Tehnik Mencabut Singkong

1207 Kata
Betapa indah dan damai nya hidup di kampung. Pohon-pohon besar yang melindungi dari paparan sinar matahari yang begitu membuat hawa menjadi panas, kicauan suara burung saling bersahutan, hembusan angin yang terasa begitu menyejukkan, hamparan sawah yang sedang tumbuh hijau begitu memanjakan mata. Suasana seperti ini yang selalu diinginkan oleh para anak Onta Gita. Suasana nyaman dengan sikap tenggang rasa yang begitu tinggi. Tidak hanya indah dimata, tapi indah dirasa pula. Hal yang tidak pernah mereka temukan dalam hidup mereka. Apalagi untuk seorang yang bernama Andra Adi Putra Angkasa. Silsilah keluarganya asli dari Jakarta yang membuatnya tidak mempunyai kampung halaman seperti yang lainnya. Maka Andra tidak pernah merasakan yang namanya momen pulang kampung pada umumnya warga Indonesia. Salah satu hal yang membuat Andra tidak bersyukur. Akan tetapi itu dahulu kala sebelum kedua orang tuanya berpisah, karena semenjak mereka memilih meninggalkan Indonesia, Andra tidak pernah lagi merasakan kumpul keluarga walaupun disaat hari raya. Dan hal itu sering di manfaatkan Andra untuk ikut pulang ke rumah salah satu temannya. Walaupun yang merayakan Idul Fitri hanya dirinya dan Rian saja. Namun, tetap saja jika idul Fitri tiba, maka seluruh kegiatan di liburkan, membuat Getta, Wildan, Kenn dan Hendrik pun ikut merayakannya. Mereka akan pergi ke Bandung menuju rumah Rian untuk merayakan idul Fitri bersama. Andra begitu menikmati momen langka dalam hidupnya, berada di kampung yang seperti impiannya selama ini, dan lebih spesial lagi kini ia berada di kampung halaman kekasihnya. Tidak hentinya ia berucap syukur dalam hati menyadari keberuntungannya kali ini. Walaupun sebenarnya perasaannya sedikit cemas, karena Gita tidak membahas sama sekali masalah dirinya yang pergi ke tempat raja bola. Andra mencoba berpikir positif jika Gita sudah melupakan hal tersebut. "Enak banget, pulen lagi." Komentar Rian pada singkong goreng yang baru saja di kunyah nya. "Kacangnya masih fresh, jadi manis rasanya." Getta mengomentari kacang rebus nya. "Di Jakarta singkongnya gak seenak ini ya?" tanya Wildan. "Kan semuanya baru, Ta. Jadi rasanya juga beda," jawab Gita. "Ini ukuran singkongnya bisa segede paha gue loh," tutur Gita membuat Hendrik melongo tak percaya. "Masa iya, Kak. Mengadi-ngadi lu," sanggah Hendrik. "Dih, gak percaya. Abis ini kita cabut singkongnya ya, biar lu tau." Tantang Gita yang di setujui oleh semuanya. "Kecil," jawab Hendrik dengan sombongnya. "Awas aja kalo sampe gak kecabut," ancam Gita. Mereka melanjutkan memakan makanan yang tersedia, makanan sederhana, sehat, dan begitu murah, tetapi rasanya mengapa begitu nikmat? Itu yang ada dalam pikiran mereka semua. "Ini kenapa bisa enak kayak gini ya?" tanya Andra lagi dan lagi yang masih merasa aneh. "Suasananya, Ta. Ini 'kan yang lu mau dari dulu?" tanya Gita, karena Andra seringkali menceritakan tentang keinginannya. "Bisa jadi sih, sumpah gue betah banget." Andra memang merasa begitu nyaman di kampung halaman Gita. Andra sudah sering meminta Gita agar mengajaknya ketika ia pulang kampung, tetapi sesering itu pula Gita menolaknya karena malu. Bukan malu karena penampilan Andra, melainkan karena di umurnya yang baru 15 tahun sudah membawa laki-laki. Walaupun di kampungnya itu merupakan hal yang lumrah, dan sebagai bukti bahwa dirinya masih disukai oleh lawan jenis. "Hayu Kak, katanya mau bantu nyabut singkong," ajak Kiki pada Hendrik. "Weh, siap atuh. Kuy berangkat!" Hendrik dengan semangat mengikuti Kiki disusul dengan yang lainnya. Mereka berjalan lebih ke dalam kebun untuk mencabut singkong. Di Sana sudah ada Abah dan ibunya Gita, juga kakak laki-lakinya. Terdapat dua lahan dengan ukuran 15x5 meter, lahan pertama berjejer rapi pohon singkong. Sedangkan lahan kedua berjejer rapi pohon pisang. Untuk tanaman yang lainnya terdapat di bagian depan. Kebun yang merupakan milik dari saudara jauh orang tua Gita. Hasil yang di dapatkan akan di bagi dua bersama pemilik kebun. "Betapa kayanya negeri ku ini," decak kagum Kenn yang melihat betapa suburnya semua tanaman disekitarnya. "Bisa gak nyabut nya?" tanya Arif kakaknya Gita. "Kecil, A. Masa iya gak bisa," jawab Hendrik dengan sombongnya. "Cabut yang itu," tunjuk Arif pada salah satu pohon singkong. "Siap." Hendrik berjalan menuju singkong yang yang akan di cabut nya, dengan percaya diri Hendrik memegang batang pohon singkong yang hanya sebesar gagang sapu ijuk. Hendrik mulai menariknya, tetapi ternyata tidak bisa. "Kok susah ya?" tanyanya polos. "Sosoan sih," cibir Wildan yang berada di sebelahnya. "Serius susah." Hendrik masih mencoba menarik batang pohon singkong ditangannya. "Liatin nih." Arif mempraktekkan cara mencabut singkong dengan mudah. "Tangan kanan di bawah, tangan kiri di atas, posisinya saling berhadapan kayak gini. Jongkok dikit, terus tarik. Bae-bae kentut." Mereka memperhatikan penjelasan Arif, dan tertawa mendengar kata-kata terakhirnya. "Oh, salah tehnik rupanya, pantesan gak bisa-bisa." Komentar Hendrik. "Semuanya pegang satu-satu batangnya," perintah Arif pada para anak Onta Gita. Dengan patuh mereka langsung melaksanakannya. Mereka mulai memegang batang singkong seperti yang di ajarkan oleh Arif, menarik napas dan mengumpulkan tenaga sebelum mencabutnya. Hendrik berseru dengan senangnya ketika ia berhasil. Hanya berisi tiga singkong dalam batang yang dicabutnya, tetapi semuanya besar. "Ini namanya singkong roti, sama kayak yang tadi kalian makan. Itu kenapa rasanya pulen, 'kan?" jelas Arif. "Barisan yang ini namanya singkong karet." Arif menunjuk dua baris sebelah kanannya. "Bedanya apa dan ngebedai nya gimana, A? Perasaan sama aja," tanya Getta. "Kalo di makan kayak kenyal gitu tekstur nya, gak pulen kaya yang roti. Dari warnanya juga beda, kalo yang karet warnanya cagak kuning, kalo yang roti putih s**u. Dari awal nanemnya kan udah di pisahin biar gak repot," jelas Arif yang membuat mereka mengangguk paham. "Ini dimakan mentah juga enak loh," ujar Gita. "Ya kali, Kak. Dimakan mentah?" tanya Rian tidak percaya. "Lu mah gak percaya, nih." Gita mengambil singkong yang paling kecil dan sepertinya masih muda. Mengupasnya dan mencucinya, setelah itu dimakan olehnya yang menimbulkan bunyi krauk krauk. "Enak?" tanya Andra tidak yakin. "Cobain aja." Gita menyodorkan singkong yang dimakannya. Andra menggigitnya sedikit dan merasakannya. "Manis ya?" Andra menunjukkan ekspresi herannya. "Emang iya," jawab Gita. Andra kembali menggigit singkong yang berada di tangan Gita. Menghabiskan singkong mentah bersama Gita yang ternyata rasanya manis dan cukup enak menurutnya. Hal itu menjadi perhatian para anak Onta lainnya. Hendrik membantu Kiki yang sedang memotek daun singkong yang tadi mereka ambil sampai selesai. Setelah itu Mereka membawa hasil cabutan nya ke bale bambu untuk kemudian dibersihkan. Sama seperti kacang, singkong pun akan di bawa ke pasar oleh Abah nya Gita, karena itu Memnag sudah menjadi pesanan penjual di pasar. Sedangkan daun singkong jika hanya sedikit biasanya akan di bagikan pada tetangga yang mau. "Pada nginep 'kan? tar malem kita masak nasi liwet." Arif berkata setelah menyimpan barang bawaannya. "Mau tidur di mana?" tanya Gita. "Di luar aja, banyakan ini," jawab Arif. Dikampung mereka selalu diadakan masak nasi liwet bersama setiap malam Minggu atau setiap mereka ingin. Dan Arif merupakan ahli dalam hal tersebut. Bakat santri salafi yang pernah ditempuhnya dulu membuatnya begitu pandai memasak dan mengaji. Para pemuda akan berkumpul di pos kamling yang berada di depan rumah Paman Gita untuk bergadang setiap malam minggunya. "Emang boleh, A?" tanya Kenn. "Boleh lah, banyakan ini. Kalo malam tambah rame disini, AA mau ambil jantung pisang dulu buat sambelnya." Arif kembali memasuki kebun untuk mencari jantung pisang. Karena tradisi nasi liwetnya itu harus menggunakan jantung pisang yang di campurkan dengan sambel. Kenikmatan yang hakiki menurut Gita. Arif kembali dengan membawa dua buah jantung pisang. "Hayu pulang, udah mau ashar. Bawa semuanya ya." Mereka semua kembali ke rumah Gita untuk mandi dan melaksanakan sholat ashar. Memutuskan untuk menginap karena sudah diizinkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN