"Norak," maki Sheryl dengan kesal melihat kelakuan Gita dan para Anak Ontanya. Bernyanyi dan bergoyang dangdut merupakan hal norak bagi mereka bertiga.
"Kasian Kak Getta keringetan, pengen gue elapin."
Salsa membayangkan bagaimana jika dirinya mengelap keringat yang keluar di dahi Getta.
"Kak Rian ngapain sih deket-deket sama cewek kribo jadi-jadian kayak gitu?" tanya Sheryl yang dari awal menyukai Rian.
Mereka terus menggerutu melihat semuanya, tipe gadis abege yang masih sulit untuk mengendalikan emosi, sangat berbeda jauh dengan Gita yang pandai dalam menguasai emosi. Rasa kesal yang tidak bisa ditahan membuat mereka memutuskan untuk pergi, meninggalkan hal yang membuat mata mereka menjadi sakit jika terus melihatnya. Mereka harus memutar otak untuk mendekati kakak kelasnya.
"Balik," kata Sheryl yang langsung berjalan tanpa menghiraukan kedua temannya.
"Tungguin Bege!" teriak Kimmy dan Salsa.
Seperti biasa mereka pulang dengan keadaan hati yang kesal, menggerutu dengan makian menjadi makanan mereka saat ini.
***
Sedangkan konser dangdut dadakan yang diadakan oleh Oncom, Gita dan para Anak Onta nya menjadi semakin ramai, dengan para penonton bersuara merdu yang ikut berpartisipasi untuk bernyanyi. Gitar dan kendang telah kembali pada pemiliknya beserta uang saweran yang didapatkan. Oncom, Gita dan para Anak Onta nya menjauh dari area konser untuk minum, tetapi konser tetap berjalan.
"Rame juga ya?" tanya Wildan yang merasakan tangannya cukup sakit akibat terlalu semangat memukul kendang.
"Gak nyangka gue bakalan rame begitu," timpal Getta.
"Mayan 'kan kita dapet pahala udah buat orang lain bahagia," ujar Gita yang menerima minuman dari Andra.
Sampai saat ini anak Onta yang lain maupun Oncom tidak tahu jika mereka berdua telah putus sebagai kekasih. Ucapan Gita dibenarkan oleh mereka semua, Gita selalu mengajarkan tentang kebahagiaan kecil yang bisa mereka ciptakan untuk Orang lain, dan pastinya untuk diri sendiri.
"Dapet banyak juga tadi duit sawerannya," kata Oncom yang mengingat jika Hendrik dan Kenn menyawerkan uangnya sekitar 15 lembar saat dirinya bernyanyi.
"Gue aja tiga ratus lebih nyawer lu. Lu berapa Kenn?" tanya Hendrik pada Kenn.
"Sama, hampir lima ratus," jawab Kenn.
"Lu nyawer si Gita berapa duit, Ta?" tanya Oncom pada Andra.
"Gak ngitung gue," jawab Andra polos.
"Serebu lebih itu sih kayaknya yang mereka dapet." Rian memperkirakan pendapatan para pengamen yang mereka sewa alat musiknya.
"Alhamdulillah, udah rezeki mereka. Harusnya lu kasih tau biar di bagi sama yang lain, apalagi sama anak-anak kecil," saran Gita.
"Gue tau mereka kok, pasti dibagi nanti hasilnya. Disini pengamannya solid tau. Jadi nih misalnya ada yang minta-minta terus kita kasih, nah nanti dia ngasih tau temen-temennya buat nyamperin kita buat minta juga," tutur Andra yang memang sudah hapal dengan para pengamen di kawasan tersebut.
Hal itu yang dulu menjadikan mereka lebih sering nongkrong di kafe daripada di tempat terbuka seperti ini. Bukan pelit, hanya risih menurut mereka.
"Balik yu," ajak Gita pada Oncom.
"Makan dulu, Kak." Getta yang tahu Gita belum makan menahannya.
"Males makan gue," keluh Gita yang memang sedang tidak ingin makan.
"Mau makan pa?" Seperti biasa, tanpa mendengar perkataan Gita, Andra bertanya makanan apa yang ingin di makan oleh Gita.
"Males, Ta."
"Mau makan apa?" tanya Wildan pun sama.
"Nasi goreng aja," jawab Oncom pada akhirnya.
"Berdua aja ya," tawar Gita.
"Iya."
Andra yang menjawab tawarannya. Membuat Gita memonyongkan bibirnya sebentar.
"Beli yang di sana aja ya?" tanya Andra yang diangguki semuanya. Andra menggenggam tangan Gita dan menariknya pelan untuk mengikuti.
Mereka berjalan bersama, kali ini Wildan yang merangkul bahu Oncom untuk berjalan disisinya. Membuat Oncom berseru kesal.
"Tolong ya ini jan maen asal rangkul aja, gue punya cowok. Tar cowok gue marah," katanya penuh drama.
"Emang lu cewek, Com?" canda Hendrik.
"Sialan lu," dengus Oncom.
"Perasaan gue mah lu kaga ada cewek-ceweknya," sambung Getta.
"Bully aja gue terus. Gue laporin Bapak Sukira baru nyaho lu," ancamnya dengan bercanda.
"Bapak Sukira siapa, Com?" tanya Rian penasaran.
"Dih, lu gak tau siapa Bapak Sukira?" refleks Rian menggelengkan kepalanya. "Lurah paling disegani di Desa Jati Meong. Lurah paling ganteng suaminya itu Sutirah alias Emak gue," jawab Oncom bangga.
Gita tertawa mendengarnya, Oncom memang selalu membanggakan kedua orang tuanya. Oncom bekerja pun hanya untuk menghibur dirinya sendiri yang bosan berada di rumah terus.
Walaupun Oncom anak seorang kepala desa yang sudah menjabat dua periode, dan juga orang tuanya cukup mampu untuk membiayai sekolah tinggi, tapi Oncom memilih kabur ke Jakarta dan bekerja di koveksi, karena Oncom tidak suka bersekolah.
Oncom memiliki keterlambatan dalam berpikir, hal itulah yang membuatnya tidak mau sekolah. Orang-orang bahkan menyebutnya dengan kata i***t yang tidak dipedulikan olehnya.
Disaat mereka berjalan dengan candaannya, tiba-tiba terdengar sirine ambulan yang membuat Oncom refleks berjongkok dan menutup telinganya. Hal itu pernah di ceritakan Gita, tetapi baru kali ini mereka melihatnya.
Hendrik ikut berjongkok di sebelahnya diikuti Kenn dan Wildan. Mereka merangkul di masing-masing sisi. Gita yang sudah sangat hapal membiarkan saja, karena percuma tidak akan membantu apa-apa. Karena Oncom akan bangun sendiri dan tertawa setelah suaranya tidak terdengar lagi.
"Udah gak ada," kata Kenn memberitahukan.
"Udah gak ada?" tanya Oncom memastikan.
"Ken mengangguk dan Oncom kembali berdiri, "Maaf ya, pada kaget ya?" tanyanya dengan tawa kecil.
"Gak sih, si Kakak udah pernah cerita. Cuma aneh aja liat lu diem kayak gitu," jawab Wildan jujur.
"Gak tau kenapa gue takut banget sama Ambulan," jawab Oncom yang sampai saat ini ia pun tidak tahu mengapa ia begitu takut pada sirine mobil ambulans.
"Lu pernah ngalamin hal buruk kali sama Ambulan," tebak Hendrik. Mereka melanjutkan kembali perjalanan setelah Oncom tenang.
"Gak tau deh, yang pasti bayangan gue langsung ke mana-mana kalo denger suara ambulan," jelas Oncom yang memang seperti itu.
"Bang nasgornya tujuh ya, yang satu sasanya dikit, kasih sambel dikit, kecapnya banyak. Yang satu jangan pake sambel, lainnya sedeng."
Andra memesan sesuai selera Semua. Andra akan makan sepiring berdua dengan Gita, karena tadi Gita berkata malas makan.
"Kok cuma tujuh?" protes Kenn.
"Dia gak bakalan abis kalo gak dibantuin," jawab Andra dengan melirik Gita.
"Padahal mah kan ada gue yang ngabisin," seru Oncom.
"Punya lu abis gue pesenin lagi, dua porsi sekaligus bila perlu."
Andra tahu Oncom memang banyak makan dan pemakan segala jenis makanan. Berbeda dengan Gita yang memang pemilih untuk makanan. Tetapi untuk buah-buahan hampir semuanya Gita suka, kebalikan dari Oncom yang pemilih.
"Gue beli sate dulu."
Getta bangun dari duduknya dan berjalan ke arah gerobak sate yang terhalang tiga gerobak penjual lainnya, hanya untuk memesan.
Lima piring nasi goreng dengan pesanan yang sama telah tersedia lengkap dengan acar timur, irisan tomat dan juga kerupuk udang di depan Hendrik, Oncom, Wildan, Rian dan Getta. Karena pesanan Kenn sendiri tidak memakai sambal, sedangkan pesanan Andra dan Gita cukup rumit dengan sedikit Sasa, sedikit sambal dan lebih banyak kecap. Sambal sia-sia menurut Oncom.
Selang tujuh menit pesanan sudah lengkap begitupun dengan sate ayam tanpa lontong yang sudah tersedia. Mereka makan setelah membaca doa menurut kepercayaan masing-masing. Karena Getta dan Wildan merupakan Kristen Protestan, sedangkan Hendrik Katolik, Kenn Budha, sisanya Muslim.
Gita hanya memakan empat suap nasi gorengnya dan lebih banyak memakan sate ayamnya, itupun atas paksaan Andra. Sampai makanan habis dan para Anak Onta mengantarkan Gita juga Oncom ke kontrakan Gita. Seperti biasa Oncom akan menginap di Kontrakan Gita.
***
Tiga hari setelah kejadian yang membuat mereka kesal, kini ketiga adik kelas Anak Onta telah memutuskan untuk tidak lagi mengejar kakak kelasnya. Mereka akan bersikap anggun yang ingin dikejar bukan mengejar. Mereka mulai bersikap biasa ketika berhadapan dengan para Anak Onta. Membuat para Anak Onta bisa bernapas dengan lega karena tidak ada lagi yang menggangu.
"Adem banget hidup gue kalo gak ada pengganggu kayak gini," ucap Wildan dengan suara agak keras, sengaja menyindir ketiga adik kelasnya.
"Seandainya dari dulu Ya Tuhan," sambung Hendrik.
Semua orang melihat kearah tiga gadis yang sedang duduk dengan semangkuk bakso di atas meja. Membuat ketiga gadis itu menunduk malu.
"Sialan gak sih mereka itu?" gumam Kimmy.
"Biarin aja, tar juga kena batunya." Sheryl mencoba bersikap tenang.
"Udah makan aja," perintah Salsa.
"So kecantikan sih! Gue aja yang cantik biasa aja."
Marsha sengaja menyindir tiga adik kelasnya, yang menurutnya memiliki tingkat kepercayadirian yang tinggi.
"Lo cantik, Sha?" tanya Getta tidak yakin.
"Cuma orang buta yang bilang gue jelek," jawabnya percaya diri.
Membuat semua orang tertawa mendengarnya. Marsa memnag terkenal dengan rasa percaya diri yang tinggi, mendeklarasikan bahwa dirinya perempuan paling cantik di sekolah. Padahal biasa saja menurut orang lain.
"Sirik lo semua," bentaknya tidak terima karena ditertawakan.
"Asli ngakak, pengen banget gue sawer," seru Getta yang membuat suasana kantin semakin riuh.
"Sawer Gett!" teriak salah satu murid.
"Berisik dih! atas yu," ajak Andra.
"Ngakuin aja sih kalo gue cantik, lo juga sebenernya suka 'kan sama gue?" Marsha berkata dengan percaya dirinya.
"Serah lu Mak Lampir."
Tanpa ingin mendengar celotehan Marsha, para Anak Onta pergi meninggalkan kantin menuju rooftop, tempat menenangkan diri disaat jenuh dengan pelajaran. Karena jika diladeni Marsha akan semakin menjadi dan akan selalu mencari bahan obrolan yang tidak berfaedah menurut mereka.