Rian & Gita

2071 Kata
Terdengar bunyi suatu benda terjatuh dan ringisan seorang gadis tomboy. Sedangkan pelaku yang menjatuhkan satu boks keju berukuran 165 gram tersebut lari. Terkadang hanya dengan membayangkan sebuah pertemuan tak terduga, mampu membuat seseorang tersenyum sendiri bagaikan orang bodoh. Itulah yang membuat seorang Rian tersenyum dalam lamunannya. Membayangkan raut wajah antara takut dan ringis kesakitan gadis yang tidak sengaja kepalanya terkena sebatang keju berukuran 165 gram oleh adiknya, membuat Rian tiba-tiba tersenyum karena mengingat wajah manis dan imut nya, begitu menggemaskan. Gadis tomboy yang begitu manis menurut Rian. Entah mengapa pada saat itu dengan mudahnya ia meminta nomor telepon gadis tomboy itu, dengan alasan takut terjadi apa-apa pada kepalanya. Padahal ia juga tahu paling parah kepala gadis itu benjol ataupun robek sedikit terkena ujung kardus keju itu. Ditambah raut bingung gadis itu ketika ia meminta nomor teleponnya, dengan alasan tersebut pasti gadis itu mencibir didalam hatinya dan menyebutnya lebay. Putri adiknya pun menoleh padanya seakan tidak percaya pada sikap kakaknya tersebut. Pertemuan pertama nya di sebuah supermarket yang selalu ramai pada malam hari itu menjadi hal yang sangat mengesankan bagi Rian. Pletak! "Aw!" ringisan Gita mengalihkan pandangan Oncom yang sedang memilih mie instan. "Maneh kunaon Git?" Rini atau yang disebut dengan nama Oncom, teman dari Gita menghampirinya. Mendengar Gita yang meringis membuatnya sedikit khawatir. "katimpa keju, benjol iye mah sirah," jawabnya sambil memegangi kepala dan menunjuk keju berukuran 165 gr tersebut. Gita dan Oncom memang jarang sekali memakai bahasa Indonesia. Mereka lebih memilih memakai bahasa Sunda kasar yang berasal dari kampung halamannya. Tidak terlalu kasar. Hanya saja, jika dibandingkan dengan bahasa Sunda dari Bandung, mungkin setengahnya. "ko bisa?" tanya Oncom heran. "Tein, tadi aya jalema nyandak naon merent, terus kasenggol meren, mangkana murag." Gita mengusap-usap kepalanya, yang sepertinya sedikit benjol. Dari arah belakang Gita muncul laki-laki dan seorang perempuan menghampiri mereka dan menghentikan percakapan mereka. "Permisi Mbak, yang tadi ketimpa keju ya?" pertanyaan dari lelaki tersebut. "Iya Mas, kenapa ya?" jawab Gita masih dengan mengusap usap kepalanya yang memang sedikit benjol, dan seorang perempuan di balik punggung laki laki tersebut. "Oh, saya Rian, kakaknya Putri yang tadi ngejatohin keju, terus kena kepala Mbak nya. Dek minta maaf gih." Perempuan itu keluar dan mengulurkan tangannya dengan gerakan lambat seperti takut. "Maaf Mbak, Saya nggak sengaja!" Putri berucap dengan nada menyesal. "Oh… nggak apa- apa kok. Cuma benjol dikit doang, kenapa tadi malah lari?" "Saya takut, Mbak," jawaban dari Putri membuat Gita bingung. "Saya Rian, kakak nya Putri, apa kita ke rumah sakit aja, Mbak? takut nya kenapa-napa." Rian menyela ketika Gita akan kembali bersuara membuat Oncom berdecak. Rian bahkan kembali menyebutkan namanya. Mungkin khawatir Gita tidak mendengar. "Ck! ketimpa keju doang kaga bakalan bikin hilang ingatan, Mas." "Takutnya si Mbak nya masih sakit. Mbak siapa namanya?" jawaban Rian tidak menghiraukan ucapan Oncom seraya mengulurkan tangan. "Gita, ga usah, Mas. Makasih," balas Gita menerima uluran tangan Rian. "Mbak ini namanya siapa?" "Oncom!" jawab Rini singkat. Mendengar jawaban asal dari gadis disebelah Gita, membuat kakak beradik itu menoleh bingung. Gita yang menyadari kebingungan mereka berdua segera menjelaskan. "Namanya Rini, biasa dipanggil Oncom." Rian dan Putri hanya ber-oh-ria setelahnya. "Ya udah, ini kartu nama saya kalo ada-apa apa jangan sungkan hubungi saya ya." Rian menyerahkan sebuah kartu. Belum sempat Gita menjawab Rian kembali berbicara. "Kalo ga saya minta no Mbak Gita aja, gimana?" Rian membuat adiknya bingung dengan sikap sang kakak yang tidak seperti biasanya. "Buat apa ya?" Gita bertanya dengan ekspresi bingung. "Buat nanyain kabar Mbak dan mastiin kalo Mbak nya ga kenapa-napa!" Rian menambah ekspresi bingung adiknya. "Geus bereken wae, geus peting iye. Urang can angges balanjana." Oncom berbisik dengan bahasa yang sedikit dimengerti oleh Rian. membuat Rian tersenyum dengan kelakuannya. 021xxxxxxx89 Gita menyebutkan nomer ponselnya. "Oke makasih Mbak, nanti saya sms ya." "Ya udah Mas, saya duluan ya, permisi." Pamit Gita sambil menarik Rini untuk segera pergi menuju rak lain. Sedangkan Rian dan adiknya masih diam di tempat dengan tersenyum, dan membuat Putri menggeleng tak percaya. "Untungkan aku nggak sengaja jatohin keju?" Putri membuat Rian tersadar dan langsung menampilkan ekspresi bingung. "Itu ngelukain orang, Dek. Untungnya apa coba?" balas Rian heran. "Tapi 'kan kalo Adek ga jatohin keju ga bakalan bisa modus minta nomor hp, pake bilang takut kenapa-napa segala lagi, kakak lebay banget tau ga!" "Apa sih, orang bener 'kan. Kalo kepalanya sampe kenapa-napa gimana hayo?" Putri memutar bola matanya mendengar pernyataan Rian. "Lebay!" cibirnya seraya berbalik melanjutkan kegiatannya. "Woy Dekn tunggu lah." Rian berteriak memanggil Putri yang pergi meninggalkannya, sehingga membuat sebagian orang menoleh padanya. Menyadari kelakuannya membuat Rian menganggukkan sedikit kepalanya tanda meminta maaf. Setelah berhasil menyusul adiknya. "Lu beneran dah Dek malu-maluin gue!" "Dih! kakak tuh yang malu-maluin aku!" balas Putri kesal. "Ya udah hayo beli apalagi?" "Udah nih, jangan lupa durennya." Rian memutar bola matanya jengah mendengar permintaan adiknya. "Iya tapi ga boleh banyak-banyak, tar mabok lagi kayak kemaren." Putri memang pernah tidur selama satu hari setelah menghabiskan durian montong dua buah. Tapi itu tidak membuatnya kapok. "Iya bawel!" jawabnya sambil mencebikkan bibir. "Dih ya udah ga jadi beli duren nya." "Dih, ya udah makasih kakak ku yang ganteng kang modus. Hahaha." "Dasar adik durjana," balas Rian sambil mengacak-acak rambut adiknya, mereka berjalan menuju kasir. Setelah membayar belanjaannya, Rian dan Putri beranjak pulang ke rumah Rian yang berada di kawasan kelapa gading. *** Sebuah notifikasi pesan dari Hendrik membuat Rian menambah kecepatan mobil yang dikemudikannya. Begitu sampai di depan rumahnya Rian menyuruh adiknya segera turun. "Turun cepet, Dek. Bilangin Mami Kakak ketempat biasa kumpul ya." "Oke," jawab Putri singkat. *** Di tengah ramainya kendaraan yang berlalu lalang Rian sampai di tempat tujuannya. setelah mengantarkan adiknya pulang dan memarkirkan mobil di tempat biasa, ia bergegas menyusul ke tempat tongkrongan mereka. Sebuah kafe yang berada di kawasan Kota Tua. "Assalamualaikum, udah lama?" Dengan mengucapkan salam dan langsung menduduki salah satu bangku yang ada. "Waalaikumsalam, Ustadz." Mereka yang selalu memanggilnya dengan kata 'Ustadz' karena setiap bertemu Rian selalu mengucapkan salam. Empat tahun berteman menjadikan mereka akrab dan menjalin ikatan persahabatan. "Andra kemana?" tanya nya ketika mendudukkan diri di sebelah Hendrik dan menyadari personil mereka kurang satu. "Ga tau deh, BBM nya pending," jawab Kenn. "Palingan ke tempat raja bola lagi," balas Getta setelah meminum jus jambu kesukaannya. "Makin jadi aja anak itu," timpal Wildan. "Belum puas aja, nanti juga berenti sendiri kalo udah puas mah," balas Hendrik. "Eh, tapi pada sadar gak sih, belakangan ini kayaknya dia sibuk bales-balesan sms mulu?" balas Wildan. "Iya sih, kadang juga suka senyum gitu kalo lagi baca sms nya," balas Kenn. "Senyum sendiri waras 'kan tapinya dia, belom gila?" Hendrik bertanya dengan ekspresi lucunya. "Wah! Kacau lu, masa temen sendiri lu katain gila? Dia mah baru rada gila doang, belom gila beneran." Getta menanggapi dan mereka semua tertawa. "Gue juga tadi baru kenalan sama cewek tomboy, tapi gimana ya, kayak gue suka gitu liat muka sama senyumnya, manis banget serius!" Rian berkata sambil membayangkan senyum gadis tomboy yang baru ia temui di supermarket tadi. "Kenalan di mana? Cantik?" Kenn menanggapi dengan serius. "Kenalan di supermarket tadi sebelum ke sini, ada sedikit insiden gitu tadi gegara si Putri. Cantik mah enggak, pendek, kecil, tomboy, kulitnya juga coklat, bibirnya pucet kayak gak pake apa-apa, terus yang pasti senyumnya manis banget. Gue sampe minta nomer telponnya segala, terus dikatain lebay sama si Putri." Rian menjelaskan ciri-ciri gadis kenalannya dan mengalir lah cerita insiden di supermarket tadi. Keempat temannya saling pandang seakan tak percaya "Tumben banget lu mau kenal-kenalan kayak gitu. Sampe minta nomer telpon dengan alasan yang lebay?" Wildan bertanya penasaran. "Gue juga gak tau. Pas liat mukanya langsung suka aja gitu. Gue juga bingung sama diri gue sendiri. Spontan aja gitu." Rian pun sebenarnya heran akan sikapnya. Karena sebelumnya ia tidak pernah seperti itu. "Terus lu udah tanyain keadaannya belom sekarang?" Hendrik mulai menggoda Rian. Membuat Rian mendengus mendengarnya. "Belumlah, besok baru gue tanya-tanya. Mau gue deketin pelan-pelan," balas Rian. "Lu serius nih ceritanya mau deketin cewek?" Pertanyaan Getta membuat mereka tertawa. Bukan tanpa alasan Getta bertanya seperti itu, karena Rian memang tidak pernah mendekati perempuan selain keluarganya. Rian seolah enggan dekat-dekat dengan para gadis yang mendekatinya. Ia selalu merasa risih, dan jurus andalannya adalah bukan muhrim. Rian yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren modern yang membuatnya menjaga jarak dengan wanita. Itulah sebabnya ia selalu dipanggil dengan sebutan ustadz oleh teman-temannya. Walaupun memang di antara mereka semua tidak pernah mendekati para gadis yang mendekati mereka. Namun, sikap mereka tidak serisih sikap Rian ketika didekati para gadis. "Lu kira gue menyimpang?" tanyanya dengan kesal. Membuat mereka kembali tertawa dengan wajah kesal Rian.. "Ya 'kan yang gue liat lu kayak alergi gitu kalo ada cewek yang mulai deket-deket sama kita semua. Apalagi pas waktu si Marsha secara terang-terangan deketin lu, lu sampe bergidik ngeri gitu kayak liat laba-laba." Mendengar ucapan dari Kenn mengingatkannya pada kejadian beberapa minggu yang lalu. Saat salah satu teman kelasnya secara terang-terangan mengungkapkan rasa cinta dan memintanya menjadi kekasihnya. Reaksi Rian mendadak seperti melihat laba-laba hewan yang ditakutinya. Melihat itu semua membuat teman-temannya yang lain terbahak. Terlebih ketika gadis yang bernama Marsha tersebut seolah tak peduli dengan sikap Rian yang menunjukan Reaksi yang seharusnya membuatnya tersinggung. "Ya gue risih aja liat cewek kayak gitu, kesannya kayak cewek murahan gak sih? Harusnya 'kan dia tersinggung ya sama sikap gue sama dia. Ini mah malah terus aja ngejar-ngejar gue terus. Bukannya suka malah jijik gue liatnya." Tanpa terasa obrolan-obrolan ringan membuat jarum jam bergerak dengan cepat, jam yang menunjukan pukul 21.30 Wib mengharuskan mereka menghentikan obrolannya. Sebenarnya bukan benar-benar berhenti, tetapi lebah tepatnya pindah tempat. Karena cafe tempat mereka kumpul sebentar lagi akan tutup. Setelah Getta kembali dari kasir untuk membayar tagihan makanannya. Mereka akan pergi menuju rumah Getta untuk melanjutkan obrolannya. *** Jalan yang cukup sepi membuat mobil yang mereka kendarai melaju dengan cepat. Hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai di rumah Kenn. Orang tua Kenn yang sedang berlibur ke Bali selama beberapa hari meminta mereka semua menemani Kenn di rumah. Karena kedua adiknya ikut bersama orangtuanya. Hendrik yang tidak membawa mobil membuat Rian memintanya menyetir mobilnya. Rian duduk di kursi belakang karena di sebelah Hendrik Kenn yang menempati. Membuat Rian bebas dan akan mengirim pesan pada gadis tomboy yang memikat perhatiannya. Rian tak peduli ini sudah malam, ia hanya ingin mengobati penasarannya. Me: Hai Gita, maaf nih kalo kemaleman SMS-nya gimana kepalanya? Udah diperiksa belom? Sampai di rumah Getta pun Rian belum mendapatkan balasan dari Gita, membuatnya beberapa kali melihat handphone. Hal itu menarik perhatian Kenn dengan tingkat keingintahuan yang tinggi. "Kayak orang sibuk lu, liatin Hp mulu!" Rian mencibir mendengar perkataan Kenn. "Gue lagi nungguin balesan dari cewek yang tadi gue ceritain." "Widih! Keren gerak cepet ey." Hendrik langsung bersorak begitu mendengar jawaban Rian. "Berisik Gila kuping gue!" Wildan berseru pada Hendrik dijawab dengan tertawanya. "Lagian lu kaga punya aturan amat jadi cowok. Yang nama nya pedekate tuh harus tau jam. Jam segini mah jamnya kalong keluar, bukan jam nya berbalas pesan." Getta mengingatkan. "Nah bener tuh. Tunggu aja sampe besok, kalo gak dibales juga ya terima nasib aja deh." Wildan. "Tidur ah, gue ngantuk." Rian membuat mereka semua berdecak dan mengejeknya. "Kesian anak Mami Erika, sekalinya mau sama cewek selain tomboy gak direspon pula." kompak mereka semua tertawa mendengar ucapan Getta dan membuat Rian kesal. "Bacot lu semua." Serunya dan berlalu menuju lantai atas, tempat di mana kamar mereka semua. Mereka memang sudah hafal dengan rumah temannya masing-masing. Jadi sudah tidak pernah sungkan. *** Keesokan paginya Rian masih mengecek handphonenya dan melihat ada satu notifikasi dari Gita, membuatnya dengan semangat bangun dan tersenyum. Gita: Hai juga Kak, maaf juga kalo kepagian balesnya, Alhamdulillah gak apa-apa kok, cuma sedikit benjol doang. Pesan yang dikirimkan Gita pukul 04.25 wib. Sedangkan Rian membukanya pukul 05.10 wib. Membuatnya tersenyum dan menebak jika Gita mengirimnya pesan sebelum masuk waktu subuh. Me: Gak apa-apa kok, Alhamdulillah kalo gak kenapa-napa. Boleh gak saya jadi temen kamu. Oya panggil Rian aja, jangan Kak, apalagi Mas. Saya masih kelas dua SMA kok. Gita: Saya terima permintaan pertemanannya. Oke kalo harus Rian aja. Me: Makasih ya Gita, kamu sekolah apa udah kerja. Gita: Sama-sama. Saya kerja di konveksi. Me: Oke, semangat kerjanya. Gita: Ini hari libur, jadi gak kerja. Rian yang membaca balasan pesan dari Gita terdiam seperti orang bingung, ia lupa jika ini hari libur. Dan ia malu akan hal itu. Me: Oh iya! Aku lupa. Maaf ya. Setelah itu Gita tidak membalas pesannya lagi. Tetapi di hari-hari berikutnya mereka tetap berkirim pesan. Bahkan sesekali Rian menelpon Gita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN