Hotel Bintang Tiga

2133 Kata
Kecewa dan kesal tengah dirasakan oleh Gita terhadap Andra. Andra telah berjanji padanya untuk tidak mendatangi tempat itu lagi, tapi kenyataannya? Andra tetap pergi kesana dengan alasan silaturahmi pada para penjudi. Hal aneh dan sangat lucu bagi Gita. Andra mungkin berpikir bahwa dirinya bodoh dengan mengatakan kebohongan seperti itu, tapi biarlah, hal ini bisa menjadi alasan untuk Gita nanti. Gita berencana ingin putus dengan Andra sebagai kekasihnya. Sebenarnya rencana itu sudah ada dari ia tahu siapa Andra yang sebenarnya. Selama ini Gita sedang mencari celah untuk itu, mungkin sekarang saatnya. "Dia pasti nyusul deh," tebak Getta bermaksud pada Andra. "Tau juga gak, gimana dia mau nyusul," kata Gita. "Kalo cuma buat tau kampung lu di mana? Itu hal mudah buat dia, Kak." Rian yang menjawab. "Pake detektif gitu?" tanya Gita polos. "Dia punya perusahaan yang di dalamnya udah pasti banyak ahli IT bahkan mungkin hacker pasti ada di perusahaannya," jawab Wildan. "Oh.... Lemburan nya gede pasti itu." Gita berpikir jika jam segini mereka masih bekerja, itu tandanya mereka lembur. Sama seperti dirinya. "Kurang tau juga sih, tapi setau gue itu bukan lembur, karena kan kerjanya gak pernah lembur. Cuma ya gitu, mereka harus siap 24 jam kapanpun bos butuh. Andra 'kan termasuk bos nya juga," jelas Getta. "Oh! Kirain kayak gue gitu sistemnya," balas Gita lagi. "Oya, lu semua langsung pulang, 'kan? Gak mungkin nginep, mau tidur di mana coba? Rumah Emak gue kecil, sempit rame lagi. Jangan nganterin sampe rumah ya, sampe pangkalan ojek aja." Sebenarnya dari awal perjalanan hal ini yang Gita pikirkan. Gita bingung. "Gak ada penginapan atau hotel gitu?" tanya Kenn. "Gak ada, ada juga daerah sini. Maksudnya cuma ada sekitaran sini. Dari sini ke tempat gue masih jauh, masih kudu naek angkot, terus naek ojek lagi masuk ke dalem." Gita menerangkan rute jalannya. "Ya udah, nanti kita anterin lu dulu sampe pangkalan ojek, kita bakalan nyari hotel daerah sini, besok kita ke tempat lu, Gimana?" saran dari Hendrik yang sedari tadi hanya diam setelah makan. Mungkin dia kekenyangan karena makan paling banyak. "Ya udah terserah lu semua. Eh, tapi kalo si Onta beneran nyusulin kesini gimana?" Gita teringat akan ucapan Getta yang mengatakan jika Andra akan menyusul mereka. "Tar gue yang telepon," jawab Rian. "Ini belok kiri?" tanya Kenn, karena mereka sudah keluar gerbang tol Balaraja barat. "Iya," jawab Gita yang mulai memperhatikan jalan kembali. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, perjalanan yang seharusnya hanya dua jam jika lancar, menjadi tiga jam lebih karena kemacetan yang terjadi di beberapa titik. Di saat macet lah mereka gunakan untuk makan, terutama Kenn yang memegang kendali setir. Jika mobil sudah bergerak maju, maka Wildan bertugas untuk menyuapi Kenn, hal yang membuat Gita tertawa sepanjang jalannya. Libur dua hari menjadi kesempatan langka para perantau jarak dekat dalam kesehariannya. Maka dari itu kemacetan cukup panjang, karena kebanyakan dari mereka seperti Gita, yang ingin langsung pulang untuk melepas rindu pada kampung halaman. "Lurus apa belok kiri, Kak?" tanya Kenn, karena di depan terdapat pangkalan ojek dengan belokan ke arah kiri. "Kiri, sebenernya gue bisa turun disini, naek ojeknya dari sini aja." "Ini rumah lu masih jauh?" tanya Wildan. "10 kilo kalo dari sini, kalo dari pangkalan ojek depan lima kilo," jawab Gita. "Banyak pabrik ya di daerah lu?" Getta. "Ada empat kalo gak salah, tapi pada bikin lagi sih, orang sawah juga udah pada dijualin ke pabrik-pabrik." Kampung halaman Gita masih asri, hanya jalan menuju kampungnya yang sudah ada beberapa pabrik, itupun sudah lama. Bahkan memang para pemilik tanah sudah menjual tanah mereka untuk di jadikan pabrik. "Tapi kampung lu masih adem 'kan ya?" Hendrik penasaran ingin segera melihatnya. "Selama ini sih, kalo temen-temen Mpo gue pada maen, mereka gak mau pada pulang, ngomongnya betah," jawab Gita. "Penasaran gue," balas Kenn. "Tapi di tempat gue gak ada apa-apan. Jadi disebut kampung kayak kota, disebut kota kayak kampung." Gita mengingat akan keadaan kampung halamannya. "Maksudnya?" tanya Rian. "Kalo disebut kota kita hidup di kampung, kalo disebut kampung, kayu bakar aja kudu beli," jawaban Gita membuat mereka semua tertawa. "Ada-ada aja lu." Getta mengacak rambutnya. "Berasa anak SD gue di acak rambutnya." Lagi-lagi mereka tertawa dengan perkataan polos Gita. Mobil berhenti setelah Kenn membelokkan setirnya di ke arah kiri lagi dan tepat di depan pangakalan ojek. "Besok kalo mau ke rumah gue telpon dulu ya. Jangan lupa kasih tau si Onta, takut dia beneran nyusul," pesannya pada mereka. "Dari sini ada belokan lagi gak buat ke rumah lu?" tanya Rian. "Lurus aja, nanti lewat beberapa pabrik dan kira-kira lima kilometer dari sini belok kiri. Pokoknya kalo mau ke rumah telpon aja, gue tungguin di belokkan yang mau ke rumah." Setelah mengatakan oke, Gita turun dan menaiki salah satu ojek yang sepertinya sudah mengenalnya. Karena mereka terlihat begitu akrab. Setelah Gita pergi, Getta turun untuk bertanya pada tukang ojek, untuk menanyakan penginapan terdekat di daerah itu, yang mereka harapkan semoga ada. "Permisi, Pak. Mau tanya, daerah sini ada penginapan gak ya?" tanya Getta dengan sopan. "Kalo daerah sini gak ada, A. Adanya di daerah Matern," jawab bapak tukang ojek yang berusia sekitar 40 tahun. "Temennya Neng Gita?" tanya si Bapak. "Iya, Pak. Mau ke rumahnya udah malem, kita banyakan kok," jelas Getta, yang takut jika para tukang ojek itu berpikir buruk tentang Gita. "Iya bapak juga liat, lagian kami gak bakalan curiga sama keluarganya, karena tau dan kenal sama semuanya, yang pasti keluarga baik-baik." Si bapak tukang ojek menepis pikiran Getta. "Coba aja ke daerah Matern, di sana ada semacam penginapan. Tapi ya gitu, bapak takutnya penginapan gak bener, soalnya tempatnya di belakang ketutup sama toko Jackimart, ada hotel kecil di daerah Baleraja,?" jelas tukang ojek. "Iya, tadi juga Gita bilangnya di daerah sana. Ya udah kalo begitu, makasih ya Pak. Saya permisi, selamat malam." Setelah berpamitan Getta kembali menuju mobil, dan naik untuk kembali berangkat mencari penginapan. kali ini Wildan yang mengemudikan setir, setelah parkir Wildan membunyikan klakson pada para tukang ojek sebagai tanda berpamitan. Mereka akan kembali ke arah Baleraja untuk menginap di hotel kecil. Mereka tidak mau pulang ke Jakarta sebelum mengetahui kampung halaman Gita. Karena rencana juga mereka besok akan mengajak Gita dan juga keluarganya untuk berlibur ke daerah pantai Anyer, yang menurut Gita, jaraknya sama seperti mereka ke Jakarta jika menghitung jam perjalanan. Jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat membuat jalanan lumayan sepi. 30 menit mereka sampai di hotel kecil di daerah Baleraja. Setelah check-in dengan tiga kamar, mereka menuju kamar masing-masing untuk mengistirahatkan diri. Rencananya besok Mereka akan berangkat pagi sekitar jam 8. *** Disepanjang jalan Andra merutuki kebodohannya yang telah membohongi Gita, Andra berpikir bahwa teman-temannya langsung menuju ke rumah Gita, Sedangkan panggilannya sama sekali tidak di jawab oleh Gita. Kemacetan yang terjadi di jalan tol Karang Tengah menuju gerbang tol Baleraja barat membuat Andra semakin kesal. "Macet segala lagi, udah malem juga," serunya dengan kesal. Handphonenya berdering, tertera nama Wildan dalam panggilannya. Andra memasangkan earphone pada telinganya baru mengangkatnya. "Dimana, Nyet?" tanya Wildan tanpa basa basi. "Tol Karang Tengah, macet banget sike," jawabnya kesal. "Kita nunggu di warung depan lampu merah gerbang tol Baleraja." Wildan memberi tahu titik lokasinya. "Okeh," jawab Andra. "Eh, tapi Kita mau nyari hotel dulu, lu nyusul ke hotel aja," perintah Wildan. "Emang ada? Si Kakak mana?" tanyanya penasaran. "Dia udah balik naek ojek, kita nginep di sini aja, gak enak udah malem. Besok pagi aja ke sononya," jawab Wildan. "Anjing cewek gue di suruh naek ojek, kenapa gak di anterin sampe rumah sih?" dengusnya heran. "Gak di bolehin sama si Kakak, udah malem gak enak. Lagian kang ojeknya semua kenal kok sama dia," jelas Wildan. "Ya udah BBM-in alamatnya, lu duluan aja," perintahnya yang di angguki Wildan. Sambungan telepon terputus, Andra mencopot earphone dari telinganya dan menyimpan kembali di dashboard mobilnya. Melanjutkan perjalanan yang sudah tidak macet lagi. Di sepanjang jalannya Andra berpikir bagaimana besok ketika bertemu dengan Gita. Gita bukan perempuan mudah dirayu, Gita hanya akan diam jika sedang marah atau kesal. Hal itu yang justru selalu menjadi ketakutan tersendiri bagi Andra. Andra lebih baik Gita ngambek dengan cara lainnya dari pada harus berdiam diri seperti yang dilakukan Gita. Tiga puluh menit mobil yang dikendarainya sudah keluar gerbang tol Baleraja. Belok ke arah kiri untuk menuju hotel kecil untuk tempatnya bermalam nanti. Jaraknya tidak terlalu jauh dari gerbang tol tadi, hanya jalannya saja yang sedikit rusak. Begitu tiba di parkiran hotel, Andra langsung menelpon Wildan untuk memberi tahukan bahwa ia telah sampai. Hotel kecil tanpa bintang yang memiliki bangunan tiga lantai untuk tempatnya bermalam. Andra turun dari mobilnya setelah melihat Hendrik keluar dari lobby hotel. "Lama banget," gerutunya pada Hendrik. "Cape gila naek turun dari tadi," balas Hendrik. "Bagus lagi buat diet lu, biar gak makin bongsor (gede) aja badan lu," balas Andra yang membuat Hendrik mendengus. "Udah pada makan belom?" Andra memang paling perhatian untuk masalah makan. "Tadi 'kan pas di telpon si Kakak bilang kalo kita lagi makan," jawab Hendrik dengan berjalan terlebih dahulu. "Gue belom ini, nyari makan dulu lah." Andra yang cukup merasakan lapar pada perutnya. "Kenyang gue Pea, minta tolong aja sama room boy nya," saran Hendrik. Andra mengikuti saran dari Hendrik, dan ketika berjalan menuju ke kamarnya, Andra memanggil salah satu pegawai hotel tersebut. "A, boleh minta tolong?" tanyanya dengan sopan. "Apa, A?" tanya pegawai hotel. "Bisa minta tolong beliin makanan?" Karena di hotel tempatnya menginap tidak menyediakan fasilitas makanan. "Bisa, Mau makan apa, A?" tanyanya lagi. "Sate ayam aja, sama gorengan ya kalo ada, sama Aer putihnya." Andra mengambil selembar uang bergambar presiden pertama Indonesia, dan menyerahkan pada pegawai hotel tersebut. "Ditunggu A, nanti saya anterin ke kamarnya." Setelah mengatakan itu pegawai hotel langsung keluar untuk membelikan makanan Andra. Dia mengetahui kamar Andra karena tadi yang mengantarkan anak Onta lainnya adalah dirinya. Andra dan Hendrik kembali meneruskan langkah menuju kamar, mereka memang satu kamar. Getta bersama Wildan dan Kenn bersama Rian. "Gimana ceritanya sih lu semua bisa ikut si Kakak?" Dengan melepaskan snikersnya Andra mulai menginterogasi Hendrik. Dan mengalir lah cerita dari Hendrik. "Terus tadi beneran kalo kang ojeknya kenal sama dia?" tanyanya dengan khawatir. "Bukan cuma sama dia, tapi sama semua keluarganya," jawab Hendrik dengan menarik selimutnya. "Kata siapa?" "Kata kang ojek yang lainnya. Jadi tadi si Getta sempet turun buat nanyain hotel terdekat, takutnya para tukang ojek mikir yang macem-macem, mangkanya dia bilang ramean di mobilnya. Nah si Kang ojeknya bilang udah tau sama keluarga dia, turunan baik-baik semua," cerita Hendrik. Andra mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, setelah itu ia pergi menuju kamar mandi yang hanya berukuran 1x2 meter persegi, yang ada di dalam kamar tersebut. "Sempit banget kamar mandinya," gerutu Andra begitu keluar. "Masih mending pake pintu. Coba kalo di daerah Lokasari lu, cuma ditutup gorden doang," celetuk Hendrik. "Tau banget, lu? Pernah ke sana ya?" selidik Andra. "Sok polos lu," cibir Hendrik yang membuat Andra tertawa. Hendrik merupakan anak alim, walaupun ia beragama Kristen, Hendrik selalu menerapkan hukum Islam dalam hidupnya. Seperti berpelukan dan berciuman dengan lawan jenis yang bukan muhrim tidak di lakukan olehnya. Menurutnya itu bukan hanya sekedar hukum Islam, tetapi lebih ke menjaga diri sendiri. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi orang tersebut, Itu yang di terapkan olehnya. Pintu kamar yang di ketuk dari luar menghentikan obrolan mereka, pegawai hotel yang tadi membelikan makanan untuk Andra sudah datang. Menyerahkan satu kantung berisi seporsi sate ayam plus lontong, satu kantong gorengan dan juga air mineral, yang totalnya hanya 30 ribu rupiah, karena pegawai hotel tersebut mendetailkan harganya. Andra menerima kantong plastik yang disodorkan beserta uang kembaliannya. "Ini A, makasih ya." Andra menyerahkan kembalian tadi pada pegawai hotel tersebut. "Gak usah, A. Sama-sama," tolaknya sungkan. "Gak apa-apa, ini rezeki Aa nya." Andra menarik tangan pegawai hotel dan menyerahkan uang kembalian padanya. "Terima kasih, A. Selamat menikmati, saya permisi dulu." Andra kembali menutup pintu dan berjalan menuju ranjang, tidak ada sofa atau yang lainnya di kamar yang mereka sewa, hanya ada satu ranjang, nakas kecil dan televisi yang menempel di tembok. Andra mendudukkan dirinya di pinggir ranjang dan membuka bungkus sate yang begitu menggoda seleranya. "Nyet! woi bangun aelah bantuin gue makan." Andra menggoyang-goyangkan tubuh Hendrik agar bangun. "Ngantuk gue," gumam Hendrik dengan mata yang hampir terpejam. "Bangun dulu, bantuin gue makan dulu," pinta Andra dengan terus menggoyangkan tubuhnya, bahkan kali ini memukul betisnya. "Sakit, Bege!" Hendrik akhirnya bangun, "Lagian rakus banget jadi manusia, beli gorengan segala. Gimana gue mau diet coba," gerutunya dengan memasukkan satu bakwan ke dalam mulutnya. "Gak seksi lu kalo kurus," jawab Andra asal. "Lu kira gue cewek," balas Hendrik heran. Di antara para anak Onta, Hendrik yang paling berisi badannya dan juga paling pendek, dengan tinggi badan 168cm. Karena yang lainnya rata-rata 175 ke atas., Wildan yang paling tinggi dengan 182 cm. Di susul Andra 181 cm, Getta 180 cm, Rian 178 cm, dan Kenn 176 cm. Tinggi badan yang sangat jauh dengan Gita yang hanya 147 cm. Maka dari itulah Gita memanggil mereka dengan sebutan Onta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN