Bagi karyawan biasa seperti Gita, mendapatkan tanggal merah di hari Sabtu merupakan salah satu rezeki yang tak terduga. Karena tidak terjadi sebulan sekali, bahkan setahun sekali.
Sabtu ini angka di kalender memang berwarna merah, yang berati Gita bisa pulang ke kampungnya untuk menemui orang tuanya. Jam yang sudah menunjukan pukul 15.43 Wib, Gita akan segera bersiap-siap untuk pulang ke kontrakan, membersihkan diri dan akan pulang pada malam ini juga, itu rencana yang telah dibuatnya.
Ingat, itu baru rencana, sebelum para anak Ontanya mengacaukannya. Karena begitu bell berbunyi dan Gita keluar dari gerbang, di bawah tiang listrik sana, Rian dengan cool nya sudah menunggu, padahal dia sama sekali tidak menghubungi Gita. Gita yang memang pulang paling belakang menghampirinya.
"Gak telat 'kan gue?" tanyanya begitu Gita sampai dihadapannya.
"Lu ngapain?" bukannya menjawab, Gita malah balik bertanya.
"Jemput lah, si Onta gak bisa katanya," jawabnya santai. Rian memberikan helm pada Gita. "Yuk, keburu magrib."
"Gue gak minta loh." Gita memang tidak menghubungi salah satu dari anak Onta nya. Bahkan Andra sekalipun.
"Si Onta yang nyuruh," jawab Rian jujur, karena memang Andra yang menyuruhnya.
"Dia nya ke mana?" tanya Gita penasaran, karena memang Andra tidak ada menghubunginya.
"Balik lagi ke tempat biasa, udah janji katanya dari Minggu kemaren."
"Raja bola?" Rian mengangguk, "Bohong aja tu anak, katanya udah gak pernah."
Andra memang berkata sudah tidak pernah mendatangi tempat judi bola tersebut.
"Selama dua bulan ini emang udah gak pernah, dan ini untuk pertama kalinya juga," jawab Rian yang memang memantau Andra bersama anak Onta lainnya.
"Ya udah, eh tapi gue mau balik ya malam ini."
"Ke kampung?"
"Iya, mumpung besok libur. Kapan lagi 'kan ada libur di hari Sabtu," jawabnya semangat.
"Besok aja sih, lu cewek, Kak. Naik angkutan umum lagi. Udah gitu di mobil merahnya juga rebutan, 'kan?"
Gita memang akan menaiki mobil Elft berwarna merah dari terminal Grogol. Dan sudah bisa dipastikan bahwa akan rebutan dengan penumpang lainnya.
"Gak apa-apa, adem juga kalo malem. Badan gue kecil jadi bisa selap selip lah," jawabnya enteng.
"Jangan lah, kalo mau gue anterin aja. Mau pake motor apa mobil," tawar Rian yang memang tidak bisa membayangkan Gita harus berdesakan dengan penumpang lainnya. Apalagi pasti banyak penumpang laki-laki.
"Gak usah, Ta. Abis magrib lu balik aja," tolak Gita.
"Terserah lu deh," kesal Rian.
"Nanti bilang sama si Onta Andra, ditanyain sama gue gitu."
Gita tidak suka dibohongi,dan sekarang Andra kembali ke tempat itu, membuat Gita kesal.
"Telpon aja sih," saran Rian.
"Males, ya udah lu pulang gih, makasih ya." Tanpa berniat menawarkan mampir pada Rian, karena Gita sedang di kejar waktu.
"Elah, Kak. Gue di tawarin masuk dulu gitu, berasa kang ojek gue." Rian memang sengaja mengulur waktu, karena ia memiliki rencana terhadap Gita.
"Udah pulang sana, gue mau siap-siap. Keburu magrib ini."
Waktu yang terus berputar membuat Gita terburu-buru. Karena semakin sore, maka semakin banyak orang yang akan menaiki mobil merah itu. Jadi Gita harus bergegas.
"Ya udah, lu hati-hati ya. Kabarin kalo udah sampe."
Rian akhirnya pergi setelah menghubungi anak Onta lainnya. Ya, Rian dan para anak Onta lainnya akan ikut dengan Gita ke kampungnya, kecuali Andra. karena handphonenya sama sekali tidak bisa dihubungi, dan tentu tanpa sepengetahuan Gita.
Rian akan menunggu anak Onta lainnya di depan hotel sebelum halte, dan juga akan menitipkan motornya di sana, karena mereka akan membawa mobil. Ketika Gita lewat, maka mereka akan menariknya untuk masuk ke dalam mobil.
***
Waktu terus berputar dengan cepatnya, setelah dirasa siap, Gita segera turun untuk berjalan ke depan menuju halte angkutan umum.
"Pak, Gue balik!" serunya sambil memakai sepatunya.
Menggunakan kaos panjang berwarna merah, skinny jeans berwarna hitam, dan Sweater oversize berwarna hitam. Ransel berwarna hitam, dan juga tas tangan dari bahan kain, yang berisi perlengkapan sekolah adik-adiknya. Gita memang selalu membelikannya di pasar pagi, selain harganya yang sedikit miring, juga banyak pilihannya.
"Teh, rek baliknya," izinnya pada Yola yang sedang mengajari Chika.
"Si Hany te balik?" tanya Yola.
"Teuin, tadi mah rek balanja hela cenah," jawabnya dengan mencium tangan Yola.
"Heuh ges, nuhade di jalan na, iye jeng Emak, iye jeng Abah." Yola menitipkan amplop untuk kedua orang tuanya. Yola selalu rutin mengirimkan uang untuk kedua orang tuanya, karena sekarang ia sudah jarang pulang semenjak memiliki anak dan suami.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah itu Gita berjalan untuk menuju halte angkutan umum, memerlukan kurang lebih 15 menit jika jalanan lancar untuk menuju terminal Grogol. Gita menyipitkan mata ketika melihat dari jarak tiga meter mobil yang dikenalnya, dan juga orang-orang yang ada di sampingnya, itu para anak Onta nya. Gita bertanya dalam hati, ada urusan apa mereka di sana?
"Siap?" tanya Kenn ketika Gita dihadapan mereka.
"Siap apanya?" tanya Gita heran.
"Kita yang bakalan nganterin lu, masuk!" perintah Getta tidak mau dibantah.
Wildan mendorong pelan bahu Gita, Hendrik mengambil tas kain yang ditangannya.
"Duduk jangan protes, cukup tunjukin jalannya aja," perintah Wildan.
Setelah Gita masuk, mereka pun ikut masuk kedalam mobil. Kenn duduk di balik kemudi dan mulai menyalakan mobilnya.
"Lu pada ngapain sih? Gue bisa pulang sendiri, Onta!" seru Gita.
"Sekalian jalan-jalan, siapa tau aja ada gadis desa yang seger buat cuci mata," jawab Getta.
"Si Pea, gue serius!" kesal Gita.
"Gue juga serius, Kak!" balas Getta.
"Gue laper, Nyet!" celetuk Hendrik tiba-tiba.
"Tidur," jawab Wildan.
"Gak bisa," ujarnya polos.
"Ribet banget sih? Mau makan apa? Gue juga belom makan soalnya." Mendengar perkataan Rian, refleks Getta menoyor kepalanya.
"Si Bege!" sunggut Getta.
"Laper Bege!" sahut Rian.
"Mau makan apa, Kak?" tanya Kenn yang sedari tadi fokus pada setir mobilnya.
"Apa ya?" tanya Gita balik.
"Kebiasaan ditanya balik nanya," gerutu Wildan.
"Beli chiken yang di ember aja, buat rame-rame biar gak ribet makannya. Nasinya beli di warteg," saran Gita.
"Kan di sana juga ada nasinya, Kak?" tanya Hendrik.
"Dikit, gue tau lu gak bakalan kenyang," jawab Gita.
"Emang sih, tapi ribet banget masa?" kata Wildan.
"Ya udah, bener nih mau chiken bucket?" tanya Kenn yang sudah melihat restoran cepat saji yang menyediakan layanan Drive THRU.
"Yang di ember jangan yang satuan," jawab Gita.
"Namanya Chiken Bucket, Kak." Jelas Getta.
"Oh, orang-orang manggilnya ciken ember. Lagian bukannya kalo bucket itu buat bunga ya?" tanya Gita polos.
"Bucket itu artinya keranjang, Kak. Jadi apapun yang di kumpulin dijadiin satu yang namanya di bucket-in. Entah itu bunga, ciki termasuk chiken." Rian memberikan penjelasan singkat pada Gita.
"Ada-ada aja lu," Getta mengacak rambut Gita pelan.
"Oh, seperti itu... Ya gue 'kan taunya kalo bucket itu bunga, Onta." Gita dengan segala kepolosannya.
"Ya udah sekarang jadi beli chiken embernya gak?" tanya Kenn, ketika mobil yang dikendarainya sudah di depan restoran cepat saji.
"Ya udah beli," jawab Wildan.
Ken memasukkan mobilnya, mengantri dengan pengendara lain untuk memesan. Dua chiken bucket, tujuh burger. Setelah selesai, Kenn kembali menjalankan mobilnya. Untuk minuman mereka selalu menyediakan air mineral. Mereka akan makan di dalam mobil, sambil meneruskan perjalanan yang masih cukup jauh.
***
Hampir dua bulan lamanya, Andra tidak pernah menyambangi tempat yang dulu dijadikan sebagai pelampiasan kecewa terhadap orang tuanya. Hal itu diputuskan setelah ia memulai hubungan dengan Gita, karena Gita tidak menyukai hal tersebut.
Gita sangat menyayangkan uang yang dihambur-hamburkan oleh Andra, tetapi Gita juga tidak mau menerima uang dari Andra. Hal yang membuat Andra bingung akan dikemanakan uangnya tersebut. Padahal itu hanya alasannya saja, karena sebenarnya, Andra bisa menabung ataupun bersedekah. Namun, kembali lagi, itu hanya pelampiasan kesalnya.
Seandainya saja orang tuanya langsung yang meminta untuk berhenti, bukan malah mengirimkan uang dengan nominal semakin besar. Mungkin Andra akan berhenti saat itu juga. Dan itu hanya kemungkinan, yang sepertinya hanya akan menjadi angan baginya.
"Woi! Kingdom baru datang setelah bersemedi di gunung kidul," seru salah satu anggota bola yang akan bertaruh.
"Sike lu," ujar Andra dengan bertos ria ala lelaki.
"Ke mana aja lu? Gue kira udah bangkrut," cibir temna satunya.
"Ngumpulin duit jajan dulu, biar banyak."
Sampai saat ini mereka tidak mengetahui siapa Andra sebenarnya, mereka hanya tahu bahwa Andra anak orang kaya.
"Dapet berapa emang?" tanya laki-laki berusia 45 tahun yang disebut dengan sang Raja Bola.
"Lumayan buat beli satu bebek goreng," canda Andra. "Udah keluar undiannya?" tanyanya lagi.
Hari ini adalah pengumuman undian antar klub yang akan bertanding pada liga Champions, Andra akan bertaruh untuk semua permainan.
"Masih nungguin presenter nya ngebacot," jelas salah satu dari mereka yang masih menunggu.
"Udah diem, dengerin tuh," ujar yang lain.
Undian untuk babak 16 besar Liga Champions 2010/11 baru saja tuntas digelar di Nyon, Swiss. Hasil drawing kali ini menghasilkan beberapa pertandingan seru yang mempertemukan raksasa-raksasa Eropa.
Arsenal kontra juara bertahan Barcelona tentu saja menjadi pusat perhatian pertama. The Gunners kembali bertemu dengan musuh beratnya, lawan yang selalu membuat mereka gagal melangkah jauh di Liga Champions. .
Perhatian selanjutnya mengarah pada duel raksasa Italia Juventus kontra raksasa Jerman Bayern Munich. Laga ini bisa menjadi ajang balas dendam bagi Bianconeri yang kalah telak dengan agregat 4-0 di perempat-final Liga Champions musim lalu. Namun Bayern yang sedang on-fire jelas takkan membuatnya mudah.
Selanjutnya, Paris Saint-Germain bakal menghadapi Chelsea. Dua kekuatan finansial besar di Eropa itu sama-sama meraih hasil buruk di Liga Champions selama beberapa tahun terakhir. Momen ini bisa menjadi momen kebangkitan mereka, terutama PSG yang berambisi meraih sukses di kancah Eropa dan berniat memanfaatkan keterpurukan Chelsea di liga domestik.
AS Roma mendapat ujian berat dari Real Madrid kali ini, sementara Manchester City jelas lebih diunggulkan ketika menantang Dynamo Kiev. PSV Eindhoven yang lolos mengejutkan akan menghadapi Atletico Madrid.
Leg pertama digelar 16, 17, 23, dan 24 Februari 2016. Kedua 8, 9, 15, dan 16 Maret.
Setelah presenter membacakan hasil drawing dan juga jadwal pertandingan, mereka yang ada ditempat itu langsung mendaftarkan diri dan memilih klub andalannya dalam pertandingan nanti. Sedangkan sang pemilik tempat, atau raja bola, hanya akan menerima klub sisa pilihan dari lawannya.
"Arsenal, Juventus, Chelsea, Real Madrid , Manchester City, Atletico Madrid."
Andra menyebutnya klub yang akan di taruhkannya, dengan sigap Raja bola mencatat nya.
"Maen berapa?" tanya Raja bola pada Andra.
"lima ribu," jawabnya singkat. lima ribu artinya lima juta dalam sekali pertandingan.
"Mantap!" seru sang raja.
Memang diantara semua anak muda yang datang ke tempatnya, Andra selalu bertaruh dengan nominal cukup besar untuk sekelas anak SMA.
"Gue balik dulu," pamitnya setelah menyampaikan maksudnya.
Dalam perjalanan Andra seperti mendapatkan kekurangan, tapi apa ia pun lupa. Setelah mengingat dengan jelas, ternyata Gita belum menghubunginya sama sekali dari jam istirahat kerjanya siang tadi. Sekarang sudah jam delapan malam lewat 10 menit, Andra juga ingat bahwa Gita akan pulang ke kampungnya. Dan juga para anak Onta yang lain sama sekali tidak menghubunginya. Andra mengambil handphonenya untuk melakukan panggilan pada Getta.
Tut...Tut...Tut...
"Di mana, Nyet?" tanyanya langsung begitu Getta mengangkatnya.
"Di jalan, mau ke kampung si Kakak," jawab Getta santai.
"Sialan, kok gue gak tau?" Andra menggeram akan kecerobohannya.
"Lu sibuk, Ta. Tarohan berapa lu?"
Gita mengambil alih handphone Getta untuk berbicara dengan Andra. Andra memejamkan mata nya sebelum menjawab pertanyaan Gita,
"Gak gitu, Ayy. gue gak tarohan, gue cuma liat doang, udah lama 'kan gak ke sana. Cuma silaturahmi doang," jawab Andra yang Gita tahu itu bohong.
"Terus gue kudu percaya apa gak ini?" tanyanya dengan nada meledek.
"Serius, Ayy! Masih di mana? Gue mau nyusul."
Andra tidak mau mereka lebih dulu tahu kampung halaman Gita daripada dirinya, karena bagaimanapun Andra kan kekasihnya.
"Ngapain? Udah balik lagi aja ke tempat Raja Bola," sindir Gita yang membuat Andra menghembuskan napas kasar.
"Gue minta maaf, Ayy. Tapi serius, gue cuma silaturahmi doang." Andra masih berusaha meyakinkan Gita.
"Ya udah, matiin dulu ya, Kita lagi makan." Tanpa mendengar jawaban dari Andra, Gita langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Sial!"
Andra mengumpat untuk dirinya sendiri, kebodohannya membuat Gita marah terhadapnya. Ia pernah berjanji untuk tidak akan kembali ke tempat haram tersebut. Tapi godaan dari liga Champions membuatnya pergi secara diam-diam.
Tadi siang, ketika mereka bertukar kabar, Andra mengatakan akan ke Bekasi mengantarkan adiknya ke rumah bibinya, dan sengaja meminta Rian yang menjemput Gita, walaupun Gita telah menolaknya.
Andra kembali mencoba menghubungi Gita, tapi sudah dua kali tidak di angkat juga, membuatnya kesal sendiri, begitupun dengan teman-temannya yang pasti mendapatkan ancaman dari Gita untuk tidak mengangkat telepon darinya.
Untuk pertama kalinya Andra menggunakan kekuasaannya. Andra akan menghubungi salah satu ahli IT yang juga seorang hackers di perusahaan ayahnya. Mencari kontak telepon orang yang bernama Davae, begitu menemukannya, Andra langsung menekan tombol panggil untuk menghubunginya. Dering ke empat teleponnya baru diangkat.
"Halo, Pak Davae," sapanya ketika telepon terhubung.
"Halo, Ndra. Ada apa?"
Andra memang melarang untuk memanggilnya dengan sebutan Tuan dan embel-embel lainnya.
"Bisa Tolong cek semua nomer telepon temen saya, lokasi nya lagi di mana?" perintahnya dengan sopan.
"Kirim nomernya sekarang saya cek." Pekerjaan mudah bagi seorang Davae untuk hal seperti itu.
"Oke, saya kirim sekarang. Tolong cepet ya. Terima kasih."
"Sama-sama."
Setelah sambungan terputus, Andra langsung mengirimkan nomor Wildan. Tidak harus semua, karena Andra tahu mereka pasti sedang bersama. Menunggu kurang dari 10 menit, Davae telah mengirimkan lokasi Wildan saat ini.
Andra memperhatikan letak lokasinya. Setelah mengetahuinya, Andra pulang terlebih dahulu kerumahnya untuk mengambil mobil dan juga berganti pakaian. Karena saat ini Andra memakai pakaian yang tidak sopan, celana jeans yang di pakainya sobek-sobek dan juga kaos, serta sweater oversize.
Begitu sampai di rumahnya, Andra segera masuk ke dalam kamarnya, membuka lemari, mengambil kaos berwarna navy panjang model 'O neck, skinny jeans berwarna hitam, topi Putih dan juga snikers putih. Andra juga membawa ransel kecil yang berisi bajunya.
Persiapannya sudah sangat matang, Andra keluar dari kamar, menuruni undakan tangga untuk menuju meja tempat penyimpanan semua kunci yang digantung di atasnya, baik itu kunci rumah maupun kunci kendaraannya.
Andra mengambil kunci Mazda miliknya, mobil yang baru di beli olehnya satu Minggu sebelum mengenal Gita. Salah satu mobil kesayangannya, mobil yang disebut dengan nama si Mata Kucing oleh Gita.
Gita memang selalu mempunyai panggilan masing-masing pada setiap barang yang dilihatnya. Andra telah siap dengan segalanya, tanpa berpamitan pada siapapun karena memang rumah sedang kosong. Andra hanya berpamitan pada kedua satpam rumahnya. Setelah mengunci pintu, Andra memanaskan sebentar mobilnya sebelum ia berangkat menyusul teman-temannya.