Kehidupan Rian

1974 Kata
Hidup sendiri dirumah yang terbilang cukup besar, tetapi selalu merasa di perhatikan dari jauh, itulah yang dirasakan seorang Gentara Arian Putra. Orangtuanya berada di Kota Bandung, sedangkan ia dari mulai kelas dua menengah pertama pindah sekolah ke daerah Jakarta, dan langsung disambut oleh Andra, Kenn, Getta, Hendrik dan juga Wildan. Sekolah mereka adalah sekolah Elit. Yang sudah dipastikan hanya orang-orang berduit yang mampu menyekolahkan anaknya di tempat itu. Sejak mulai umur tujuh tahun Rian tinggal terpisah dengan keluarganya. Rian kecil berada di daerah Jawa untuk menempuh pendidikan di sebuah pesantren modern. Itu keinginan Ayahnya, agar anak lelakinya mendapatkan dasar pendidikan agama yang bagus hingga lulus sekolah dasar. Dan melanjutkan pendidikan nya di Jakarta saat kelas dua SMP. Hidup mandiri baginya sudah biasa, orang tuanya yang sibuk, dan dia mengemban beban besar dipundaknya. Sebagai anak lelaki satu-satunya di keluarga ia dituntut harus patuh dengan segala aturan mami nya. Rian bagaikan sebuah boneka di tangan mami nya, tidak berhak memprotes. Dengan dalih anak kesayangan karena menjadi anak lelaki satu-satunya di keluarga. Padahal selama ini hidup yang ia rasakan penuh dengan tekanan atas segala peraturan mami nya. Rian kecil tidak memiliki teman dekat, karena pergerakannya selalu diawasi. Jika kalian berpikir ia seorang anak konglomerat atas, jelas itu salah. Rian hanya anak seorang kontraktor dan pemilik beberapa restoran. Tetapi kehidupannya bagaikan seorang pangeran yang selalu dikawal oleh bodyguard. Jika kalian bertanya apa alasannya? Maka jawabannya hanya mami nya yang tahu, karena itu semua dilakukan oleh maminya. Seiring berjalannya waktu, Rian tumbuh menjadi remaja pendiam, dan menjadi seorang remaja dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah. Rian tidak pandai bergaul. Sampai pada saat ia menyampaikan keinginannya untuk pindah sekolah ke Jakarta dengan alasan ingin menambah wawasan. Hari itu untuk pertama kalinya Rian merasakan kebebasan menghirup udara. Tanpa bodyguard yang biasanya selalu menjaganya. Menghirup udara Jakarta yang penuh polusi tidak menjadikannya masalah, baginya yang penting ia bebas dari para pengawal yang menyebalkan. Kehadiran para pengawal itu membuat gerak maupun ruang Rian terhimpit. Bebas, satu kata yang Rian selalu bayangkan. Bebas dari segala tuntutan mami nya. Bebas dari pengawalan yang disiapkan mami nya. Bebas memiliki teman. Bebas menata hidupnya. Begitu kira-kira yang Rian selalu bayangkan. Namun, selama ini hal itu hanya bisa Rian bayangkan tanpa bisa dirasakan. Tapi mulai hari ini, hari dimana dia mulai memasuki sekolah menengah pertama dengan skala internasional. Beruntung keluarganya langsung menyetujui. Tidak hanya itu, Rian juga di fasilitasi dengan sebuah rumah pribadi, mobil dan tentunya uang jajan setiap bulannya. Namun, jangan kira hidup Rian bisa bebas setelah di Jakarta. Tetap saja Rian diawasi dengan ketat oleh orang tuanya, apalagi dalam hal berteman. Dua tahun lalu setelah satu tahun Rian bersekolah di Jakarta dan berteman dengan Andra, Getta, Hendrik, Wildan dan Kenn. Rian mengajak teman-temannya main ke rumah orang tuanya di Bandung. Begitu sampai mami nya menyambut hangat kedatangan anak beserta teman-temannya. Mami nya yang memang selalu memandang kasta dan derajat seseorang jelas menunjukan sikapnya terhadap Andra, yang memang selalu berpenampilan sederhana bahkan terkesan asal. Membuat semua orang menilai ia hanya anak dari kalangan biasa bahkan miskin. "Assalamualaikum, Mih. Kenalin ini temen-temen Ian." Mereka mulai menyalami tangan Erika mami nya Rian satu persatu. Andra yang terakhir menyalaminya. Erika menilai dari ujung kaki sampai ujung rambut penampilan Andra. Wajah yang berjerawat, jeans belel, kaos berwarna biru, rambut yang sedikit panjang, snikers biru merk brand centang yang ia pastikan itu barang KW. Erika langsung melepaskan tangannya dari Andra membuat Rian geram dan tahu isi pemikiran mami nya. "Ya udah Ian ajak temen-temennya masuk." Perintah sang mami dan di angguki oleh Rian. "Ayo masuk," ajaknya pada teman-temannya. Setelah sampai di ruang tamu keluarga Rian, ternyata mami nya sudah duduk di sana, dengan di atas meja tersedia minuman dan berbagai camilan. "Sini duduk." Perintahnya pada semua. Di meja itu sudah tersedia minuman dan juga camilan untuk mereka. Setelah mereka mendudukkan diri di kursi Erika mulai bertanya. "Kalian mulai berteman kapan?" "Kami berlima dari mulai sekolah dasar Tante, sedangkan dengan Rian dari hari pertama Rian masuk di sekolah kami." Andra menjawab dengan santai. "Oh... Kamu pasti sangat cerdas ya?" Tanyanya lagi dengan penasaran. Karena menurutnya Andra pasti mendapatkan beasiswa sehingga bisa masuk sekolah berskala internasional tersebut. Karena jika melihat dari penampilannya sudah bisa dipastikan jika Andra dari kalangan bawah. Dan ia harus memperingati Rian untuk tidak berteman dengannya. "Saya tidak cerdas Tan, nilai saya standard cuma cukup buat lulus aja," "Terus kalau bukan karena beasiswa, kok bisa masuk ke sekolah itu? Disitu 'kan biayanya gak main-main?" Tanyanya dengan heran terkesan merendahkan, membuat Rian geram. sedangkan Kenn, Hendrik, Getta dan Wildan melongo tak percaya akan sikap Mami Rian. Ketika Rian ingin menjawab pertanyaan Mami nya, Andra telah menjawab dengan santainya. "Saya dibiayai oleh Paman saya, Tan. Kebetulan beliau tidak punya anak dan lumayan mampu untuk membiayai saya." "Oh... Jadi kamu yatim piatu?" tanyanya lagi masih dengan nada yang sama. "Saya dari keluarga broken home, Tan." Andra menjawab dengan santai. "Oh…" Erika hanya ber oh ria dengan menganggukkan kepalanya pelan. Membuat Rian sungguh kesal. "Mih ikut Ian sebentar." Rian berdiri dan mengajaknya ke dapur, "Diminum sama di makanin dulu oy, gw ke dalem bentar ok." Setelah Rian pergi bersama mami nya, mereka berlima menggelengkan kepala mendengar pertanyaan-pertanyaan Erika yang sudah jelas merendahkan. Mereka tidak kaget karena sebelumnya Rian memang sering bercerita. Rian juga sudah memberitahu tentang sikap Maminya. Sedangkan di dapur Rian yang kesal langsung berbicara pada maminya. "Ian tau isi pikiran Mami, Mami tau gak siapa Andra?" Erika bersikap tidak peduli. "Mami gak tau dan gak mau tau siapa dia, yang pasti Mami gak suka Ian temenan sama dia! Penampilannya aja udah kayak gembel begitu." Lagi penampilan Andra mengelabui identitas dirinya. "Andra itu anak dari Bapak Adi Putra Angkasa. Pemilik Angkasa Group yang berpusat di Singapura. Dan ibunya Amela Sareeta Smith, pemilik dari Sareeta Agensi dan juga Sareeta Cosmetics yang berpusat di Amsterdam. Mami pasti tahu kan kedua perusahaan raksasa itu?" ucapan Rian membuat Erika diam seribu bahasa. Ia masih menyangkalnya. "Kamu mau bohongin Mami? Kamu gak denger dia bilang sekolah aja di biyaian pamannya," Kekeuh nya. "Andra gak perlu ngeluarin biaya Mih, sekolah itu punyanya Andra. Yang diurus sama paman nya!" "Kamu serius ini?" "Menurut Mami?" "Tapi kenapa dia kayak gembel gitu penampilannya?" "Jangan cuma liat dari penampilannya. Asal Mami tau di antara mereka keluarga kita masuk jajaran paling bawah menurut dari segi materi. Sedangkan di antara Kami semua Andra yang paling kaya. Dia satu-satunya pewaris Angkasa Group. Sedangkan Sareeta Agensi & Cosmetics pewarisnya adalah Putri. adik dari Andra!" Ucapan Rian membuat Erika terdiam. Bukan karena shock, tetapi Erika sedang memikirkan bagaimana caranya ia meminta maaf. Bukan juga karena menyesal, tetapi karena fakta tentang Andra yg menurutnya pantas berteman dengan anaknya. Setelah menjelaskan siapa Andra sebenarnya Rian kembali ke ruang tamu dimana teman-temannya berada. Sedangkan Erika masih terdiam memikirkan bagaimana menarik perhatian Andra. Ia akan memanfaatkan pertemanan anaknya untuk keperluannya. "Sorry lama." Rian mendudukan dirinya di sofa singel tepat di samping Getta. "Sorry ya Ndra buat semua omongan Nyokap." Walaupun telah memberitahu bagaimana sifat Mami nya, Rian tetap merasa tidak enak atas sikaf sang Mami yang jelas merendahkan Andra. Andra tertawa ringan. "Santai aja sih, gak gue masukin hati apalagi jantung, cuma gue masukin kuping kanan doang, terus gue keluarin di kuping kiri." "Tetep aja gue ngerasa gak enak!" "Santai wes." "Taman belakang aja yu," ajak Rian pada teman-temannya. Tanpa bicara lagi mereka semua bangkit dengan menuju taman belakang rumah Rian. Kenn membawa nampan berisi gelas, wildan membawa toples keripik, Hendrik membawa piring berisi bolu, Getta membawa piring berisi puding, Andra membawa teko berisi minuman, sedangkan Rian pergi mengambil karpet untuk duduk mereka semua. Setelah karpet digelar mereka meletakkan barang bawaan masing-masing. "Adem banget taman rumah lu, Yan. Seger cuacanya." Hendrik menghirup udara dalam-dalam merasakan hawa sejuk di taman belakang rumah Rian. Taman yang tertata dengan rapi, terdapat beberapa tanaman bunga dan juga kolam ikan kecil juga mini air terjunnya. Rumput yang tertata rapi dengan beberapa jenis pohon kecil, mereka duduk di bawah empat pohon mangga besar dengan daun yang rimbun, dan sedang berbuah dengan lebatnya di empat sudut membentuk persegi, membuat tempat tersebut terlindung dari sengatan sinar matahari. "Wah mantap mangga nya gede-gede, udah pada tua juga." Kenn berseru dengan riang. "Tuh ada yang udah siap di ambil juga." Rian menunjuk salah satu buah mangga yang siap dipetik. "Itu 'kan masih ijo begitu, berarti belom mateng dong!" Getta melihat dan menyampaikan pendapatnya. "Itu udah setengah mateng Gett, itu atasnya juga udah agak kuning, mau bikin rujak gak?" Rian menjawabnya. "Wih boleh tuh, tapi siapa yang mau metiknya?" Wildan bersemangat ketika mendengar Rian menawarkan rujak. Karena ia memang tipe lelaki yang menyukai rujak. Hendrik menggerakkan ekor matanya ke sebelah kiri menunjuk Andra. Karena memang diantara mereka Andra paling pandai memanjat pohon tinggi sekalipun. Andra yang sedari tadi terlihat sibuk membalas pesan entah dari siapa menyadari ketika teman-temannya hanya diam, ketika ia mengangkat kepalanya ternyata semua pandangan teman-temannya mengarah pada dirinya. Andra pun menarik alis sebelah kanannya ke atas bermaksud bertanya? Mereka kompak menjawab dengan menaik turunkan alis, dan juga membentuk senyum dipaksakan dengan tangan sebelah kanan menunjukkan buah mangga, membuat Andra paham apa yang mereka inginkan. Membuat Andra mendengus dan berkata. "Gak mau gue, tar disangka maling lagi, ngambil mangga orang kaga bilang-bilang." Ketika Rian hendak bersuara, dari arah belakang Andra Erika langsung menjawab, "Ambil aja Ndra kalo bisa naik mah, tapi hati-hati jatuh, petikin semua itu sekalian yang udah pada tua, buat di bagiin sama tetangga juga kalo udah mateng." seketika mereka semua menoleh ke arah Erika yang heran pada sikap Mami Rian yang berubah hangat terhadap Andra. Andra menoleh pada Rian seakan meminta jawaban, Rian hanya mengangkat bahu dan mencebikkan bibirnya. Membuat Wildan bersuara. "Ayo Ndra udah dibolehin itu." Andra menoleh lagi pada Erika dan bertanya, "serius, Tante?" "Iya gak apa-apa, jangan sungkan, anggap aja rumah sendiri. Dan ya mulai sekarang kalian semua panggilnya Mami aja, biar sama kayak Rian, supaya Tante berasa punya anak laki-laki banyak, bukan cuma Rian." Mereka yang mendengar ucapannya Mami Rian kompak menganggukan kepala dan menjawab. "Siap." "Ya udah Mami ke dalem dulu mau bikinin sambelnya, Ian ambilin tangga sama karungnya di pojok sana." Setelah memerintahkan Rian, Erika segera masuk kedalam rumahnya, meninggalkan Enam laki-laki tersebut dengan kebingungan atas sikapnya yang cepat sekali berubah. Rian beranjak meninggalkan kebingungan atas sikap Mami nya untuk mengambil tangga dan juga karung, yang akan dipergunakan oleh Andra untuk memetik mangga di pohonnya. Andra yang telah mendapatkan izin dari Erika akhirnya berani untuk memetik mangga-mangga tersebut. Sambil menunggu Rian datang Getta mengungkapkan kebingungannya. "Horror gak sih Mami nya si Rian?" tanyanya yang di angguki oleh Kenn, Hendrik dan Wildan kecuali Andra yang menjawab dengan santai. "Paling juga dia cerita siapa gue yang sebenarnya. Soalnya Mami si Rian pas pertama liat gue kayak yang nilai banget gitu 'kan, sama tadi pertanyaan-pertanyaanya juga, sampe gue dibilang dapet beasiswa coy." Kompak mereka tertawa bersama. Rian yang datang membawa tangga dan karung menghentikan tertawaan mereka. Setelah menempatkan tangga di bawah pohon Rian menghampiri mereka. "Temen gila, gue kesusahan sendiri bawa tangga malah di ketawain." Rian berkata dengan kesal pada teman-temannya. "Dih percaya diri sekali Anda jika kami menertawakan Anda. Helow Bapak Gentara Arian Putra. Kami menertawakan kejadian keramat yang baru saja terjadi," jawab Wildan dengan sengit. Rian yang paham langsung ber-oh-ria. "Pada durhaka lu ngetawain Emak gue." "Abis Emak lu lucu gimana dong," jawab Kenn dengan santai. "Berisik lu semua pada ribut mulu, sampe ga tau 'kan tuh monyet udah nangkring di atas pohon." Getta menunjuk Andra yang memang sudah berada di atas pohon, tanpa di ketahui keduanya. "Kapan dia naiknya?" tanya Kenn dengan heran. "Dia mah ngilang, tau-tau udah di atas pohon aja." Wildan menjawab. Setelah isi karung cukup banyak Andra turun dan menyerahkan karung tersebut pada Rian. Rian mengambil tiga buah mangga muda yang cukup besar untuk dicuci dan di iris-iris kecil, Rian keluar dengan membawa irisan mangga dan juga sambalnya. Dengan semangat mereka memakan rujak mangga muda dengan nikmat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN