Perubahan Positif Andra

1760 Kata
Ketika matahari pagi mulai menampakkan sinarnya untuk memberikan energi pada seluruh penduduk bumi, ketika itu pula senyum gadis yang hampir menginjak angka 15 tahun itu terukir dengan cerah. Gadis itu cukup bersyukur atas hidupnya. Walaupun ia tidak meneruskan pendidikannya setidaknya ia tidak terlalu membebankan orangtuanya. Semenjak ia memutuskan untuk bekerja ia mengerti betapa susahnya mencari uang. Berangkat pagi hari dengan wajah yang segar dan ceria walaupun tanpa makeup, ketika sore hari pulang dengan wajah lesunya. Tangan yang terkadang memerah hampir lecet karena terlalu lama menggunakan gunting. Apalagi jika bahan yang ia gunting berjenis karet yang dilapisi kain, sudah pasti tangannya harus menggunakan tenaga yang lumayan untuk memotongnya. Belum lagi ia harus duduk seharian bercampur debu dari bahan yang akan digunakan untuk membuat bra. Sudah pasti itu membuat harinya cukup melelahkan. Andra yang kadang melihat tangan kekasihnya merah bahkan nyaris lecet seringkali menghela napas kasar. Beberapa kali ia memintanya untuk berhenti dan menawarkan pekerjaan yang lebih ringan. Namun, selalu ditolak dengan alasan ia hanya tamatan SMP, ia tidak percaya dengan Andra yang bisa memberikannya pekerjaan yang lebih ringan. Karena Andra pun tak pernah berkata jujur tentang siapa dirinya. Seperti pada malam ini, Andra tengah berkunjung ke kontrakan Gita. Oya sebelumnya Gita sudah pindah kamar, dari kamar yang hanya berukuran 1x2 meter sekarang menjadi kamar dengan ukuran 2x3 meter. Dengan harga per bulan 150 ribu rupiah. Karena gajinya pun di pabrik bra tersebut naik menjadi 40 ribu rupiah perhari nya. Malam ini Andra sengaja mendatangi Gita di kontrakannya, dengan membawa satu botol minuman bersoda berukuran satu liter setengah, snack kentang kesukaannya dan juga tiga batang coklat ukuran besar. Malam ini Andra ingin merayakan Anniversary sebulan pertama hubungannya dengan Gita, yang membuat Rini atau Oncom tertawa terbahak-bahak, menyaksikan sifat alay Andra. Oncom tidak berhenti mengolok keduanya. "Besok-besok rayain nya perhari Ndra, biar gue kenyang hahaha." Dengan terus mengunyah keripik kentang nya Oncom terus berbicara. "Si Sue, makan aja yang bener, jangan ngomong mulu. Ayy ini kasih anaknya Teh Yola geh." Andra menyerahkan sebatang coklat untuk diberikan pada Chika anak dari Yola. "Oke, gue juga mau beli aer putih dulu ya." Gita berjalan menuruni tangga untuk memberikan coklat pada Chika. Dan juga membeli air mineral di warung terdekat. Andra memperhatikan Oncom yang masih asyik membalas pesan dan juga mengunyah keripik yang ada di mulutnya. Gadis seumuran Gita dan lebih tomboy, bahkan terkesan acak-acakan penampilannya. Rambut keriting nyaris kribo karena pendek, kaos merk Darbost yang Andra tidak pernah mendengar sebelumnya, celana pendek selutut, gelang tali warna warni, kalung dengan liontin bentuk silet. Sungguh penampilan yang kacau. Andra bersyukur kekasihnya tidak seperti itu. Gita walaupun tomboy tetapi selalu rapi. "Lu udah berapa lama kenal sama Gita, Com?" setelah menilai penampilannya Andra baru bertanya. Oncom yang mendengar pertanyaan Andra mengalihkan kepalanya dari handphone yang dipegangnya "Sekitar setahunan lah, kenapa?" "Cewek gue pernah pacaran gak sebelumnya?" Andra berpikir ini kesempatannya bertanya-tanya tentang kekasihnya. Karena Nung temannya tidak terlalu dekat dengan Gita. "Selama gue kenal sih gak pernah, dia gak terlalu peduli sama cowok, anak depan yang naksir sama dia aja di cuekin mulu. Berhubung aja yang lindungin kepala preman disini. Jadi gak pada berani sama dia, soalnya yang gue tau anak depan tuh badung-badung anaknya." Oncom hanya menjelaskan apa yang pernah diceritakan oleh Gita. Sedangkan Andra mengetatkan rahangnya mendengar cerita Oncom. "Yang mana orangnya?" dengan kesal Andra bertanya. Sedangkan Oncom menaikkan sebelah alisnya bertanya. "Kalo lu tau mau ngapain? Baku hantam? Gak usah macem-macem, anak sini mah kerjanya tauran mulu, jadi diem aja deh, yg penting cewek lu aman. Coba aja lu jalan bareng dia ke depan, pasti pada cewit-cewit." "Ya gak baku hantam juga, cuma pengen tau aja," jawabnya bersikap santai. Padahal dalam hatinya siapa yang tahu. Ketika Oncom ingin menjawab terdengar derap langkah menaiki tangga kayu, dan muncullah Gita. Karena mereka mengobrol di depan kamar Gita tidak di dalamnya. "Kata ponakan gue makasih buat coklatnya." Gita menyampaikan ucapan dari Chika. "Sama-sama. Beli nasgor yu Ayy, laper gue belom makan." Sebenarnya bukan karena rasa lapar, tetapi penasaran dengan orang-orang yang Oncom ceritakan. "Beli satu aja ya, gue kenyang soalnya. Pulang kerja tadi udah makan. Lu mau gak Com?" Oncom tampak berpikir dan melihat Andra menganggukkan kepalanya, pertanda ia harus mau, akhirnya mengangguk. "Boleh deh, tapi kwetiau kuah ya, kasih sambel sama kecapnya yang banyak." "Oke. Tunggu disini biar gue yang beli!" Gita Beranjak berdiri sebelum Andra menahannya. "Gue ikut Ayy. Takut gue sama si Oncom, dari tadi senyam senyum sendiri." Andra mengikuti Gita menuruni tangga. Sesampainya di bawah ia bertemu dengan Yola yang sedang duduk di depan konter pulsanya. "Teh mau nasgor gak?" Andra bertanya dengan sopan. Dari pertama berkunjung ke tempat Gita Yola bersikap ramah dan menyenangkan. Membuat Andra tidak sungkan. Yola pun berpikir sama dengan Gita, bahwa Andra hanya anak sekolah biasa, yang di mana uang jajan pun masih minta pada ibunya. Sehingga jika Andra menawarkan apapun selalu Yola tolak, dengan alasan kasian mungkin ia harus mengirit dalam berjajan jika ingin membelikan sesuatu. Kecuali Andra membawanya langsung. "Biye mah tos mam sate Ndra, tos wareg, hatur nuhun tos di tawaran." Andra memang meminta agar Yola menggunakan bahasa Sunda, karena ia ingin belajar, walaupun ia belum bisa mengucapkannya, tetapi sedikit-sedikit ia sudah mengerti. Walaupun baru pertama kali merasakan yang namanya pacaran, juga baru satu bulan lamanya. Andra berusaha keras dalam mengimbangi kehidupan Gita, yang 180 derajat berbanding dengannya. "Oh… Ya udah kalau Gitu, Andra mau ke depan dulu, Teh." Andra pun pergi bersama Gita menuju penjual nasi goreng. Benar kata Oncom jika diantara mereka ada yang menyukai Gita, terbukti ketika Andra berjalan bersisian sambil mengobrol dengan Gita. Sekumpulan anak lelaki seusianya dan mungkin lebih tua lima tahun dengannya sedikit bersorak dengan mata tertuju pada Gita. "Waduh Princess jalan ama siapa tuh? Kakap ditolak teri diterima." "Wadon lanang tuh." "Orang tuh yang lewat." Itulah pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut mereka dengan mata tertuju pada Gita, sedangkan Gita hanya bersikap biasa saja. Masih tetap berjalan dengan tenang di samping Andra sambil bercerita tentang insiden di supermarket minggu kemarin yang membuat kepalanya benjol. "Itu pada ngomong ama siapa cowok-cowok itu?" Andra berpura-pura tidak tahu ke mana arah pertanyaan para anak lelaki tadi Setelah memesan. "Biasa mereka mah, kalo gue lewat juga pasti begitu," jawab Gita dengan santai. "Pada gak jelas ya?" balasnya dengan kesal. "Selow Bos, tuh nasgor nya udah jadi." Karena kebetulan sepi pembeli, jadi pesanan mereka dengan cepat jadi. Setelah itu mereka kembali menuju kontrakan Gita. Sesampainya dikontrakkan mereka melihat Oncom sedang bertelepon ria entah dengan siapa. Ketika ia menyadari kehadiran Gita dan Andra ia segera memutuskan sambungan teleponnya. Membuat Gita dan Andra melihatnya dengan bingung. "Mana pesenan gue?" Oncom menanyakan dengan gayanya seperti preman. "Nih! Nah gitu dong baru pinter, mangkok sama sendoknya udah disiapin." Andra menyerahkan pesanan Oncom. Oncom tidak memperdulikan ucapan Andra, dan segera membuka kwetiau nya. "Kamu makan bareng aku ya?" Andra membuka nasi gorengnya. Nasi goreng sesuai selera Gita. Sedikit sambal, banyak kecap, dan tidak memakai sasa. Karena Gita tidak menyukai sasa. Sedangkan Gita yang mendengar Andra mengganti panggilan menjadi kata Aku dan Kamu' menoleh heran. "sejak kapan jadi Aku Kamu?" "Mulai sekarang, kalo pake gue lu kayak lagi ngomong sama si Oncom," ujarnya memberi penjelasan. "Gak suka ah, kaku. Kayak biasa aja," balasnya dengan nada manja. "Com ngasaan sih, ngenah te?" Pintanya pada Oncom yang sedang meniup kwetiau nya. "Nih." Oncom menyerahkan sendoknya, tetapi sebelum Gita menerima Andra mencegahnya,dDan menyerahkan sendok yang belum ia pakai. "Ayy, pake sendok gue aja. Si Oncom belom di vaksin, rabies lu jadinya." Gita tertawa mendengarnya, sedangkan Oncom melotot marah "Si Pea, lu yang rabies, kita mah udah biasa berbagi, dan tuker pake." Andra dan Gita tertawa lagi, Gita mencicipi kwetiau Oncom dan mengernyitkan dahinya pertanda tidak suka. "Banyak mecin nya gak suka." Gita hendak berdiri untuk mencuci sendok bekas pakaiannya, tetapi dicegah oleh Andra. "Mau ke mana lagi?" "Mau nyuci sendok lah, kan buat makan lu, Ta!" Andra mengambil sendok di tangan Gita dan memakainya, membuat Gita tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Gak perlu di cuci segala, gue bukan tipe cowok yang jijikan kok." Andra juga mengarahkan nasi goreng ke mulut Gita, membuat Gita mau tak mau menerimanya. "Makan yang banyak, badan lu melebihi triplek tipisnya." Gita mengernyitkan dahinya bingung dengan rasa nasi goreng yang ia makan. Rasanya seperti yang biasa dia pesan. Tidak menggunakan banyak penyedap, dengan kecap yang banyak. "kok rasanya kayak selera gue?" tanyanya dengan heran. "Emang ini sesuai selera lu ko, sengaja biar lu mau makan." jawabnya dengan santai. "Cie… Onta romantisnya." Oncom menggoda Gita dan mendapat lemparan permen dari Andra. "Makan aja Com jangan ngomong, pusing gue denger lu ngomong." "Sialan lu." "Oya Ta, malam minggu gue mau ketemu temen di Kotu." Gita memberi tahu jika Rian mengajaknya bertemu pada malam minggu. Hanya saja karena Andra yang tidak fokus akan cerita Gita tadi ketika menuju penjual nasi goreng, jadi Andra tidak tahu jika yang akan ditemui Gita adalah temannya sendiri. "Ya udah kalo Gitu gue mau nongkrong ya sama temen-temen gue." "Nongkrong apa ke tempat raja bola?" Gita memicingkan matanya curiga, karena Gita sudah mengetahui kebiasaan Andra yang satu itu. Hanya saja yang Gita tahu Andra bertaruh hanya sebatas pertaruhan anak sekolah yang tidak mungkin sampai ratusan juta. "Nongkrong, Ayy." "Kirain gue lu mau nemenin." "Sama temen-temen gue Ayy, sumpah deh. Ntar gue kenalin. Gak enak lah kalo gue temenin. Yang penting gue percaya sama lu." Hubungan mereka memang bebas tanpa mengekang. Itu atas kemauan Gita. Gita berpikir karena mereka masih remaja jadi pertemanan yang luas itu penting. "Lagian 'kan udah ada mata-mata gue ini yang bakalan mantau lu, jadi gue mah selow." dengan melirikan matanya ke arah Oncom. "Asal bayarannya gak telat aja," jawab Rini santai. "Oke deh, tapi awas lu kalo ke tempat raja bola. Gue sembelih lu," ancamnya dengan wajah yang dibuat serius. "Janji, Sayang." Membuat Oncom pura-pura muntah mendengar ucapan Andra. "Sirik aja lu dih." "Geleh aing ngadenge na," cibir Oncom. Jam yang menunjukan pukul 21.00 membuat Andra terpaksa harus pulang, dan mengakhiri pertemuannya dengan sang kekasih. Sedangkan Oncom akan menginap di tempat Gita. Selama mengenal Gita Andra selalu tersenyum bahagia. Menurut pandangan orang lain tidak ada hal yang istimewa pada diri seorang Anggita Purnama. Tapi menurut seorang Andra Adi Putra Angkasa Gita begitu istimewa dengan senyum manisnya. Dan senyum itu selalu memberikan kehangatan dalam hatinya yang dingin. Selama satu bulan terakhir Andra hanya beberapa kali berkumpul dengan temannya. Dan juga hanya dua kali ke tempat Raja bola. Selama sebulan terakhir Andra lebih suka berada di dalam kamar. Menelpon Gita hingga berjam-jam tanpa bosan. Entahlah, Ia dan Gita tidak pernah kehabisan kata-kata. Untuk pertama kalinya Andra merasakan perasaan yang selalu menyenangkan dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN