Konser Dadakan

1475 Kata
Keseruan mereka kini diusik kembali oleh tiga gadis yang dikataui sebagai adik kelas para Anak Onta. Disaat mereka sedang melakukan permainan tebak-tebakan dengan Gita dan Oncom. "Tebak-tebakan ya, yang kalah di olesin ampas kopi." Kenn menjelaskan peraturan permainannya. "Contohnya, gue yang ngasih pertanyaan, nah jawab satu persatu dulu, nanti yang jawabannya bener molesin ampas kopi ke yang salah," tutur nya secara detail. "Siapa takut," jawab mereka kompak. "Kita hompimpa," perintah Kenn. Mereka menjulurkan tangan sebelah kanan, membolak balikan tangan dengan bernyanyi hompimpa. Hompimpa alaihum gambreng Mak ipah pake baju rombeng Ke pasar gombrang gambreng Yang kalah mukanya coreng Tangan Gita, Andra, Kenn, Wildan dan Rian berada di posisi meminta. Sedangkan Hendrik dan Getta kebalikannya, punggung tangan mereka yang berada di atasnya. Hendrik dan Getta melakukan suit jari untuk mengetahui siapa pemenang pertama yang akan memberikan tebak-tebakan. "Suit sekali jadi!" Getta memenangkan suit dengan Ibu jarinya yang mengalahkan jari telunjuk Hendrik. "Dengerin baik-baik." Instruksinya pada semua. "Kalo dipukul, yang mukul malah kesakitan, apakah itu?" Getta memberikan pertanyaannya. Tampak semua orang yang mengikuti permainan sedang berpikir. "Tinju," jawaban Rian. "Kan adu jotos tuh," jelas Rian. Geta mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Voli," jawab Wildan. "Voli?" tanya Getta bingung. "Iya, maen bola voli 'kan kita yang mukul tangan kita juga yang sakit," jawab Kenn. "Oke, yang lain." Getta mempertanyakan jawaban yang lainnya. "Nabokin orang," jawab Andra asal. "Coba aja sini gue tabok, bukan cuma pipi lu yang sakit, tangan gue juga." Pikir Andra. "Nabok nyamuk di pipi. Bukan cuma sakit tapi kesel juga," jawab Oncom. "Oncom bener," sela Getta sebelum Hendrik menjawab. "Yah... Gue di coret dong," keluh Gita. Oncom mengambil gelas kopi yang hanya tinggal ampasnya saja, bersiap mencoret kan pada wajah semua teman-temannya yang kalah. "Sini, Sayang. Mama kasih bedak dulu bial tantik." Oncom memanggil Gita dengan gaya bicara anak kecil. "Jangan banyak-banyak, woy!" seru Gita yang melihat ampas kopi di tangan Oncom yang membuat para Anak Onta tertawa. Setelah itu Oncom kembali memasukkan jari telunjuknya pada gelas untuk mengambil ampas kopi lagi, kali ini giliran wajah Andra yang menjadi sasarannya. Termasuk Getta pun sama, karena pertanyaannya berhasil di jawab. Mereka tertawa bersama melihat wajah masing-masing. "Yok mulai lagi," ajak Rian yang tidak sabar untuk menang, Rian akan balas dendam pada Oncom. Ketika mereka melakukan hompimpa, tiba-tiba datanglah ketiga gadis yang entah dari mana asalnya. Membuat mereka menghentikan permainan yang sedang mereka mainkan. "Halo Kakak-Kakak semua," sapa ketiganya secara bersamaan. Para Anak Onta dan Oncom diam, hanya Gita yang menjawabnya, "Halo juga." Dengan tersenyum manis Gita menjawan sapaan mereka. "Hay, Gita. Kita boleh gabung gak?" tanya Sheryl. "Maaf tempatnya penuh, lain kali aja," ketus Wildan. "Disini masih muat, Kak." Dengan tidak tahu malunya Salsa duduk di sebelah Getta. Membuat Getta mendengus kesal. "Duduk aja kalo gitu," jawab Gita pada akhirnya. Karena percuma menurut Gita menolak keinginan mereka, tipe gadis bar-bar dengan tingkat kepercayadirian yang tinggi. Juga terkesan tidak tahu malu. "Makasih Gita," balas Kimmy dengan tersenyum manis dan duduk disebelah Hendrik. "Ini kok wajahnya kotor, Kak?" tanya Sheryl yang duduk di sebelah Rian dan hendak menyentuh pipinya. Spontan Rian menghindar. "Apaan sih lu? Gak sopan tau maen sentuh aja," ujar Rian tanpa perasaan. "Onta." Panggil Gita bermaksud mengingatkan. "Kita lagi maen tebak-tebakan," lanjutnya memberitahu apa yang sedang mereka lakukan. "Boleh ikutan?" tanya Salsa. "Ke depan yuk," ajak Andra tanpa menghiraukan pertanyaan Salsa. "Nyari pengamen yuk. Kita bagi-bagi kebahagiaan," usul Oncom yang jengah dengan sikap ketiga mahkluk astral yang entah datang dari mana. "Berangkat," seru Kenn semangat. Mereka bangun secara bersamaan. Andra mengulurkan tangannya untuk membantu Gita, hal itu tidak luput dari perhatian ketiga adik kelasnya. "Bersiin dulu muka nya oyy," perintah Gita pada Anak Onta nya. Wildan memberikan jaketnya pada Gita, "Pake ini aja, tisunya di mobil." Gita menerimanya dan mengusap wajah menggunakan jaket Wildan. "Berangkat." Getta merangkul pundak Oncom sehingga membuatnya kaget. "Kaget, Bege!" serunya yang membuat mereka tertawa. "Permisi," ketus Hendrik ketika melewati ketiga adik kelasnya. Mereka berjalan bersama secara bersisian, Getta, Oncom dan Kenn berjalan terlebih dahulu, disusul Andra Gita dan Wildan di posisi tengah. Di posisi belakang ada Hendrik, dan Rian. Sedangkan adik kelasnya hanya diam dengan perasaan kesal setengah mati, membuat mereka tertawa. "Kita ikutin." Salsa berjalan terlebih dahulu untuk menyusul Gita dan Anak Onta nya. Kimmy dan Sheryl mengikuti. "Tunggu, b**o!" bentak Kimmy kesal. "Lambat lu kayak siput," balas Salsa. *** Di tengah ramainya manusia yang berkunjung di Kota Tua, di sana Gita dan Anak Onta nya serta Oncom sedang menghampiri pengamen yang membawa gitar dan juga kendang kecil. "Bang saya sewa gitar sama gendangnya." Andra yang berbicara pada pengamen yang memegang gitar. Andra menyerahkan selembar uang bergambar presiden dan wakilnya. "Boleh, Bang!" jawabnya antusias. Pengamen itu menyerahkan gitar dan juga kendangnya. Wildan mengambil gendang kecil itu, karena Wildan yang akan memainkannya. Wildan tipe laki-laki dingin dengan senyum sinis di wajahnya, itu berlaku pada orang yang tidak mengenalnya secara dekat. Tapi di balik itu semua, wildan memiliki hati yang begitu rapuh. Keahliannya dalam musik adalah drumer dan sejenisnya. Remaja yang sudah tampan dari lahir itu sudah terkunci hatinya pada seorang perempuan Yang sudah berada di sisi Tuhan. Andra menyerahkan gitar pada Getta, semua Anak Onta bisa bermain gitar, tetapi di antara mereka berenam Getta lah yang paling mahir untuk alat musik petik itu. Kemampuannya setara dengan Bondan Prakoso mungkin. Karena Getta juga begitu menyukai gitar, Getta pun mengoleksi gitar di rumahnya sebagai bentuk hobinya. "Mau nyanyi apa?" tanya Getta setelah menyetel gitar yang akan dimainkannya. "Dangdut, Sebujur Bangkai" jawab Oncom langsung dengan menyebutkan salah satu judul lagu milik raja dangdut H.Rhoma Irama. "Serem amat, Com. Sebujur Bangkai. Yang lain deh," jawab Rian yang sebenarnya tidak tahu bagaimana lagunya. "Ya udah Setetes Air Hina," jawabnya santai. "Lu bisa nyanyinya?" tanya Getta. "Bisa, tapi gak Bisa." Jawaban Oncom membuat mereka bingung. "Yang bener mana, Com? Bisa apa kagak?" tanya Kenn. "Gue tau lagunya, tapi kagak bisa nyanyinya. Gue takut orang-orang pingsan kalo gue yang nyanyi," jawabnya penuh drama. "Si Pea!" seru Hendrik dengan mengacak-acak rambutnya. "Rambut gue, Onta!" keluh Oncom. "Lagu apa yang bener?" tanya Wildan memastikan. "Ya itu 'kan pake gendang, pasti dangdut dong? Gak mungkin pop apalagi Rock'," jawab Oncom lagi. "Nyanyi, Kak." Perintah Getta pada Gita. "Ogah! suara gue bengek," jawab Gita asal. "Kita nyanyi bareng-bareng." Andra pada akhirnya memutuskan. "Setuju," seru Oncom. "Gue tau lu gak bisa 'kan lagu dangdut?" tanya Oncom pada Rian. "Bisa gue," jawab Rian gengsi. "Ya udah kita nyanyi lagu Terkesima aja, punyanya Bang Haji Rhoma Irama." Saran Hendrik, karena hanya lagu itu yang mereka tahu. Setelah perdebatan kecil masalah lagu, akhirnya mereka bernyanyi lagu Terkesima secara bersamaan. Awalnya orang-orang disekitar mereka hanya melihat saja. Namun, semua berubah ketika mereka bergoyang bersama, karena banyak yang ikut bernyanyi dan bergoyang bersama. Layaknya konser kecil, Oncom, Andra, Kenn dan Hendrik juga Rian naik ke atas bangku semen yang mengelilingi pohon besar. Jangan tanya Gita ke mana, karena Gita tipe orang pemalu untuk hal seperti itu. Sampai ketika Andra menariknya pelan dan hal itu menjadi sorakan untuk orang-orang, yang mau tidak mau Gita ikut bergoyang pelan sebisanya. Mereka tertawa secara bersamaan, bahkan Kenn dan Hendrik mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu untuk menyawer Oncom yang sedang bernyanyi, yang ternyata mempunyai suara yang cukup bagus. "Yuhu!" teriak penonton yang melihat Andra mengeluarkan uang dari dompetnya. "Edas!! Gue di sawer," seru Gita yang ternyata di sawer oleh Andra dengan uang pecahan lima puluh ribu. "Tarik Bang Wildan," teriak Rian pada Wildan yang sedang memainkan kendang dengan semangat. Lagu pertama berhenti dan kini mereka memberikan kesempatan pada penonton jika ada yang ingin bernyanyi. "Ayok siapa yang mau nyumbang suara emasnya?" tanya Oncom ala-ala MC organ tunggal. "Saya mau." Salah seorang perempuan cantik dengan dandanan kasualnya mengacungkan tangan. "Boleh, Mbaknya siapa dan dari mana?" tanya Oncom yang membuat orang lain tertawa. "Dikira lagi audisi," ujar Rian tidak habis pikir pada Oncom. Teman Gita yang sekarang menjadi teman anak Onta pula, sosok perempuan tomboi yang begitu menyenangkan dan apa adanya. Tanpa rasa malu dan sangat bar-bar. "Cahaya, dari Velbak," jawab si Mbak dengan senyum manis. "Wow! Mau nyanyi Cahaya Kehidupan ya?" tanya Oncom yang membuat orang-orang kembali tertawa. "Kopi Dangdut," jawaban perempuan yang bernama Cahaya itu membuat para penonton kembali riuh. Lagu yang dinyanyikan dan di ciptakan oleh penyanyi Fahmi Shahab dengan musik yang membuat pendengarnya ingin bergoyang, lagu yang di rilis pertama kali di Jepang pada tahun 1991. Tidak banyak yang tahu bahwa lagu tersebut sebenarnya lagu plagiat dari 'Moliendo Cafe' asal Venezuela yang lisensi nya telah di ambil alih oleh lagu Kopi Dangdut. Itulah penuturan dari sang pencipta lagu yakni Fahmi Shahab. Getta dan Wildan mulai memainkan musiknya, Cahaya mulai bernyanyi yang membuat para penonton nya bergoyang kembali. Seorang laki-laki yang merupakan kekasih dari Cahaya maju ke hadapannya dan menyawerkan uang pecahan lima ribu rupiah. Membuat suasana semakin riuh, uang yang di sawerkan akan diberikan pada pengamen tadi. Kebahagiaan besar yang diciptakan Gita, Oncom dan Para Anak Onta dari hal sederhana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN