Tempat Bersejarah

2068 Kata
Tuhan terkadang melimpahkan manusia A dengan kasih sayang orang-orang disekitarnya, tanpa melimpahkan harta yang banyak. Sehingga terkadang membuat si A kurang bersyukur karena tidak memiliki harta yang berlimpah. Sedangkan pada si B yang dilimpahkan harta begitu banyak, tetapi tidak dilimpahkan kasih sayang oleh orang-orang disekitarnya. Membuatnya kurang bersyukur, karena merasa tidak mendapatkan kasih sayang. Itulah manusia yang selalu merasa kurang dengan apa yang mereka dapatkan, tanpa melihat kelebihan yang Tuhan berikan padanya. Jika diibaratkan seorang Andra Adi Putra Angkasa masuk dalam jenis manusia golongan B. Di mana ia dilimpahkan harta yang begitu banyak tetapi tidak bisa merasakan kehangatan kasih sayang kedua orang tuanya. Bagaimanapun ia menjalani hidup, semua terasa kosong tanpa uluran kasih sayang orang tuanya. Walaupun paman dan bibinya begitu menyayanginya dan juga Putri adiknya. Tetap saja kedua orang tuanya yang ia harapkan. Walaupun teman-temannya selalu ada dan memberikan keceriaan tetap saja ada ruang yang kosong di hatinya. Karena buktinya walaupun dilimpahkan kasih sayang oleh paman dan bibinya, selalu diawasi dan dijaga oleh teman-temannya, Andra tetap melakukan hal negatif. Kegiatannya bertaruh bola yang menghabiskan uang banyak, itu adalah bentuk pelampiasan kekecewaan pada kedua orangtuanya. Andra ingin kedua orang tuanya yang memintanya berhenti untuk melakukan kegiatan itu, bukan hanya paman, bibi dan teman-temannya. Andra merindukan kehangatan sebuah keluarga yang utuh. ketika ia membuka kembali album foto bahagia keluarganya dulu ketika berlibur di villa miliknya. Di foto itu terlihat jelas kebahagiaan yang nyata. Ayahnya yang selalu bergandengan tangan dan juga merangkul pinggang ibunya. Terlihat ia dan Putri bermain bersama, ada pula ketika putri menjadikan ayahnya sebagai kuda-kudaan. Bayangan itu masih terlihat jelas di otaknya. Bayangan yang seperti roll film yang sedang diputar di sebuah bioskop. Tanpa terasa air mata menetes jatuh ke pipinya, ia tersenyum pahit akan hidupnya. Di tengah tangis diamnya sebuah notifikasi sms masuk dari kekasihnya. Gigit: sibuk Ta? Seketika ia tersenyum mengingat senyum manis kekasihnya, pengobat dari kekosongan hatinya. Segera ia membalas pesan dari pujaannya. Me: gak Ayy, lu lagi apa? Gigit: lagi mau makan. Makan yu. Me: Mau dong di suapin sama pacar, makan pake apa? Gigit: sini kebetulan ada sendok semen nih, pake tangan lah Onta. Me: skup aja sekalian, kekecilan sendok semen mah, lauknya apa? Lemot ih. Gigit: Hahaha...telor balado tumis kangkung, tempe goreng. Me: Mau dong, gue jadi laper Ayy, makan bareng yu. Gigit: Hayu buruan sono ambil nasi sama lauk lu, kita makan bareng. Gw disini lu disitu, jadinya kan bareng. Me:Oke tunggu jan makan duluan, bismillah nya bareng. Gigit: oke. Pernyataan orang bodoh karena cinta itu memang ada. Contohnya Andra, bagaikan tersihir dia mengikuti perintah Gita. Turun menuju meja makan dan mengambil nasi beserta lauknya. Setelah piringnya terisi ia pun kembali mengirim pesan pada kekasihnya. Me: Hayu Ayy, gue udah siap nih. Bismillahirrahmanirrahim. Setelah membaca doa, Andra tidak langsung makan, tetapi menunggu balasan dari kekasihnya dulu. Gigit: Bismillahirrahmanirrahim, selamat makan Onta. Dan setelahnya mereka makan di tempat masing-masing secara bersamaan. Bodoh bukan tingkah mereka berdua. Andra merasa nikmat ketika makan bersama Gita walaupun kekasihnya berada di tempat lain. Setelah selesai makan dan mengistirahatkan tubuh sebentar Andra bergegas menelpon kekasihnya. Tut... "Hola... Assalamualaikum Onta." "Waalaikumsalam Gigit, lama amat baru diangkat?" tanya Andra langsung, karena Gita mengangkatnya pada dering kelima. "Abis gosok gigi. Lu lagi di mana?" "Lagi di kamar, melukin guling, mau meluk lu kejauhan." "Ya kali gue mau di peluk-peluk. Hahaha." "Emang lu gak mau di peluk sama gue?" "Dih ogah! Bukan muhrim ga usah peluk-peluk segala, hahaha." "Peluk doang Ayy, masa ga boleh, pelit banget sih jadi pacar." "Ogah!" "Ya udah gak gue peluk, paling gue karungin, hahaha." "Lu kira gue beras maen karungin aja." Hening beberapa saat menghiasi percakapan mereka berdua. Andra menarik napas, membuat Gita heran dan bertanya. "Kenapa Ayy?" "Gue kangen lu Ayy, pengen ketemu." Di seberang telepon Gita tersenyum mendengar nada lesu Andra. Seminggu setelah Andra menyambangi kontrakan Gita, mereka belum bertemu lagi. Membuat Andra merindukan kekasihnya. "Besok kan malam minggu, ayo kita ketemu." Seketika Andra menjadi semangat. "Beneran ya. Gue jemput oke, sekalian 'kan izin sama Mpo lu, oke, oke, oke." Mendengar Andra yang begitu bahagia hanya karena Ia mengiyakan permintaannya untuk menjemputnya membuat Gita menggelengkan kepalanya. "Hahaha, Onta Onta… Iya lu kesini abis magrib aja." "Oke makasih Sayang. Muah. Hahaha." "Oek… hahaha." "Ya udah tidur, besok kerja 'kan? Semangat Tante hahaha." Gita yang sudah bekerja di umur belianya, dan Andra yang masih bersekolah di bangku SMA membuatnya meledek jika Andra berpacaran dengan tante-tante yang berpacaran dengan brondong. "Hahaha... Ya udah lu juga tidur, assalamualaikum, Onta." "Waalaikumsalam, Gigit." Setelah mematikan sambungan teleponnya Andra tersenyum bahagia. Andra merasa beruntung dengan hadirnya Gita di hidupnya yang gelap tanpa warna. *** Keesokan paginya di Angkasa International School, atau sekolah yang masuk dalam jaringan Angkasa Grup. Atau lebih tepatnya milik Andra sendiri. Andra yang datang bersama dengan teman-temannya yang lain. Karena memang sebelum berangkat mereka berkumpul di rumah Rian terlebih dahulu. Angkasa International School yang berada di kawasan Jakarta Utara dan yang paling eksklusif. Sekolah ini mengutamakan nilai-nilai kasih sayang, kemitraan, integritas, serta keunggulan dalam aktivitas belajar mengajarnya sehari-hari. Fasilitas yang tersedia adalah ruang seni dan music yang sangat memadai, perpustakaan, laboratorium sains, kolam renang, ruang kebugaran, dan berbagai lapangan olahraga indoor. Yang menarik ruang ibadah di sekolah ini digabungkan demi mendukung nilai-nilai keberagaman kepercayaan. Jika ingin bersekolah di Angkasa International School paling tidak harus merogoh kantong antara tujuh puluh juta rupiah sampai dengan tiga ratus juta per tahun untuk biaya pendidikannya. Tidak heran saat pertama kali Erika-Mami Rian meragukan Andra yang berpenampilan lusuh bisa bersekolah di sekolah Internasional tersebut jika bukan karena beasiswa. Sekolah yang ternyata milik ayahnya sendiri. Mereka berenam memasuki kelas dengan obrolan santai. "Semalem lu ke mana Nyet?" tanya Getta yang berjalan di sampingnya. "Tidur di kamar," jawabnya santai. "Sumpeh lo?" balas Hendrik seakan tidak percaya. "Ck! Serius gue tidur!" jawabnya dengan kesal. "Kita semalem bbm Pending?" balas Kenn. "Hp nya gue matiin 'kan, coba lu telpon ke esia gue, pasti aktif." Sampai di dalam kelas mereka mulai menduduki bangku masing-masing dan juga mulai mengikuti pelajaran seperti biasanya hingga akhir sesi belajar. "Satnight mau ke mana nih?" Dalam perjalanan menuju parkiran tiba-tiba saja Marsha teman sekelas mereka ikut berjalan di samping Getta dan bertanya. Seolah ia akrab dengan mereka berenam. Melihat mereka hanya diam membuatnya kesal. "Ck! Lu semua gak denger apa gue nanya?" "Lu nanya sama kita?" jawab Wildan pura-pura tidak tahu. "Ya kali gue nanya sama tembok!" "Kita punya nama, dan juga lu gak jelas nanya ama siapanya, kita ada enam orang ini. Kalo mau dijawab nanya ama siapanya harus jelas!" balas Andra ketus. "Ya udah gue nanya sama lu, Ndra. Malam minggu lu mau ke mana? Jalan yu?" Dengan percaya dirinya Marsha mengajak Andra jalan. Gadis yang mendapat julukan Most wanted di sekolah tersebut merasa ia mampu mengajak salah satu dari enam lelaki tersebut. Membuat mereka semua tersenyum miring. Mendengar ajakan dari teman sekelasnya membuat Andra jijik sendiri. "Sorry gak minat, jauh-jauh deh dari gue." Marsha yang kesal dengan penolakan dari Andra dan juga tertawaan dari teman-temannya membuatnya berdecih. "Cih! Sok banget sih lu, kalo enggak mau biasa aja kali, sok kecakepan banget lu, tampang acak-acakan aja belagu!" Setelah mengatakan itu Marsha langsung pergi menuju teman-temannya yang menunggu di parkiran. Sedangkan Rian, Kenn, Hendrik, Getta dan Wildan yang mendengar temannya dihina tidak terima. "Woy! Cewek gak tau diri, ditolak sih marah-marah ga jelas, dasar nenek sihir!" Wildan berteriak dengan emosi. "Udah sih, ngapain juga lu tanggepin." Andra dengan santainya menghentikan ocehan Wildan. Andra tidak sakit hati dihina seperti itu. Ya, semenjak orangtuanya bercerai dan merubah penampilannya, membuat hatinya seolah kebal dengan hinaan dan pandangan rendah dari orang lain, Ia tidak peduli. "Malem nongkrong yu?" Ajak Hendrik setelah mereka melanjutkan perjalanan menuju parkiran. Dan mendapatkan persetujuan dari semuanya kecuali Andra. "Gak bisa gue." Andra langsung menolak. "Kenapa? Mau ke mana?" Rian mulai bersikap awas. "Mau ketemu cewek gue," jawabnya santai. Ucapannya spontan membuat yang lain melotot tak percaya. Hanya sebentar, karena setelahnya mereka tertawa, menganggap Andra bercanda. "Gak usah ngaco, gue tau lu mau ke mana. Gak ada alesan. Malem gue jemput!" Rian menegaskan. "Nih kalo lu gak percaya, Ambil semua kartu gue, gue cuma bawa dua ratus ribu." Andra mengeluarkan dompet dan mengambil semua kartu Atm, kartu kredit serta uang cash nya. Menyerahkan pada Rian dan hanya menyisakan uang dua ratus ribu rupiah. "Masih gak percaya? Gak mungkin 'kan gue tarohan dua ratus rebu?" tanyanya meyakinkan. "Lu serius punya cewek? Kenalin kita lah." Kenn dengan tingkat penasaran yang paling tinggi langsung menyela. "Nanti lah, baru juga jadian dua bulan masa gue kenalin sama lu semua yang gila, bisa sawan cewek gue." "Si Monyet!" Getta menoyor kepala Andra. "Kepala gue Setan!" balas Andra kesal. "Ya udah gue balik duluan." Setelahnya mereka berpisah di parkiran menuju rumah masing-masing. Andra meluncur terlebih dahulu meninggalkan teman-temannya. *** Malam tiba dengan begitu lambat untuk Andra yang tidak sabar ingin segera menemui kekasihnya. Maka dari itu setelah adzan maghrib berkumandang ia bergegas melaksanakan sholat. Setelah selesai ia pun segera mengganti bajunya. Menggunakan kaos bertuliskan nama salah satu grup band barat berwarna putih, jeans berwarna hitam topi polos berwarna senada dengan jeansnya. Dan sneakers berwarna navy dengan brand huruf N. Juga sweater berwarna putih dari brand huruf G. Setelah selesai ia bergegas keluar rumah menjalankan motor mio putih kesayangannya untuk menuju ke tempat Gita. Begitu sampai dikontrakkan Gita ia bertemu dengan Yola kakaknya. "Assalamualaikum. Permisi Teh, Gita nya ada?" "Waalaikumsalam, ada masih di atas kayaknya, nanti Teteh panggilin." Yola hendak beranjak untuk memanggil Gita tapi ditahan oleh Andra. "Gak usah Teh, nanti juga turun sendiri, tadi di jalan saya udah sms." Yola kembali duduk di bangku plastiknya. "Sekalian saya mau izin Teh, mau ajak Gita pergi." "Jangan diajak pergi kalau gak di pulangin lagi, tar Teteh yang diomelin sama Emak di kampung," jawabnya bercanda. "Hahaha… Tenang Teh, paling saya bawa kaburnya cuma tiga jam doang." "Ya udah, pulangnya jangan malem-malem, jangan macem-macem juga!" Yola mengizinkan dengan diiringi peringatan. "Siap, Teh." Gita terlihat menuruni tangga kayu menuju Andra. Setelah berdiri di samping kakaknya Gita dan Andra segera berpamitan. "Ulin hela, Teh." Pamitnya pada sang kakak. "Berangkat dulu Teh." Setelah mendapat anggukan dari Yola mereka berdua pergi menuju sebuah tempat yang belum ditentukan. "Kita mau ke mana, Ayy?" "Gak tau, gue 'kan gak pernah ke mana-mana." "Pasar malem yu, mau gak?" "Mau dong." Dan akhirnya mereka pergi menuju pasar malam yang berada di kawasan Cengkareng timur. Tepatnya di belakang RSUD Cengkareng Jakarta Barat. Pasar yang selalu ramai dikunjungi oleh berbagai generasi. Para orang tua yang mengajak anak-anaknya untuk bermain. Tenda-tenda penjual makanan berjejer rapi. Permainan layaknya pasar malam biasa pun ramai dikunjungi dan mengantri di depan tiket untuk menaiki arena permainan tersebut. Baik Gita maupun Andra tidak berniat untuk menaiki salah satu permainan tersebut. Mereka duduk di bawah pohon yang dikelilingi oleh bangku yang terbuat dari semen. Melihat lalu lalang baik pejalan kaki maupun pengendara motor. "Makan yu?" ajak Andra. "Makan apa?" "Lu maunya apa?" "Makan nasi, gue belom makan nasi dari tadi siang." "Kenapa gak makan sih? Udah tau punya maag malah ga makan." Andra memang mengetahui jika Gita punya penyakit lambung yang satu itu. "Gue makan telor rebus tiga tadi pagi." Ya, Gita memang sangat menyukai telur rebus. Apalagi jika di bumbu balado. Gita bisa memakannya enam butir tanpa nasi. "Kebiasaan, badan kayak triplek aja gak mau makan nasi." "Males, Ta!" "Mau pecel ayam gak?" "Boleh." "Ya udah hayu," ajaknya dengan berdiri dan menaiki motornya. Tenda pedagang pecel ayam ada di pojok kanan seberang jalan. Jadi motornya harus dibawa. Setelah sampai di tempat penjual pecel ayam, Andra segera memesannya. "Pak, ayam satu sama lele satu ya, minumnya teh anget aja." Setelah memesan Andra menghampiri Gita yang sudah duduk dengan manis nya di salah satu bangku yang tersedia. Mereka makan sambil bercerita. Lebih tepatnya Gita yang sedang menceritakan pertemuannya dengan Rian. Sedangkan Andra lebih sibuk memandangi wajahnya, dan hanya sesekali menanggapi, dan tidak begitu memperhatikan cerita Gita. Malam Kencan kedua di bulan kedua mereka menjadi sepasang kekasih, sungguh membuat Andra bahagia. Ia tak berhenti tersenyum ketika melihat wajah manis sang kekasih. Gita memang tidak cantik, hanya saja wajahnya tidak bosan dilihat. Ditambah senyum manis yang selalu terukir indah di wajahnya. Kulit coklatnya menegaskan gadis khas Indonesia, wajah alami tanpa makeup bahkan bibirnya pun tanpa polesan apapun, terbukti dari pucatnya. Membuat Andra selalu memandangi wajahnya. Maka dari itu dua tempat di indonesia yang paling berkesan untuk seorang Andra Adi Putra Angkasa adalah Museum Fatahillah dan juga pasar malam Cengkareng. Karena kedua tempat itu merupakan tempatnya bersama Gita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN