Kurang Bersyukur

1140 Kata
Andra merasakan jika Gita kecewa padanya, terlihat dari sikapnya yang sedikit dingin. Ketika di perjalanan pulang pun Gita lebih banyak diam. Hal itu membuatnya menyesal telah membohongi Gita. Sebenarnya bukan membohongi, lebih tepatnya tidak mengungkapkan. Karena Andra tahu, akan seperti ini jika Gita mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Pertanyaan Andra, darimana Gita tahu semua tentangnya? Karena tidak mungkin teman-temannya yang memberitahukan, karena Andra telah mengultimatum mereka. Apakah Nung? Karena selain teman-temannya ada Nung orang yang dekat dengan Gita yang mengetahui siapa dirinya, Andra mungkin akan bertanya nanti pada Nung. "Gue balik ya." Andra langsung pamit setelah mengantarkan Gita sampai di kontrakannya. "Hati-hati ya, kabarin kalo udah sampe." Pesan Gita padanya "Oke, jangan marah ya." Andra tahu kekasihnya marah. "Gue gak marah, ya udah sana pulang." "Iya, assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Andra menarik gas motornya, dia akan pergi ke rumah Rian. Karena mereka sudah berkumpul di sana. Andra melaju dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa perasaannya menjadi sedikit kacau dengan sikap dingin Gita. Menempuh waktu hanya sekitar 15 menit dari kontrakan Gita menuju rumah Rian. Andra langsung masuk begitu sampai di sana, dan melihat anak Onta lainnya tengah berkumpul dengan banyaknya makanan di atas karpet. "Assalamualaikum Woi!" seru Rian yang melihat Andra datang dan langsung tiduran. "Waalaikumsalam," jawabnya dengan mata yang terpejam. "Kenapa lu? Bukannya abis jalan ya sama si, Kakak? Kok muka lu gak enak banget?" tanya Kenn yang melihat raut lelah di wajah sahabatnya. "Dia udah tau siapa gue," jawab Andra dengan mata yang ditutup oleh sebelah tangannya. "Tau dari siapa?" tanya Getta yang merasa mereka semua tidak ada yang memberitahukan. "Kayaknya sih dari si Nung," jawabnya lagi. "Yang ngenalin lu sama si Kakak?" tanya Wildan. Andra mengangguk. "Si Hendrik kemana?" tanyanya yang tidak melihat calon dokter tersebut. "Balik ke Medan tadi sore. Mama sakit katanya," jawab Rian. "Ya udah besok kita ke sana yu, sekalian refreshing. Bosen gue disini," ajaknya pada semua. Segampang itu memang bagi Andra jika ingin bepergian. "Gas keun lah," jawab Getta semangat. "Gue mau pulang rencananya ke Bandung." Sudah tiga minggu memang Rian tidak pulang ke Bandung. Dan Mami nya sudah meneror untuk menyuruhnya pulang. "Dih, gak seru lah!" seru Wildan. "Si Kakak ajak aja," saran Kenn. "Gak bakalan mau dia," jawab Andra yakin. Karena memang selama ini Gita tidak pernah mau diajak bepergian jauh. Mungkin karena berpikir jika Andra hanya anak sekolah, jadi tidak memiliki uang. "Coba aja dulu siapa tau mau," saran Wildan. "Gue telpon ya." Andra mengeluarkan handphonenya dan mencari nama Gita, panggilan terhubung tapi tidak dijawab. "Udah tidur kayaknya." Andra menyimpan kembali handphonenya, ia bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika ia sedang menuntaskan urusannya, handphonenya berdering, menandakan adanya panggilan masuk. Getta mengangkatnya setelah melihat ID pemanggil tersebut adalah Gita "Halo, Kak" "Halo, Get-Get?." "Iyups, si Onta lagi boker." "Oh, ya udah. Tadi dia teplon gue nya lagi solu." Gita memang selalu menyebut dengan kata teplon untuk kata telepon, dan solu untuk kata sholat. "Telepon, Kak. Lu kira wajan. Solu apa dah?" "Sholat." "Oh… Oh iya, tadi si Onta telpon lu itu mau ngajakin lu pergi ke suatu tempat." "Ke mana?" Andra datang dan mengambil handphonenya dari Getta.. "Hola Ayy, Matiin, gue teplon balik." Andra memutuskan sambungan teleponnya dengan segera, Andra tidak pernah membiarkan Gita menelponnya, karena takut pulsa Gita akan habis. Sedangkan Gita tidak pernah mau dibelikan pulsa olehnya. Ditambah tarif telepon Esia CDMA itu dihitung satu rupiah per satu detik. Andra kembali mendial nomor telepon Gita, dalam dering kedua Gita sudah mengangkatnya. "Katanya mau ngajakin gue? Ke mana?" "Besok anak-anak Onta lu mau pada ke Medan, lu mau ikut gak?" "Set dah, jauh amat. Gak bisa gue, 'kan liburnya cuma besok doang." "Gak bisa ijin?" "Gak bisa lah, Ta. Lagian jauh gitu mana boleh sama Mpo gue." "Iya juga sih." "Mangkanya." "Ya udah, sekarang tidur gih. Udah malem, jangan minumin minuman bersoda mulu, Ayy." "Iya, ini cuma lagi makan kacang kok." "Yakin gak ada cola nya?" "Gak ada Onta." "Ya udah lu tidur, jangan lupa mimpiin gue ya." "Ogah! Solu dulu lu, jan maen-maen aja." "Iya, Sayang." "Ya udah, assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Andra mengakhiri sambungan teleponnya dan kembali berbaur bersama anak onta lainnya. "Gimana?" tanya Wildan. "Seperti yang gue bilang, dia gak bakalan mau," jawab Andra lesu. "Gue mau Solu dulu." Andra berjalan ke lantai atas, di mana kamar Rian berada. Rumah Rian sudah menjadi Rumah pribadi bagi mereka semua. Karena dalam seluruh rumah itu pun mereka yang menentukan dan membeli barang-barang yang mereka suka. Pun jika ada kerusakan atau pun hanya sekedar renovasi, maka itu keluar dari uang masing-masing. Andra kembali turun dan melihat anak Onta yang lain tengah bermain karambol. Dengan hukuman yang kalah akan duduk berjongkok, dan di lehernya digantungkan dua botol air ukuran 1,5 liter. Membuat leher mereka terasa seperti akan patah, karena beban yang ditanggungnya. Terlihat Kenn dan Rian yang sedang mendapatkan hukuman. Karambol merupakan mainan keahlian Getta, sedangkan Wildan jago dalam bermain Biliar. Jadi tidak heran jika kali ini mereka berdua berada di atas angin. "Weh gantian nih patah leher gue," keluh Rian yang merasakan lehernya pegal luar biasa. "Silahkan diteruskan, Saya hanya akan menjadi juri saja." Andra sedang tidak ingin bermain. "Gantian, Nyet. Pegel bet gue." Kenn pun sama dengan Rian yang mengeluh. "Lagian cari perkara lu mah, udah tau mereka berdua ahli dalam bidang sodok menyodok pake acara hukuman," balas Andra santai dan kembali merebahkan diri di belakang Getta. "Woi! Bahasa lu, sodok menyodok. Kedengeran nya tabu banget dah," seru Getta. "Ya terus apa dong namanya?" tanya Andra polos. "Apa ya?" Getta bingung sendiri. Karena baik biliar maupun karambol mainnya di sodok kan? "Nah mangkanya." Andra memejamkan matanya dengan tubuh tengkurap. Hal itu langsung mendapatkan teguran dari Rian. "Pamali, Nyet! Mau lu ditinggal mati sama Emak lu?" Rian memang masih saja percaya akan hal-hal mitos seperti itu. "Emang gue punya Emak ya?" tanya Andra bingung. Karena selama ini dirinya merasa sudah tidak mempunyai orang tua. Kedua orangtuanya seolah melupakan ia dan adiknya, mereka tidak pernah mendatangi anaknya. Ditambah sekarang perusahaan keduanya sedang berada dalam masa kejayaan. Mereka hanya tahu mengirimkan uang, tanpa pernah mau tahu uang itu dipakai untuk apa? Tanpa pernah berpikir, bahwa dirinya dan Putri membutuhkan kehadirannya, bukan hanya uangnya saja. Maka dari itu Andra selalu berpikir tidak memiliki orang tua. Andra hanya memiliki mesin ATM yang selalu menyediakan uang untuknya dan adiknya. Karena bahkan untuk sekedar telepon pun mereka sangat jarang. Kedua orangtuanya tidak menikah lagi, hanya saja mereka sibuk dengan segala urusan perusahaannya. Orangtuanya seperti tidak memiliki anak yang membutuhkan kasih sayang dari mereka. Andra selalu iri terhadap Rian, di mana orang tuanya begitu perhatian, bahkan over protektif terhadapnya. Setiap hari Rian di telepon oleh Mami nya, hanya untuk sekedar bertanya kegiatannya hari ini. Namun, tetap saja, yang namanya manusia selalu saja kurang bersyukur. Disaat Andra mendambakan hal seperti itu, Rian justru merasa risih. Karena menurutnya, ia tidak bisa bebas melakukan hal apapun selama belum mendapatkan izin dari Kanjeng Mami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN