Pamer gimana lu?" tanya Andra bingung.
"Kalo debat sama gue, lu bilangnya -gue pacarnya, mau apa lu?- gitu, 'kan?"Jika mereka berdua memperebutkan Gita, memang selalu itu jawaban Andra. Hal yang membuat Oncom kesal.
"Dih! Pendendam sekali Anda," balas Andra dengan mendelikkan matanya.
"Besok lu pacaran sama gue, Kak." Getta berkata tanpa dosa.
"Ya udah kalo gitu minggu depannya sama gue," balas Rian.
"Edas digilir," seru Oncom.
"Si bege! Dikira gue piala," balas Gita heran.
"Kita gak putus kok, cuma ganti status doang," ujar Andra yang membuat Oncom bersorak.
"Putus cinta bikin gila ya?" ejeknya dengan pertanyaan.
"Serah lu Com. Yang penting lu bahagia," balas Andra.
Seperti itulah sehari-hari mereka sekarang. Anak Onta lainnya tidak perlu lagi izin pada Andra jika ingin mengajak Gita, tetapi mereka semua semakin posesif terhadap Gita. Sedangkan pada Oncom mereka tidak perlu khawatir katanya, karena Oncom bukanlah perempuan, melainkan perempuan jadi-jadian.
Oncom bisa berbaur dengan mereka lebih cepat dari Gita, Oncom di sebut sebagai manusia tidak punya hati karena tidak pernah sakit hati, separah apapun mereka meledeknya. Membuat mereka pun merasa nyaman berteman dengan Oncom.
Gadis berambut sedikit kribo dengan gaya yang super aneh menurut Anak Onta. Tapi Oncom sosok yang menyenangkan bagi mereka, sosok teman yang baik dengan segala keunikannya.
Malam ini mereka berkumpul di daerah Ancol entah dalam rangka apa. Mereka berada di sebuah restoran yang cukup mewah, yang telah disediakan oleh paman Andra. Tanpa perlu memilih menu makanan, karena begitu datang para waiters sudah menyediakan berbagai macam menu. Menu aneh yang tidak mengenyangkan bagi Oncom dan Gita. Menu-menu barat seperti stik dan teman-temannya.
"Gue gak bisa motong ini gimana?" ujar Gita yang memang belum pernah memakan stik.
"Sini." Andra mengambil piring Gita dan memotong-motong stik itu.
"Apa liatin gue? Bisa gue mah," ucap Oncom yang melihat Rian memperhatikannya.
"Yakin Com? Coba potong," tantang Gita.
Oncom mengambil pisau stik dan juga garpu nya, "Nih liatin. Pelan-pelan irisnya." Ternyata benar Oncom bisa memotongnya, membuat Gita kagum.
"Wih, keren lu bisa," seru Gita dengan bertepuk tangan.
"Meremehkan kalian itu," ujar Oncom kembali memotong stiknya dan memakannya dengan santai.
"Percaya gue sama Oncom," balas Andra mengalah.
Mereka kembali makan dengan diiringi obrolan santai dan menyenangkan, Gita dan Oncom menjadi reporter yang menanyakan segala rencana para Anak Onta ke depannya, yang dijawab dengan lebih banyak berpikir terlebih dahulu.
"Jadi sebenernya lu mau pada kuliah di luar negeri?" tanya Gita pada Andra. Gita sudah mendengar bahwa orang tua Andra memintanya untuk kuliah di luar negeri.
"Selama lu disini kita juga disini," jawabnya dengan serius.
"Lah! Apa urusannya sama gue?" tanya Gita heran.
"Ya pokoknya gitu lah," jawaban Wildan membuat Gita dan Oncom berpikir keras.
"Gaje hidup lu," sela Oncom.
"Gak usah ikutan, Com. Eh tapi Oncom beda loh malam ini," goda Getta yang baru memperhatikan Oncom dengan tampilannya.
Oncom memakai jeans berwarna navy blue, sweater panjang model kaos tanpa resleting berwarna putih, snikers berwarna hitam dan jangan lupakan topi berwarna putih yang menutupi rambut kribonya.
"Gue cantik ya?" tanyanya dengan pose sok manis.
"Antik anet," jawaban Getta membuat mereka semua tertawa.
"Gue traktir baso mang Jafra besok," tunjuk nya pada Getta dan kembali membuat mereka tertawa.
"Murah banget harga pujian gue, Com?" protes Getta. Obrolan dengan Oncom memang tidak pernah waras.
"Jangan mahal-mahal duit gue abis," gerutunya.
"Abis ini kita mau ke mana?" tanya Kenn.
"Ke mana ya?" tanya Hendrik balik.
"Pulang oy, udah malem ini." Gita yang melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.
"Puncak yuk?" ajak Rian.
"Nah seru tuh," timpal Wildan.
"Gak bisa, Ta. Tar gue di bawain golok sama Mpo gue," tolak Gita yang memang takut jika Yola marah.
Yola jika mengancam tidak pernah main-main. Dulu pernah Gita dan Hani bertengkar, dan Hani pergi menuju kontrakan temannya yang berada di daerah Teluk Intan tanpa izin darinya. Yola mengancam akan membawakan golok jika Hani tidak pulang, dan Hani tidak pulang karena menganggap itu hanya ancaman.
Yola yang memberikan tenggat waktu pada Hani dan sudah lewat tetapi Hani belum juga pulang, akhirnya menghampiri Hani dan benar-benar membawa golok. Hani pulang dengan diiringi olehnya. Dari sana Gita tahu jika Kakaknya tidak pernah main-main dengan ancamannya.
"Gue telpon Teh Yola nya."
Andra mengeluarkan handphonenya, mencari nama Yola di kontaknya yang ia minta langsung pada orangnya.
Tut...tut...
"Halo Assalamualaikum, kenapa Ndra?" sapa Yola yang diiringi dengan pertanyaan.
"Waalaikumsalam, Andra mau izin, Teh. Tapi maaf cuma bisa di telpon," jawab Andra sebelum menjawab inti pertanyaan Yola.
"Izin buat apa?"
"Andra mau ngajak Gita sam Oncom ke Bandung, Teh. Kalo boleh," jelas Andra.
"Sekarang? Gak kemaleman?" tanya Yola.
"Iya, di usahain gak nginep kok. Tapi gak mungkin sih, pasti nginep. Mau bakar-bakaran soalnya," jawabnya lagi.
"Ya udah, asal tau aturannya aja."
Yola mengizinkan karena Yola percaya pada Anak Onta. Tidak perlu khawatir mereka akan berbuat macam-macam, karena mereka tidak akan berani.
"Makasih Teh."
"Iya, ya udah Teteh tutup dulu ada yang beli soalnya, Assalamualaikum." Yola mengakhiri panggilan setelah Andra menjawab salamnya.
"Beres, 'kan?" kata Andra dengan senyum.
"Dasar," ujar Gita yang tidak habis pikir dengan para Anak Onta nya. Selalu saja tidak pernah berencana terlebih dahulu jika akan bepergian.
Dan pada akhirnya mereka benar-benar pergi ke daerah puncak yang ada di daerah Bandung, untuk menuju villa milik Getta. Menempuh perjalanan menggunakan satu mobil dengan Wildan yang memegang kendali setir.
Perjalan dadakan yang dilalui dengan begitu menyenangkan karena tambahan personil yaitu Oncom. Bernyanyi sepanjang jalan tanpa alat musik, tertawa tanpa beban.
Dengan hadir Gita saja sudah membuat hidup mereka bisa sangat bahagia, ditambah dengan Oncom membuat perjalanan lebih menyenangkan lagi.
Wildan membelokkan setir ke arah supermarket untuk membeli bahan yang akan digunakan untuk barbeque, itulah rencana mereka.
Andra turun bersama Gita dan juga Hendrik setelah bertanya pada semuanya apa saja yang akan dibeli. Ayam, daging, dan juga beberapa jenis seafood seperti udang dan juga cumi, sosis dan juga fishroll. Juga beberapa minuman berkarbonasi serta beberapa keripik kentang juga singkong.
Wildan kembali menjalankan mobil setelah mereka kembali masuk dengan tiga kantong besar plastik berisi belanjanya. Dua jam perjalanan yang mereka butuhkan untuk sampai di villa milik Getta, karena perjalanan yang cukup sepi. Biasanya akhir pekan seperti ini jalanan cukup macet walaupun malam hari.
Andra menyampirkan jaketnya begitu turun dari mobil pada Gita yang memang tidak tahan dengan cuaca dingin, walaupun Gita sudah memakai sweater juga. Andra masih bersikap layaknya kekasih Gita, karena Andra juga semakin posesif pada Gita. Sedangkan Oncom sendiri memang menggunakan sweater.
"Makasih, Ta." Andra memang selalu mengerti apa yang dibutuhkan Gita. "Lu gak dingin?" tanya Gita yang takut jika Andra juga kedinginan.
"Gak kok, pake aja. Di dalem juga ada," jawab nya santai.
Mereka masuk kedalam villa secara bersamaan, jam yang menunjukkan 00.12 wib membuat udara dingin semakin dingin. Getta dan Rian berjalan ke arah dapur untuk menyimpan bahan untuk barbeque nanti. Sedangkan untuk minuman dan camilan mereka simpan di atas meja.
Andra memegang kedua tangan Gita yang begitu dingin dan menggosoknya pelan untuk memberikan rasa hangat. Kenn berjalan menuju kamar yang terletak di lantai dua untuk mengambil selimut dan akan diberikan pada Gita dan juga Oncom. Dan Wildan pergi ke arah dapur untuk membuat teh panas untuk mereka semua.
"Dingin banget tangannya," ujar Andra dengan terus menggosok pelan tangan Gita.
"Gue 'kan emang gak kuat dingin, Ta."
"Pake ini, Kak." Kenn menyerahkan selimut tebal pada Gita dan juga Oncom.
"Makasih, Ta." Para Anak Onta nya memang sangat pengertian.
"Barbeque sekarang nih?" tanya Getta.
"Udah dibersihin bahannya?" tanya Oncom.
"Belom," jawab Getta.
"Ya udah gue bersihin dulu." Oncom bangkit dari duduknya untuk menuju dapur.
"Lu gak dingin?" tanya Gita heran, karena seluruh tubuhnya hampir beku menurutnya.
"Kulit gue mah Badak," jawabnya santai.
"Ya udah gue ikut."
Andra menahan Gita yang akan membantu Oncom untuk membersihkan bahan-bahan barbeque mereka. Karena Andra tahu Gita sangat kedinginan.
"Lu duduk aja, Kak. Biar gue yang bantuin." Hendrik bangun dari duduknya untuk membantu Oncom.
Begitulah para Anak Onta yang selalu menjadikan Gita ratu di setiap acara yang mereka buat. Hal yang membuat Gita selalu merasa tidak enak hati, juga membuat pikiran orang-orang buruk terhadapnya.
Orang lain selalu berpikir mustahil jika Gita tidak memakai magic agar terlihat istimewa di depan lawan jenisnya, karena mereka lebih mengutamakan fisik dalam menilai seseorang. Sedangkan Anak Onta lebih mengutamakan kenyamanan dan juga rasa bahagia atas hadirnya Gita ditengah-tengah kehidupan mereka berenam.