Anak Onta, nama yang disematkan untuk enam remaja laki-laki tersebut. Nama panggilan yang membuat mereka tertawa ketika mengingat Andra memutuskan untuk Gita memanggil mereka.
Hendrik yang awalnya hanya ingin menggoda Andra, dan juga disusul teman-temannya untuk membuat Andra cemburu ternyata tidak berhasil, setelah Andra mendapatkan lirikan tajam dari kekasihnya.
Hal itu membuat mereka semua tertawa lucu. Dan entah mengapa melihat dari sikap Gita yang mampu membuat Andra kicep dan terdiam hanya dengan lirikan tajamnya, membuat mereka menyukai Gita secara bersamaan.
Dan satu lagi, benar kata Rian, gadis tomboi itu memiliki senyum yang teramat manis, dengan deretan gigi yang rapi dan bersih. Andra yang selama beberapa bulan ini jarang hadir di tempat tongkrongan mereka, dan berkata bahwa ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, yang selama ini membuat mereka tidak percaya, ternyata dibenarkan oleh Gita.
Hal yang lebih mengejutkan lagi ternyata Andra benar memiliki kekasih, yang sialnya gadis yang selama ini selalu Rian ceritakan.
Sebenarnya Rian malu, tetapi melihat sikap santai Gita maupun Andra akhirnya Rian pun bersikap biasa saja. Hanya saja Rian sedikit sedih, ingat hanya sedikit. Karena saat ia pertama kali merasakan perasaan suka terhadap lawan jenis, sayangnya gadis itu milik sahabatnya. Membuatnya harus mundur secara teratur.
Namun, beruntungnya mereka tetap bisa berteman, bahkan mempunyai nama panggilan khusus, yaitu Anak Onta. Entah dari mana Gita mendapatkan inspirasi untuk nama panggilan itu. Yang awalnya hanya untuk Andra, tetapi sekarang berubah untuk mereka berenam.
Setelah menyimpan nomor telepon Anak Onta lainnya, Gita pulang dengan diantarkan oleh Andra. Karena Andra tidak mengijinkan Gita menginap di tempat kakaknya Oncom. Karena Andra tahu benar bagaimana kawasan itu. Di kawasan itu banyak terdapat preman yang selalu bermabuk-mabukan dan juga bertindak kriminal. Jadi Andra tidak ingin terjadi hal buruk terhadap Gita.
"Lu liat tadi si Andra yang diem pas liat si Gita ngeliriknya?" Getta berkata setelah Andra dan Gita pergi.
"Iya, punya pawang juga dia akhirnya." Kenn terkekeh mengingat tingkah Andra.
"Tapi gue gak nyangka sih, cewek yang gue suka, ternyata pacarnya dia." Rian.
"Kalo diliat dari sikapnya, si Andra bener-bener sayang sama ceweknya, sedangkan ceweknya kayak yang biasa aja, bener ga sih?" Wildan mengeluarkan pendapatnya.
"Si Gita tau gak siapa Andra sebenernya?" balas Getta.
"Kita tanyain aja nanti sama anaknya, tapi anaknya selow sih, enak juga diajak ngomongnya." Hendrik dengan pemikirannya.
"Kalau diliat gimana sikapnya tadi, kayaknya dia gak tau deh siapa si Andra sebenernya, soalnya canggung gitu sama kita." Kenn.
"Feeling gue juga kayaknya dia emang gak tau," balas Rian.
"Tadi pas lu berdua beli sate dia mau nanya, keliatan banget groginya." Wildan memberitahu pada Rian tentang sikap Gita.
Rian menyunggingkan senyumnya ketika ia mengingat awal pertemuan dengan Gita.
"Dia bukan grogi malah lebih kayak ke takut kalo tebakan gue mah," tebak Rian.
"Bener banget," balas Getta setuju.
Setelah itu mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol santai. Sedangkan Andra memang berkata jika ia akan langsung pulang setelah mengantarkan Gita.
***
Hari berlalu dengan cepat dan menyenangkan untuk Gita maupun Enam Anak Onta. Namun perlahan Gita mulai mengetahui siapa Andra sebenarnya. Gita malu pada pemikirannya sendiri yang menyatakan bahwa Andra hanyalah dari kalangan bawah sepertinya.
Gita mengetahui itu dari Nung yang mengenalkannya pada Andra ketika mereka mengobrol di jam istirahat. Nung terbahak ketika mendengar cerita Gita yang bertemu Rian dan Anak Onta lainnya.
"Tapi lu keren sih bisa naklukin dia, pewaris Angkasa Grup yang hartanya gak bakalan abis tujuh turunan," ucapnya setelah menghentikan tawanya, dan membuat Gita bingung.
"Maksudnya?"
"Selain orang-orang terdekatnya emang gak ada yang tahu siapa Andra sebenernya. Dia gak mau orang yang mau deket sama dia mandang dari hartanya. Siapa disini yang gak tau Angkasa Grup? Kalo orang lain tau dia pewarisnya pasti banyak cewek-cewek matre yang deketin Andra." Nung menjelaskan dengan semangat.
"Emang Angkasa Grup apaan?" tanyanya dengan polos.
Nung yang mendengar pertanyaan polos Gita seketika berdiri, membuat Gita pun ikut berdiri.
"Tuh lu liat, gedung-gedung tinggi itu, hampir semuanya di bawah kuasa Angkasa Grup, yang artinya punyanya bokap si Andra, dan otomatis punya dia juga. Karena si Andra pewaris satu-satunya."
Gita yang mendengar cerita Nung hanya ber-oh-ria, dan mulai menghubungkan setiap kegiatan Andra yang berhubungan dengan penjelasan Nung.
Seperti dalam hal bertaruh bola dengan Raja bola, Gita ingat waktu itu Hendrik pernah berkata jika Andra kalah dalam bertaruh dan rumahnya yang ada di kawasan Kalibata sekarang menjadi milik Raja bola. Begitupun dengan motor Mio putih yang biasa ia kendarai ikut menjadi bahan taruhannya dan melayang begitu saja.
Andra pernah membelikan jam tangan yang harganya mahal menurut Gita. Juga biaya kontrakan yang selama dua bulan ini selalu dibayar olehnya. Bahkan Andra juga pernah menawarkan pada Gita untuk melanjutkan sekolahnya, dan Andra akan membantu biayanya.
Ketika ia bertanya dari mana uangnya? Andra menjawabnya jika kebiasaan menabung untuk bertaruh kini diganti untuk keperluan Gita. Awalnya memang Gita menolak, tetapi karena terus dipaksa akhirnya Gita menyerah, kecuali untuk sekolah. Dan semua yang Gita ingat menghubungkan dengan siapa Andra sebenarnya.
Gita yang merasa malu pada pikirannya dan juga berpikir tidak pantas dengan Andra, mulai mencari celah agar bisa putus dengan Andra. Dan ya dia menemukannya.
Malam itu mereka berdua pergi menuju pantai yang ada di kawasan Muara Baru. Duduk berdua di bebatuan yang tertata rapi di sepanjang pinggir pantai, dengan ditemani minuman bersoda dan juga cemilan lainnya. Melihat cahaya kapal yang sedang berlayar di tengah laut. Sesekali air laut menyentuh kakinya ketika ombak datang.
Malam ini Andra membawa gitar, ia ingin mewujudkan keinginan Gita. Duduk di bebatuan pinggir pantai dengan bernyanyi diiringi petikan gitar, hal sederhana yang tentu akan Andra kabulkan dengan senang hati.
"Kenapa sih tumben banget liatain gue kayak gitu?" Gita yang terus memperhatikan nya membuat Andra heran.
"Jerawat lu gak diobatin ya?" jawabnya dengan lebih memperhatikan wajah Andra, dan menyentuh pipi Andra yang memang terdapat banyak jerawat.
"Gak, soalnya gak ada yang nyuruh supaya diobatin," balasnya dengan santai dan memegang tangan Gita.
"Kalo gue nyuruh lu buat obatin jerawat itu, lu mau gak? Sekalian ini rambut dirapihin."
"Oke gue obatin, kalo jerawatnya udah sembuh semua baru gue rapihin rambut. Tapi jangan cemburu kalo nanti gue ganteng, terus banyak cewek yang deketin gue."
Dengan mengedipkan sebelah matanya Andra menggoda Gita. Sedangkan Gita hanya mencebikkan bibirnya.
"Lu masih ke tempat, Raja Bola?"
"Masih, tapi gak sering. Gue berasa diinterogasi tau gak," jawabnya dengan tersenyum. "Nyanyi dong, ini 'kan gue udah bawa gitar."
"Gue gak bisa nyanyi, lu aja."
"Oke." Setelah mengatur gitarnya Andra mulai membuka suara lagi. "Oke, lagu ini saya persembahkan untuk pacar saya, silahkan di nikmati." Gita yang hanya tersenyum membuatnya sejenak protes, "Tepuk tangan dong." Dan Gita hanya menuruti perintah Andra untuk bertepuk tangan.
Lagu Sempurna milik Andra & the BackBone yang akan dinyanyikan oleh Andra. Gita mengetahui dari intro musik yang Andra bawakan.
Gita memang tidak sempurna secara fisik maupun materi. Namun, bagi pewaris tunggal Angkasa Grup, Gita begitu sempurna dengan keindahan alami yang dimilikinya.
Jika memang Gita memakai pelet, entah pelet jenis apa dan dari mana ia dapatkan. Sehingga Andra begitu memuja gadis tomboi nya.
Di mata Andra, Gita cantik dengan kenaturalan yang dimilikinya. Tanpa ada make-up sedikitpun di wajahnya. Yang justru membuat Andra ingin selalu berlama-lama memandangnya.
Dengan perbedaan yang bagaikan langit dan bumi, wajar jika banyak orang yang menganggap Gita memakai pelet. Gita mampu menaklukkan enam remaja yang tidak pernah mau di dekati oleh wanita sebelumnya. Gita mampu membuat mereka menuruti semua keinginannya. Hal aneh dan memang patut dicurigai menurut orang lain.
Andra mengakhiri lagunya dengan memegang tangan sang kekasih. Membuat Gita tersenyum dan merasa spesial, begitulah memang perlakuan Andra selama ini.
"Dua bulan terakhir ini gue ngerasa hidup gue selalu bahagia. Makasih ya," ucapnya setelah menyelesaikan lagunya.
"Sama-sama. Gue juga bahagia. Apalagi kalo lu jujur dari awal sama gue." Andra yang mendengar ucapan Gita hanya mengerutkan dahinya. "Iya jujur siapa lu sebenernya." lanjutnya menjelaskan.
"Gue gak niat buat bohongin lu, Ayy. Gue cuma takut lu gak mau kenal apalagi sampe pacaran kayak gini, kalo lu tau siapa gue." Andra menjelaskan.
"Emang sih, kalo lu jujur dari awal gue pasti gak mau," balas Gita dengan menatap hamparan laut dengan deburan ombak kecil.
"Emang kenapa sih?" tanya Andra dengan lembut.
Gita mengedikkan kedua bahunya, "Gue gak pernah nyaman temenan sama orang berduit. Gue mau temenan sama Anak Onta lainnya juga karena gue pikir lu sama kayak gue, sama-sama dari kalangan bawah. Gue liat itu dari pertama ketemu mereka, liat di meja ada kunci mobil, sedangkan lu 'kan yang gue tau cuma bawa Mio. karena lu berteman sama mereka, ya gue juga mau."
"Itu kenapa gue gak jujur dari awalnya. Karena gue tau itu semua. Gue tau lu sebelum ketemu sama lu, gue sayang sama lu. Maafin gue."
"Gue gak marah, cuma gue gak suka aja di bohongin."
"Maaf Ayy, please jangan marah." Dengan nada menyesal Andra terus meminta maaf.
"Jangan pernah ketempat Raja bola lagi. Gue gak suka, duitnya mending buat hal yang lebih berguna. Dan juga jangan pernah beliin gue barang-barang yang gak gue butuh. Apalagi yang harganya mahal, jujur gue gak suka."
"Insyaallah."
"Jangan Insyaallah, karena insya Allah nya orang Indonesia itu artinya gak, buat gue. Hampir semua orang yang gue kenal kalo bilang insya5allah itu artinya gak."
Gita dengan pemikirannya. Karena memang bagi orang Indonesia kata Insya Allah umumnya diucapkan untuk janji yang potensial dilanggar, komitmen yang tidak teguh, atau harapan yang tidak pasti.
"Iya, gue usahain deh," balasnya dengan ragu.
"Si Kenn kemaren sms ngajak ngumpul."
Gita memberi tahu ajakan Kenn. Baik Gita maupun Andra memang tidak pernah membatasi untuk berhubungan atau berteman dengan siapapun lawan jenisnya.
"Ya udah, besok gue jemput. Sebelum pulang kita makan dulu ya?"
Selama berhubungan dengan Gita, Andra tidak pernah sekalipun mendengar Gita meminta sesuatu. Bahkan hanya untuk sekedar membeli air mineral. Selalu Andra yang harus menawari ini dan itu. Mungkin dulu Gita berpikir Andra hanya anak sekolah yang uang jajannya di batas oleh orang tuanya.
"Oke."
Setelah menghabiskan dua jam di pinggir pantai, Andra dan Gita beranjak pulang, dengan sebelumnya mereka makan terlebih dahulu di sebuah warung makan seafood.