Kepolosan Andra

1379 Kata
Mobil yang dikendarai oleh Rian dan Getta sudah memasuki kawasan kampung halaman Gita. Mereka sengaja tidak menelpon Gita, karena ingin mencari tahu dengan sendiri. Mereka kembali bertanya di pertigaan jalan yang terdapat banner sebuah sekolah MTS Nurul Iman yang disebutkan tukang ojek pangkalan. Dan juga kembali bertanya pada orang-orang yang terdapat di bengkel sebelum masuk ke kampung Gita. "Lurus aja, di depan ada pos kamling disitu rumahnya," jawab salah satu laki-laki dewasa yang Rian tanya di bengkel tersebut. "Makasih, A. Saya permisi dulu." Dengan sopan Rian berpamitan dan meneruskan perjalanannya. Dan disinilah mereka sekarang. Mobil mereka parkirkan di depan rumah Paman Gita, yang berada tepat di sampingnya yang ternyata sebuah warung kecil. Ada sekitar lima orang yang sedang duduk di sebuah bale bambu. Orang-orang saling pandang ketika mobil berhenti di depannya, apalagi ketika para Anak Onta Gita keluar dari dalam mobil. "Assalamualaikum," salam Andra dan Rian secara kompak. Mereka mulai menyalami satu persatu bapak-bapak yang sedang duduk dengan pandangan bingung. "Waalaikumsalam," jawab bapak-bapak dengan kompak. "Nyari siapa, Dek?" tanya salah satu bapak-bapak yang memakai kaos salah satu partai. "Maaf, Pak. Ini bener rumahnya Gita?" tanya Andra dengan sopan. "Oh, iya bener. Ini rumahnya," jawab bapak-bapak berkepala botak menunjuk samping rumahnya. "Neng, geroken si Gita. Aya baturna Kitu," perintahnya pada anak kecil berusia 10 tahun. Gita datang dari dalam rumahnya, masih menggunakan baju tidur dengan rambut yang di cepol tinggi. "Kesini, Ta!" ajaknya pada anak Onta nya. "Ke sana dulu, Pak." Izin Andra pada semuanya. "Silahkan-silahkan," jawab para bapak-bapak. Sebelum melangkah ke rumah Gita, mereka kembali ke mobil terlebih dahulu untuk mengambil barang bawaannya. Gita sudah bisa menebak apa yang akan mereka ambil, pasti anak Onta nya membawa belanjaan berjenis makanan dan minuman. Dan benar saja, mereka membawa satu kantong masing-masing berisi makanan dan minuman di tangannya, membuat Gita menggelengkan kepala melihat kelakuan para anak Onta nya. "Repot banget sih lu semua?" kata Gita. "Repot apa sih? Ini bawain ke Bapak-bapak itu gih." Andra menyerahkan kantong yang berisi beberapa bolu pada Gita. "Kana piringken Neng, terus bawa ka ten Mamang," perintah Gita pada adiknya. "Orang tua lu dimana?" tanya Getta yang belum melihat orang tua Gita. "Lagi di kebon tadi mah," jawab Gita. "Gelar tiker nya dulu, Ta." Gita menyerahkan tikar pada Hendrik, yang langsung di gelar olehnya. "Ada tamu ternyata," ujar Abah Gita tiba-tiba dari dalam rumah. Membuat mereka kembali bangun untuk bersalaman. Fani yang memberitahukan pada Abah dan Emaknya bahwa teman-teman Gita sudah datang, sehingga sekarang Abah Gita bisa menemui mereka. "Sehat, Bah?" tanya Rian. "Alhamdulillah, sehat. Ini dari Jakarta?" tanya Abah Husni. "Iya, Semalem kita nginep di Baleraja, Bah. Mau nganterin sampe rumah udah malem, gak enak kata si Kakak." Wildan menjawab dengan diiringi senyum. "Minum, Ta." Gita datang membawakan air putih dan juga mengeluarkan barang bawaan mereka, memasukkan pada piring yang tadi dibawanya. "Ini Kiki ya?" tanya Hendrik pada Kiki. "Iya, Kak." Kiki menyalami Anak Onta satu persatu, Gita yang sering menceritakan tentang Kiki membuat Anak Onta sedikit tahu, dan juga wajah yang memang mirip. "Kampungnya adem, Bah. Enak," kata Kenn yang sedari tadi merasakan sejuknya angin yang berhembus. "Kita malah punya villa pribadi di belakang," ujar Gita tiba-tiba. "Serius ada Villa?" tanya Andra. "Serius lah," jawab Kiki yakin. "Lagi panen kacang tanah juga di belakangnya," sambungnya lagi yang membuat mereka semua penasaran. "Rumah sodara yang gak di isi, adanya di kebon. Tanahnya di tanemin kacang tanah, singkong, pisang, cabe, sama tomat." Abah Husni menjelaskan maksud perkataan Kiki. "Widih, keren itu. Mau ikutan panennya dong," seru Getta dengan semangat. "Istirahat dulu, lanjutin ngobrolnya, Abah mau masuk dulu," pamit Abah Gita. "Hayu Kak kita panen kacangnya," ajak Getta dengan tidak sabarnya. "Apa sih, Ta. Baru juga datang," balas Gita yang membuat Getta mendengus. Kiki datang dengan membawa teko yang sudah di beri es batu. "Ini masukin kesini ya, biar dingin." "Wih, cakep. Makasih, Dek." Andra membuka dua botol cola yang dibawanya, menuangkan kedalam teko yang berisi es. "Bapak-bapak di sana pada minum kayak gini gak? Kasiin aja, takutnya mau," saran Andra. Gita mengambil satu botol minuman bersoda warna merah dan memberikannya pada bapak-bapak yang berkumpul di bale depan rumah pamannya. Dan kembali lagi berkumpul dengan mereka semua. "Lu belom mandi, Ayy?" tanya Andra yang melihat Gita masih menggunakan baju tidurnya. "Enak aja! Gue mandi dari subuh, abis masak ini gue," jawab Gita bangga. "Emang bisa masak?" ledek Rian. "Tidak percaya sekali Anda," dengus Gita. "Masak aer ya?" ledek Kenn. "Siaul, gue masak banyak loh. Ada sayur asem, teri kacang balado, tempe goreng, sambel terasi, ikan bawal. Dan itu semua gue yang masak." Gita berkata dengan bangga. "Gue juga kali," celetuk Kiki membuat mereka tertawa. Mereka melanjutkan obrolan sampai tiba waktu dzuhur. Rian dan Andra pergi ke mushola bersama Abah Gita, sedangkan yang lainnya menunggu di rumah Gita. Mereka akan makan bersama setelah sholat dzuhur nanti. "Ini lagi pada datang bulan ya? Kenapa gak ikut sholat?" tanya Ibu Gita tiba-tiba. Karena Ibunya memang belum mengetahui agama keempatnya. "Kita non muslim, Mak." Hendrik berkata dengan tersenyum. "Oh, aduh Emak minta maaf ya. Emak gak tau!" Ibu Gita merasa bersalah. "Gak apa-apa, Mak." Getta menjawab dengan tersenyum, memaklumi karena ibu Gita memang tidak tahu. "Emak mah kebiasaan, kalo ada temen anak-anak Emak, kalo gak sholat Emak suruh aja. Maaf ya!" "Gak apa-apa, Mak. Si kakak juga begitu kok kalo si Andra sama si Rian gak sholat. Kita suka liatin terus ngikutin juga, lumayan buat olahraga," jawab Kenn. Karena memang mereka suka mengikuti gerakan sholat Rian ataupun Andra, karena itu untuk olahraga menurut Hendrik. "Assalamualaikum," salam Andra, Rian dan Abah Husni yang baru pulang dari mushola. "Waalaikumsalam," jawab mereka kompak. "Mana ini nasi sama lauknya? Kok belum siap sih?" tanya Abah Husni. Gita datang membawa sebakul nasi dan juga setumpuk piring, Andra yang melihatnya langsung menghampiri dan mengambil tumpukan piring dari tangan Gita. "Kenapa gak satu-satu sih, Kak?" tanya Andra khawatir. "Sudah biasa," jawabnya enteng. Kiki datang dengan membawa sepiring tempe goreng dan senampan ikan bawal. Andra mengikuti Gita ke arah dapur untuk membantu membawa makanan yang lain nya. Andra membawa sepanci kecil sayur asem, Gita membawa setumpuk mangkok dan sendok, sambal terasi dan juga teri kacang balado. Kiki kembali datang dengan membawa air kobokan. Karena Abah dan Emaknya tidak suka makan memakai sendok. Sayur pun tidak memakai sendok, melainkan di seruput seperti minum air. "Ini ikan teri 'kan ya namanya?" Andra menunjukkan ikan kecil yang berlumuran bumbu balado. "Ini anak ikan apa ya?" tanyanya dengan polos dan membuat Kiki tertawa. "Anak ikan bawal kali, Kak." Mereka tertawa mendengar jawaban Kiki. "Serius? Tadi pagi juga soalnya beli ikan ini, tapi lupa gak dimakan. Kata Ibu penjualnya namanya teri Jengki, jengki bukannya jengkol ya?" tanyanya lagi dengan polos. Andra memperhatikan ikan kecil itu dengan seksama sebelum memasukkan ke mulutnya Orang tua Gita tersenyum mendengar pertanyaan polos dari Andra, mereka menyimpulkan bahwa Andra belum pernah makan makanan seperti itu. "Andra pasti belum pernah makan kayak gini ya?" tanya Abah Gita. "Pernah kalo yang lain, kecuali anak ikan bawal ini," jawabnya polos, Andra percaya pada Kiki bahwa itu adalah anak ikan bawal. "Cobain, Ta. Enak loh serius, gue gorengnya gak terlalu kering." Gita menyendok kan dan menaruhnya di piring Andra. "Di sawah kadang-kadang suka ada, Kak. Emak suka ngambil kalo mereka lagi datang pake dok-dok." Dok-dok sendiri merupakan alat untuk menangkap ikan kecil-kecil yang berada di sawah, terbuat dari jaring yang di jepit di kanan kirinya oleh bambu kecil berbentuk huruf V. "Eh serius, Ki? Bukan di kolem gitu ternaknya." Lagi-lagi Andra bertanya polos dan mulai memakannya, "Eh iya enak," ujarnya setelah menelannya. "Kalo di kolem mah di ternak, kalo di sawah mah mereka datang sendiri," jawab Kiki bermaksud pada ikan sawah kecil-kecil yang sama persis dengan ikan teri, di daerahnya di sebut ikan Paray "Lu mau aja dibohongin si Kiki." Andra melotot mendengar ucapan Gita. Sedangkan Kiki dan yang lainnya tertawa melihat kepolosan Andra yang tidak tahu ikan teri. Mereka makan dengan nikmat dan mengikuti cara makan keluarga Gita. Nasi dan lauknya di satukan dalam satu suap, sedangkan sayurnya di minum langsung dari mangkuk tanpa menggunakan sendok. Mereka akui makan seperti itu lebih terasa nikmat. Makan yang diiringi dengan obrolan ringan dengan masakan sederhana dan pastinya nikmat. Mereka tidak menyangka, di balik tomboi nya penampilan Gita, ternyata gadis itu pintar memasak. Hal itu menambah rasa kagum dan sayangnya mereka pada Gita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN