Malam datang dengan langit yang ditaburi jutaan bintang yang mengelilingi satu bulan sabit, lukisan Tuhan yang maha sempurna. Para anak Onta Gita sedang duduk di depan rumah Gita, bergabung dengan para pemuda lainnya.
Tadi sore pun mereka harus berpencar ketika akan mandi. Bukan karena tidak ada air, akan tetapi untuk menghemat waktu. Rian dan Kenn mandi di rumah bibi Gita yang berbada di belakang rumahnya. Wildan dan Hendrik mandi di rumah Paman Gita yang di samping rumah Gita. Andra dan Getta sendiri mandi di rumah Gita. Itu pun atas perintah para Tuan rumahnya, kasihan katanya kelamaan menunggu karena terlalu banyak orang.
"Lauknya mau beli apa aja, A?" tanya Andra pada Arif yang sedang membangun tungku untuk memasak liwet, mereka akan masak di depan rumah, hal baru lagi untuk mereka.
"Atuh terserah maunya apa?" tanya Arif balik.
"Biasanya pake apa?" Getta kembali melemparkan pertanyaan.
"Kita biasanya pake ikan asin, peda, japuh, atau apapun itu. Kalo abis gajian baru pake ayam kalo gak ikan," jawab Arif setelah selesai dengan kegiatannya.
"Ya udah hayu kita beli," ajak Andra semangat.
"Hayu, bawa motor aja."
Arif mengeluarkan motornya terlebih dahulu, Andra menghampiri anak Onta yang lainnya.
"Gue mau beli lauk dulu, lu mau pada ikut gak?" tanya Andra pada mereka semua.
"Fase pendekatan sama calon Kakak Ipar," ledek Rian.
"Siaul lu," balas Andra.
"Belinya pake motor?" tanya Getta.
"Iya," jawab Andra.
"Pake motor ngapain lu ngajak-ngajak, Nyet. Kita mau duduk di mana?" protes Hendrik.
"Ya kalo ada yang mau ikut 'kan kita bisa bawa mobil," jawab Andra santai.
"Iya juga sih," dengan polosnya Hendrik mengangguk.
"A, pake mobil aja. Mereka pengen ikut."
Gita yang mendengarkan percakapan anak Onta nya memberitahu kakaknya.
"Atuh hayu." Arif menyimpan kembali sepeda motornya.
"Gue mau disini aja, kita belum selesai bertarung." Wildan, Kenn dan Getta memang sedang bermain karambol dengan pemuda di sana.
"Ambilin kunci mobilnya, Ayy." Gita masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil kunci mobil milik Andra.
"Nih." Gita menyerahkan kunci mobil pada Andra.
"Ikut gak?" tanya Andra pada Gita.
"Gak lah," jawab Gita segera.
"Mau ikan apa?" tanyanya, karena Andra tahu Gita tipe pemilih dalam makanan.
"Biar A Arif yang milih, jangan beli banyak-banyak, secukupnya aja." Gita tahu bagaimana kelakuan anak Onta nya yang tidak pernah sayang terhadap uang.
"Siap. Bos!"
Andra, Rian, Hendrik dan Arif pergi menuju pasar untuk membeli lauk. Pasar yang buka 24 jam setiap harinya, pasar tradisional yang becek dan bau, tapi tidak masalah, Karena itu keinginan mereka sendiri. Pasar yang jaraknya sekitar delapan kilometer dari rumah Gita.
"Beli ikan apa aja, A?" tanya Andra lagi dengan membelokkan setir ke arah kanan sesuai instruksi Arif.
Arif tampak berpikir sejenak sebelum menjawabnya, "Mau nya ikan apa? Mau ayam, ikan mas, gurame, mujair, bawal. Itu mah terserah kalian. Asal jangan lupa beli ikan asin aja," jawab Arif.
"Beli aja semuanya," jawab Hendrik enteng.
"Jangan lah, kebanyakan. Sayang kalo gak ke makan," balas Arif mengingatkan.
"Si Gita 'kan suka ikan mas ya? Terus buat yang di rumah juga sukanya ikan apa? Biar bisa makan semuanya gitu." Andra memikirkan takutnya ada yang tidak suka dengan ikan yang di belinya.
"Dia mah semuanya juga suka, asal jangan udang aja." Arif mengingat jika Gita memang alergi udang.
"Ya udah solusi terbaik emang beli semuanya, lima kilo aja per jenisnya," timpal Rian.
"50 kilo sekalian, biar bisa Aa jual balik," canda Arif yang mendengar saran dari Rian, kompak mereka tertawa mendengarnya.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di area pasar, mereka turun secara bersamaan. Pasar yang membuat mereka harus menahan napas karena bau, sesekali Hendrik menggosok hidungnya untuk menutupi bau yang begitu menyengat. Pasar yang penataannya benar-benar berantakan, karena pedagang ikan bersebelahan dengan pedagang sandal dan juga warteg.
Rian bergidik ngeri membayangkan harus makan di warteg tersebut dengan bau yang begitu menyengat. Mereka memutuskan membeli ayam utuh yang sudah di potong sebanyak tiga ekor, beberapa jenis ikan yang masing-masing dua kilo, cabai, tomat, bawang merah, timun, ikan teri dan juga ikan asin peda, tidak lupa juka jengkol muda dan juga pete sebagai tambahan lalapan.
"Segini cukup, A?" tanya Andra pada Arif.
"Ini buat satu Rt juga cukup," jawab Arif heran.
Di kampungnya paling juga ayam satu ekor atau ikan mas dua kilo. Tapi sekarang, mereka malah membelinya banyak sekali.
Setelah di rasa cukup mereka kembali ke mobil dengan menenteng kantong belanjaan. Rian menghentikan langkahnya di depan pedagang buah semangka dan melon, Rian membeli dua buah melon berukuran sedang, dan satu buah semangka dengan ukuran cukup besar. Arif menggelengkan kepala melihat kelakuan teman-teman Gita. Andra menyerahkan kunci mobilnya pada Hendrik yang diterima dengan sempurna oleh Hendrik.
"Pulang nih?" tanya Hendrik entah pada siapa.
"Pulang lah, udah harus mulai masak ini," jawab Arif yang sudah tidak ingin membeli apapun lagi.
sejujurnya Arif merasa tidak enak pada teman-teman adiknya karena belanjaan yang begitu banyaknya. Mereka menghabiskan tiga ratus dua puluh tujuh ribu dalam sekali belanja, dan itu setara dengan gaji Gita dalam satu minggu bekerja.
"Buat minumannya apa, A?" tanya Rian pada Arif yang duduk di sebelah Hendrik.
"Aer putih aja, pake es. Kalo gak pake tejus," jawab Arif.
"Tejus apaan?" tanya Andra heran.
"Minuman serbuk rasa teh," jelas Arif.
"Oh, kenapa gak beli yang botolan aja? Cola kek, atau apa gitu. Si Kakak suka minuman cola," saran Andra.
"Ini aja belanjaan udah banyak, jangan di tambahin lagi. Nanti si Gita marah loh." Arif tidak mau keluarganya dicap aji mumpung yang memanfaatkan kesempatan.
"Gak apa-apa, A. Kita gak setiap hari kok," jawab Rian.
Tanpa perintah Hendrik langsung membelokkan setir mobil ke sebuah mini market, begitu mobil berhenti Rian langsung turun untuk membeli minuman dan juga rokok, karena tadi mereka melihat Abah dan kakak Gita merokok. Setelah selesai Rian kembali masuk ke dalam mobil dan Hendrik kembali menjalankan mobilnya menuju ke rumah Gita.
Dalam perjalanan Arif banyak bercerita tentang keluarganya, para anak onta sesekali melontarkan pertanyaan. Perjalanan yang seharusnya hanya 15 menit menjadi 30 menit karena jalan yang cukup rusak.
***
Mobil yang dikendarai Hendrik telah tiba di halaman rumah tetangga Gita, Arif dan ketiga anak Onta turun dan berjalan ke belakang mobil untuk mengambil lauk yang tadi mereka beli. Tungku api sudah menyala dengan panci besar di atasnya, itu daun singkong tadi siang yang sedang di rebus, bahan pertama yang di masak. Gita keluar datang dari gang kecil pemisah antara rumahnya dan rumah pamannya, dengan membawa wadah dari bahan bambu yang di dalamnya terdapat beras yang sudah di cuci nya.
"Berapa liter?" tanya Arif pada Gita.
"Tiga liter setengah, banyakan orangnya," jawab Gita dengan menunjukkan wadah bambu yang disebut dengan baboko. "Banyak amat? Beli ikan apa aja, Ta?" tanyanya pada Andra.
"Mujair, bawal, mas, gurame, Ayam, sama ikan asin." Andra mengabsen ikan yang dibelinya.
"Ngabis-ngabisin duit aja, Lu!" decak Gita.
"Apa sih? gak tiap hari ini," jawabnya santai. "Ini bawa ke mana?" tanya Andra yang merasakan pegal pada tangannya.
"Ke belakang aja," perintah Gita.
Andra dan Rian membawa ikan ke belakang rumah Gita untuk di bersihkan. Terlihat beberapa perempuan datang membawa pisau masing-masing untuk membantu.
"Lu ke depan aja," perintah Gita pada dua anak Onta nya. Para perempuan muda yang melihat teman-teman Gita berdecak kagum, dan begitu iri pada Gita.
"Bisaan menangken na mah," ujar salah satu sepupu Gita.
"Menang timana eta?" tanya yang satunya lagi.
"Di pasar," jawab Gita asal.
Tanpa mau menanggapi para sepupunya, Gita berjalan masuk meninggalkan mereka yang sudah pasti akan membicarakannya. Gita harus menyelamatkan para pemuda di kampungnya dari hukuman permainan karambol yang sedang di mainkan oleh mereka semua. Ingatkan dirinya tentang Getta dan Wildan yang ahli dalam permainan tersebut. Hukuman yang diberikan adalah berupa jongkok sampai salah satu ada yang kembali melakukan kesalahan.