Panen Kacang

1394 Kata
Setelah makan siang bersama yang sangat terasa berbeda bagi para anak Onta, terlebih bagi Andra. Andra seolah menemukan surga baru yang membuatnya sangat iri terhadap Gita. Keluarga Gita sangat akur terlebih orang tuanya sangat baik dan juga menyenangkan. Makanan sederhana yang terasah begitu nikmat di lidah mereka. "Gue gak nyangka, Kak. Kalo lu bisa masak," ujar Wildan untuk yang ketiga kalinya. "Tempenya abis," keluh Hendrik. "Masih ada kok, tar Kiki ambil dulu." Kiki bangun dari duduknya dan berjalan kembali ke dapur untuk mengambil tempe goreng. "Ini ikan teri nya enak serius," kata Andra yang kembali mengamati ikan teri jengki di tangannya. "Lu udah ngomong berapa kali, Ta?" tanya Gita. "Gak tau, tapi emang enak," jawab Andra dengan tetap memperhatikan ikan teri yang di pegang nya. "Makan ikan asin udah pernah, Kak?" tanya Kiki. Andra tersenyum mendengar pertanyaan Kiki, bukanya sombong tapi memang ia tidak pernah makan ikan asin sebelumnya. "Kayaknya gak pernah deh," jawab andra pada akhirnya. Andra kembali melanjutkan makannya dengan semangat. "Gak makan seminggu ya?" ledek Rian pada Andra yang biasanya selalu ogah-ogahan dalam makan, yang tidak ditanggapi oleh Andra. "Ini enak serius!" celetuk Kenn tiba-tiba yang mengangkat ikan teri juga. "Kita juga tau," jawab mereka semua kompak. "Abis ini ikut Abah ke kebon belakang," ucap Abah Husni yang dari tadi memperhatikan teman-teman anaknya. Husni menyadari jika teman anaknya kali ini dari kalangan yang berbeda. Terlihat dari cara makan mereka dan juga rasa kagum mereka pada makanan sederhana. "Siap, Bah." Dengan kompak mereka berkata. Mereka melanjutkan makan dengan semangat, menambahkan nasi dan juga lauknya. Bukan tidak pernah makan makanan seperti itu, hanya saja entah mengapa rasanya begitu berbeda dan lebih nikmat. Apalagi Andra yang bahkan tidak mengetahui adanya ikan kecil bernama teri jengki, yang ternyata rasanya enak. Juga cara makan sayur yang tidak menggunakan sendok, melainkan diseruput seperti minum. Pengalaman yang menakjubkan bagi mereka semua. Kampung halaman Gita tidak seasri desa pada umumnya, hanya saja terasa begitu nyaman. Benar kata teman-teman kakaknya Gita yang betah berada disini, karena mereka pun merasa betah. Setelah selesai makan, mereka ikut merapikan semuanya, bahkan Wildan berniat untuk ikut membantu Kiki mencuci piring, yang tentu di tahan oleh Ibunya Gita. Mereka diiring menuju ke kebun belakang rumah Gita. Terdapat satu rumah kosong yang terlihat sangat sejuk tetapi kesan angker tidak bisa di pungkiri. Di depannya terdapat bale bambu. "Wow! Adem banget ya," seru Getta senang. "Tempat maen gue waktu kecil ini, dulu mah gak kayak gini," jelas Gita. "Itu pohon Ambon, dulu diatasnya rumah pohon tempat gue merenung." Gita mengenang masa kecilnya. "Lu bisa naek pohon gede gitu?" tanya Kenn penasaran. "Waktu kecil gue maennya di atas pohon. Tuh lu liat pohon jambu yang itu," tunjuk Gita pada salah satu pohon jambu batu. "Disitu banyak ukiran-ukiran hasil karya tangan gw pake piso dapur." Gita tersenyum kala mengingat masa kecilnya yang sering ia habiskan di atas pohon jambu. "Kalah anak Enyet!" ledek Wildan dengan tertawa pelan. "Gue waktu SD dikatain monyet rabies malah." Kenang Gita. "Dulu, di sekolah SD ada pohon jambu sama kayak gitu, nah itu jadi daerah kekuasaan gue. Terus ada Kakak kelas yang gak suka sama gue, karena katanya gue jelek. Nah berhubung gue di pohon jambu mulu, jadi setiap gue lewat pasti dia bilang monyet rabies." Cerita Gita yang membuat mereka mendengus mendengarnya. Alasannya yang tidak masuk akal. "Sekarang orangnya masih ada?" tanya Andra seperti kesal. "Udah pindah ke Bandung. Waktu itu gw liat dia jalan sambil nutupin muka, pas gue liat mukanya merah banget sama kayak bolong-bolong gitu," jawab Gita teringat pertemuannya dengan kakak kelas yang dulu katanya paling cantik. "Alhamdulillah, azab itu namanya!" ujar Rian dengan kesal. "Secantik apa sih orangnya?" tanya Wildan dengan nada mengejek. "Ya secantik cewek-cewek pada umumnya," jawab Gita asal. Kiki datang dengan membawa teko berisi cola dan juga baki yang berisi gelas, disusul oleh Hendrik yang datang membawakan camilannya. "Itu ya kacang yang mau dipanen?" tanya Hendrik setelah meletakkan piring di atas bale bambu. "Iya," jawab Kiki. "Nanti ajarin Kakak buat nyabut nya ya," pinta Hendrik pada Kiki. "Kursus gak gratis ya?" canda Kiki. Adik yang tepat di bawah Gita ini memang tipe orang yang humble dan juga menyenangkan. Mereka pun cepat akrab dengan Kiki, berbeda sekali dengan Hany yang walaupun sudah beberapa kali bertemu, tetap merasa canggung. "Pinter, Ki." puji Andra. "Ini kita gak jadi ke pantai?" tanya Gita membuat mereka menepuk keningnya secara bersamaan. Mereka melupakan rencana yang telah di susun semalam, bahwa hari ini mereka akan mengajak Gita ke pantai. Gita begitu menyukai pantai, maka dari itu semalam mereka berencana akan mengajaknya ke daerah Anyer. Andra sudah tidak asing dengan daerah Anyer, karena salah satu hotel yang berada di bawah naungan Angkasa Grup. Yang berarti hotel tersebut milik Andra sendiri. Salah satu hotel termewah di deretan pantai Anyer. "Mau sekarang?" tanya Andra. "Cape lah, mendingan disini aja. Kita panen," saran Gita yang disetujui oleh yang lain kecuali Kiki. "Huh! Kiki mah udah siap-siap dari semalem," tuturnya. "Aduh kasian, minggu depan aja gimana? Kakak janji deh." Andra berkata dengan jari yang di bentuk huruf V. "Awas bohong," ancam Kiki. "Kayak Abang sama Adek lu," cibir Rian pada Andra. "Calon Adek ipar gue, 'kan?" jawab Andra dengan bangganya. "Sekolah dulu yang bener, Ta." Gita menoyor kepala Andra. "Pala gue, Bege!" seru Andra yang membuat yang lain tertawa. "Hayu mau bantuin Kiki panen gak?" tanya Kiki yang sudah bersiap untuk memanen. "Berangkat!" teriak Hendrik yang membuat Rian memukul bahunya karena kaget. "Berisik Bege!" bentak Wildan yang berada tepat di sampingnya. Akhirnya mereka turun bersama untuk ikut membantu panen, kecuali Gita dan Andra. Karena Gita takut ada ulat bulu nantinya. Jadi tugas Andra adalah memotong tangkai untuk dirapikan, dan Gita yang bertugas untuk mengikatnya. Karena Kacang yang sudah diikat dan di bersihkan akan dibawa ke pasar oleh Abah Husni. Setelah Gita lulus sekolah, Abah nya memang beralih profesi menjadi pemasok barang dagangan di pasar, seperti pisang, kacang, singkong, daun pisang dan sebagainya. Hasilnya memang tidak banyak, tetapi daripada nganggur, itu menurut Abah nya. "Mantap! Gue dapet tangkai yang banyak isinya." Hendrik berseru dengan senangnya ketika mencabut tangkai kacang yang berisi banyak. "Gue juga dapet dong." Kenn tak kalah bangganya memberitahu hasil cabutannya. "Weh! Punya gue paling banyak." Rian mengangkat hasil cabutannya yang berisi lebih banyak. "Punya gue paling sedikit." Getta berkata dengan lemas membuat mereka semua tertawa. "Punya gue dong yang paling banyak." Andra mengangkat wadah dari anyaman bambu yang berisi kacang. Membuat mereka semua bersorak. Mereka tertawa secara bersamaan, pengalaman pertama yang sangat berkesan bagi mereka semua. Keseruan tidak hanya terjadi sampai disitu, Fani datang dengan membawa satu baskom kecil kacang yang sudah di rebus, dan juga singkong goreng yang di rebus sebelumnya. "Iye Teh Dangdeur na." Fani meletakkan barang bawaannya di atas bale bambu. "Hatur nuhun, Neng." Andra yang bisa mengucapkan kata terima kasih dalam bahasa Sunda pun mempraktekkan nya, walaupun terdengar lucu ketika ia mengucapkan itu. "Sami-sami, A." Fani pergi setelah mengatakan itu. "Dimakan dulu itu keju khas Sundanya," ucap Ibunya Gita dengan candaan. "Bisa aja si Emak. Makasih ya, Mak. Kita jadi ngerepotin disini," balas Andra yang sedikit sungkan. "Gak ada yang di repotin, Emak seneng kalo anak Emak punya banyak temen, walaupun cowok semua. Karena emang dari kecilnya dia gak punya temen cewek," tutur Ibunya Gita. "Cuci tangannya dulu di sumur itu," tunjuk nya pada sumur di kebun sebelahnya. Seperti prajurit yang diperintahkan oleh komandannya, para anak Onta Gita pergi menuju sumur, Getta menimba pelan sumur itu untuk mendapatkan air. Dengan bergantian mereka mencuci tangan. Air sumur yang terlihat begitu bersih dan juga menyegarkan, mereka tidak hanya mencuci tangan, melainkan mencuci wajah juga. "Pengen mandi gue jadinya, adem banget aernya." Wildan berkata dengan berkali-kali membasuh wajahnya. "Mandi sih, Ta. Sumur ini di pake kalo di rumah mesin aernya mati," tutur Gita. "Berarti termasuk mandi juga disini?" tanya Kenn penasaran. Gita mengangguk membenarkan, "Gantian mandinya, lagian ini juga 'kan di tutup sekelilingnya. Terus di luar juga ada yang jagain, takut ada yang ngintip." Gita menjelaskan keadaan sekitar sumur tersebut. "Lagian warga disini gak ada yang jail kok," sambungnya lagi. "Gak kebayang gue," timpal Andra yang memang sulit membayangkan hal tersebut. "Gak usah di bayangin, yang ada pikiran lu kemana-mana," kata Rian. "Gue gak semesum itu ya," sanggah Andra. "Jangan dibayangin, Ta. Hayu balik," ajak Gita untuk kembali ke tempat tadi. Mereka semua mengekorinya dengan rapi untuk menuju bale bambu yang sudah terdapat keju khas dari sunda, apalagi jika bukan singkong goreng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN