Kegiatan Gita

2257 Kata
Matahari beranjak naik memulai kembali tugasnya untuk menyinari bumi. Setelah sholat subuh tadi, Rian dan Andra tidak melanjutkan tidurnya. Mereka lebih memilih berjalan pagi untuk mencari sarapan, juga untuk mengetahui tempat mereka berada sekarang. Meninggalkan empat temannya yang masih tidur dengan nyenyak. Setelah berjalan sekitar 200 meter dari hotel, mereka menemukan banyaknya tenda-tenda pedagang di sepanjang jalan. Saat ini mereka berjalan ke samping Kiri, yang ternyata jalan menuju kawasan pabrik dan juga penghubung ke gerbang tol Baleraja barat. Yang artinya, seharusnya semalam Andra belok ke arah kiri dari pintu keluar tol. Tapi semalam Andra lurus menuju lampu merah, belok kanan dan belok kanan lagi, baru sampai di hotel. "Sarapan apa ya?" Andra berpikir sarapan yang nikmat untuk pagi ini. Di kanan kiri jalan berjejer gerobak pedagang, bubur ayam, siomay, nasi uduk, nasi putih biasa berserta lauknya, ketoprak, mie ayam dan banyak lagi. "Gue mau beli ketoprak aja." Tanpa menunggu Andra yang masih berpikir, Rian segera menghampiri gerobak penjual ketoprak. "Tunggu, Nyet!" seru Andra yang melihat Rian jalan terlebih dahulu. "Gue mau nasi kuning deh." Andra berbelok ke sebelah kanan tempat penjual nasi kuning lengkap dengan lauknya. "Bu nasi kuningnya satu," pesannya pada pedagang paruh baya. "Lauknya apa, A?" tanya si ibu pedagang. "Telor balado, ini ikan apa, Bu?" tanyanya heran pada ikan kecil-kecil. "Oh, ini teri jengki balado, A. Di campur sama kacang," jawab si ibu dengan senyum. "Ini enak loh," promosinya. "Mau deh, tapi di pisah ya. Di bungkus aja, sama ayam serundeng nya juga." Andra membeli lima bungkus nasi kuning dengan lauk yang di pisah. "Beli berapa?" tanya Rian yang sudah mendapatkan ketopraknya. "Beli lima," jawab Andra dengan mengangsurkan selembar uang seratus ribuan. "Gue beli tiga." Rian mengangkat bungkusan ketoprak yang dibelinya. "Ya udah gak apa-apa, tinggal pilih 'kan berarti," balas Andra. Beberapa orang yang sedang makan di warung tersebut memperhatikan keduanya. Jarang sekali di pagi-pagi buta seperti ini mereka melihat laki-laki tampan. Terlebih para abege labil yang sedang ganjen-ganjennya. "Ini, A." Ibu pedagang menyerahkan uang kembalian pada Andra. "Terima kasih ya," ujarnya lagi. "Sama-sama." Setelah itu mereka kembali berjalan menuju hotel. Jam baru menunjukkan pukul 6.15 wib, masih terlalu pagi untuk hari libur seperti ini. Berhenti sebentar di warung kecil untuk membeli air mineral dan juga di stand penjualan jus. Kebiasaan Andra yang harus meminum jus di pagi hari tidak bisa di lewatkan. Seperti tadi, mereka pun membeli enam jus dengan rasa yang berbeda. Persahabatan mereka tidak pernah mengukur uang, siapa yang keluar dialah yang membeli makanan dan minuman. Tanpa pernah berhitung uang yang di keluarkan, dan bertanya uang siapa? "Pagi-pagi makan berat," ujar Rian yang biasanya hanya memakan roti di pagi hari. "Berat apanya?" tanya Andra. "Asupannya," jawab Rian. "Makan besi sama baja, baru berat!" timpal Andra dengan enteng, membuat Rian mendengus. "Itu keras, Nyet!! seru Rian. Mereka telah tiba di lobby hotel, mengangguk pelan pada orang yang tersenyum. Mereka akan check out di jam delapan pagi nanti. Rian berjalan menuju kamar yang ditempatinya bersama Kenn, dan Andra pun berjalan menuju kamar sebelahnya bersama Hendrik. Mereka akan berkumpul di kamar yang di tempati Rian dan Kenn untuk sarapan. "Bangun woi! Udah jam tujuh ini," teriak Andra di kuping Hendrik. "Sakit, Bege!" serunya dengan kesal dan menutup kepala menggunakan bantal. "Gak bangun gue cabut bulu kaki lu," ancam Andra yang membuat Hendrik langsung bangun. "Lu kayak emak-emak kurang belanjaan sumpah," gerutu Hendrik dengan kesal. "Bawel dih! Mandi sono, kita sarapan di kamar si Onta." Entah onta yang mana, yang pasti salah satu diantara mereka. "Jam berapa?" dengan mata yang masih terpejam Hendrik menundukkan kembali kepalanya. "Bangun, Nyet! Mandi sono," Andra menarik bantal yang menjadi sandaran kepalanya, lalu ia pukul kan pada Hendrik. "Sike!" bentak Hendrik. Andra berlari keluar kamar sebelum Hendrik membalasnya, sekarang tinggal membangunkan dua Kebo lainnya, yaitu Getta dan Wildan. Kamarnya berada di sebelah kiri, tanpa mengetuk pintu, Andra masuk ke dalam dan mendapati kedua sahabatnya masih berbagi selimut dengan nyenyak nya, hal itu menjadi sasaran empuk bagi Andra untuk membangunkan sesuka hatinya. "Woi! Bangun-bangun!" teriak Andra dengan menyiramkan air pada wajah Getta dan Wildan, membuat keduanya langsung bangun karena siraman air tersebut. "Anjing!" teriak Wildan kesal. "Bangun, Nyet!! Udah jam delapan pagi ini," ujarnya dengan masih menyiram-nyiramkan air pada keduanya. "Basah, Bege!" seru Getta. "Lagian kaga mau bangun, udah siang ini, kita 'kan mau ke rumah si Kakak!" balas Andra tanpa dosa Dengan kompak keduanya berkata, "Masih pagi." "Si Pea, cepetan mandi. Sarapan di kamar si Onta." Andra pergi menuju kamar yang di tempati nya setelah membangunkan keduanya, untuk mandi dan bersiap-siap. Dengan malas, Getta dan Wildan mandi bergantian. Hari libur yang biasa mereka gunakan untuk tidur seharian, setelah bergadang semalaman, kini mereka harus bangun pagi-pagi untuk mendatangi rumah Gita. Setelah mandi mereka semua berkumpul di kamar Rian untuk sarapan. Dulu sebelum kenal dengan Gita, mereka tidak sekompak ini. Tapi sekarang, sejak Gita mengajarkan tentang pentingnya kebersamaan, mereka selalu ingin sama-sama dalam hal apapun, apalagi untuk kebaikan. Sebelum kenal dengan Gita, jika mereka mau makan ya tinggal makan, walaupun salah satu dari mereka ada yang belum datang. Tapi sekarang, mereka tidak akan memulai makan bahkan menyentuh pun tidak , jika di antara mereka ada yang belum datang. Dan lagi, hal itu terjadi karena seorang gadis bernama Anggita Purnama. Sedangkan di kamar yang di tempati oleh Rian dan Kenn, tidak terjadi keributan seperti yang di alami oleh Andra. Karena tidak ada drama teriak, jahil dan acara siraman air dari Rian kepada Kenn. Karena Kenn sudah lebih dulu terbangun akibat kantung kemih yang perlu dikosongkan. "Mandi, Nyet. udah mau jam tujuh," perintah Rian begitu keluar dari kamar mandi. "Ngantuk gue." Kenn berkata dengan wajah yang menahan ngantuk nya. "Mangkanya mandi biar seger," perintahnya lagi. "Bawel dih!" Kenn bangun dan langsung mengambil handuk yang disediakan oleh pihak hotel. Berjalan lambat menuju kamar mandi dengan mata yang sedikit terpejam. Rian menyiapkan sarapan yang tadi dibelinya bersama Andra, kamar yang sempit membuatnya bingung sendiri. Pintu terdorong dari luar dan menampilkan sosok Andra yang telah segar dan rapi, disusul Hendrik dibelakangnya. "Si Onta baru mandi?" tanya Andra begitu masuk. "Iya, eh disini sempit banget, Kita sarapan di mobil aja apa ya?" tanya Rian yang melihat kondisi tidak memungkinkan. "Ya udah, Gue nunggu di sofa lobby deh." Andra dan Hendrik kembali keluar untuk menunggu di lobby. Mereka akan sarapan di mobil, karena kamar yang mereka sewa terlalu sempit untuk makan bersama. "Ini mau langsung ke rumah si, Kakak?" tanya Hendrik yang baru selesai minum teh hangatnya. "Bawa apa ya?" tanya Andra bingung. "Belanja di Mini market aja, adeknya 'kan katanya banyak, kita bawain ciki dan lain-lain aja, gimana?" tanya Rian. "Jangan lupa beli buah-buahan," kata Getta. "Ya udah kita berangkat sekarang," ajak Wildan. Mereka semua berdiri dan pergi meninggalkan hotel. Andra Getta dan Wildan berada dalam satu mobil. Andra menyerahkan kunci pada Getta, karena Getta yang akan mengemudikannya. Sedangkan Kenn menyerahkan kunci pada Rian yang akan mengemudikan mobilnya. Rian yang memimpin jalan, dan berhenti di salah satu minimarket untuk berbelanja terlebih dahulu, sedangkan mobil Andra melaju ke depan untuk mencari tukang buah-buahan. Andra membeli berbagai macam buah dan juga jajanan ringan di pinggir jalan, sedangkan Rian membeli berbagai ciki dan minuman bersoda untuk mereka nanti di sana. Getta berjalan menuju toko kue untuk membeli beberapa bolu kesukaan Gita. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Gita dengan Rian kembali memimpin perjalanan. Begitu sampai di pangkalan ojek yang semalam mereka menurunkan Gita, Getta kembali turun untuk bertanya pada tukang ojek setempat. "Permisi, Pak. Mau numpang tanya, semalam Bapak yang anterin Gita ke rumahnya 'kan ya?" tanya Getta dengan sopan pada tukang ojek yang semalam mengantarkan Gita. "Oh, Iya A. Ada apa ya?" jawab tukang ojek bingung. "Saya mau tanya, kalo rumahnya Gita dari sini terus kemana ya, Pak?" "Oh, lurus aja ngikutin jalan ini. Nanti ada Banner nama sekolahan Mts Nurul Iman, di pertigaan jalan itu belok kiri, lurus lagi, ada bengkel kecil plus steam motor, belok kiri lagi lurus ada pos ronda itu rumahnya," jelas tukang ojek dengan detail. "Lurus, ada banner Mts Nurul Iman di pertigaan, belok kiri, lurus lagi, ada bengkel kecil belok kiri lagi." Getta kembali menyebutkan detail jalan menuju rumah Gita. "Iya, kalo gak tanyain aja rumah Abah Husni tukang ojek kalo gak tukang bubur, insyaallah dari sini sampe rumahnya tau semua," jawab tukang ojek. Getta mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Ya udah terimakasih, Pak. Kalo begitu saya permisi dulu." Getta menyalami bapak tukang ojek dan berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Mereka sengaja tidak akan menelpon Gita, karena mereka ingin berusaha mencari tahu sendiri rumahnya. Bermodalkan informasi dari tukang ojek tadi, sepertinya cukup mudah untuk menemukan rumah Gita. Ditambah tadi katanya dari mulai pangkalan ojek hingga rumahnya, hampir semua orang mengetahui Abah Gita, yaitu Abah Husni. *** Gita yang sudah bangun sedari subuh kini sedang berada di balik tungku api setelah melaksanakan sholat subuh nya. Ibunya terbiasa masak nasi dengan menggunakan kayu bakar. Jadi begitu terbangun di jam empat pagi, hal yang pertama ibunya lakukan adalah mencuci muka, dan langsung menyalakan tungku untuk memasak air terlebih dahulu, barulah setelah itu mandi dan bermusabah kepada yang Maha pencipta sampai menjelang waktu subuh. Memasak nasi menggunakan kayu bakar rasanya berbeda dengan menggunakan rice cooker, itu menurut abah nya. Maka dari itu, Ibunya selalu menggunakan media kayu bakar untuk memasak nasi dan air. Nasi yang sudah matang barulah di masukan pada magiccom agar selalu hangat. Sedangkan untuk lauk pauknya, lebih sering menggunakan kompor. Selain karena kayu bakar banyak, hal itu juga di gunakan untuk menghemat listrik dan gas yang dipakai. Hari ini Gita akan memasak lebih dari biasanya, karena para Anak Onta nya hari ini akan datang ke rumahnya, dan Gita juga akan menyiapkan menu masakan Sunda yang bisa di masak olehnya. Teri kacang balado, sayur asem, tempe goreng, ikan asin sepat, sambal terasi, dan juga ikan bawal goreng. Menu sederhana untuk para Tuan Muda. Dengan dibantu oleh Kiki, mereka masak berdua di dapur. Mereka selalu membagi tugas dalam pekerjaan rumah. Jika Gita menyapu halaman, maka Kiki yang akan mencuci piring. Kiki sedang mencuci piring, tugas Gita menunggu air hingga matang di atas tungku setelah tadi menyapu bagian dapur. Kegiatan seperti itu sudah mereka lakukan dari kelas empat sekolah dasar. Jam enam lewat nanti, Gita dan Kiki akan pergi ke warung untuk berbelanja bahan yang akan mereka masak. Di kampung halamannya, para pedagang akan pergi ke pasar di jam empat subuh, jadi kurang dari pukul tujuh pagi belanjanya sudah sampai rumah, dan ibu-ibu sudah berkumpul untuk berbelanja. Lewat dari jam tujuh disebutnya sudah kesiangan. Maka dari itu Gita dan Kiki harus berangkat lebih awal, di khawatirkan tidak kebagian bahan yang akan mereka masak. Tapi untuk bahan sayur asem, Gita tidak perlu membelinya, karena itu semua sudah ada di kebun yang di urus oleh ayahnya, dan hanya memerlukan tambahan jagung manis sebagai pelengkapnya. "Sia rek meli naon bae?" tanya Kiki ketika mereka jalan menuju warung. "Tempe, lauk asin sepat, teri jengki, kacang tanah, lauk bawal, jeng cabe bawang," jawab Gita. "Ngabadeg amat," kata Kiki. "Pan lobaan Oneng," balas Gita. "Jadi bahan omongan orang lain lu bawa temen cowok segala, udah mah keluarga kita heboh aja sama omongan ini itu, tambah aja heboh." Kiki berpikir nantinya ia yang akan pusing karena harus mendengar omongan dari A sampai Z omongan para tetangga, walaupun tidak ia hiraukan tapi cukup membuat kupingnya panas. "Bagus itu, seneng 'kan jadi bahan omongan. Apalagi lihat siapa aja yang datang, beh! Pasti rame aja pokoknya," balas Gita cuek, karena Gita sudah yakin dengan hal itu. Keluarga Gita memang selalu menjadi bahan omongan tetangga yang sirik. Karena mereka anak perempuan, kerja di Jakarta dan terkadang teman-temannya baik laki-laki maupun perempuan menyusul ke kampungnya untuk bermain. Dan rata-rata mereka berwajah tampan dan cantik dengan dompet yang tebal. Hal itu berlaku dari zaman kakaknya yang pertama kali kerja di Jakarta, dan sekarang giliran Gita. Apalagi nanti melihat mereka membawa mobil dengan wajah tampannya, sudah bisa di pastikan kembali keluarganya akan mendapatkan gunjingan dengan memakai pelet atau guna-guna. Padahal di kampung itu, hanya keluarganya yang tidak pernah berpuasa untuk kepentingan pribadi, selain puasa wajib. Dalam artian puasa untuk niat tertentu, bukan puasa atas perintah Allah. Juga di kampung itu, keluarga Gita yang rata-rata perempuan, menikahnya di usia 20 tahun ke atas semua, yang menurut warga setempat merupakan terlambat. Hal itu yang membuat Ibunya kadang menyarankan ikut berpuasa, yang katanya untuk membuka aura diri. Hal itu yang kadang di tentang oleh Gita beserta kakak-kakaknya. Gita dan kakak-kakaknya sepakat, jika aura diri atau yang sering di sebut dengan Inner beauty itu keluar dari hati yang bersih, tanpa harus berpuasa seperti itu, dan puasa itu cukup yang wajib dan sunnah karena Allah saja, bukan untuk hal macam-macam, itulah pendapat mereka yang membuat Ibunya hanya tersenyum. Ibunya sengaja memancing hal tersebut karena ingin mengetahui pikiran anaknya, bagaimana mereka menanggapi omongan orang-orang yang membicarakan keterlambatan mereka dalam menikah. Mereka sampai di warung yang di tuju, pemiliknya masih paman dan bibinya. Bibinya menyambut dengan hangat kedatangan keduanya. "Sehat, Bi?" tanya Gita setelah bersalaman dengan Bibinya. "Alhamdulillah, kapan datangnya?" tanya sang bibi. "Tadi malem, Bi." Gita menjawab dengan melihat-lihat bahan belanjaan yang sudah ia tulis. Banyaknya pembeli karena pamannya sudah datang dari pasar membuat obrolan mereka terhenti. Gita dan Kiki pun ikut membantu menurunkan barang belanjaannya dan mengambil list belanjaan yang akan mereka beli. Dengan cepat semua barang yang dibutuhkan sudah dipisahkannya, sekarang tinggal Antri untuk membayarkan. Gita menyerahkan uang pada Kiki, karena Kiki yang akan mengantri untuk membayarnya. Hal itu dikarenakan Kiki sudah terbiasa seperti itu, dan tidak akan sungkan menegur ibu-ibu yang mendahului antriannya. Sedangkan Gita tipe orang tidak enakan juga tidak tegaan, dan bisa-bisa mereka akan pulang siang jika Gita yang mengantri nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN