Sedang asik menikmati makan malam sederhana dengan obrolan santai, tiba-tiba datang tiga orang gadis yang dari sikapnya saja sudah bisa ditebak jika mereka mencari perhatian. Siapa lagi jika bukan Sheryl, Kimmy dan Salsa.
Mereka bertingkah seperti sudah mengenal lama dengan para Anak Onta. Gita yang melihatnya hanya tersenyum simpul ketika mereka melontarkan pertanyaan. Ketika Rian akan mengusir mereka semua, Gita melarangnya dengan lirikan matanya.
"Hay, Eh. Kakak semua ada disini?" tanya Sheryl dengan sok akrabnya.
Yang ditanya hanya diam tidak menjawab, dan terus melanjutkan makan. Tidak menghiraukan sama sekali kehadiran tiga adik kelasnya.
"Kok Kakak makan disini sih?" tanya Salsa yang entah ditunjukkan pada siapa.
"Tau nih, mendingan di sana," tunjuk Kimmy pada kafe di seberang jalan. "Nyaman dan gak bau," sambungnya lagi.
Lagi, mereka hanya diam. Gita yang melihatnya menjadi kasihan, tetapi Gita bingung harus berbuat apa? Karena anak Onta nya juga hanya diam saja.
"Bisa pergi gak? Berisik tau, jangan ganggu waktu kita deh," usir Rian yang mendapatkan lirikan tajam dari Gita.
"Kalo mau gabung duduk aja, tapi ya disini, bukan di sana."
Gita akhirnya berbicara, membuat ketiga gadis itu saling pandang dan mengangguk setuju. Biarlah untuk saat ini mereka duduk di pinggir sungai yang bau.
"Geser, Ta." Gita memerintahkan Hendrik dan Getta untuk memberikan ruang bagi ketiga gadis tersebut.
"Makasih," ujar ketiga gadis itu dengan senyum sok manisnya, ketika Hendrik dan Getta memberikan tempat pada mereka.
Para anak Onta hanya diam tidak menjawab.
"Makan yang banyak, Kak. Badan lu kurus banget tau gak?" ujar Rian dengan membukakan kerupuk untuk Gita. Hal itu menjadi perhatian ketiga gadis yang tak di undang tersebut.
"Aku boleh minta kerupuknya gak, Kak?" Sheryl mencoba mengakrabkan diri lagi.
"Tinggal ambil, 'kan di depan mata lu." Wildan yang menjawab tanpa memandang wajahnya.
"Aku juga mau ya." Kimmy dan Salsa pun akhirnya mengikuti trik Sheryl.
"Ambil aja," jawab Gita.
"Ini bukanya gimana?" ucap Sheryl dengan manjanya.
"Punya gigi, 'kan? Tinggal di gigit, repot amat hidup lu!" jawab Kenn dengan kesal.
"Onta," seru Gita memperingati.
Mendengar Gita memanggil Kenn dengan sebutan 'Onta' membuat ketiga gadis itu kembali saling pandang.
"Bukain lah, kasian itu," perintah Gita yang mau tidak mau dituruti oleh Kenn. Dengan malas Kenn membukakan kerupuk untuk Sheryl dan teman-temannya.
"Abis ini, Kakak-kakak semua mau ke mana?" tanya Salsa.
"Tanya sama yang Mulia Ratu Gita," jawab Getta menunjuk pada Gita. Gita yang mendengarnya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Ada-ada aja, lu."
"Oh, jadi namanya Gita," celetuk Kimmy yang di dengar oleh semuanya.
"Mangkanya, Non. Jadi orang yang sopan, kenalan dulu. Jangan SKSD gak jelas," sunggut Andra yang dari tadi hanya diam.
Mendengar perkataan Andra membuat mereka diam dan langsung mengajak Gita kenalan.
"Kenalin gue Sheryl, Ini Kimmy dan ini Salsa." Sheryl akhirnya memperkenalkan dirinya dan juga teman-temannya.
"Gita," balas Gita sopan.
"Udah tau kok," jawab Kimmy langsung. Gita hanya tersenyum mendengar jawaban dari adik kelas anak Onta nya.
"Abis ini mau ke mana?" tanya Sasa pada Gita.
"Lu nanya sama siapa?" sela Rian sebelum Gita menjawab.
"Sama dia," jawab Salsa dengan menunjuk Gita. Gadis tomboi dengan wajah pucat dan lusuh menurut mereka bertiga.
"Lu gak di ajarin sopan santun ya, lu udah tau siapa nama dia, panggil nama kek, atau gak Kakak kek," gerutu Rian.
"Kayaknya umurnya juga masih mudaan dia deh, jadi gak perlu manggil Kakak juga," jawab Kimmy.
"Sewot mulu, Ta. PMS ya?" canda Gita yang membuat Rian mendengus.
"Lagian gak sopan," jawab Rian kesal.
"Kita gak akan ke mana-mana lagi, jam sembilan nanti juga kita udah pulang kok," jawab Gita untuk pertanyaan Salsa.
"Gak asik banget," dengan santainya Sheryl berkata.
"Yang nyuruh lu kesini siapa? Udah tau gak asik kenapa masih disini?" Wildan bertanya dengan sengitnya.
"Bukan gitu maksudnya, Kak. Gimana kalo kita nongkrong dulu di sana," tunjuk Kimmy pada Kafe di seberang.
"Gak bisa, mereka harus pulang, besok masih harus sekolah." Gita yang menjawabnya, dan membuat ketiga gadis itu mendengus tidak suka.
"Emang situ siapanya ya? Kok ngatur sih?" tanya Sheryl dengan nada mengejek.
Gita hanya tersenyum, Wildan yang akan membuka mulut untuk menjawab tidak jadi, karena mendapatkan gelengan kepala dari Gita.
"Minggu depan ke Bandung yuk?" saran Getta.
"Ide bagus tuh, Kak."
Kimmy menjawab dengan antusias, membuat Gita dan para Anak Onta nya tersenyum.
"Gue gak bisa, Ta. Minggu depan gue mau pulang," ucap Gita dengan sesal.
"Ya udah sama kita-kita aja, Kak." Sheryl dengan semangat menawarkan diri.
"Bener tuh, nanti kita ke Villa aku yang di sana," timpal Sasa yang memang mempunyai Villa.
"Maaf kita gak jadi pergi," jawab Kenn.
"Loh, emangnya kenapa?" tanya Kimmy heran.
"Karena si Kakaknya gak ikut," jawab Hendrik.
"Penting banget ya dia ikut?" tanya Salsa dengan menunjuk Gita.
"Menurut lu?" tanya Andra sengit.
"Balik yuk," tanpa harus berkata dua kali, mereka langsung berdiri dan bersiap untuk pergi ketika mendengar ajakan Gita.
Refleks ketiga gadis itupun berdiri, "Kami nebeng ya, Kak?" pinta Sheryl dengan tidak tahu malunya.
"Lu didiemin makin ngelunjak ya?" tanya Kenn dengan kesal.
"Mobil gue penuh, gue juga gak tau rumah lu di mana dan gak mau tau juga, sekarang minggir, kita mau pergi." Wildan yang sudah sangat kesal berkata dengan ketusnya.
"Onta," panggil Gita sebagai nada peringatan. "Maaf ya, kita mau pulang dulu, lain kali kalo ada kesempatan kita ngobrol lagi. Permisi," ujar Gita dengan tersenyum manis. Membuat ketiganya semakin kesal pada Gita.
Mereka pergi begitu saja dari sana, setelah membereskan tikar yang tadi dipakai, juga membuang sampah bekas makan. Meninggalkan ketiga gadis yang sedang menahan kesal atas sikap para anak Onta.
"Siapa sih tuh cewek? Kucel of the kumel begitu, tapi kenapa mereka berenam nurut banget ya?" tanya Sheryl ketika Gita dan para anak Onta nya telah pergi.
"Terus lu tadi denger 'kan dia manggil apa sama mereka berenam, 'Onta'?" tanya Salsa yang aneh dengan panggilan Gita pada enam kakak kelas yang sedang diincar oleh mereka.
"Mana sok manis banget lagi senyumnya," timpal Kimmy.
"Kita harus cari tahu, sial banget gak sih? Kita di acuhin gitu aja setiap ngomong. Tapi giliran tu cewek yang ngomong mereka nurut," gerutu Salsa yang tidak terima diacuhkan.
"Terus tadi Kak Getta juga manggil dia Yang Mulia Ratu? Geli gak sih?' balas Kimmy.
"Apa jangan-jangan tu cewek salah satu adik dari mereka ya?" Sheryl mencoba berpikir dan menebak hubungan antara Gita dan para anak Onta nya.
"Gue gak yakin dan lebih ke mustahil sih. Lu liat aja gimana tampilan mereka sama tu cewek, kayak langit dan bumi. Kak Andra yang paling berantakan aja kita masih bisa bedain siapa dia. Kalo anak pembantunya baru gue percaya."
Kimmy dengan segala analisa nya dan membuat mereka bertiga tertawa. Melihat perbedaan yang sangat jauh membuatnya tidak menyetujui pemikiran Sheryl. Mereka jauh berbeda, Gita yang pendek, kecil, dan juga berkulit sawo matang. Sangat jauh dengan para anak Onta nya yang tinggi, putih, tampan dan jangan lupakan tajir. Jadi sepertinya mustahil jika Gita itu bagian dari keluarga mereka, itulah yang dipikirkan Kimmy.
"Gue setuju," seru Salsa yang juga berpikir sama dengan Kimmy.
"Ya udah, kita balik dulu sekarang. Besok kita pikirin lagi. Lu jadi nginep tempat gue gak?" tanya Sheryl pada kedua temannya.
"Ayok, gue udah izin kok," jawab Kimmy.
"Gue mah gak perlu izin. Bonyok gue gak ada," jawab Salsa seperti biasa.
Salsa adalah gadis yang kurang bahkan mungkin tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Sejak kecil Salsa dirawat oleh pengasuh sampai saat ini. Kedua orang tuanya merupakan pengusaha, dan waktu mereka dihabiskan hanya untuk bekerja.
Dalam satu bulan, Salsa paling bertemu dua atau tiga kali dengan orang tuanya. Maka dari itu, rumahnya terkadang dijadikan bascamp oleh mereka. Dan tak jarang pula Salsa menginap. Salsa merupakan sumber uang bagi Sheryl dan Kimmy, walaupun Sheryl dan Kimmy sama-sama dari keluarga kaya. Tetapi di antara mereka memang Salsa yang paling kaya. Dan Salsa tidak pernah mempermasalahkan itu. Baginya, asal mempunyai teman yang sejalan dengannya, maka ia tidak akan sungkan untuk mengeluarkan uang. Bisa di bilang Salsa membeli pertemanan dengan Uang.