Sheryl, Kimmy dan Salsa yang begitu penasaran dengan enam Kakak kelas yang terkenal anti didekati itu, menjadi semakin penasaran saat menyapa langsung secara tadi. Wajah mereka datar dan jawaban mereka sungguh menyakitkan hati sebenarnya.
Namun jangan berpikir bahwa mereka akan berhenti, hal itu justru membuat rasa penasaran mereka semakin menjadi. Mereka mulai membuat rencana untuk mengikuti kegian para kakak kelasnya itu. Mereka akan berperan sebagai detektif mulai nanti malam. Karena mereka sudah mengetahui dimana tempat nongkrong para kakak kelasnya yang menjadi incaran itu. Daerah yang cukup mudah untuk di jangkau.
"Nanti malam tunggu gue di tempat biasa ya, bawa mobil gue aja. Kita ikutin ke mana tujuan mereka. Gue udah tau rumah Kak Rian di mana." Sheryl dengan semangat mulai mengintruksikan rencananya.
"Gercep banget Lo, dapet dari mana?" tanya Kimmy heran.
"Jangan panggil gue Sheryl, kalo masalah begini aja jadi sulit," jawabnya dengan bangga.
"Ya udah, tar malem gue tunggu di kafe biasa."
Mereka bertiga beranjak untuk pulang ke rumah masing-masing. Mengistirahatkan sebentar tubuhnya, baru setelah itu akan mulai menjalankan rencananya.
***
Hari sudah beranjak sore, jam yang menunjukkan pukul 15.45 Wib membuat Gita merenggangkan otot-ototnya. Setelah menyelesaikan potongan terakhir jahitannya, Gita mulai merapikan tempat kerjanya. Dari mulai menyapu lantai, mengelap mesin lalu menutupnya, membuang sampah dan merapikan sisa bahan yang belum dijahitnya. 10 menit berlalu semua sudah rapi dan bersih, lima menit lagi bell pulang kerja akan berbunyi. Jika karyawan lain sudah mengantri di depan pintu keluar untuk segera turun disaat bell berbunyi, berbeda dengan Gita.
Gita lebih memilih berdiri dengan kedua tangan yang diletakkan di pagar pembatas balkon. Di bawah sana, di sebelah kiri, tepatnya di bawah tiang listrik, Andra sudah menunggunya. Melambaikan tangan dan menyugar rambutnya yang sedikit panjang. Gita hanya membalasnya dengan senyuman. Andra mengeluarkan handphonenya, dan mulai mengetikkan pesan untuk Gita.
Onta:
Cepet turun, udah bell tuh.
Perintahnya dalam pesan tersebut. Gita melihat ke arah tangga keluar, melihat masih berdesakan untuk turun.
Me:
Bentar lagi, masih rame di tangganya.
Balasnya yang di angguki oleh Andra. Andra kembali memandang wajah lelah Gita. Gita tidak seperti karyawan lainnya, yang jika jam pulang kerja akan tiba maka mereka akan mencuci muka terlebih dahulu dan menempelkan bedak serta lipstik agar terlihat segar.
Sedangkan Gita lebih membiarkan kulit wajahnya yang kering tanpa berniat mencuci muka apalagi berdandan. Setelah melihat sedikit longgar, barulah Gita beranjak dari tempatnya dan mulai menuruni satu persatu anak tangga. Sampai di lantai bawah Gita segera mengambil sandalnya, dan keluar. Gita melihat Andra sedang mengobrol bersama Nung dan Nur.
"Eh ini dia permaisurinya baru keluar," ujar Nung ketika Gita telah di hadapan mereka.
"Permaisuri dari Hongkong?" tanya Gita yang membuat Andra terkekeh.
"Lu jadi ojeknya, Ndra?" tanya Nung lagi.
"Bisa jadi sih," jawab Andra.
"Kapan-kapan kita jalan bareng lah, tar gue ajak cowok gue." Saran dari Nung membuat Andra berpikir sejenak.
"Boleh deh, atur aja waktunya."
"Harusnya kita dapet pajak jadian ini dari lu berdua," celetuk Nur tiba-tiba.
"Lu tentuin aja tempatnya, kalo udah bilang gue. Tar gue traktir," jawab Andra dengan santai.
"Oke, siap. Tar gue nyari tempatnya dulu, ya udah kita duluan ya." Nur dan Nung akhirnya pergi.
"Ayok Ayy." Andra memberikan helm nya pada Gita. "Mau makan dulu gak?" tanyanya sebelum menjalankan motor.
"Malem aja lah, kita beli es aja. Gue aus banget," jawab Gita.
Andra langsung menjalankan motornya menuju tempat pedagang es langganan Gita.
"Pak coklat nya dua ya, jangan pake cincau."
Andra memesan tanpa turun dari motornya. Si bapak penjual yang sudah hapal langsung membuat kan pesanannya. Kebetulan sedang sepi, jadi langsung di proses. Gita sangat menyukai minuman yang disebut Capcin itu, alias Capuccino cincau. Tapi Gita tidak menyukai cincau nya.
"Ini, Dek."
Andra membayar dan menyerahkan pada Gita, sebelum berangkat mereka meminumnya terlebih dahulu. dua kali menyedotnya Andra kembali menjalankan motornya menuju kontrakan Gita. Andra akan melaksanakan shalat magrib di mushola setempat. Karena nanti malam mereka akan pergi menuju Kota Tua.
Setelah melaksanakan shalat magrib, Gita bersiap untuk pergi bersama Andra ke tempat tongkrongan mereka. Setelah sebelumnya izin terlebih dahulu pada Yola.
Mereka sampai lebih dulu di sana, karena memang jalanan malam ini lancar, juga Andra yang membawa motor bukan mobilnya.
"Tumben belom pada datang?" tanya Gita yang turun lebih dulu.
"Baru pada berangkat katanya," jawab Andra. "Mau makan apa? Jangan susah sih makannya. Badan kurus banget gini," ucap Andra dengan memegang pergelangan tangan Gita yang memang kecil.
"Keluarga gue turunan kecil, Ta. Jadi mau makan segimana pun tetep aja kecil," jawab Gita.
Memang dalam silsilah keluarga Gita, tidak ada yang memiliki badan gemuk. Semua keluarganya memiliki bentuk tubuh yang kecil.
"Mereka sekalian mau beli makanan katanya." Rian memang menelponnya dan berkata akan membeli makanan sekalian.
"Nasi aja, dari pagi belom makan nasi soalnya."
"Kebiasaan banget sih?" tanya Andra heran dengan Gita yang kuat tidak memakan nasi sampai du8 hari.
"Orang males kok," jawab Gita enteng.
"Pecel ayam mau?"
"Pecel telor aja, jangan lupa tempenya."
Andra segera menelpon teman-temannya, dan memberi tahu pesanan Gita yang langsung disetujui oleh Rian.
***
"Si Andra jemput si Kakak ya?" tanya Rian pada yang lain.
"Dari sore, ketemu di tempat biasa katanya," jawab Getta.
Tempat nongkrong mereka sekarang berubah, yang dulu di kafe Batavia, sekarang menjadi kafe pinggir sungai di daerah Kota Tua. Itu semua atas keinginan Gita. Dan mereka setuju-setuju saja. Jam yang sudah menunjukan pukul 18.40 wib, mereka bersiap untuk segera meluncur Ketempat tujuan.
"Mau makan apa kita?" tanya Kenn.
"Tadi si Onta telpon, katanya si Kakak mau makan nasi pecel telor plus tempe. Sekalian aja lah," jawab Rian yang duduk di sebelah Wildan.
"Ya udah, di depan ada tuh pedagang pecel ayamnya." Getta menunjuk pedagang pecel ayam yang berada di kiri jalan.
Wildan yang turun untuk membelinya, mereka tidak pernah perhitungan masalah uang, apalagi jika untuk makanan. Wildan memesan empat lele goreng, dua telur dadar dan satu ayam goreng, serta tahu lima dan tempe 20.
Gita merupakan fans nomer satu untuk tempe goreng, setiap kali makan, menu wajibnya harus ada tempe goreng. Makan tidak akan terasa nikmat baginya jika tidak menggunakan tempe goreng. 10 menit menunggu, Wildan kembali masuk kedalam mobil dengan membawa dua kantong berisi lauk dan satu kantong berisi nasi.
Hendrik kembali melajukan mobil yang dikemudikannya, menempuh perjalanan yang hanya memerlukan waktu lima menit untuk Sampai di tempat tujuan. Setelah mobil terparkir sempurna, mereka semua turun dan melihat Gita sendirian.
"Si Onta kemana, Kak?" tanya Getta begitu sampai di hadapan Gita.
"Lagi beli minum," jawab Gita. "Udah beli nasi?" tanya Gita entah pada siapa.
"Nih."
Wildan dan Kenn datang dan duduk sambil menyimpan plastik di tengah-tengah mereka. Andra dan Gita sudah menyewa tikar untuk mereka duduk di pinggir sungai.
"Makan yuk, gue laper." Gita membuka plastik dan mulai mengeluarkan isinya. "Beli berapa ini, banyak amat?" tanyanya setelah mengeluarkan semua isinya.
"Sesuai pesenan masing-masing," jawab Wildan.
Gita sekarang sudah tidak pernah menanyakan memakai uang siapa, karena percuma, mereka tidak akan menjawabnya.
Andra yang datang dengan membawa dua botol air mineral dengan ukuran 1,5 liter dan juga 1 botol ukuran kecil. Juga sekantong kerupuk, entah ia dapatkan dari mana.
"Nih."
Andra menyodorkan botol air mineral ukuran kecil pada Gita. Sedangkan botol ukuran besar ditaruhnya di tengah dengan kantong kerupuknya.
"Beli di mana lu?" tanya Hendrik si penggemar kerupuk.
"Di ujung jalan Sono," jawabnya enteng. "Gue tadi ketemu sama cewek yang tadi sore ngehadang kita pas mau pulang." Sheryl, Kimmy dan Salsa memang tadi menghampirinya.
"Biarin aja, yang penting gak ganggu kita," balas Rian.
"Makan dulu."
Gita membukakan jatah makanan Andra, lauknya sama seperti Gita. Gita juga membagikan separuh nasinya pada Andra. Hal yang selalu dilakukannya ketika makan.
"Baca doa woi!" serunya dengan melemparkan kerupuk pada Kenn.
"Lupa gue," jawab Kenn dengan nyengir polos.
"Lu udah pada cuci tangan belom?" tanya Andra.
"Kita mah udah lah, lu yang belom," jawab Getta.
"Gue juga belom sih," celetuk Gita tanpa dosa.
"Jorok banget sih. Cuci dulu Sono," perintah Rian.
Andra membuka air di dalam botol yang masih tersegel rapi, mereka akan mencuci tangan menggunakan air tersebut. Setelah itu mereka membaca doa.
Gita, Andra dan Rian menengadah tangannya untuk membaca doa. Hendrik, Kenn, Wildan dan Getta menyatukan kedua tangan mereka untuk membaca doa, setelah selesai barulah mereka mulai makan.
Makanan sederhana yang pertama kali mereka makan saat berkenalan dengan Gita. Karena sebelum kenal dengan Gita, mereka selalu makan di restoran atau di rumah. Tapi lihatlah saat ini, mereka makan dengan nasi bungkus pecel lele di pinggir jalan, dengan hanya beralaskan tikar. Terkadang mereka pun bertanya pada diri masing-masing tentang perubahan hidup mereka.