Waktu yang terus beranjak malam membuat Gita ingin cepat sampai di rumah kedua orang tuanya. Perjalanan tidak begitu melelahkan karena Gita tidak harus berdesakan dengan penumpang lainnya, karena Gita tidak menaiki angkutan umum, melainkan mobil salah satu anak Onta nya.
Sebenarnya bisa saja mereka menginap di rumah Gita, yang paling-paling mereka akan tidur di luar. Namun, dikampung Gita, semua hal selalu menjadi bahan omongan, walaupun tidak di nyinyir secara langsung, melainkan di belakang keluarganya. Apalagi keluarga Gita yang memang rata-rata bekerja di Jakarta, sedangkan anak para tetangganya kerja di kampung.
Mereka selalu berpikir tentang pergaulan yang bebas bila di Jakarta. Apalagi jika Gita pulang dengan para lelaki yang hampir sempurna walaupun masih remaja. Entah apa kata tetangga nanti.
Gita tidak mau membuat beban pikiran kedua orang tuanya jika sampai mendengar omongan yang tidak baik tentangnya dari para tetangga. Maka dari itu Gita tidak mengizinkan mereka untuk ikut malam ini ke rumahnya.
"Tadi eta babaturana, Git?" tanya tukang ojek yang bernama Sarmin yang memang mengenal baik keluarga Gita.
"Muhun, Mang." jawab Gita.
"Kunaon te dianterken sampe imah?
"Bisi di omongken Ken, Mang. Nyaho sorangan kumaha omongan ibu-ibu, apalagi pan keluarga Abah damel di Jakarta."
"Heuh sih, hese ari urusan jeng Awewe mah."
"Nya Kitu lah."
Setelah itu tidak ada obrolan lagi diantara keduanya, karena Gita sibuk membalas pesan dari anak Onta nya. Jalanan yang rusak membuat perjalanan menjadi lama, untung saja tidak hujan, karena jika hujan, sudah bisa dipastikan akan semakin lama.
Di jalan tadi anak Onta nya membelikan beberapa makanan dan juga buah-buahan untuk keluarga Gita, membuat Gita begitu kerepotan. Ransel kecil, tas tangan kain berisi peralatan sekolah, ditambah dua kantong plastik berisi makanan dan juga buah-buahan.
Setelah 15 menit menempuh perjalanan motor berhenti tepat di depan rumahnya yang masih ramai, padahal jam sudah menunjukan hampir setengah sepuluh malam. Kampung halaman Gita walaupun letaknya jauh dari jalan raya, tetapi selalu ramai.
Selain muda mudi juga banyaknya anak kecil yang selalu meramaikan kampung. Di tambah di depan rumah Gita memang dibuat pos kecil tempat nongkrong semua generasi.
"Yeay! Eteh datang," teriak Fani adik Gita yang kecil begitu Gita turun dari motor.
"Bawaken iye, Neng." perintahnya pada Fani. Setelah itu Gita mengeluarkan uang dari kantong celananya dan membayarkan ongkos ojeknya.
"Loba amat iye," serunya dengan semangat.
"Bawa kajero," perintahnya lagi yang langsung dituruti oleh Fani.
Fani dengan semangat membawa barang bawaan Gita bersama teman-temannya. Menyimpan di tengah rumah yang berfungi sebagai ruang tamu dan tempat menonton televisi.
"Assalamualaikum," sapanya ketika masuk ke dalam rumah. Abah dan Emaknya sedang menonton TV. Pasangan yang selalu romantis di setiap harinya. Selalu mengerjakan apapun secara bersama.
"Waalaikumsalam, peting amat?" tanya Emak Gita yang bangun dari tidurnya.
"Mangkatna Tos Maghrib, macet parah di jalanna," jawab Gita dengan mencium kedua tangan orang tuanya. "Emak, Abah. Sehat?" tanyanya dengan mendudukkan diri di sebelah Emaknya.
"Alhamdulillah, sehat. Kumaha kabar nu lain? tanya Abah Gita menanyakan kabar keluarga Yola dan keluarganya serta kakaknya yang lain.
"Alhamdulillah sehat, kamari Tos di puncak si Ace mah."
"Iye loba amat? Di tabung duit na, ulah pake babalanja Bae."
Ibunya Gita berpikir bahwa itu semua Gita yang membelinya, maka dari itu menasihatinya untuk menabung. Ibunya selalu berkata. Uangnya di tabung buat beli keperluan lain.
Emak sama Abah gak bisa beliin apa-apa dari dulu, jadi sekarang udah bisa cari duit sendiri beli apapun keperluan Gita. Karena itu uang Gita sendiri, asalkan barang itu benar-benar di butuhkan dan di pakai. Jangan hanya dibeli karena ingin saja.
Keadaan ekonomi yang sulit dan banyaknya anak membuat orang tuanya tidak bisa membelikan barang yang ia inginkan. Di masa sekolahnya dulu, Gita harus berjualan es lilin untuk jajan. Jika ingin membeli keperluan sekolah, Gita harus menabung terlebih dahulu untuk membelinya.
Abah nya hanya penjual bubur keliling, hanya dua liter perhari jualannya, dan itu hanya cukup untuk bayaran buku LKS dan makan sehari-hari. Karena untuk biaya per semester sendiri, Gita selalu mendapatkan beasiswa dari mulai kelas dua sekolah dasar.
"Iye menang ti babaturan, Mak. Tadi geh di anterken sampe pangkalan ojek. Ges peting, jadinya te di bawa ka imah," jelas Gita yang membuat Emaknya tidak lagi protes.
"Lalaki?" Gita mengangukan kepalanya, "Ulah Waka mawaan lalaki ka imah, laju be jadi omongan."
"Lobaan, Mak. Genep jalemana, isukan rek kadarie"
"Oh, pajar Emak mah ngen duaan doang."
Gita menjelaskan untuk membuat Emaknya tenang, karena jika temannya enam orang berarti mereka hanya berteman biasa. Berbeda jika hanya seorang diri, nantinya akan langsung ditanya maksud dan tujuannya apa. karena sudah menjadi kebiasaan Abah nya jika anaknya membawa laki-laki pulang sudah harus dengan tujuan yang jelas. Namun, jika enam orang kan berarti benar-benar hanya berteman.
Setelah itu berlangsung lah acara temu kangen antara Gita dan keluarganya di depan TV, dengan di temani makanan yang Gita bawa. Setelah itu mereka pergi menuju kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah.
Gita masuk kedalam kamarnya yang dulu, kamar yang kini menjadi kamar adiknya yang bernama Kiki. Jika mereka jalan berdua, maka orang akan menyebut mereka kembar, karena memang mereka terlihat mirip.
Umur mereka berjarak dua tahun, tetapi berbeda dari segi tinggi badan. Kiki cukup tinggi dengan 160 cm diusianya yang 13 tahun. Sedangkan Gita mentok di 147 cm. Seringkali orang menganggap bahwa Kiki adalah kakaknya.
Keluarga mereka terkenal dengan keakuran antar saudara. Tidak pernah ribut dalam hal apapun, selalu bersama dan saling merangkul. Setiap orang yang mengenal keluarga Abah Husni, pasti berdecak kagum akan kekompakan yang ada pada keluarganya.
Mereka makan selalu dalam piring yang sama, walaupun harus seperti yang berebut makanan. Prinsip dalam keluarga mereka adalah, 'siapa yang membawa piring, maka akan kita serbu' Karena makan bersama memang lebih nikmat daripada makan sendiri.
Tidak jarang mereka lebih memilih makan di atas kertas nasi ataupun daun pisang sebagai alasnya, alasannya agar tidak ada cucian piring. Beberapa tetangga malah jika mereka makan akan ikut membawa nasi dan lauk dari rumah masing-masing, untuk ikut bergabung makan, dengan alasan supaya lebih nikmat terasa.
"Minah, isukan sia milu moal?" tanya Gita pada Kiki yang lebih sering di panggil Minah olehnya.
"Kamana?" tanya Kiki. antusias.
"Rencana na rek ka pantai."
"Saha bae?"
"Kumaha isukan we."
"Jeng anak Onta sia tea lain?"
Kiki tidak pernah memanggil Gita dengan sebutan Teteh, Kakak dan sebagainya. Karena Gita pun tidak pernah mau di panggil teteh olehnya. Menurut Gita, memanggil dengan tambahan kata Teh dan sebagainya, itu sama seperti menciptakan jarak antara dia dan adiknya.
Begitupun dengan kakak-kakaknya yang lain, walaupun menambahkan kata Teh di depan panggilannya, tetapi bahasa mereka tetap memakai Aing-Sia atau Gua-Lu. Yang terkadang itu menjadi bahan omongan para tetangga, dan mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai sopan santun.
Padahal hal itu terjadi hanya pada keluarga saja bukan untuk orang lain. Dan jangan lupakan tentang keluarga Gita yang menikah di umur 20 tahun keatas, yang menurut para warga kampungnya perawan tua, alias tidak laku.
Karena biasanya, anak gadis kampungnya akan langsung menikah setelah lulus sekolah. Sedangkan keluarga Gita, lebih memilih bekerja di kota terlebih dahulu. Selain untuk menghasilkan uang, juga untuk menambah pengalaman hidup. Agar nanti ketika sudah memiliki anak, ada hal yang diceritakan tentang betapa bahagia dan bangganya bisa menghasilkan uang dari hasil keringat sendiri.