Pertemuan Pertama

1825 Kata
Ketika kita merasakan yang namanya jatuh cinta, semua hal akan begitu terasa menyenangkan. Contohnya ketika mendapatkan kalimat Selamat pagi dari sang kekasih, padahal itu hanya ucapan sepele yang tidak berarti apa-apa jika orang lain yang mengucapkannya. Namun, begitu beda rasanya ketika yang mengucapkan itu adalah seseorang yang berstatus sebagai pacar. Seakan menjadi sebuah kalimat yang mengandung vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Terkesan lebay memang, tetapi itulah yang dirasakan oleh seorang Andra Adi Putra Angkasa. Pewaris dari Angkasa Grup yang tidak pernah menunjukan dirinya di depan publik, atau lebih tepatnya tidak pernah diketahui oleh publik, selain orang-orang terdekatnya. Pagi ini sebelum berangkat menuju sekolahnya Andra mendapatkan notifikasi pesan dari seorang wanita yang berstatus sebagai pacarnya. Siapa lagi jika bukan Anggita Purnama atau yang dia panggil dengan sebutan Gigit.Tadi malam Gita menerima ajakannya untuk berpacaran, walaupun belum bertemu secara langsung tetapi karena Gita merasa nyaman dan karena teror setiap hari dari Andra, akhirnya Gita menerima Andra sebagai pacarnya. Gigit: Pagi Onta. Pesan singkat yang dikirim Gita membuat Andra tersenyum cerah. Setelah mengenal Gita cahaya gelap di hidup Andra perlahan menimbulkan titik-titik terang. Me: Pagi juga Gigit. Jangan lupa sarapan, baca doa sebelum kerja. Love love deh. Balasan pesan yang dikirim Andra membuat Gita tersenyum. Gigit: Lu sekolah hari ini? Berasa tante-tante gue punya pacar masih sekolah hahaha. Me: Sekolah dong, mangkanya gue butuh semangat dari lu. Lu kan kerja belum waktunya. Dan tetep tua'an gue ya. Gigit: Hahaha. Ya udah gue mau kerja dulu. Semangat Me: Semangat juga. Percakapan pertama melalui pesan singkat setelah mereka berganti status dari kenalan menjadi pacar, membuat keduanya memiliki kegiatan lain, seperti wajib dalam memberikan kabar. *** Hari begitu cepat dirasakan oleh Gita. Sudah lima hari terhitung sejak ia memutuskan berpacaran dengan Andra, dan mereka belum bertemu satu sama lain, tepatnya Gita yang belum mengetahui bentuk dan wujud Andra. Sedangkan Andra telah mengetahui Gita tanpa sepengetahuan nya. Seperti biasa jika hari sabtu Gita akan pulang bekerja setengah hari. Ketika ia sedang menunggu Oncom temannya untuk pulang bersama, sebuah notifikasi pesan masuk ke hp nya. Onta: Jangan lupa nanti malem ya, dandan yang cantik oke. Gita tersenyum membaca pesan yang dikirim Andra untuknya. Gita segera membalasnya. Me: Tar gue pake sendal hak tinggi 12cm rok sepaha sama tanktop tali satu ya, dandanan gue cetar deh pokoknya hahaha. Onta: Wow menakjubkan! Mau mangkal di mana, Neng? Me: Di jembatan Genit hahaha {jembatan yang terkenal tempat prostitusi} Onta: Gue karungin lu. Me: Hahaha, gue mau balik dulu. Jam 7 gue berangkat, jangan di jemput, gue sama temen. Onta: Oke, hati-hati love. Takut amat gue culik pake bawa temen segala. Me: Hahaha. Menjaga lebih baik ya. Ya malam ini memang mereka berencana untuk bertemu di museum Fatahillah atau yang sering di sebut Kota Tua. Gita beserta teman-temannya akan pergi ke tempat bersejarah di Jakarta tersebut. Karena jarak nya juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit jika menaiki Angkot. Kebetulan daerah itu pun tempat Andra beserta teman-temannya berkumpul. *** Setelah melaksanakan sholat magrib, Gita bersiap untuk pergi. Malam ini gita menggunakan celana jeans panjang berwarna navy, kaos polos berwarna hitam, ditambah sweater berwarna abu-abu dengan rambut yang di kuncir menyerupai ekor kuda. Wajah polosnya tanpa polesan apapun membuat teman-temannya terkadang protes tetapi selalu diabaikan. Oncom yang mengetahui bahwa Gita akan bertemu dengan Andra mulai protes dengan penampilan Gita. "MasyaAllah Gita, atuh pake lipbalm kek sedikit mah, 'kan lu mau ketemu pacar." "Dih! Hulap," jawabnya dengan santai. Membuat Oncom mencebikkan bibirnya. "Yu berangkat." Gita menarik lengan Oncom setelah mengikat tali sepatunya. Mereka berdua berjalan sekitar 300 meter untuk menuju halte angkutan umum. Sekitar 15 menit mereka sampai di tempat tujuan. Sesampainya mereka di Kota Tua, Oncom pergi ke tempat kakaknya, mereka berpisah tepat di depan museum Bank Mandiri. Gita mulai berjalan dan menyebrang bersama pejalan kaki lainnya, malam minggu seperti ini Kota Tua sudah dipastikan akan ramai dari berbagai generasi. Gita berjalan menuju pinggiran sungai, menyandarkan diri di pembatas sungai. Gita mulai mengeluarkan hp nya untuk menghubungi Andra. Me: Onta gue udah di Kotu, pinggir kali, deket sama orang yang lagi pemotretan. Setelah mengabari Andra Gita berjalan menuju pedagang minuman keliling untuk membeli soda dingin kesukaannya. Handphonenya bergetar menandakan sebuah notifikasi pesan masuk. Onta: Tunggu 5 menit, gue otw. Gita tidak berniat membalasnya ia hanya akan menunggu, karena Andra mengatakan bahwa dia sudah tahu dirinya. Ketika Gita sedang minum minuman soda nya sambil menghadap ke sungai yang airnya berwarna hitam, dengan kedua tangan diletakkan di pembatas sungai. Sebuah motor mio berwarna putih berhenti di belakangnya. Gita tidak menoleh, karena takutnya itu orang lain, bukan orang yang ia tunggu. Si pengendara mematikan mesin motornya, dan menstandarkan motornya. "Gigit ya?" tanya nya setelah sampai di sebelah Gita dengan posisi sama seperti Gita. "Onta." Gita membalas singkat, dan mulai memiringkan badannya, menghadap pada Andra, begitupun sebaliknya. "Akhirnya gue ketemu pacar gue juga," ucapan Andra membuat Gita terkekeh. "Jalan yu," ajaknya lagi. "Ke mana?" tanya Gita dengan polosnya. "Keliling aja dulu," jawabnya sambil menarik lengan Gita menuju motornya. "Pake helmnya." Andra memakaikan helm pada Gita. "Emang mau ke jauh ya? Pake helm segala," tanya nya lagi dengan polos, membuat Andra terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Pake helm itu buat keselamatan, bukan karena jaraknya dekat maupun jauh," tegas Andra Gita hanya ber oh ria. Setelahnya mereka mulai berkeliling dan benar-benar hanya mengelilingi museum Fatahillah dan kembali ketempat semula. Sejujurnya Gita sedikit takut, karena bagaimanapun Gita masih baru di Jakarta, ia belum pernah pergi dengan orang asing selain Oncom. Walaupun Andra bersikap baik dan berstatus pacarnya, tetap saja Gita harus waspada. "Pegangan jatoh ntar lu." Perintah Andra karena Gita duduk sedikit kebelakang. "Jangan ngebut lah." "Lu takut ya sama gue?" Andra bisa merasakan kecanggungan Gita. "Sedikit sih," jawabnya. "Jujur banget sih lu." Andra gemas dengan sikap jujur dan polos Gita. "Bohong dosa Onta." "Hahaha… iya, Bu. Mau ke mana ini kita?" "Balik tempat tadi aja lah." "Siap bos." Setelah sampai di tempat semula. Gita dan Andra duduk di pinggir sungai tanpa menggunakan alas apapun. "Lu gemesin banget sih, Git. Polos banget lagi." Andra berkata sambil mengacak rambut Gita "Rambut gue berantakan Onta!" ucapnya degan kesal. "Jajan yu," ajakan Andra membuat Gita tertawa. "Lu kenapa ketawa?" tanya Andra dengan ekspresi bingung. "Lu kaya ngajakin adek lu jajan." Andra berpikir sejenak, "Oh iya ya. Hahaha. Ya udah gak apa-apa, hayu lu mau beli apa?" Gita menaikan alisnya, "Emang lu punya duit?" Karena yang Gita tahu Andra hanyalah anak sekolah, sudah bisa dipastikan jika Andra masih meminta pada orangtuanya. "Etdah! Biar kata gue masih sekolah, cuma buat beli cimol doang mah bisa gue beliin lu, apa mau makan aja?" Gita menggelengkan kepalanya. "Gue udah makan, beli kentang goreng aja deh." Andra mengangguk, "ya udah gue aja yang beli, lu tunggu disini aja, pegang kunci motor gue." Setelah menyerahkan kunci motornya, Andra berjalan menuju penjual kentang goreng. "Dasar Onta, gue bawa kabur juga nih motor." Gita berpikir Andra terlalu mudah percaya. Beberapa saat menunggu, Andra datang dengan membawa kantong berbahan kertas yang berisi kentang goreng, dan dua botol minuman teh. "Nih, masih panas tapinya pelan-pelan." Ucapnya dengan menyerahkan kentang goreng. Setelahnya ia membuka kedua tutup botol yang masih tersegel, untuk memudahkan Gita ketika ingin meminumnya. "Nih kunci motor lu, maen asal kasih aja, gimana kalo gue bawa kabur nih motor?" tanya Gita dengan nada bercanda. "Bawa aja kalo emang lu mau," jawabnya dengan santai. "Pulang nya gue anterin ya." "Gue kan sama si Oncom." "Bukannya dia mau nginep ya?" "Ko lu tau sih?" "Si pikun, 'kan lu yang ngasih tau!". "Gue lupa!" jawabnya sambil nyengir ala kuda. Andra yang terus memperhatikan Gita dengan tersenyum membuat Gita menaikan sebelah alisnya. "Apa sih liatain gue kaya gitu?" Andra merapikan rambut Gita yang sedikit berantakan. "Lu manis banget sih," ucapnya spontan dengan kembali mengacak rambut Gita. "Onta ih! Ngapain lu rapiin kalo lu acakin lagi!" Gita berkata sambil menarik kuncir rambutnya, bermaksud untuk merapikan kembali kunciran nya. Tetapi gerakan tangan nya yang akan kembali menguncir rambutnya ditahan oleh Andra. "Jangan di kuncir lagi, digerai aja sekali-kali cantik kok," ucapnya sambil menyelipkan anak rambut Gita. "Gue nggak suka Ta. Ribet, ini aja mau gue potong pendek ntar." Gita memang tidak pernah menggerai rambutnya, selain karena panas, Gita juga tipe orang yang kurang percaya diri. Tipe rambut Gita lurus dan mengembang, jika kunciran rambutnya dilepas maka akan meninggalkan bekas, dan itu membuat Gita selalu merasa jika rambutnya berantakan. Juga banyaknya anak rambut yang tumbuh, membuatnya semakin tidak nyaman. "Di sini nggak panas Git, udah biarin gini aja." Kekeuh nya menarik kunciran yang ada di tangan Gita. Membuat Gita pasrah menggerai rambutnya. "Gimana udah ketemu gue, udah nggak penasaran, 'kan? Pasti ntar nya ngilang deh, tau gue yang kaya gini." Gita berkata mengikuti pemikirannya. "Kabur ke mana gue, ada juga lu yang bakalan ngilang liat gue yang kayak gini." Andra berpikir Gita mungkin akan meninggalkannya melihat dari penampilan Andra saat ini. Wajah yang penuh dengan jerawat, rambut yang sedikit berantakan. "Emang lu kenapa?" tanya Gita dengan polosnya. "Lu gemesin banget sih." "Dih lu mah, emang gue boneka susan apa." "Lu kenapa mikir gue bakal ngilang setelah ketemu lu?" "Karna gue ga sesuai kaya yang lu bayangin, gue kecil, item pendek__ " ucapan gita dipotong oleh Andra. "Idup lagi." Karena Gita memang kerap kali mengatakan hal itu, untuk meminimalisir kekecewaan menurutnya. "Gue udah tau semua itu Git, lu udah bilang berapa kali? Sekarang lu coba liat gue, muka gue jerawat doang, penampilan gue acak-acakan, gue yakin lu yang bakalan ngilang setelah ini." "Sok tau!" balas Gita cepat. Andra seperti terhipnotis oleh seorang Gita, gadis tomboy yang sekarang ada di hadapannya, dan juga berstatus sebagai pacarnya. Sikap polos dan jujur Gita terlihat begitu menggemaskan di mata Andra. Tubuh kecil dan pendek, kulit sawo matang nya membuat Gita terlihat manis sekali di mata Andra. Andra memperhatikan wajah Gita dengan seksama seperti sedang merekam wajah Gita dalam ingatannya. Wajah yang benar-benar polos tanpa make up, dan juga bibir pucat nya membuat Gita terlihat berbeda dari wanita lain yang mengejarnya, apalagi mereka yang tahu status sosial Andra. Hari gelap yang menemani hidup Andra selama tiga tahun terakhir perlahan menimbulkan titik-titik cahaya. Gadis yang berada di dekatnya berhasil membawa tawa Andra kembali, walaupun ketika bersama teman-temannya Andra juga tertawa, tetapi dengan Gita berbeda rasanya. Entah rasa apa Andra tidak tahu. Mengapa waktu begitu terasa cepat berlalu bagi Andra, ia masih ingin berada disisi gadis tomboy yang merupakan kekasihnya, tetapi waktu seolah tidak mengijinkannya. Jam telah menunjukan pukul 21.00. "Udah jam sembilan, Ta. gue mau balik, takut Mpo gue nyanyi." "Ya udah hayu." "Dianterin ini beneran?" "Deh, gue gigit beneran lu." Setelah memakaikan helm di kepala Gita, Andra naik ke motornya dan disusul Gita. "Emang lu tau Ta kontrakan gue dimana?" "Deket rumahnya si Nung kan?" "Betul, ya udah berangkat." "Siap bos, astaga Git lu duduk kurang belakang." Andra menyindir Gita yang duduk di jok lebih ke belakang. "Hahaha." Dan Andra menutup pertemuan manisnya bersama Gita, setelah ia pergi dari kontrakan Gita. Untuk pertama kalinya hatinya berdebar dengan liputi rasa bahagia yang sesungguhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN