Kapankah kalian pertama kali merasakan tertarik pada lawan jenis? Untuk seorang Arian Gentara Putra adalah saat ini. Di mana usianya hampir menginjak pada angka 17 tahun. Untuk pertama kalinya ia tertarik dan merasa ingin memiliki gadis tomboi dengan senyum manis yang bernama Gita.
Gadis yang ia kenal akibat kecerobohan adiknya. Benar kata adiknya, jika saja Putri tidak ceroboh dengan menjatuhkan kotak keju sehingga mengenai kepalanya, mungkin ia tidak akan bisa dekat dengan Gita. Terlebih itu dijadikannya sebagai alasan khawatir akan terjadi apa-apa pada kepala gadis itu. Rian tersenyum mengingat kebodohan sikapnya yang menurut Putri memalukan, dan ia akui memang memalukan.
Rian sedang bercermin menatap pantulan dirinya, memastikan penampilannya untuk bertemu gadis tomboi nya. Celana jeans navy, kaos hitam bertuliskan nama grup band asal barat favoritnya. Jaket bomber maroon serta sepatu vans berwarna navy, dan juga jam tangan hitam favoritnya. Rian menyemprotkan sedikit parfum pada leher dan tangannya.
Setelah dirasa cukup Rian pergi menuju tempat tujuannya yaitu Kota Tua Jakarta, tempatnya berkumpul dan juga bertemu Gita. Rian berjanji pada teman-temannya akan mengenalkan gadis tomboi nya.
Bergegas Rian mengambil kunci mobilnya dan menuruni tangga, setelah mengunci rumah Ia pun segera meluncur membaur dengan pengguna jalan lainnya. Rian berniat ingin menjemput Gita, tetapi Gita langsung menolaknya. Karena Gita berkata akan pergi bersama temannya yang bernama Oncom. Dan mereka membuat janji di jalan kopi daerah Kota Tua.
***
Sedangkan di tempat biasa Rian bersama teman-temannya berkumpul, Andra, Getta, Hendrik, Kenn dan Wildan sedang menunggunya. Rian yang berjanji akan memperkenalkan gadis yang memikat hatinya pada mereka. Membuat mereka harus menunggu.
"Si Rian blom datang?" tanya Andra yang baru tiba sambil menggeser kursi yang akan ia duduki, dan hanya di jawab gelengan kepala oleh yang lain.
"Tadi sih bilang mau jemput cewek yang kemaren sering Dia ceritain itu." Hendrik menjawab seraya meminum orange jus kesukaannya.
"Penasaran Gue kaya gimana bentuk cewek nya." Wildan.
"Katanya sih tomboi." Kenn
"Kita tunggu aja, bentar lagi juga datang kayaknya," balas Getta.
Tak lama kemudian Rian datang dengan seorang gadis berambut pendek menyerupai laki-laki, memakai kaos berwarna hitam yang dibalut sweater berwarna senada celana jeans dan sandal laki-laki berwarna hitam.
"Sorry telat, jemput Nyonya dulu ini di jl.Kopi tadi," ucap Rian sambil menarik kursi dan mempersilahkan Gita duduk. "Duduk Git, kenalin temen temen Gue."
Gita yang melihat Andra duduk di antara mereka pun cukup terkejut, mengetahui jika kekasih nya teman dari Rian.
"Hendrik."
"Getta."
"Kenn."
"Wildan."
Mereka menyebutkan nama masing-masing sambil bersalaman, yang dibalas dengan anggukkan dan senyuman oleh Gita.
"Udah kenal, 'kan?" tanya Andra yang membuat mereka semua bingung.
"Kenalan lagi dong, Kakak. Aku 'kan belum kenal," balas Gita dengan nada manja, membuat mereka semakin heran.
"Si gila!" balas Andra sambil menoyor kepala Gita.
"Udah di fitrahin ini Pea kepala Gue, tiga liter setengah ini." Gita pun sama dengan menoyor kepala Andra.
"Ya udah impas," balas Andra lagi.
Mereka yang melihat obrolan antara Andra dan Gita semakin heran dengan keakraban mereka berdua.
"Bentar deh, ini maksud nya lu berdua udah saling kenal gitu?" pertanyaan dari Rian menghentikan obrolan mereka.
"Ya kali sama pacar sendiri kaga kenal. Iya ga Ayy?" jawab Andra sambil memainkan kedua alisnya, dan membuat mereka kaget
Karena yang mereka tahu selama ini Andra selalu sibuk dengan dunia sendiri, dan sejak kapan Andra dekat dengan seorang perempuan? Karena mereka lupa Andra pernah mengatakan jika ia memang memiliki kekasih.
"Najis banget sih liat muka lu kaya gitu, so imut tau ga." Gita menampilkan ekspresi jijik pada Andra.
"Jadi intinya Lu berdua pacaran ga?" tanya Hendrik penasaran.
"Baru dua bulanan, dua minggu kemaren 'kan gw bilang kalo gue punya pacar, lu semua yang kagak percaya," jawaban dari Andra membuat mereka tertawa, dan membuat Gita bingung.
"Jadi cewek yang selama ini di ceritain sama si Rian ini pacar nya Lu, Dra?" tanya Getta dengan terkekeh.
"Mana gue tau kalo cewek tomboi yang lu maksud itu Dia." Andra menjawab sambil menunjuk Gita.
"Ya mana Gue tau juga kalo cewek tomboi ini pacar nya Lu, lagian sejak kapan lu kenal bisa sampe jadian gini?" tanya Rian penasaran.
"Sejak kapan, Ayy?" tanya Andra pada Gita.
"Au ihh," jawab Gita singkat dan membuat mereka tertawa.
"Diakuin ga sih lu jadi cowok nya?" tanya Wildan dengan ekspresi geli.
"Tau Lu, jahat banget sih Ayy sama gue." Andra berkata dengan lesu. "Jadi temen yang lu bilang mau ketemu itu si Rian? Si Oncom ke mana?"
Mendengar nama Oncom membuat Kenn, Getta, Hendrik dan Wildan hanya melongo mendengar kata Oncom.
"Oncom?" tanya Kenn dengan heran.
"Iya, temennya yang tadi pisah di jalan kopi," jawab Rian setelah meminum sodanya.
"Kok lu tau?" Getta pun bertanya.
"Tau lah, 'kan dia bilang sama gue. Si Oncom jadi Ayy nginep di rumah Mponya?"
Andra menjawab dengan menyodorkan sebotol minuman kecil yang tadi dibelinya. Hal itu menjadi perhatian teman-temannya, terutama Rian.
"Jadi, gue juga suruh nginep aja disitu," jawabnya setelah meminum sedikit minumannya.
"Pulang aja, gue anterin, jangan suka nginep di jauh-jauh."
Andra langsung melarangnya. Sedangkan teman-temannya hanya memperhatikan percakapan sepasang kekasih tersebut.
"Emang kenapa, Ta? Gue udah izin kok sama teh Yola."
Mendengar Gita menyebut Andra dengan kata 'Ta membuat Getta menyela percakapan mereka.
"Ta? Takur?" tanya Wildan bingung.
"Onta!" jawab Andra dan Gita bersamaan, dan membuat teman-temannya melongo tak percaya.
"Onta? Maksudnya?" tanya Hendrik bingung.
"Jangan bilang panggilan sayang lu sama dia itu Onta?" Getta menyela jawaban Andra.
"Bisa dibilang Gitu," jawab Andra dengan percaya diri.
"Gak tau juga sih, cuma seneng aja Gitu manggil dia dengan nama Onta, lagian sesuai ko, liat aja badannya kayak Onta gini, tinggi banget, segini lu masih masa pertumbuhan, masih tambah tinggi."
Saat ini tinggi badan Andra memang mencapai 180 centimeter, sangat jauh dengan tinggi badan Gita yang hanya 140 centimeter. Sehingga Gita memanggilnya dengan sebutan Onta.
"Tapi anehnya gue suka dipanggil Onta, berasa spesial aja gitu."
Andra menimpali dengan senyum menggoda pada Gita. Membuatnya mendapatkan lemparan kacang dari temannya.
"Najis gila!" Rian berseru geli.
"Cie cemburu," balas mereka kompak dan tertawa bersama.
"Gue mau dong Git dipanggil Onta," celetuk Hendrik yang langsung mendapatkan lemparan kacang dari Andra. "Gue juga kan tinggi, walaupun gak setinggi mereka."
Diantara mereka berenam memang Hendrik yang terlihat paling pendek. karena tingginya yang hanya 170.
"Iya dong gue juga mau," balas Kenn dengan tertawa.
"Gue juga dong." Getta pun mengikuti.
"Atuh gue juga mau kalo gitu mah." Rian pun tak mau kalah.
"Atuh sekalian gue juga." Wildan pun ikut berseru. Membuat Andra memutar bola matanya jengah.
Sedangkan Gita terkekeh dibuatnya, "Onta gue cuma satu oy! Kalo lu semua gue panggil Onta berarti pacar gue ada enem dong," jawabnya dengan menggoda Andra, "Iya gak Ayy?" tanyanya dengan mengedip-ngedipkan matanya menggoda Andra, membuat mereka semua tertawa melihat ekspresi Andra.
"Ih Onta gue baik deh, ntar gue traktir ciki ya haha." Mereka tertawa bersama mendengar rayuan Gita pada Andra.
"Murah amat harga gue ya Allah."
Andra berkata dengan lesu. Membuat teman-temannya semakin tertawa terbahak.
"Umur lu berapa sih Git?" Wildan bertanya setelah menghentikan tawanya.
"Jalan 15."
"Lu kayak anak 12 tahun, Git. Imut banget sumpah," balas Rian.
"Karena lu paling muda di antara kita semua, jadi kita manggil lu dengan sebutan kakak aja, biar gak bingung umur, lu juga manggil kita Onta aja semua. Dan mulai sekarang lu resmi jadi Ratu buat kita semua. Jadi apapun keputusan lu kita turutin." Andra memutuskan secara sepihak dan langsung dituruti oleh semuanya.
"Welcome to the club'," sambut Getta dengan mengulurkan tangan dan di iringi yang lainnya.
Sedangkan Gita hanya bisa tersenyum bingung atas perlakuan kekasih dan teman-temannya.
"Tapi inget mulai sekarang lu jangan panggil gue Onta, tapi panggil Ayy aja," perintah Andra dengan tegas. Membuat yang lain berekspresi ingin muntah.
"Alay banget sih, Nyet." Komentar Wildan.
"Sirik ae lu," jawabnya dengan santai. "Udah makan belom? Ini kok pendek banget sih?"
"Udah kok, 'Kan kemaren emang bilang mau di potong pendek, ya ini pendek."
"Ya tapi 'kan kirain tuh sebahu gitu, bukan malah kayak cowok begini. Makan lagi ya, gue laper nih."
"Anjir! Gue berasa nonton Ftv Indonesia gak sih?" Kenn menyindir Andra.
"Anggap aja begitu," jawabnya santai.
"Mau pada makan apa ini? Gue mau beli sate" Wildan bertanya.
"Ya udah samain aja." jawab Getta, Rian, Hendrik dan Kenn.
"Lu mau makan apa Ayy?" Andra menanyakan lagi pada Gita.
"Gue udah makan Ayy, masih kenyang."
"Makan bareng gue, apa samain aja?" tawarnya.
"Ya udah, beli kentang goreng jangan lupa."
Andra mengangguk, dan berdiri bersama Rian untuk menuju penjual sate yang ada di bagian selatan.
"Gue tinggal dulu," ucapnya dengan mengelus rambut Gita lembut.
"Ya elah." Kompak mereka menanggapi perlakuan Andra pada Gita.
Setalah Andra dan Rian pergi, kini hanya Getta, Hendrik, Kenn, Wildan dan Gita. Mereka berempat mulai bertanya-tanya pada Gita.
"Coba ceritain, Kak. Gimana lu bisa kenal sama Andra sampe jadian dan juga kenal sama Rian?"
Getta mulai menanyakan perihal pertemuan dan hubungan mereka bertiga. Dan mengalir lah cerita dari Gita. Membuat mereka semua mengangguk dan sesekali tertawa.
"Jadi beneran selama sebulan ini dia gak ke tempat Raja bola." Gita mengangguk membenarkan ucapan Wildan.
"Lebih tepatnya berkurang, gak sesering sebelumnya." Gita meralat ucapan Wildan.
"Lu sejak kapan tahu kalo Andra suka ke tempat Raja bila?" Kenn.
"Dari awal mulai telponan kayaknya. Karena dari awal kita emang udah jujur satu sama lain." Mereka kembali mereka mengangguk-anggukan kepala.
"Tapi gue seneng sih, artinya lu emang bawa perubahan yang baik buat kelakuan tuh anak."
Getta mensyukuri pertemuan Andra dan Gita, yang menurutnya membawa perubahan yang baik untuk Andra.
"Maaf nih ya gue mau nanya, lu non muslim ya, Hen?" Gita bertanya pada Hendrik setelah melihat kalung salib di lehernya.
"Kita berempat emang non muslim Kak. Cuma Andra sama Rian yang muslim." Hendrik menjelaskan dengan santainya. "Emangnya kenapa, lu ga bisa temenan sama non muslim?" tanyanya dengan senyum kecil.
"Temenan mah sama siapa aja, gue nanya supaya nanti bisa lebih tau gimana harus bersikap aja. Takutnya 'kan tiba-tiba gue ngajakin lu sholat karena gue gak tau iya, 'kan?" Gita menjelaskan tentang pertanyaannya, agar Hendrik tidak salah paham.
"Oh... kirain gue lu gak mau temenan sama kita karena kita non muslim!" Dengan menganggukkan kepala mereka menerima penjelasan Gita.
"Emang lu semua mau temenan sama gue?"
Gita mengutarakan pikiran yang sejak tadi mengganggunya. Ia tahu dengan pasti mereka berbeda dengannya. Dilihat dari semua barang yang mereka pakai. Dan juga kunci mobil yang ada di atas meja, mereka bukan dari kalangannya.
Mereka berasal dari kalangan menengah atas, mungkin hanya Andra dan dirinya yang berasal dari kalangan bawah, karena Andra hanya memakai sepeda motor mio. Berbeda dengan mereka yang menggunakan mobil. Dan lagi orang lain tertipu akan penampilan Andra. Termasuk Gita kekasihnya sendiri.
"Emangnya lu kenapa, Kak?" tanya Wildan yang menurut Gita sepertinya paling dingin di antara mereka semua.
"Ya gue kan begini, gimana ya? Bingung gue juga ngomongnya."
Ketika Kenn akan menjawabnya, dari arah belakang terdengar Andra yang sudah lebih dulu menjawabnya.
"Udah kecil, item, pendek, hidup lagi."
Sambil mengusap puncak kepala Gita Andra mendudukkan dirinya di sebelah kanan Gita, disusul Rian di sebelah kiri Gita. Sedangkan mereka yang mendengar ucapan Andra hanya tertawa.
"Makan satenya aja kalo kenyang mah, ini kentang gorengnya."
"Emang siapa yang bilang kayak gitu, Kak?" Rian bertanya setelah membuka sate bagiannya.
"Gak ada, cuma ya kan kenyataan, lu aja yang cowok kulitnya pada putih bersih, gue cewek item dekil gini." Gita menjawab sambil mencocol kan kentang gorengnya pada bumbu sate.
"Jangan pernah minder, jangan sungkan. Sejak satu jam yang lalu lu udah jadi Ratu buat kita. Jadi kalo ada yang macem-macem bilang sama kita."
Perkataan Getta menjadi waktu yang tepat untuk Gita mempertanyakan tentang kata 'Ratu untuk mereka' dan penjelasannya. Mengapa mereka begitu mudah menerima kehadiran Gita di tengah-tengah mereka.
"Gue boleh nanya?" balasnya dengan sedikit canggung.
"Nanya aja, Kak. Gak usah sungkan."
Hendrik yang menjawabnya. Tetapi sebelum Gita bertanya Andra sudah lebih dulu menyodorkan setusuk sate pada mulutnya. Yang terpaksa harus Gita terima.
"Makan dulu jangan nanya aja."
Melihat Andra yang begitu memperhatikan Gita dan begitu menyayanginya, membuat mereka semua tersenyum penuh arti dan saling lirik satu sama lain.
Mereka bahagia melihat binar bahagia di mata Andra. Mereka juga bersyukur Gita hadir untuk Andra. Walaupun di sisi kiri Gita Rian sempat merasakan perasaan sedih, karena gadis yang ia sukai ternyata kekasih temannya sendiri. Tetapi tetap Rian pun merasakan kebahagian untuk Andra.