Andra Galau

1336 Kata
Seminggu dari kampung halaman Gita, para anak Onta kembali pada rutinitas seperti biasanya, hanya satu yang berada dari mereka yaitu Andra. Andra seperti kembali pada kegelapan dalam hidupnya, kembali tidak semangat seperti tiga bulan terakhir. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi setelah Gita memutuskan hubungan dengannya. Andra tidak menyalakan Gita, Andra lebih menyalakan kebodohannya. Wajar jika Gita marah sampai harus memutuskan hubungan kasih dengannya. Andra sudah terlalu sering membohongi Gita, dari identitas dan juga semua hobinya. Fatalnya ketika kemarin ia kembali bertaruh. Padahal ia sudah berjanji tidak akan kembali ke tempat itu, apalagi sampai harus kembali bertaruh yang sama saja dengan berjudi. Saat ini Andra sedang berada di rooftop sekolahnya, tempat khusus yang di bangun olehnya satu tahun yang lalu. Teman-temannya sedang belajar di kelas, karena ini memang jam pelajaran. Andra tidak mengikuti pelajaran kali ini, otaknya sedang tidak mau di ajak belajar, Andra sedang ingin sendiri dengan hembusan angin dari alam. Rooftop yang di desain oleh mereka semua, ada sofa lengkap dengan meja, Gitar dan juga drum set, toilet dan juga dua kamar tidur. Basecamp kedua setelah rumah Rian. Jangan berpikir Andra sering melakukan hal tersebut, ini untuk pertama kalinya selama ia menempuh pendidikan, Andra bolos dalam pelajaran. Untuk kali ini saja, Andra ingin merenungi semua kesalahannya. Terlalu lebay memang untuk anak seumurannya terlalu mendalami patah hati, tapi memang itu kenyataannya. Gita memutuskan hubungan dengannya, padahal selama tiga bulan ini, Gita lah yang menjadi sumber semangat, juga sumber perubahan sikapnya. Ingatannya berputar pada obrolannya dengan Gita tiga hari yang lalu saat Andra menjemput Gita. Gita mengajaknya pergi ke daerah Long Beach yang berada di kawasan Pantai Indah Kapuk setelah ia mandi. Duduk di atas lapangan dengan rumput hijau bersama banyaknya orang. Terdapat keripik kentang dan juga minuman cola favoritnya. Awalnya hanya obrolan biasa, hingga tiba saatnya Gita membahas tentang kebohongan Andra. Gita memang belum membahasnya sejak pulang dari kampungnya. "Kita putus aja, Ayy." Andra menoleh ketika mendengar ucapan Gita. "Kenapa, Ayy?" tanyanya yang mengira semuanya baik-baik saja karena Gita tidak membahasnya. "Lu tau gue gak suka dibohongin. Jangan lu kira gue gak tau lu bohong masalah kemaren," jawab Gita dengan mendongakkan wajahnya untuk melihat bintang yang hanya muncul sedikit, dengan kedua tangan di belakang sebagai penopangnya. "Gue minta maaf buat kemaren, gue ngaku kalo udah bohongin lu," ucapnya dengan sesal. "Tapi masa harus putus, gue gak mau serius." Andra berkata dengan posisi sama seperti yang dilakukan Gita. "Tapi gue rasa kita lebih nyaman temenan. Biar gue gak selalu mikirin lu," jujur Gita. "Maksudnya?" tanya Andra tidak mengerti. "Umur kita masih muda banget, gue gak pernah tau rasa yang gue punya buat lu itu apa? Tapi dengan status Kita yang pacaran, gue ngerasa kayak punya tanggung jawab mikirin lu. Lu lagi ngapain, di mana, ama siapa? Itu semua tiap hari ada, juga lu yang bohong itu buat kesel. Coba kalo kita cuma temen, seenggaknya gue gak terlalu mikirin. Dan hal itu ngebuat gue gak nyaman," tutur Gita yang membuat Andra tersenyum. "Tapi gue gak bisa," balas Andra Keukeh, "Oke kita putus sebagai pacar, tapi kita tetep jadi temen. Jangan larang apapun apa yang gue lakuin buat kebaikan lu, dan juga gue harus tau apapun kegiatan lu, gimana?" tawar Andra. "Sama aja dong? Kita cuma putus nama doang gitu?" tanya Gita dengan tersenyum geli. "Ya gitu," jawab Andra yakin. "Onta...Onta, sebenarnya apa sih yang lu suka dari gue?" Gita penasaran apa sebenarnya yang Andra lihat dari dirinya. Karena jujur saja, Gita juga terkadang risih dengan ucapan orang lain, yang mengatakan bahwa keluarganya menggunakan pelet. Karena dari mulai Yola, hingga kini menurun pada Gita yang selalu di lindungi oleh para laki-laki tampan dan kaya. "Apa ya?" tanya Andra balik. Karena sesungguhnya ia pun bingung untuk rasa yang ia punya. Rasanya ia hanya ingin berada di dekat gadis tomboi pemilik senyum yang teramat manis yang sekarang berada di sebelahnya. "Gue juga bingung. Cuma intinya gue seneng aja di deket lu. Lu beda sama yang lain, apa adanya gak banyak tingkah dan gak banyak mau. Intinya gue sayang sama lu," jawab Andra setelah berpikir. "Masa iya?" tanya Gita dengan nada menggoda. "Jadi resmi ya kita cuma temen?" tanya Gita kembali menanyakan status hubungannya. "Gue sebenernya gak rela, tapi kalo itu yang ngebuat lu nyaman gue terima, asal dengan syarat yang gue ajuin." Andra harus berlapang d**a bukan untuk menerima keputusan Gita. Karena bagaimanapun kenyamanan Gita lebih penting untuknya. "Makasih, Onta." Gita tersenyum manis pada Andra. "Seneng banget sih putus sama gue?" tanya Andra dengan menggoda. "Seneng mah enggak, cuma plong aja gitu rasanya," jawab Gita dengan kembali memandang langit. "Segitu tertekannya pacaran sama gue?" tanya Andra dengan lirih. "Maybe," dengan santai Gita berucap. "Apa yang buat lu tertekan hubungan sama gue?" Andra merubah posisi duduknya untuk menghadap Gita, ia ingin tahu sebenarnya apa yang menjadi masalah dalam dalam diri Gita. "Jujur gue risih sama omongan orang, Walaupun selama ini gue udah nutup kuping buat gak dengerin semuanya. Tapi tetep aja, omongan itu ada aja yang nempel di telinga. Juga gue ngerasa rendah aja di hadapan semua anak Onta, terutama lu. Tau lu anak siapa, status sosial lu. Itu buat gue gak nyaman. Gue pengen hidup damai tanpa omongan dari kanan kiri. Sama yang tadi gue bilang, kalo kita cuma temen, gue gak punya rasa tanggung jawab buat mikirin lu, ngejaga perasaan lu dan lain-lainnya," jawab Gita dengan menatap Andra. Andra memegang kedua tangan Gita dan menyatakan, "Maafin gue kalo selama ini gue gak ngerti sama perasaan lu, kita temenan sesuai yang lu mau. Tapi tetep di bawah pengawasan gue sama Anak Onta lainnya." Gita mencebikkan bibirnya, "Sama aja, Ta." Andra mengacak pelan rambut Gita, "Sayang banget gue sama lu, Kak," balas nya dengan senyum. "Gue enggak," ledek Gita. "Jahat banget sih? Gue cipok gosong lu." "Berani?" "Gak sih." Mereka tertawa bersama dengan tangan Andra yang tetap memegang tangan Gita. Sesekali memperhatikan banyaknya pasangan muda mudi dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang berpelukan, ada yang sedang tertawa, ada yang sedang berdebat, ada yang berkelompok dan ada juga yang berpasangan. Gita tahu bagaimana perasaan Andra, hanya saja Gita sudah tidak mau terlibat lebih jauh akan perasaannya. Kemarin, ibunya sudah bertanya siapa kekasihnya, dan Gita tidak menjawabnya. Gita hanya menjawab bahwa mereka semua temannya. Andra kembali tersenyum miring akan semua tindakan bodohnya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa harus selalu menuruti dan mengutamakan perasaan Gita. Terkadang ia pun berpikir, mungkin benar yang dikatakan orang-orang bahwa Gita memakai pelet untuk menarik perhatian orang-orang. Tetapi dengan segera ia menepis pikiran buruk tersebut. Gita pernah berkata bahwa jika seseorang memakai pelet itu tidak lebih dari 40 hari reaksinya, jika pelet itu didapatkan dengan cara di beli. Lain halnya dengan pelet yang dikerjakan sendiri, itu akan bertahan lama, itupun harus terus di kerjakan dengan cara berpuasa dan juga syarat-syarat tertentu. Gita pernah meminta mereka untuk membuktikan omongan orang-orang tentang dirinya. Gita pernah meminta para anak Onta nya untuk datang pada kiyai ataupun orang pintar lainnya untuk menanyakan tentang dirinya, apakah benar memakai pelet dan semacamnya atau tidak. Tentu mereka menolak dengan tegas, karena mereka percaya pada Gita. Karena mereka yang merasakan bagaimana cara berteman dan menempatkan diri di berbagai situasi. Gadis lucu dan manis yang begitu mereka sayangi walaupun baru kenal sebentar. "Gak tau kenapa gue bisa sesayang ini sama lu, Kak." Andra bergumam sendiri dengan memandangi cincin harga dua ribu rupiah yang di berikan Gita. Pada saat itu mereka sedang berjalan-jalan di daerah pasar malam. Gita berhenti di pedagang aksesoris berniat membeli tali rambut, memutar-mutar tempatnya untuk memilih, kemudian melihat ada dua cincin kaleng dengan ukiran garis-garis. Cincin pasangan berwarna silver dengan lingkaran warna hijau di ujungnya, dengan segera Gita membelinya. Saat itu mereka seperti bertunangan, Andra memakaikan pada jari manis Gita, Gita pun memakaikan pada jari manis Andra, setelahnya mereka tertawa dan memandangi secara bersamaan. Mengingat itu Andra kembali terkekeh pelan dalam kesendiriannya. Cincin yang ia pakai tanpa rasa malu, malah bangga yang ada ketika ia memakainya. Andra tidak mau melepaskan Cincin itu dari jari manisnya, hal itu juga sengaja ia lakukan agar Anak Onta yang lain tidak tahu jika hubungannya dengan Gita sudah berakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN