Pengganggu 2

2182 Kata
Setelah ketenangannya di ganggu oleh para adik kelasnya, para anak Onta akhirnya pergi untuk mengantarkan Gita ke rumah kontrakannya. Kali ini bukan hanya Andra yang mengantarkan, tetapi mereka semua. Andra yang duduk di balik kursi kemudi dengan Gita yang duduk disampingnya. Sedangkan yang lainnya duduk di belakang. Motor yang di gunakan Andra di titipkan di pedagang warung kecil langganan mereka di pinggir sungai tadi. "Tadi itu emang siapa?" tanya Gita begitu mobil bergerak maju. "Adek kelas gak jelas, ribet banget lagian," jawab Rian dengan kesal. "Gak jelasnya?" "Ya dari pas mau pulang sekolah kita di cegat sama mereka, terus tadi? Ngapain coba pake gabung segala? Lain kali kalo ada mereka usir aja." Getta pun sama kesalnya. "Jangan begitu lah, kasian tau. Mereka pengen kenal kali sama lu semua." "Apa sih, Kak?" tanya Wildan heran pada Gita yang tidak merasa risih dengan kelakuan ketiga gadis tadi. "Gini ya, cewek kalo gitu berarti ada yang mereka taksir diantara kalian," jawab Gita. "Siapa sih yang gak naksir sama kita?" tanya Andra dengan percaya dirinya. "Gue gak?" jawab Gita tanpa sungkan. "Mata lu emang kaga normal," balas Andra. "Gak usah ikutan ngomong, fokus nyetir aja deh," tukas Gita yang membuat Andra memanyunkan bibirnya. "Mampus," ledek Wildan yang duduk tepat dibelakangnya. "Jadi itu adek kelas lu semua?" tanya Gita yang mulai penasaran. "Kayaknya sih, soalnya kita gak pernah merhatiin," jawab Rian. "Kayaknya mereka gak suka ya sama gue?" tanya Gita lagi. "Biarin aja sih, gak ngaruh juga, 'kan?" tanya Getta. "Gak sih. Cuma gak enak aja nanti kalo ketemu lagi." "Ngarep amat ketemu mereka lagi? Kita aja ogah!" tukas Hendrik. "Lagian lu pada aneh ya, cewek bening, cantik gitu kenapa pada gak suka sih?" tanya Gita heran. "Udah, jangan bahas yang gak penting. Minggu depan lu bisa ikut gak? tanya Kenn, yang mengingat ajakan Getta sebelumnya. "Gak bisa, Ta. Gue mau pulang. Minggu depan sabtunya libur, hal yang sangat amat jarang terjadi pada perkalenderan Indonesia," jawab Gita dengan semangat. "Tadinya gue mau ajakin ke taman bunga," sela Rian. "Kapan-kapan deh, gue juga belom pernah ke taman bunga." Dengan obrolan santai dan ringan perjalanan mereka terasa begitu singkat. Andra telah membelokkan setir mobilnya menuju arah kontrakan Gita. Begitu mobil berhenti di sebelah hotel yang merupakan jalan masuk ke kontrakan Gita, mereka turun dan melangkah bersama untuk mengantarkan Gita sampai tempat tinggalnya. Memastikan Gita selamat dengan mata kepala mereka sendiri. Karena ini juga untuk pertama kalinya selain Andra, para anak Onta ikut ke tempat tinggalnya. Yang sudah bisa dipastikan cukup kumuh bagi mereka. Gang sempit yang hanya cukup untuk dua motor, banyaknya penduduk yang bermukim di sana, membuat mereka sesekali harus memiringkan badan ketika berpapasan dengan pengendara motor yang lewat. Ditambah ramainya pemuda setempat yang memandang mereka dari ujung kaki hingga ujung rambut, hal yang membuat mereka risih sebenarnya. Bagi Andra mungkin hal yang biasa, tetapi bagi anak Onta lainnya, ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka. Gita hanya tersenyum melihat itu. *** Marah dan kesal meliputi hati ketiga gadis remaja yang baru saja di acuhkan oleh incarannya. Menggerutu sepanjang jalan di dalam mobil menjadi salah satu alternatif, untuk menghilangkan kekesalan yang bersarang. Salsa yang mengemudikan mobilnya tidak henti menggerutu akan sikap para kakak kelas yang menjadi incarannya. "Ih! Kok gue masih kesel ya?" tanyanya entah pada siapa. "Lo kira gue gak?" Sheryl bertanya balik dengan kesal. "Berisik Lo semua!! Gue lagi mikir ini," bentak Kimmy yang membuat kedua temannya langsung diam seketika. Melihat kedua temannya diam setelah dibentak olehnya, Kimmy mulai tersenyum jahil. Sheryl membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Kimmy. "Lo gila ya?" tanya Sheryl dengan nada menyelidik. Karena sekarang Kimmy sedang tersenyum. "Apa kerasukan?" tanya Salsa yang masih fokus dengan setir mobilnya. "Enak aja Lo berdua," jawab Kimmy kesal. "Gue punya ide," cetusnya yang membuat Sheryl menatap Sasa. "Gue gak yakin sama ide Lo," kata Salsa. "Apalagi gue," timpal Sheryl. "Dengerin dulu, Bege!" seru Kimmy kesal. "Kita deketin itu si Gita buat ngambil perhatian mereka. Lo semua tadi 'kan liat gimana mereka nurut banget sama si Gita -Gita itu. Kenapa gak kita manfaatin?" Salsa dan Sheryl kembali saling tatap, Sheryl menempelkan jari telunjuk di dagunya untuk berpikir. "Ide bagus," kata Sheryl setuju. "Tumben Lo pinter?" tanya Salsa. "Helow! Di antara kita bertiga, gue yang paling pinter kali!" seru Kimmy bangga. Kimmy memang yang paling cerdas diantara mereka bertiga. Hendrik pernah melakukan riset di laboratorium yang sama dengannya. "Percaya gue calon dokter," ledek Salsa yang membuat Sheryl tertawa, sedangkan Kimmy mendengus mendengarnya. "Kalo gue udah jadi dokter, terus Lo berobat sama gue, gue bakalan suntik mati Lo," canda Kimmy. "Gue belom miskin ya, sampe kudu berobat sama Lo. Medingan gue ke luar negeri buat dapet perawatan terbaik," balas Salsa. "Percaya gue mah, anak Bapak Sameer siapa yang gak tau?" ledek Kimmy. Karena Salsa akan mendengus kesal jika disebutkan nama ayahnya yang bernama Sameer. Atau orang lain menyebutnya dengan Tuan Sameer. Pendiri Sameer Corporation, perusahaan yang bergerak di bidang penyedia bahan baku makanan. Pria keturunan India yang masih sangat tampan diusianya yang sudah tak lagi muda. Salsa tidak menyukai ayahnya. Karena menurutnya, ayahnya tidak menginginkan kehadirannya yang berjenis kelamin perempuan. Di mata Sameer anaknya hanya Sultan, anak yang berjenis kelamin laki-laki yang selalu di banggakannya. Hal itu yang membuat Salsa begitu fakir kasih sayang dari seorang laki-laki. "Jangan sebut nama orang tua itu, gatel kuping gue," gerutu Salsa. "Ama orangnya benci, Ama duitnya kaga," celetuk Sheryl. "Kalo bukan gue yang ngabisin hartanya, terus siapa lagi? Justru mereka berdua itu (Sultan dan Sameer) ATM gue, mereka juga gak pernah peduli sama gue," jawab Salsa cuek. "Laper gue, beli makan dulu kek. Karena di rumah Lo gak mungkin ada makanan, 'kan?" Kimmy sengaja mengalihkan pembicaraan, karena mood Salsa akan langsung anjlok jika mengingat perlakuan keluarganya. "Kayaknya sih gak ada," jawab Sheryl. "Beli makan apa?" tanya Salsa. "Apa aja yang ngebuat kenyang, gue pemakan segala jenis," jawab Kimmy bangga. "Bangke mau?" tanya Sheryl. "Lo dulu tapinya, kalo enak baru gue mau," jawab Kimmy asal. "Restoran depan aja." Salsa membelokkan mobilnya ke sebuah restoran tanpa menunggu persetujuan kedua temannya. Mendengarkan mereka berdebat membuat kepalanya menjadi pusing. Belum hilang rasa kesalnya terhadap kelakuan sang kakak kelas, sekarang ditambah dengan mereka yang menyebutkan nama orang tua yang tidak disukainya. Salsa tidak membenci keluarganya, Salsa hanya marah dan kecewa atas perlakuan mereka. Salsa iri terhadap teman-temannya yang begitu disayanginya oleh keluarganya. Salsa tidak pernah tahu kapan terakhir kali orang tuanya memeluk dan menciumnya. *** Seminggu pasca pertemuan tidak menyenangkan dengan ketiga adik kelasnya, para anak Onta semakin risih, karena bukannya menjauh, ketiga gadis itu malah semakin mendekati mereka. Membuat Wildan seringkali melemparkan kata-kata pedasnya. Seperti saat ini, mereka sedang berada di kantin, menghabiskan jam istirahat dengan makanan dan minuman masing-masing, dengan diiringi obrolan santai tentang rencana liburan mereka nanti ke daerah puncak. Tiba-tiba tanpa di undang dan dengan tidak tahu malunya, ketiga gadis itu ikut duduk di sebelah mereka dengan membawakan coklat dan juga minuman. Membuat Rian mendengus kesal karena Sheryl duduk disampingnya. Pun dengan Wildan dan Juga Kenn, karena Kimmy dan Salsa duduk di samping mereka. "Ini, buat Kakak-kakak semua, coklat itu bagus loh buat menenangkan pikiran." Sheryl memberikan coklatnya pada Rian, begitupun Kimmy dan Salsa yang memberikan coklat pada anak Onta lainnya. Andra terkekeh geli melihat nya, "Lu pikir kita gak mampu beli coklat murah kayak gini?" ujarnya dengan mengangkat coklat bagiannya. Ketiga gadis yang mengetahui siapa Andra saling pandang sebelum menjawab, "Bukan gitu, Kak." jawab Kimmy kikuk. "Bukan gitu gimana maksudnya?" Wildan memiringkan tubuhnya menghadap Kimmy, menatap wajah gadis centil dihadapannya dan menyela perkataannya. Kimmy yang ditatap secara intens dengan tatapan merendahkan seperti itu menjadi gugup luar biasa. "Maksud kita baik kok, kita cuma lagi mau berbagi aja," jawab Salsa pada akhirnya, yang melihat Kimmy tidak bisa berkata apa-apa karena di tatap oleh Wildan. "Oh, jadi lu semua mau berbagi ya?" tanya Getta dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Mereka vertiga mengangguk semangat. "Oke kalo gitu." Getta mengambil sendok dan mangkok mie ayamnya, membenturkan kedua benda tersebut sehingga berbunyi, Teng..teng..teng... Para siswa yang berada di kantin seketika melihat ke arahnya. "Perhatian semua, hari ini ada yang lagi mau berbagi, jadi hari ini semua makanan dan minuman kalian gratis, akan di bayar sama tiga cewek baik hati ini. Dan juga disini ada enam batang coklat, siapa yang mau silahkan ambil. Terima kasih." S etelah mengatakan itu para anak Onta pergi begitu saja meninggalkan kantin. Membuat ketiga adik kelasnya diserbu oleh siswa yang lain untuk mengambil coklat yang di beritahu oleh Getta. Ketiga gadis itu hanya diam dengan ekspresi menahan kesalnya. Mereka tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh para anak Onta nya Gita. "Mangkanya, jadi cewek harus punya harga diri. Jangan sok kecakepan." Marsha dan teman-temannya, gadis yang terkenal dengan most wanted sekolah datang untuk mengejek mereka bertiga. Membuat ketiganya semakin kesal dan marah, "Mukanya kayak nahan marah gitu sih? Kesel ya? Kesel ya? Ya iyalah kesel, masa enggak." Marsha dan teman-temannya tertawa bahagia melihat ketiga adik kelasnya yang begitu berani mendekati para anak onta. Padahal ia berpikir, bahwa dia saja yang mendapatkan predikat most wanted, tidak bisa mendekati mereka. Apalagi ketiga adik kelasnya ini. Mereka berpikir terlalu tinggi dan bermimpi terlalu indah. "Mangkanya ngaca dulu kalo mau tebar sepona disini, apa gak punya kaca di rumahnya?" tanya salah satu teman Marsha. "Pesona, k*****t!" tegur Marsha. "Kepeleset dikit doang," jawabnya dengan senyum. Tidak mau meladeni kakak kelasnya yang membuat hati semakin kesal, Sheryl mengajak teman-temannya pergi. "Permisi, Kak. Kami mau ke kelas dulu." "Eits... Mau kemana? Ini siapa yang tanggung jawab?" cegah Marsha pada ketiganya. Sheryl menghembuskan napas, Salsa langsung mengeluarkan uang dalam saku nya sebanyak tiga lembar "Ini, Kak. Kami permisi dulu ya." "Lo pikir cukup duit segini buat bayar makanan orang sebanyak ini?" tanya teman Marsha yang berambut pendek. Tidak mau ribut dan mencoba sabar, Kimmy dan Sheryl akhirnya ikut mengeluarkan uang jajannya juga. "Ini, Kak. Udah ya, kita udah gak punya uang lagi, Permisi." Sheryl menarik kedua tangan sahabatnya dengan segera, meninggalkan kantin yang membuat otak dan hatinya panas. "Rasain Lo semua, sok kecakepan sih jadi cewek." Marsha tersenyum sinis setelah ketiga adik kelasnya pergi. "Nih, kasih ke ibu kantin," perintahnya pada temannya yang berambut pendek. Uang 900 ribu rupiah itu untuk membayar makanan dan minuman semua siswa yang tadi ada di sana. Setelah itu, mereka juga ikut pergi menuju kelasnya. Di lorong menuju kelas, Sheryl dan kedua temannya sedang menahan marah dan emosi, jangankan mendapatkan perhatian para anak Onta, justru mereka rugi banyak karena harus mengeluarkan semua uang jajannya untuk membayar makanan dan minuman semua siswa tadi. Ditambah, Most wanted sekolah mulai ikut campur akan sikap mereka. "Dia gak tau kali ya siapa gue?" tanya Sasa dengan senyum sinisnya, yang ditunjukkan pada Marsha. "Kita kerjain," timpal Kimmy. "Punya rencana?" tanya Sheryl. "Mikirnya nanti aja di rumah, sekarang kita ke kelas dulu. Pengen pulang gue," Sasa berjalan terlebih dahulu tanpa mendengar jawaban kedua temannya. "Ke kelas buat belajar, b**o! Bukan buat pulang," sewot Sheryl. "Suka-suka gue lah," jawab Sasa acuh. Mereka akhirnya mengikuti Sasa menuju kelas, karena jam pelajaran juga sebentar lagi akan masuk. Di sepanjang lorong menuju kelas, mereka mendapatkan ucapan terimakasih dari para siswa yang mendapatkan traktiran dari mereka. "Eh, makasih ya. Tadi udah traktir kita, jadi enak deh makannya. Besok-besok lagi ya," ucap salah satu perempuan yang entah berasal dari kelas mana, tetapi dari cara berbicara nya, seperti meledek mereka. "Sama-sama," jawab Kimmy dengan senyum di bibir dan hati yang dongkol. Sebisa mungkin mereka akan tetap bersikap sok manis, sok cantik dan sok baik. Hal itupun mereka gunakan untuk menarik perhatian para kakak kelas yang menurut mereka cool. "Bangke gak sih kita di giniin?" tanya Sheryl yang mulai jengah. "Tarik napas, tahan seminggu, biar Lo gak emosi." Sheryl menoyor kepala Kimmy. "Yang ada gue mati, b**o!" ucapnya dengan sewot. "Gue 'kan cuma ngasih saran, siapa tau lo mau nyoba plus berhasil, tar gue daftarin ke Rekor Muri Indonesia," balas Kimmy santai. "Lu berdua bisa diem gak?" tanya Sasa dengan kesal. Kimmy dan Sheryl langsung diam. Mereka ikut berpikir seperti Sasa, tapi entah apa yang sedang mereka pikirkan. *** Sedangkan di kelas, Para Anak Onta nya Gita sedang tertawa ketika mendapatkan ucapan rasa terimakasih dari teman-teman sekelasnya, karena mereka telah membuka jalan untuk makan dan minum gratis di kantin sekolah. "Biar tau rasa tuh Adek kelas centil." Getta yang tadi memberikan pengumuman tentang acara traktiran dadakan itu sedang tertawa bahagia. "Kelas berapa sih?" tanya Rian penasaran. "Sebelas A IPA 1," jawab Hendrik. "Anaknya pinter yang rambutnya item panjang, gue pernah satu lab sama dia," lanjutnya bermaksud pada Sheryl. "Cocok sama lu," cetus Andra. "Ogah, gak minat yang begituan. Minatnya yang manis kayak si Kakak," jawabnya tanpa dosa. "Cewek gue, Setan!!" sewot Andra. "Kan gue mah jujur orangnya," balas Hendrik. "Kalo itu mah kita juga mau," timpal mereka semua kompak, Andra mendengus kesal pada kelakuan teman-temannya. "Bangke banget emang lu semua," dengus Andra. "Kalo sampe pulang sekolah tu tiga anak masih aja kecentilan, gue lelang sumpah," geram Wildan yang memang paling paling jutek diantara mereka. "Di mana?" tanya Kenn. "Di tengkulak ikan," jawab Wildan asal. "Dikira cumi-cumi kali," timpal Getta. Semua murid diam ketika guru datang untuk kembali memulai pelajaran, mereka mengikutinya dengan tenang sampai jam pulang sekolah tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN