Pengalaman yang tak Terlupakan

1677 Kata
Beralaskan daun pisang tiga lembar dengan cara memanjang, nasi dituangkan diatasnya dengan siraman sambal jantung pisang, lalapan dan beserta lauknya. Duduk berbaris yang disebut 'Turji' yang artinya 'Tuur Hiji' atau dalam bahasa Indonesianya adalah 'lutut sebelah'. Maksudnya, satu lutut di depan satu lutut di belakang, posisi miring ketika makan, hal tersebut berguna agar semua orang kebagian tempat untuk makan. Sekitar 25 orang berkumpul di depan rumah Gita untuk makan bersama, itu untuk bagian orang dewasa, karena untuk bagian anak kecil dipisah. "Disiram sambel semua ya?" tanya Kenn yang memang tidak bisa makan pedas. "Itu yang pojok gak kok," jawab salah satu dari mereka. "Udah kumpul semua belum ini?" tanya Ibu Gita. "Udah kayaknya," jawab satu ibu-ibu lainnya. "Ini yang disebut makan bersama," ujar Getta dengan senangnya. "Pernah makan kayak gini gak, Tong? Kalo di Jakarta disebutnya 'kan Tong," tanya salah satu Bibi Gita. "Makan bersama di piring yang beda, Bu. Gak pernah begini," jawab Kenn. "Udah sekarang mulai doa dulu, ayo siapa yang mau mimpin? Rian?" Ibu Gita mempersilahkan pada Rian. "A Arif aja, Mak." Walaupun bisa, tapi tetap Rian merasa sungkan. "Doa masing-masing aja lah," jawab Arif. Akhirnya mereka berdoa masing-masing dan mulai makan nasi liwet secara bersamaan. "Awas lengen katuker wey!" ucap salah satu ibu-ibu karena banyaknya tangan yang sedang makan membuat semua orang tertawa. "Nyaho nyah, katuker repot urusanna," timpal yang lainnya lagi. "Enak gak, Tong?" tanya Bibi Gita. "Enak banget ini mah," jawab Hendrik dengan mengacungkan kedua ibu jarinya, diikuti Anak Onta lainnya. "Ikannya kasih ke sana aja, gue gak mau, gue ikan Peda aja." Andra memberikan Ikan Mas yang ada dihadapan pada Gita, baginya ikan Peda lebih terasa nikmat dibanding ikan Mas dan kawan-kawannya. "Pelan-pelan, Ta. Itu banyak tulangnya," tegur Gita pada Getta yang memakan ikan asin yang diberi nama japuh di kampungnya. Getta malah memakannya langsung dengan tulangnya, membuat Gita khawatir. "Ini enak, Kak. Gak terlalu asin," jawabnya tidak menghiraukan teguran Gita. Para anak onta begitu menikmati makan malam yang cukup terlambat itu, karena jam sudah menunjukkan pukul 21.43 wib. Mereka makan dengan lahapnya. Semua orang yang ada sesekali menertawakan Kenn yang sudah bercucuran keringat karena memakan sambal, yang setiap dalam suapannya Kenn berdoa semoga ia tidak masuk rumah sakit setelah ini, Tadinya Kenn tidak mau mencoba, tapi melihat para teman-temannya yang terlihat begitu nikmat akhirnya ia mau mencoba. Dan begitu memakannya ternyata rasanya enak, membuatnya ketagihan dan harus menahan rasa pedas, walaupun Kenn hanya menempelkan setitik sambal di ujung nasinya. "Bibir gue jontor." Kenn terus meniup-niup bibirnya sendiri yang terasa bengkak. "Lagian sok-soan, udah tau kaga bisa makan pedes masih aja maksain," ledek Wildan. "Abisnya enak," jawab Kenn dengan mengipas-ngipaskan tangannya. "Ya udah nikmatin aja," balas Hendrik. "Gak pada ngerokok yah?" tanya Arif sambil menyerahkan rokoknya. Saat ini mereka sedang duduk secara melingkar di depan rumah Gita dengan beralaskan karpet. "Gak, A. Sakit ke tenggorokan," jawab Rian. Para Anka Onta memang tidak ada yang merokok, mereka pernah mencoba beberapa kali, dan setiap kali mencoba pasti akan batuk. "Baguslah, mendingan kayak gitu. Susah kalo udah kecanduan mah." Nasehat Arif yang merasa sangat sulit untuk berhenti merokok. "Kenapa makanan disini semua enak-enak ya?" tanya Wildan dengan polosnya. "Sebenernya makanannya biasa, cuma yang bikin enak itu karena disini apapun selalu sama-sama. Aa walaupun cowok makan selalu sama-sama bareng Emak Abah, sama yang lainnya juga." "Iya enak banget jadinya, kekeluargaan banget. Jadi gak mau pulang, 'kan!" kata Geta. "Kalo di sana jagain si Gita ya, dia emang dari kecil gak punya temen cewek selain tetangga disini." "Tenang aja, A. Insyaallah kita juga selalu jagain kok," balas Andra. "Ini emang selalu rame kayak gini apa cuma weekend aja?" tanya Rian yang dari tadi fokus pada kacang rebus yang disediakan oleh Kiki. "Tiap hari juga kayak gini," jawab Arif jujur. Di depan rumahnya memang tidak pernah sepi, karena dikampung Gita banyak pemuda seumuran Arif. "Nanti kita boleh maen lagi gak, A?" tanya Kenn yang diangguki Anak Onta yang lainnya. Mereka memang betah, Andra malah sudah punya rencana akan membeli tanah di daerah itu. "Atuh kalo mau maen mah maen aja, jangan sungkan. Cuma kalo maen jangan suka bawa barang belanjaan apalagi sampe banyak-banyak gitu, Emak sama Abah selalu seneng kalo temen anak-anaknya pada maen. Itu tandanya kami diakuin jadi temen katanya," jawab Arif dengan tertawa pelan ketika mengingat perkataan orangtuanya. Husni dan Istrinya selalu berkata jika teman anaknya mau main kerumahnya, itu tandanya mereka diakui sebagai teman dan berarti kelakuan anaknya baik ketika berteman. "Makasih, A." Dengan kompak mereka mengucapkan kata terimakasih pada Arif. "Aa ke sana dulu." Arif menghampiri para pemuda yang berada di pos kamling, sedangkan para Anak Onta sedang menikmati kacang rebus dan juga teh hangatnya. Mereka tidak meminum kopi, karena di tempat Gita hanya ada kopi sachet, Gita melarangnya dan lebih memberikan teh hangat. "Buat selimut, Ta." Gita menyerahkan kain sarung pada para anak Onta nya, mereka akan tidur diluar bersama para pemuda lainnya. Entah itu tidur atau begadang sampai pagi, karena kebiasaan para pemuda setempat jika malam minggu akan bergadang sampai menjelang subuh. "Jangan begadang," titah Gita. "Siap, Bos!" jawab mereka dengan kompak. "Masukin tas, Ayy." Andra menyerahkan kunci mobil beserta dompetnya pada Gita. Gita menerimanya dan masuk ke dalam rumah untuk tidur, karena waktu yang sudah cukup malam. Sedangkan para anak Onta nya kembali melanjutkan permainan bersama para pemuda setempat. Karambol, catur, ada juga ada yang bermain kartu gaplek. Apalagi kali ini mereka bergadang dengan banyaknya makanan dan minuman yang telah disediakan oleh teman-teman Gita. Suasana berbeda dengan banyak pengalaman yang didapatkan oleh mereka berenam. *** Setelah mendapatkan pengalaman yang begitu berkesan bagi mereka semua, sore ini mereka akan pulang ke Jakarta bersama dengan Gita. Bagasi mobilnya cukup lumayan terisi dengan oleh-oleh yang diberikan orang tua Gita. Singkong dan daunnya, kacang tanah mentah dan juga yang sudah di rebus untuk camilan di jalan, kelapa muda, dan beberapa jenis pisang yang sudah siap makan, yang juga akan di berikan pada keluarga Yola. Berkali-kali mereka mengucapkan rasa terima kasih untuk semua pengalaman yang didapatkan, dan juga berjanji akan kembali lagi untuk memenuhi janjinya pada Kiki untuk liburan ke pantai. "Makasih Abah, Emak. Kami pamit pulang dulu." Mereka berpamitan dengan bergantian mencium punggung tangan orang tua Gita. Andra menyelipkan dua lembar uang seratus ribuan pada Abah Gita. Sedangkan Wildan pada Ibunya dengan nominal yang sama. "Gak usah, Nak. Buat bensin aja," tolak Abah dan Ibu Gita secara bersamaan. Namun, bukan anak Onta namanya jika tidak berhasil, hingga mau tak mau kedua orang tua Gita menerimanya. "Sama-sama, jangan kapok ya. Maen lagi nanti kalo punya waktu, Abah yang harusnya makasih sama kalian," balas Abah Gita. "Insyaallah kita bakalan maen lagi, Bah." Andra menjawabnya dengan yakin, karena Andra sendiri memang berniat akan kembali untuk main lagi. "Nanti kita ke pantai ya, Ki. Maaf kemaren gak jadi," sesal Hendrik. Sebenarnya mereka tidak berjanji, itu hanya rencana yang di sampaikan Gita pada Kiki, yang sepertinya di tanggapi antusias oleh Kiki. Hal itu yang membuat mereka merasa tidak enak. Jika saja di bolehkah oleh Gita besok mereka libur, tentu saja mereka akan dengan senang hati mengajak keluarga Gita berlibur ke daerah Anyer. "Gak apa-apa, Kak. Kakak juga gak janji sama Kiki." Kiki mengerti bahwa mereka tidak berjanji, mereka hanya berencana pada Gita, dan kebetulan Gita mengajaknya kemarin. Kiki pikir akan terlaksana, tapi ternyata teman-teman Kakaknya lebih menyukai memanen kacang dan singkong dari pada jalan-jalan ke pantai. Padahal Kiki dan Gita sangat menyukai pantai. "Gita mangkat hela, Bah, Mak." Gita pun ikut menyalami kedua orang tuanya. Setelah itu mereka pergi menuju mobil masing-masing. "Itu Emak bikin 3 nasi timbelnya, nanti makan bareng di rumah Teteh ya," pesan ibu Gita. Kebiasaan ibunya jika anaknya pulang pasti dibuatkan nasi timbel daun pisang. Kali ini menggunakan padi yang baru digiling dari hasil panen, atau yang disebut dengan 'Pare Anyar' dengan lauk ikan Gurame yang semalam tidka di masak, tempe goreng, sambel terasi, jengkol goreng, dan juga lalapan daun singkong. Andra, Wildan, Getta dan Gita berada dalam satu mobil dengan Andra yang menjadi supir. Sedangkan Rian, Kenn dan Hendrik berada dalam satu mobil dengan Hendrik yang menjadi supir. Mobil yang di kendarai Andra berjalan terlebih dahulu, setelah sebelumnya membunyikan klakson sebagai bentuk kesopanan, disusul mobil yang di kendarai Hendrik yang juga membunyikan klakson. Mereka berangkat setelah melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu. Untuk daerah ibukota Jakarta, macet sudah pasti terjadi walau hari libur sekalipun. Perjalanan kali ini memerlukan waktu sekitar tiga setengah jam lamanya. Mereka berangkat setelah sholat ashar terlebih dahulu. Selain macet, Andra juga mengendarai nya dengan santai dan juga mampir terlebih dahulu di masjid ketika maghrib. Sedangkan mobil yang di kendarai Hendrik hanya mengikuti dari belakang layaknya mobil pengawal. Mereka sampai di tempat parkir mobil yang akan menuju kontrakan Gita tepat ketika adzan isya berkumandang. Menurunkan barang bawaan yang milik Yola, sama seperti milik mereka, hanya ditambah ada daun singkong kesukaan Gita, Hany dan juga Yola. Mereka berjalan secara beriringan menuju kontrakan Gita, Andra, Wildan dan Getta yang membawa barang-barangnya. Karena mobil yang di kendarai Hendrik belum tiba, dan mereka memutuskan untuk meninggalkannya. Karena merekapun sudah tahu letak kontrakan rumah Gita. "Assalamualaikum," sapa mereka bersamaan ketika sampai, Yola sedang duduk di bangku kecil di depan konter Pulsa miliknya. "Waalaikumsalam," jawabnya sedikit heran. "Kok bisa barengan?" tanyanya pada mereka semua. "Kita kemaren ikut ke kampung, Teh. Ini dari Emak sama Abah." Andra menyerahkan barang bawaannya pada Yola, begitupun dengan Wildan dan Getta. "Idih! Kok gak bilang sih?" tanya Yola dengan kaget. "Orang stress semua sih," jawab Gita dengan candaannya. "Ya udah bawa masuk, mau pada minum apa?" perintah Yola dengan diiringi tanya. "Aer putih dingin aja, Teh. Ini taro dimana?" jawab Getta dengan diiringi pertanyaan. "Taro di bawah tangga aja, timbelnya di buka dulu ya." Yola pergi ke warung setelah mengatakan itu. Mereka akan makan bersama setelah semuanya kumpul, hal yang selalu anak onta dapatkan terutama Andra, sejak mereka mengenal Gita. Karena keluarga Gita lebih mengutamakan kebersamaan dari pada individu. Keluarga yang selalu membuat para anak Onta nya iri akan kerukunan, keakraban dan keharmonisan satu sama lainnya. Bahkan dengan kakak iparnya pun mereka seperti pada kakak kandung sendiri, tanpa canggung dan sungkan, membuat para anak onta betah berlama-lama di dekat mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN