Lebih Nyaman

1427 Kata
Rasa penasaran yang begitu tinggi membuat ketiga gadis itu tidak kapok diabaikan oleh para Anak Onta. Mereka masih tetap mencoba mendekati para Anak Onta. Mencoba mencari tahu semua hal yang mereka sukai. Dan malam ini mereka mendapatkan jawabannya ketika mengikuti Kakak kelas yang mereka ikuti. Hanya ada lima orang di sana, karena Andra memilih berdiam diri di dalam kamarnya dibandingkan ikut berkumpul seperti biasanya. Jam 10 nanti Andra akan menjemput mantan kekasihnya. "Si Onta kenapa sih?" tanya Rian yang aneh dengan kelakuan sahabatnya. "Gak tau gue, orang dia gak cerita apa-apa," jawab Getta. "Coba tanya si Kakak," saran Hendrik. "Si Kakak lagi lembur terus kerjanya. si Onta juga kayaknya ngejemput deh," kata Wildan. "Bisa jadi sih, soalnya si Kakak pulang jam 10 malem ini." Kenn memang sempat berkirim pesan dengan Gita. "Kerja sampe malem gitu dapet duit berapa ya?" tanya Wildan yang tidak tega pada Gita. "Sehari dia dibayar 40 ribu, kalo lembur perjamnya di bayar 10 ribu. Lu kaliin aja," jawab Rian yang mengetahui itu dari Oncom. "Gaji pokonya 240 ribu, kalo tiap hari pulang jam 10 malem berati 600 ribu?" tanya Getta setelah menghitungnya. "Iyups," balas Rian. "Uang jajan gue sehari," gumam Kenn pelan. Mereka tidak habis pikir dengan hidup Gita. Uang yang di dapatkan Gita selama seminggu dirinya pulang di jam 10 malam, setara dengan uang jajan mereka selama satu hari. Mereka memuji bagaimana Gita bisa mengatur keuangan yang hanya cukup untuk jajan saja. Sedangkan yang namanya hidup di Jakarta itu tidak ada yang gratis, buang air pun bayar, hanya kentut mungkin yang gratis, itulah filosofi hidup di ibukota. Bahkan ada sebagian orang menyebut bahwa 'Ibukota lebih kejam dari ibu tiri. "Mangkanya Tuhan ngajarin kita harus selalu bersyukur," kata Hendrik mengingatkan. "Takbir," teriak Rian tiba-tiba. "Allahuakbar." Kompak mereka mengucapkan takbir. Itu menjadi kebiasaan jika di antara mereka ada yang mengingatkan tentang kata syukur. Karena mereka sadar, selama ini mereka lebih banyak mengeluh akan hidup. Dua bulan terakhir mereka lebih bisa menghargai akan arti uang dari Gita. *** Di belakang gerobak penjual minuman yang sedang digemari muda mudi, tiga gadis sedang mendengarkan percakapan para kakak kelasnya. Mereka rela menjadi penguntit hanya untuk mendapatkan sedikit informasi tentang hobi keenam anak Onta Gita. "Berarti si cewek tomboi yang waktu itu cukup berpengaruh buat mereka," ujar Sheryl. "Lu b**o atau gimana sih? Dari pertama kita kenalan juga udah keliatan kali," tukas Salsa. "Gimana kalo kita deketin dulu si cewek tomboi nya, jadi kalo mereka mau kumpul juga kita bisa ikutan." Kimmy mencetuskan idenya. Salsa dan Sheryl tampak berpikir untuk ide yang diberikan oleh Kimmy, cukup lumayan baik. Lagipula sepertinya Gita polos dan tipe gadis penurut. "Boleh sih, tapi gimana kita kenalan sama tuh cewek?" tanya Salsa. "Nanti kalo mereka kumpul lagi kita deketin tuh cewek, kita nya jangan deketin mereka dulu," beber Kimmy menjelaskan idenya. "Oke," jawab Sheryl dan Salsa kompak. *** Jam menunjukan 21.30, Andra bersiap untuk menjemput mantan kekasihnya. Sesuai syarat putus darinya, Gita tidak boleh menolak semua yang dilakukan olehnya jika itu untuk kebaikan Gita. Seperti menjemputnya ketika pulang kerja. Pekerjaan Gita sedang di buru-buru karena pihak buyer meminta kirim secepatnya. Jadilah selama seminggu ini Gita harus kerja lembur hingga jam 10 malam setiap harinya. Menuruni tangga setelah siap dan mengambil kunci motor matic nya yang baru saja kemarin datang dari showroom. Bukan untuk pamer, hanya saja motor yang biasa di pakainya sedang di bengkel. Berjalan menuju garasi, setelah memanaskan sebentar motornya. Andra mulai menjalankan motornya untuk menuju tempat kerja Gita. Me : Mau makan apa, Kak? Tanya Andra melalui pesan setelah sampai di tempat biasa ia menunggu Gita. Dari bawah Andra bisa terlihat Gita yang sedang membereskan area kerjanya. Masih kurang 10 menit bell untuknya keluar. Gita melihat Andra dari tempatnya berada, tersenyum dan mulai mengetikkan balasan untuk pertanyaan Andra. Gigit : Ngemil aja, gue udah makan tadi. Andra juga menerapkan larangan menolak segala perhatiannya. Maka dari itu ia akan menyebutkan apa saja yang bisa dimakan. Me : Gue belom makan Dari tempatnya Andra melihat Gita yang memelototkan mata padanya. Gigit : Udah malem, Onta. Ya udah lu mau makan apa? Me : Krapyak yuk? Gigit : Kalo masih ada ya. Me : Siap, Bos! Gita tidak lagi membalasnya, Gita berjalan menuju dalam tempat kerjanya, karena jam menunjukan kurang dari lima menit lagi untuk bell. Jika lembur jam pulang tidak harus tepat di jam yang telah di tentukan, kurang dari tiga menit mereka sudah boleh keluar. Gita berpisah dengan teman-temannya, dan menghampiri Andra. Tidak banyak yang lembur, karena harus bergantian, untuk saat ini hanya 10 orang yang lembur, hanya bagian dasar pembuatan bra saja. Minggu depan baru bagian dalam Inti dan juga buang benangnya. "Si Oncom gak lembur?" tanya Andra begitu Gita berada di hadapannya. "Dia dipindahin jadi anak potong jarum dua. Dia 'kan udah senior," jawab Gita. "Gue dikasih anak baru yang masyaAllah kerjanya lambat banget," keluhnya pada orang yang menggantikan posisi Oncom sebagai tukang potongnya. "Sabar Sayang, ini ujian," canda Andra dengan mengacak rambut Gita yang sudah kembali sedikit panjang. Gita memanyunkan bibirnya sebentar menanggapi kata yang keluar dari Andra. "Pulang yuk, pegel punggung gue." Gita naik ke atas motor setelah Andra memakaikan helm untuknya, bukan hanya Andra yang berlaku seperti itu, karena Anak Onta yang manapun jika menjemput Gita akan memperlakukan Gita seperti itu. Seusai bahasan melalui chat tadi, mereka mampir di penjual ayam Krapyak yang ada di lampu merah, kebetulan hanya tinggal tersisa lima potong ayam, dan Andra membeli semuanya karena tidak memakai nasi. Nasinya sudah habis terlebih dahulu kata penjualnya. "Beli jeruk anget dulu yuk," ajak Andra. "Pake duit gue ya," tawar Gita yang malu karena tidak pernah mengeluarkan uang, untuk semua makanan yang di makannya jika bersama para Anak Onta nya. "Gue cowok, Kak. Ya kali dibayarin cewek," tolak Andra seperti biasanya. "Kebiasaan, emang kenapa sih kalo lu cowok?" tanya Gita heran, karena jawaban mereka selalu sama. "Udah hayu, Pak kita mau beli jeruk anget dulu ya." Penjual paruh baya tersebut mengangguk, mereka berdua merupakan pelanggannya. Kembali menaiki motor untuk membeli jeruk hangat sebagai minuman pendamping ayam Krapyak. Setelah makanan dan minuman ada di tangan, mereka kembali meneruskan perjalanan pulang. Jam sudah menunjukan pukul 22. 20 ketika mereka sampai di kontrakan Gita. Andra tidak masuk karena waktu sudah malam, mereka duduk di depan rumah Yola. Konter milik Yola pun belum tutup karena masih banyak pembeli. "Udah makan, Teh?" tanya Andra pada Yola yang sedang duduk di bangku plastik di depan konter. "Udah barusan, Nasi masih banyak di dalem ambil aja." Anak Yola memang susah makan, suaminya pun tidak memakan nasi, jadi walaupun hanya masak satu gelas beras akan terpakai sampai dua hari. "Gue ambil nasi dulu." Gita berjalan ke dalam untuk mengambil nasi. Walau bagaimanapun Andra belum makan nasi, jadi Gita harus makan bersamanya. Dengan seperti itu saja Andra sudah cukup bahagia, Andra pun bisa merasakan bahwa Gita lebih nyaman dengan status mereka yang sekarang. Status baru sebagai teman setelah jadi mantan. Status hubungan yang belum diketahui oleh para Anak Onta yang lainnya. *** Sudah seminggu ini Gita bisa merasakan pulang sore hari, pekerjaannya tidak banyak, jadi Gita bisa sedikit santai. Sore ini anak Onta nya tidak ada yang menjemput karena harus mengikuti ekskul sekolah, sebagai gantinya nanti malam mereka akan menjemput Gita untuk berkumpul di tempat biasa. "Com malem lu ikut gak?" tanya Gita pada Oncom. "Hayu lah, bosen di kontrakan." Oncom memang tidak ada rencana kemanapun malam ini. "Gue telpon Anak Onta dulu." Gita mengambil handphonenya untuk menelpon salah satu anak Onta nya untuk memberi tahu jika Oncom akan ikut, supaya mereka menjemputnya menggunakan dua motor. "Ke depan yu, si Getta udah di jalan." Gita mengajak Oncom turun menuju depan rumah Yola, karena Getta sudah dalam perjalanan. Beruntung Getta membawa mobil, sehingga tidak masalah walaupun Oncom akan ikut. Mereka menunggu Getta di depan konter Yola. Malam ini konternya tutup karena Yola bersama suami dan anaknya pergi ke acara Gathering yang di adakan salah satu provider SIM card, mereka duduk di bangku plastik. Sekitar 10 menit Getta datang dengan berjalan kaki. "Bawa mobil ya?" tanya Gita setelah Getta berada di depannya. "Iya, Teh Yola mana?" tanyanya bermaksud untuk izin. "Pergi ke acara gathering, tadi gue udah izin." Gita memang sudah izin ketika ia pulang kerja tadi sore. "Jadi tinggal berangkat nih?" tanya Getta memastikan. "Iya, tapi tunggu si Oncom dulu lagi ke warung beli aer dingin." Sebelum Getta datang Oncom memang pergi ke warung belakang untuk membeli camilan dan air mineral dingin. "Woi!" Oncom datang dengan menepuk kencang bahu Getta, membuat Getta meringis pelan. "Sakit, Bangke!" seru Getta. "Tenaga lu gede amat sih?" Getta memegangi bahunya, yang hanya di jawab dengan cengiran oleh Oncom.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN